Sularmi, Sebuah Potret Kesetiaan
Oleh Joshua MS
Penampilannya sangat sederhana. Dengan potongan rambut sebahu dan postur tubuh yang hampir sempurna dan tidak terlalu tinggi layaknya kebanyakan perempuan Jawa.
Garis-garis raut wajah oval menandakan bahwa dulu ketika masih remaja dia pasti termasuk kembang desa. Separo kaget, dia buru-buru memperbaiki posisi duduk ketika rombongan kami menjenguknya. Di atas hamparan sehelai tikar pandan, dia mengulurkan tangannya ke arah kami.
Kunjungan singkat kami ke Jawa Tengah, Kabupaten Karang Anyar, adalah dalam rangka “membagi api transformasi” ke gereja-gereja di daerah. Ada kurang lebih 48 gereja yang akan dikunjungi oleh rombongan kami. Dengan alasan efisiensi, tim yang terdiri dari 42 orang akhirnya dipecah dalam sebelas kelompok.
Desa itu bernama Gembong, terletak di kecamatan Matesih, Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah. Sebuah gereja kecil secara resmi berdiri di sana. GKAA, begitulah nama denominasinya, adalah sebuah gereja yang digembalakan oleh seorang pendeta yang masih muda lulusan sebuah STT terkenal di Yogyakarta.
Seorang pendeta muda bersahaja dengan dukungan finansial yang sangat terbatas, Tribowo Raharjo, S.Th. Ia adalah seorang pelayan idealis dan telah mengabdikan dirinya untuk menggembalakan jemaat Kristus di sebuah desa minus.
Sore itu, Pak Tri, begitu kami memanggilnya, memulai rangkaian pelayanan kami dengan mengunjungi beberapa jemaat. Hanya mengandalkan kemampuan kaki, kami menapaki jalanan desa yang mendaki.
Beberapa kali anggota tim bercanda ria. Kadang-kadang kami juga berdecak kagum menyaksikan betapa indahnya petak-petak sawah yang menghampar di bawah kaki bukit. Tidak salah jikalau seniman mengatakan padi-padi yang mulai menguning itu bagaikan hamparan emas yang berkilau-kilau di terpa bias jingga mentari senja.
Adalah seorang pensiunan yang sudah berkeliling ke hampir semua belahan benua di dunia, Mr. Siman. Seorang yang hampir 70 tahun itu menjadi ketua rombongan.
Entah beberapa kali dia terpaksa kami tuntun untuk melewati tangga-tangga rumah warga yang licin. Kemudian ada seorang ibu, Maria, namanya. Perempuan itu terpanggil menjadi seorang pendoa syafaat. Perempuan yang sangat peka akan suara dan tuntunan Tuhan. Ia tidak menikah dan baru pulih dari serangan stroke awal.
Berkali-kali Wahyu, seorang gadis muda yang bekerja sebagai konsultan bahasa, memapah tubuh ringkuhnya. Wahyu Krisna adalah guru sekolah minggu yang memiliki hati lembut dan cekatan. Mereka bertiga adalah rekan satu tim dengan saya.
Rumah itu khas Jawa Tengah dengan sebuah ruang tengah yang sangat luas. Di ruang itulah, Sularmi menyalami kami satu persatu.
Kami akhirnya duduk melingkar dan memulai pembicaraan yang hangat dan santai. Hingga satu saat, saya harus mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan pastoral.
Saya memang bekerja sebagai seorang konselor kristen dan telah menemui ribuan kasus keluarga yang rumit. Sularmi memulai kisah hidupnya dari pertemuan dengan sang suami yang kini bekerja di Jakarta.
Menjadi tukang kayu di proyek-proyek bangunan di Kota Metropolitan memang banyak dilakoni oleh suami-suami ketika masa bertani sedang “libur”.
Bermula dari salah seorang kerabat mereka yang sakit dan akhirnya disembuhkan oleh karena doa seorang pelayan Kristus, akhirnya Sularmi percaya dan mengikut Kristus. Dia menikah dan memiliki rumah tangga yang bahagia.
