Saturday, April 24, 2004

Mencari Tuhan di Puncak Meteora (2)

Keagungan di Puncak Cadas

Oleh Asbari Nurpatria Krisna

Ketika kita berada di puncak-puncak cadas besar dan hitam yang merupakan teras atau serambi biara Meteora dan memandang ke dataran Thessalia, jantung berdetak dengan detakan yang lain. Seolah-olah bukit-bukit cadas yang runcing ini siap melakukan sesuatu di dataran Thessalia, yang terbentang di bawah dalam kehijauan yang seakan-akan tenang, menggambarkan takkan terjadi apa-apa.
Pemandangan hijau ini menimbulkan perasaan kekaguman bercampur pesona, karena kita merasakan ketidakberdayaan kita di depan Sang Pencipta yang mengagumkan. Pada saat yang sama, perasaan keindahan mengalir. Keindahan ini dapat diukur berupa bentuk dan isi, yaitu harmoni yang lengkap.
Keindahan itu statis, seperti Parthenon dalam seni, demikianlah dataran Thessalia yang terbentang di dalam pagutan Sungai Peneus. Elemen yang luhur datang dari pemandangan cadas yang megah dan di puncaknya kita berada, di antara bumi dan langit.
Ketika melihat kehijauan di bawah kita menyadari keseimbangan yang ideal, sedang ketenangan kawasan mencekam kita ketika memandangi ciptaan yang indah ini. Ketika kita memandang bukit cadas yang sangat besar yang muncul di sekeliling kita, kita mengalami kenaikan spiritual kita yang makin mendalam.
Pada saat yang sama citra rasa keagungan tercipta pada tiap biarawan dan tamu. Muncul pula ketegangan emosi luar biasa yang memerlukan penyaluran. Penyaluran ini datang sesudah perasaan yang kuat yang mempunyai dampak spiritual bagi kehidupan mistik dan damai di Meteora. Seperti dilukiskan oleh Theocharis M. Provatakis, yang menulis khusus mengenai Meteora.
Keindahan itu sendiri merupakan persepsi dan kecerdasan, sedangkan keluhuran berbicara kepada emosi dan jiwa, supaya lebih baik dimengerti, katanya.

Pengaturan Biara di Meteora
Nama Meteora baru digunakan oleh Athanasios yang Terberkati, pendiri Biara Pengejawantahan Kristus, yang pada 1344 menyebutnya Platys Lithos (Cadas Lebar) Meteora. Nama ini muncul kemudian untuk hal-hal yang berkaitan dengan cadas atau cadas itu sendiri yang kini dinamakan Meteora.
Bila Meteora dihuni pertama kali oleh pertapa, tidak diketahui. Pengaturan Retreat dimulai pada abad ke-9. Para pertapa yang telah menyiapkan tempat kecil untuk berdoa yang disebut prosefchadia–tiap Minggu pergi ke Kyriako, yaitu gereja umum untuk merayakan liturgi Suci. Maka hidup membiara mulailah di Meteora.
Nama lain pertapa pertama Varnavos yang pada 950-965 mendirikan Retreat Roh Kudus. Tak lama kemudian pada 1002 sesudah Masehi, tradisi berjalan terus, biarawan Andronikos di Kreta membangun pertapaan pada cadas yang kini merupakan Biara Transfigurasi, sedangkan biarawan lain mendidikan Retreat Stagi yang mereka namakan Doubiani, sekitar 1160. 200 tahun kemudian biarawan Varlaam mendirikan Biara Holy Trinity dan Biara Semua Orang Kudus, sedang biarawan pada masa yang sama mendidikan rumah ibadat dan tinggal di sana.
Dalam perkembangannya biara menjadi 24 dan memperoleh bantuan dari lembaga-lembaga dermawan dan hak-hak istimewa diberikan kepada Retreat dan biara oleh pangeran, penguasa, dan kepala-kepala gereja di berbagai masa.
Abad ke-17 merupakan masa keemasan Meteora. Kini hanya tinggal enam biara saja yang beroperasi dan dihuni serta siap menerima tamu. Para biarawan yang hidup di sana kini harus berjuang untuk memperjuangkan supaya biara mereka tetap terjaga dan berkembang.