Sepertinya semua berjalan dengan baik-baik saja hingga satu hari Sularmi mengandung anak pertama. Setelah melahirkan dengan bantuan medis, akhirnya seorang anak lahir dengan selamat. Seorang bayi laki-laki yang menjadi kebanggan keluarga. Tidak lama berselang setelah persalinan, Sularmi merasakan pusing.
Dan entah kapan tepatnya, satu matanya mengabur. Beberapa hari kemudian dinyatakan oleh dokter bahwa satu matanya sudah buta total. Analisis dokter menjelaskan syaraf matanya sangat lemah, sehingga ketika mengalami kontraksi pada saat melahirkan, syaraf mata kiri Sularmi rusak.
Dalam keadaan sangat tertekan, bebarapa usaha dilakukan untuk menyelamatkan penglihatan ibu muda ini, termasuk menjual sebagian besar sawah dan harta yang lain sebagai persiapan dana ke rumah sakit. Tetapi tetap saja semuanya tidak berhasil.
Beberapa kali mereka mengunjungi dokter spesialis mata di Kota Solo dan yang akhirnya merujuk pasien ke Yogyakarta, tetapi semuanya tetap nihil. Satu mata Sularmi buta dan satunya lagi dinyatakan dalam status perawatan.
Beberapa tahun berlalu, Sularmi akhirnya mengandung anak kedua. Ini adalah berita yang sangat menegangkan. Taruhan dari berita ini adalah keselamatan mata Sularmi yang tinggal satu.
Jikalau jabang bayi dipertahankan, kemungkinan besar Sularmi akan buta secara total. Namun karena dorongan cinta dan tradisi yang menabukan aborsi, Sularmi akhirnya tetap memilih mengandung dan akan melahirkan anak keduanya.
Satu hari, lewat persalinan yang normal, lahirlah seorang anak perempuan. Anak kecil itu sangat cantik mirip dengan ibunya. Garis-garis wajah bayi mungil itu sangat mirip dengan ibunya.
Beberapa hari setelah bersalin, Sularmi sangat bahagia karena ternyata sebelah matanya tetap berfungsi dengan baik. Setiap hari dia menatap mesra bayi mungilnya. Sepertinya semua akan berjalan dengan sangat baik, hingga satu hari.
Sularmi mengalami pusing-pusing tepat seperti beberapa tahun lalu. Beberapa hari kemudian, seperti sebuah ledakan gunung berapi, berita Sularmi telah buta total cepat menyebar ke seantero desa.
“Pagi itu,” kisah Sularmi, “saya bangun dan semuanya gelap!” Sebuah ketakutan yang selama ini menjadi bayang-bayang menjadi kenyataan. Dokter menyatakan bahwa Sularmi telah buta sama sekali.
Dirundung duka dan tekanan yang sangat berat, hari-hari pertama menjadi orang buta karena melahirkan kedua anaknya, Sularmi sangat terpukul. Sularmi bagai seorang yang tidak punya gairah hidup.
Semuanya seolah-olah sudah berakhir. Tidak ada pengharapan lagi selain mati. Ibu muda yang cantik ini kemudian menjadi seorang yang sangat murung. Pendiam dan hampir tidak berinteraksi dengan masyarakat.
Hari, minggu, dan bulan silih berganti. Beberapa terapi yang dijalani tetap saja berbuah nihil. Mata Sularmi tidak dapat diselamatkan. Dia harus menjadi ibu bagi dua orang anak dalam kondisi buta.
“Saya sangat terpukul dan putus asa!” Sularmi berupaya menahan air mata yang tiba-tiba mengalir membentuk dua garis di wajahnya. Berkali-kali tawaran dari saudara untuk mengunjungi paranormal ditampik dengan halus, Sularmi tetap tidak mau menodai imannya kepada Gusti Yesus.
“Berkali-kali saudara datang dan menawarkan beberapa obat ramuan para dukun, tetapi semua saya tolak secara halus. Banyak dari antara saudara itu yang akhirnya marah dan kemudian tidak lagi peduli kepada saya,” tutur Sularmi di sela-sela isak tangis.