Tujuan
Banyak pertapa di Indonesia lebih senang mencari gua di dalam tanah. Tujuan mereka bermacam-macam, tetapi sering kita mendengar mereka mengatakan mencari “sangkan paraning dumadi” alias Tuhan.
Berbeda dengan pertapa-pertapa Indonesia, para rahib Yunani dari Kristen Ortodoks lebih memilih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara bertapa di puncak-puncak bukit cadas. Karena Tuhan berada di tempat Maha Tinggi, haruslah dicari tempat yang tinggi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, Sang Pencipta alam semesta ini. Itulah filsafat dasar para rahib Kristen Ortodoks di dalam upaya mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Meteora mulai dikenal orang sejak abad ke-11. Pada mulanya para rahib Kristen Ortodoks hanya ingin bertapa, melakukan meditasi, melatih ketangkasan spiritualnya untuk mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Akhirnya upaya mereka lebih ditujukan untuk mencari Roh Kudus, sehingga mereka hidup lebih bijaksana, damai, tenang, tanpa kekerasan.
Mereka berusaha menemukan Tuhan, menemukan Kristus kembali seperti keyakinan mereka. Mereka ingin lebih bijaksana di dalam kehidupan dan sederhana di dalam keinginan.
Di dalam usaha itu, mereka pergi ke bukit-bukit itu, membangun gua, atau tinggal di gua-gua yang sudah ada. Pada hari Minggu, mereka turun ke kota untuk melakukan ibadat bersama jemaat lainnya. Dengan datangnya biarawan yang adalah perintis pendiri biara, pengorganisasian Retreat dan biara menjadi lebih berkembang dan pesat.
Di tempat-tempat itu, mereka berdoa, berpuasa, tuguran (tidak tidur semalaman), berbuat amal, dan melaksanakan nilai-nilai Kristen. Inilah alat yang mereka gunakan dalam nama Kristus untuk mencapai tujuan mereka.
Tujuan hidup Kristen Ortodoks adalah menguasai Roh Kudus. Para biarawan hanya melakukan ini saja. Mereka hidup dengan kehidupan yang tetap untuk mendekati Tuhan.
Mereka harus dapat mengendalikan diri dan jiwanya mengendalikan hatinya. Hati manusia, sesuai dengan ajaran Kristen Ortodoks, merupakan pusat kehidupan manusia dan sumber kekuatan aktif baik dalam intelek maupun keinginan.
Dari situlah kehidupan spiritual bermula dan berkembang. Hati atau jantung, menurut Uskup Macarius dari Mesir, merupakan “bengkel baik dan buruk,” kendaraan yang bermuatan setiap ketidakbaikan, tetapi pada saat yang sama dapat dikatakan bahwa ada Tuhan, ada malaikat, ada kehidupan dan kekuasaan, ada sinar dan Rasul dan ada kekayaan berkat.

Penyesalan Para Biarawan
Sesudah manusia dibaptis, ia menjalani kehidupan kedua, jalan menuju kepada Bapa. Demikian keyakinan Kristen Ortodoks. Semakin seorang biarawan bersatu dengan Tuhan, semakin waspada pada penyangkalan, semakin sempurna dan tahu ketidaksempurnaannya.
Hasil penyerahan diri adalah rasa berdosa yang dalam dan air mata. Maka mulailah kehidupan baru. Air mata memurnikan sifat manusia. Karena penyesalan bukan hanya usaha kita bersakit-sakit, tetapi berkat yang gemilang dari Roh Kudus yang menyusup dan mengubah hati kita.
Doa para biarawan adalah kekuatan pendorong dalam segala usaha kehidupan spiritual. Menyatunya dengan Tuhan hanya dapat dicapai melalui doa, karena doa merupakan hubungan pribadi manusia dengan Tuhan, dan dengan cara itu manusia bertemu secara pribadi denganNya, menurut Ishak dari Suriah. Di situ manusia kenal Allah dan mencintaiNya. Pengetahuan dan kasih sangat saling berkaitan berdasarkan hidup membiara Kristen Ortodoks.

Doa Biarawan
Biarawan dapat duduk berjam-jam dalam misa yang lama. Misa Kristen Ortodoks memang berlangsung sangat lama. Ia hanya ditemani rosario dan doa yang tak putus-putus. Sekeliling sangat kuat mencekam. Berbagai benda, gerakan dan lain-lain, dan juga membaca Alkitab menolong menguatkan batin.
Rahib Ortodoks selalu memandang Allah sebagai Kasih yang tak berkesudahan dan sebagai korban penyaliban untuk keuntungan manusia. Karena itu, doa seorang rahib selalu dimulai dengan petisi.
Doa petisi ini tidak mudah dan penuh hati-hati serta kekhawatiran. Tetapi ini hanyalah persiapan bagi doa spirtual yang benar. Ini merupakan perkembangan bertingkat menuju Tuhan, usaha untuk mendekatiNya, pencarian spiritual.
Ketika jiwa sudah berkonsentrasi dan mengingat, sedikit demi sedikit petisi itu menghilang; nampaknya tidak bersasaran, karena Tuhan menjawab doa dalam memperlihatkan berkatNnya. Rahib atau biarawan pun berhenti meminta karena ia percaya kemauan Tuhan seluruhnya. Keadaan ini disebut sebagai doa murni.
Kerja sama dua keinginan yang bekerja sama berlanjut melalui semua tingkat kenaikan rahib atau biarawan kepada Tuhan. Pada titik tertentu, seorang rahib atau biarawan meninggalkan lingkungan alamnya dan rohnya mulai aktif, semua gerakan mulai berhenti dan doa pun berhenti.
Inilah damai yang sempurna, ketenangan yang unik. Inilah kegembiraan yang meluap-luap dari roh yang telah menemukan damai yang disebut ekstasi karena biarawan itu “ke luar dari dirinya” dan dia tidak tahu apakah masih di dalam kehidupan ini atau pada apa yang akan datang. Dia bukan lagi miliknya, tetapi milik Tuhan. Dia tidak lagi dikuasai oleh keinginan dirinya, tetapi diarahkan oleh Semua Roh Kudus.
Di dalam praktik, kita menemukan banyak pendoa yang sangat bersungguh-sungguh, seakan-akan waktunya hanya untuk doa yang khusyuk itu saja. Agar mencapai hal ini, biasanya doa haruslah diucapkan atau dibatin secara terus-menerus dan tanpa berhenti seperti kita bernapas atau jantung berdenyut. Untuk seni berdoa macam inilah, seorang biarawan di Meteora mengabdikan diri, sama seperti semua rahib Ortodoks.

Saturday, April 17, 2004

Mencari Tuhan di Puncak Meteora (1)