Sampai di sini, saya merasakan suatu yang sangat menggetarkan hati. Seorang perempuan muda cantik, akhirnya menjadi buta demi ke dua anaknya. Sebuah pengorbanan yang sangat menggetarkan hati nurani.
“Saya tahu bahwa banyak orang berdoa buat saya, termasuk bapak pendeta, tetapi saya sudah menerima apa adanya semua ini. Walaupun Gusti Yesus tidak memelekkan mata saya, saya akan tetap mengiring Dia,” katanya.
Sekali lagi air mata Sularmi bergulir cepat di wajah ovalnya. “Saya mengerti sekarang, bahwa Gusti Yesus tahu ini yang terbaik buat saya dan anak-anak. Apapun yang terjadi ke depan, saya akan tetap percaya kepada-Nya,” kata Sularmi. Sularmi mengucapkan kata-kata yang seharusnya keluar dari mulut pendeta itu sebelum kami pamit pulang.
Saya keluar dari rumah itu dengan hati yang gamang. Beberapa kali saya memastikan bahwa air mata saya tidak jatuh di depan orang lain. Sebuah potret kesetiaan kepada Kristus memancar dari kehidupan seorang Sularmi.
Dengan tegas, seorang ibu muda rupawan itu memilih melahirkan anak-anaknya walau bertaruh dengan penglihatan. Ia menjadi sosok wanita kristen yang tidak hanya mengharapkan mujizat sebagai pijakan iman percaya. Sularmi menjadi sosok wanita kristen yang bahkan dengan terbuka mengungkap kelemahannya tanpa malu-malu ketika putus asa mendera.
Sularmi tanpa sadar telah mengajari saya apa arti sebuah kesetiaan kepada Kristus. Kesetiaan yang tidak hanya terbatas kepada spektakulernya sebuah mujizat. Ia menjadi seorang wanita Kristen yang telah menerjemahkan dengan sangat tepat arti yang sebenarnya dari mengikut Yesus dan memikul salib.
Penulis adalah pelayan Tuhan di GBI Buaran
Penampilannya sangat sederhana. Dengan potongan rambut sebahu dan postur tubuh yang hampir sempurna dan tidak terlalu tinggi layaknya kebanyakan perempuan Jawa.
Garis-garis raut wajah oval menandakan bahwa dulu ketika masih remaja dia pasti termasuk kembang desa. Separo kaget, dia buru-buru memperbaiki posisi duduk ketika rombongan kami menjenguknya. Di atas hamparan sehelai tikar pandan, dia mengulurkan tangannya ke arah kami.
Kunjungan singkat kami ke Jawa Tengah, Kabupaten Karang Anyar, adalah dalam rangka “membagi api transformasi” ke gereja-gereja di daerah. Ada kurang lebih 48 gereja yang akan dikunjungi oleh rombongan kami. Dengan alasan efisiensi, tim yang terdiri dari 42 orang akhirnya dipecah dalam sebelas kelompok.
Desa itu bernama Gembong, terletak di kecamatan Matesih, Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah. Sebuah gereja kecil secara resmi berdiri di sana. GKAA, begitulah nama denominasinya, adalah sebuah gereja yang digembalakan oleh seorang pendeta yang masih muda lulusan sebuah STT terkenal di Yogyakarta.
Seorang pendeta muda bersahaja dengan dukungan finansial yang sangat terbatas, Tribowo Raharjo, S.Th. Ia adalah seorang pelayan idealis dan telah mengabdikan dirinya untuk menggembalakan jemaat Kristus di sebuah desa minus.
Sore itu, Pak Tri, begitu kami memanggilnya, memulai rangkaian pelayanan kami dengan mengunjungi beberapa jemaat. Hanya mengandalkan kemampuan kaki, kami menapaki jalanan desa yang mendaki.
Beberapa kali anggota tim bercanda ria. Kadang-kadang kami juga berdecak kagum menyaksikan betapa indahnya petak-petak sawah yang menghampar di bawah kaki bukit. Tidak salah jikalau seniman mengatakan padi-padi yang mulai menguning itu bagaikan hamparan emas yang berkilau-kilau di terpa bias jingga mentari senja.