Oleh Asbari Nurpatria Krisna

Yunani dikenal dengan peradabannya yang telah maju pesat, walaupun kini tinggal kenangan. Yunani pun memiliki kawasan istimewa sebagai keajaiban alam, yaitu Meteora.
Meteora terletak 331 km di sebelah barat laut Athena atau 230 km ke barat daya dari kota Thessaloniki, kota kedua terbesar di negeri Aristoteles dan Plato. Kawasan ini termasuk distrik Trikala, Thessalia, berada 600 meter di atas permukaan laut. Distrik ini mempunyai luas wilayah 3.338 km2, berpenduduk 132.519 jiwa dengan ibu kota Trikala.
Bila kita pergi ke Meteora dari Athena, kita akan melewati Kalambaka, 21 km jauhnya dari Trikkala, 5 km dari biara Meteora. Kota ini terletak di sisi kiri S. Peneus, di bagian selatan cadas Meteora pada ketinggian 240 meter di atas permukaan laut.
Sulit bagi kita membayangkan mengapa di dataran Thessalia ini muncul kumpulan bukit-bukit cadas yang sering disebut “belantara cadas”. Karena tingginya, mengawang di udara maka kawasan itu dinamakan oleh pendiri biara Athanasios, Meteora.
Dari Athena, kami bertiga, dengan pemandu dari KBRI di Athena. Sayang kami kurang pagi berangkat dari Athena, padahal jarak yang harus kami tempuh sekitar 350 km. Untunglah pemandu kami suka sekali ngebut, tapi kecepatan pun terbatas. Keluar dari Athena seperti keluar dari lalu lintas Jakarta.
Kami tinggal di salah satu hotel di Plaka, di belakang Akropolis. Plaka terkenal dengan jalan (lebih baik sebut saja gang) kecil-kecil, satu arah. Kami menuju ke Trikala, melalui jalan yang mulus, sepi, dan kadang-kadang kami temukan kota kecil. Di tengah jalan kami singgah sebentar untuk makan siang, hanya roti berisi keju dan sayur serta tomat.
Sepanjang jalan ini yang terasa “ngelangut” kami tidak menemukan pemandangan menarik, kecuali bangunan gereja yang agak unik dengan kubah beratap genteng berwarna coklat kemerahan. Barulah sesudah sampai di Trikala, kami mulai menghidupkan kembali rasa ingin tahu, karena sesekali tampak gunung biru pucat seperti punggung gajah. Makin dekat Trikala, kami tahu, bahwa jalan makin mendaki.
Dari sini perjalanan dilanjutkan ke Kalambaka, untuk menuju ke kompleks Meteora. Mulai dari Kastraki, pemandangan sangat menarik. Jalan berkelak-kelok seperti gerak ular, menuju ke atas.
Pemandangan benar-benar mengagumkan dan di bawah kadang-kadang tampak kota dengan banyak bangunan. Di kanan kiri jalan terdapat lembah dan tebing yang terjal.
Cadas bewarna hitam, cokelat, kuning, hijau, abu-abu. Memandang ke kejauhan, makin lama makin mendekati Meteora, kekaguman itu pun menjadi sempurna. Di puncak-puncak bukit cadas itu terdapat bangunan-bangunan, yang tak lain adalah biara tempat para rahib Kristen Ortodoks tinggal, belajar, dan bertapa serta melakukan ibadah.
Terdapat gua-gua kecil di pinggang bukit. Di situ para rahib dulu pernah tinggal dan mungkin sekarang.
Perjalanan dari Kastraki ke atas sangat menyenangkan. Muncul kekaguman, betapa alam telah memberikan sesuatu yang lain. Lebih-lebih Sang Pencipta alam ini, telah menganugerahkan sesuatu yang mengagumkan, indah dan terasa abadi bagi manusia yang mau mengolahnya. Perjalanan dua jam sejak dari bawah ini akhirnya sampai ke atas, di tempat impian.
Meteora merupakan kumpulan bukit-bukit terjal seperti kerucut, batu cadas beraneka warna. Di lereng-lerengnya terdapat gua yang sejak abad 11 sudah digunakan sebagai tempat bertapa.
Meteora terletak tak jauh dari Kota Kalambaka, yang dialiri sungai Peneus ke dataran Thessalia yang ideal dan pada ketinggian 300 meter dari lembah. Pemandangannya sangat indah. Sebagai gejala alam, Meteora sangat unik. Kawasan ini, terutama di puncak-puncak bukit sangat ideal sebagai tempat untuk berlatih spiritual dan meditasi.
Dari kejauhan kelompok bukit kerucut cadas ini seperti hutan batu, mencuat satu dari yang lain, sangat mengejutkan, menimbulkan getaran di hati dan kagum, mengantar orang sampai pada refleksi yang dalam.
Kumpulan bukit cadas ini dan penciptaan dataran Trikala, menurut pakar dimulai pada masa tritogenik yang hilang dalam kabut 60.000 tahun lalu. Air yang membentuk danau yang tertutup memaksa keluar melalui muara Tempe, ketika mengalir ke Laut Aegea, sambil membentuk bangunan cadas di kawasan itu, yang lalu dihuni manusia di kemudian hari.

Asal nama Meteora
Thessalia dikenal sebagai kawasan tertua berpenduduk di Yunani, sedang Trikala dapat ditelusuri pada masa lebih awal. Cerita ini dituturkan oleh Homerus yang ikut ambil bagian dalam Perang Troya, sedang pakar sejarah dan ilmu bumi lainnya (Strobo, Herodotus, Livy dan lain-lain) memberikan ciri-ciri khas kawasan ini.
Di zaman dulu di kawasan ini hidup seorang dokter terkenal bernama Asclepius. Bersama kedua anaknya, Machaon dan Podalirus, ia mendirikan Asclepeion dan mereka merawat pasien mereka. Pada masa Hellenistik kawasan ini berperan besar dalam kehidupan dan pengembangan Yunani. Ditemukan mosak indah, mata uang logam, inskripsi, perak, sarkofagus dan barang-barang seni kecil dan barang-barang lain di masa Romawi.
Di masa Byzantium kawasan ini, khususnya Meteora, memberikan sumbangan besar dalam pembangunan pusat biara.
Kehidupan membiara dilakukan orang kawasan Meteora ini setelah mundur dari kehidupan masyarakat biasa, dan dengan sukarela berdiam di tempat terpencil. Kehidupan ini dapat ditelusuri sejak awal Kekristenan.
Awal munculnya biara Meteora tidak diceritakan, seperti disebutkan dalam beberapa buku panduan wisata mengenai Meteora. Namun pada abad 11 di kawasan ini terdapat biara dengan biarawannya dan pertapaan dengan para pertapanya.
Para pertapa tinggal di gua-gua kecil atau ruangan-ruangan kecil dan tiap Minggu(‘Kyriaki’ dalam bahasa Yunani) dan hari-hari besar mereka turun bersama-sama untuk merayakan liturgi di Doubiani, yang kemudian disebut “Kyriako”.
Ketika jumlah biarawan semakin banyak tempat Retreat Stagi dibangun. Nama Stagi berasal baik dari “sitagogos” (pengangkut gandum), karena dataran Thessalia kaya akan gandum, maupun dari kata yang dikebiri “stous aghious” (tempat para kudus) menjadi ‘stagous.’
Sejak abad 12 mulailah Retreat, yang berada di bawah keuskupan Stagi ini diatur dengan baik.
Pada abad 14, pangeran Serbia, yang pada waktu itu menjadi penguasa daerah Thessalia, memberikan banyak hak istimewa kepada Retreat yang dipimpin oleh Protos (Kepala Biara), yang pada masa itu tinggal di biara di Doubaiani.
Pada waktu itu ada tokoh penting seorang biarawan dari Gunung Athos, bernama Athanasios, tiba di Meteora, dan mendirikan biara pertama pada bukit cadas itu yang dikenal dengan nama Platy Lithos. Pada cadas yang mengesankan ini yang tingginya 613 meter di atas permukaan laut dan 413 meter di atas Kalambaka dan yang menguasai seluruh pemandangan, Athanasios mendirikan biaranya. Ia menamakan cadas itu Meteora (di udara), karena tampaknya tergantung di antara bumi dan langit. Sejak itu kawasan bukit-bukit cadas itu dinamakan ‘Meteora.”

Dikuduskan
Athanasios membangun kapel dan beberapa ruangan kecil, mengumpulkan 14 biarawan dari cadas-cadas sekeliling, mengatur sebuah persaudaraan dan meletakkan dasar pertama sebuah kehidupan biara bersama.
Tak lama sesudah itu pengganti Stephen Dusan, Pangeran Serbia, yang telah memberikan sejumlah hak istimewa kepada Meteora, bernama Symeon Ouresis, mengikuti kebijaksanaan yang sama.
Kemudian ketika anaknya, Yohanes Ouresis, menjadi biarawan dan tinggal di Meteora dengan nama Iosaph, situasi berubah. Iosaph kawan Athanasios. Keduanya menyemarakkan biara itu.
Gereja didekorasi dengam mural (lukisan dinding) yang indah dan biara dilengkapi dengan menara, rumah sakit, ruangan-ruangan kecil, tangki air, dan gedung lain. Jumlah biarawan pun makin bertambah. Sesudah itu dengan jumlah yang semakin bertambah mereka pun harus memperbesar gereja pusat, yang mereka sebut Catholikon. Gereja itu besar dan yang tua digunakan sebagai perlindungan.
Sesudah meninggalnya Athanasios dan Iosaph, Gereja Ortodoks, dengan adanya mujizat yang mereka tampakkan dan kehidupan suci yang mereka lakukan, menguduskan mereka. Jadi Meteora menjadi pusat pertapaan dan kehidupan agama Ortodoks di dataran rendah Thessalia.
Pada masa yang sama, biarawan lain,Varlaam, mencetuskan gagasan untuk membangun biara yang besar di cadas yang tinggi di seberangnya. Bangunan ini 200 tahun kemudian diselesaikan oleh bersaudara Nectarios dan Theophanis dari Ionnina.