Adalah seorang pensiunan yang sudah berkeliling ke hampir semua belahan benua di dunia, Mr. Siman. Seorang yang hampir 70 tahun itu menjadi ketua rombongan.
Entah beberapa kali dia terpaksa kami tuntun untuk melewati tangga-tangga rumah warga yang licin. Kemudian ada seorang ibu, Maria, namanya. Perempuan itu terpanggil menjadi seorang pendoa syafaat. Perempuan yang sangat peka akan suara dan tuntunan Tuhan. Ia tidak menikah dan baru pulih dari serangan stroke awal.
Berkali-kali Wahyu, seorang gadis muda yang bekerja sebagai konsultan bahasa, memapah tubuh ringkuhnya. Wahyu Krisna adalah guru sekolah minggu yang memiliki hati lembut dan cekatan. Mereka bertiga adalah rekan satu tim dengan saya.
Rumah itu khas Jawa Tengah dengan sebuah ruang tengah yang sangat luas. Di ruang itulah, Sularmi menyalami kami satu persatu.
Kami akhirnya duduk melingkar dan memulai pembicaraan yang hangat dan santai. Hingga satu saat, saya harus mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan pastoral.
Saya memang bekerja sebagai seorang konselor kristen dan telah menemui ribuan kasus keluarga yang rumit. Sularmi memulai kisah hidupnya dari pertemuan dengan sang suami yang kini bekerja di Jakarta.
Menjadi tukang kayu di proyek-proyek bangunan di Kota Metropolitan memang banyak dilakoni oleh suami-suami ketika masa bertani sedang “libur”.
Bermula dari salah seorang kerabat mereka yang sakit dan akhirnya disembuhkan oleh karena doa seorang pelayan Kristus, akhirnya Sularmi percaya dan mengikut Kristus. Dia menikah dan memiliki rumah tangga yang bahagia.
Sepertinya semua berjalan dengan baik-baik saja hingga satu hari Sularmi mengandung anak pertama. Setelah melahirkan dengan bantuan medis, akhirnya seorang anak lahir dengan selamat. Seorang bayi laki-laki yang menjadi kebanggan keluarga. Tidak lama berselang setelah persalinan, Sularmi merasakan pusing.
Dan entah kapan tepatnya, satu matanya mengabur. Beberapa hari kemudian dinyatakan oleh dokter bahwa satu matanya sudah buta total. Analisis dokter menjelaskan syaraf matanya sangat lemah, sehingga ketika mengalami kontraksi pada saat melahirkan, syaraf mata kiri Sularmi rusak.
Dalam keadaan sangat tertekan, bebarapa usaha dilakukan untuk menyelamatkan penglihatan ibu muda ini, termasuk menjual sebagian besar sawah dan harta yang lain sebagai persiapan dana ke rumah sakit. Tetapi tetap saja semuanya tidak berhasil.
Beberapa kali mereka mengunjungi dokter spesialis mata di Kota Solo dan yang akhirnya merujuk pasien ke Yogyakarta, tetapi semuanya tetap nihil. Satu mata Sularmi buta dan satunya lagi dinyatakan dalam status perawatan.
Beberapa tahun berlalu, Sularmi akhirnya mengandung anak kedua. Ini adalah berita yang sangat menegangkan. Taruhan dari berita ini adalah keselamatan mata Sularmi yang tinggal satu.
Jikalau jabang bayi dipertahankan, kemungkinan besar Sularmi akan buta secara total. Namun karena dorongan cinta dan tradisi yang menabukan aborsi, Sularmi akhirnya tetap memilih mengandung dan akan melahirkan anak keduanya.
Satu hari, lewat persalinan yang normal, lahirlah seorang anak perempuan. Anak kecil itu sangat cantik mirip dengan ibunya. Garis-garis wajah bayi mungil itu sangat mirip dengan ibunya.
Beberapa hari setelah bersalin, Sularmi sangat bahagia karena ternyata sebelah matanya tetap berfungsi dengan baik. Setiap hari dia menatap mesra bayi mungilnya. Sepertinya semua akan berjalan dengan sangat baik, hingga satu hari.
Sularmi mengalami pusing-pusing tepat seperti beberapa tahun lalu. Beberapa hari kemudian, seperti sebuah ledakan gunung berapi, berita Sularmi telah buta total cepat menyebar ke seantero desa.
“Pagi itu,” kisah Sularmi, “saya bangun dan semuanya gelap!” Sebuah ketakutan yang selama ini menjadi bayang-bayang menjadi kenyataan. Dokter menyatakan bahwa Sularmi telah buta sama sekali.
Dirundung duka dan tekanan yang sangat berat, hari-hari pertama menjadi orang buta karena melahirkan kedua anaknya, Sularmi sangat terpukul. Sularmi bagai seorang yang tidak punya gairah hidup.
Semuanya seolah-olah sudah berakhir. Tidak ada pengharapan lagi selain mati. Ibu muda yang cantik ini kemudian menjadi seorang yang sangat murung. Pendiam dan hampir tidak berinteraksi dengan masyarakat.
Hari, minggu, dan bulan silih berganti. Beberapa terapi yang dijalani tetap saja berbuah nihil. Mata Sularmi tidak dapat diselamatkan. Dia harus menjadi ibu bagi dua orang anak dalam kondisi buta.
“Saya sangat terpukul dan putus asa!” Sularmi berupaya menahan air mata yang tiba-tiba mengalir membentuk dua garis di wajahnya. Berkali-kali tawaran dari saudara untuk mengunjungi paranormal ditampik dengan halus, Sularmi tetap tidak mau menodai imannya kepada Gusti Yesus.
“Berkali-kali saudara datang dan menawarkan beberapa obat ramuan para dukun, tetapi semua saya tolak secara halus. Banyak dari antara saudara itu yang akhirnya marah dan kemudian tidak lagi peduli kepada saya,” tutur Sularmi di sela-sela isak tangis.
Sampai di sini, saya merasakan suatu yang sangat menggetarkan hati. Seorang perempuan muda cantik, akhirnya menjadi buta demi ke dua anaknya. Sebuah pengorbanan yang sangat menggetarkan hati nurani.
“Saya tahu bahwa banyak orang berdoa buat saya, termasuk bapak pendeta, tetapi saya sudah menerima apa adanya semua ini. Walaupun Gusti Yesus tidak memelekkan mata saya, saya akan tetap mengiring Dia,” katanya.
Sekali lagi air mata Sularmi bergulir cepat di wajah ovalnya. “Saya mengerti sekarang, bahwa Gusti Yesus tahu ini yang terbaik buat saya dan anak-anak. Apapun yang terjadi ke depan, saya akan tetap percaya kepada-Nya,” kata Sularmi. Sularmi mengucapkan kata-kata yang seharusnya keluar dari mulut pendeta itu sebelum kami pamit pulang.
Saya keluar dari rumah itu dengan hati yang gamang. Beberapa kali saya memastikan bahwa air mata saya tidak jatuh di depan orang lain. Sebuah potret kesetiaan kepada Kristus memancar dari kehidupan seorang Sularmi.
Dengan tegas, seorang ibu muda rupawan itu memilih melahirkan anak-anaknya walau bertaruh dengan penglihatan. Ia menjadi sosok wanita kristen yang tidak hanya mengharapkan mujizat sebagai pijakan iman percaya. Sularmi menjadi sosok wanita kristen yang bahkan dengan terbuka mengungkap kelemahannya tanpa malu-malu ketika putus asa mendera.
Sularmi tanpa sadar telah mengajari saya apa arti sebuah kesetiaan kepada Kristus. Kesetiaan yang tidak hanya terbatas kepada spektakulernya sebuah mujizat. Ia menjadi seorang wanita Kristen yang telah menerjemahkan dengan sangat tepat arti yang sebenarnya dari mengikut Yesus dan memikul salib.
Penulis adalah pelayan Tuhan di GBI Buaran