Pasang-surut Biara
Berabad-abad biara Meteora tumbuh dan berkembang mengakibatkan munculnya biara-biara lain. Pada 1490, kedudukan Kepala Retreat ditiadakan dan semua retreat, biara, gua-gua dan pertapaan berada di bawah kekuasaan Biara Transfigurasi Kristus (Biara Pengejawantahan Kristus) yang paling utama.
Abad ke-17 menunjukkan kemerosotan kehidupan berbiara di Meteora. Biara dan biarawan menurun jumlahnya. Kini 6 biara tetap berfungsi dan dapat dikunjungi para peziarah yang harus berpakaian sederhana. Keenam biara itu adalah Transfigurasi Kristus, St. Varlaam, Holy Trinity, St. Stephen Sang Martir Teladan, St. Nicholas Anapafsas dan Rousanou.
Terlepas dari keenamnya masih terdapat reruntuhan biara tempat tinggal biarawan di zaman dahulu. Biara yang tidak didiami dan kurang lebih rusak di Meteora adalah: 1. Biara Santo. George Mandilas. 2. Biara Santo Nicholas Bandovas atau Kophinas. 3. Biara Roh Kudus. 4. Biara Penyerahan Yesus. 5 Biara Paliopanayia. 6. Retreat Doubiani. 7. Biara Rasul Kudus. 8. Biara Santo Gregorius.9. Biara Santo Antonius. 10. Biara Maha Kuasa. 11. Biara Santo Yohanes Pembaptis. 12. Biara Yang Maha Tinggi di Surga atau Kaligrafer. 13. Biara Santos Modestos. 14. Biara Rantai Santo Petrus. 15. Biara Santo Dimitrios.

Saturday, April 10, 2004

Mengapa Hari Raya Paskah Dianaktirikan?

Oleh S. Sahala Tua Saragih

DISADARI atau tidak oleh pemerintah dan masyarakat, sesungguhnya sudah lebih 35 tahun hari raya Paskah, yakni peringatan kebangkitan (hidup kembali) Yesus Kristus, tidak tercantum dalam kalender umum Indonesia.
Yang pasti selalu tercantum dalam kalender nasional adalah hari “Wafat Yesus Kristus” yang pasti jatuh pada hari Jumat. Di kalangan umat Kristen, hari besar peringatan kematian (penyaliban) Yesus Kristus lazim disebut Jumat Agung.
Seingat penulis, pada tahun-tahun 1960-an di kalender umum selalu tercantum hari raya Paskah (dua hari setelah Jumat Agung). Waktu itu dalam kalender umum bahkan tercantum hari raya Paskah I dan II (Minggu dan Senin).
Hari raya Paskah II meskipun dalam kalender umum berwarna merah (hari besar) namun dinyatakan bersifat fakultatif. Artinya, pegawai, pekerja, siswa dan mahasiswa boleh libur, boleh tidak libur.
Dalam beberapa puluh tahun terakhir, kita tak pernah lagi menemukan hari raya Paskah dalam kalender umum. Hari terbesar di kalangan umat Kristen itu dapat kita temukan hanya pada kalender-kalender khusus yang diterbitkan oleh lembaga-lenmbaga gerejawi dan beredar hanya di lingkungan warga gereja-gereja Tanah Air.
Dalam kalender khusus tersebut selalu tercantum hari raya Paskah I dan II (Minggu dan Senin). Kita tidak tahu pasti sejak kapan hari raya Paskah dihapuskan dari kalender umum. Namun bila kita memperhatikan hal ini dengan cermat, penghilangan hari raya besar tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa setelah Yesus Kristus mati dibunuh (disalibkan) dengan sangat sadis oleh orang-orang Yahudi, Ia tidak bangkit (hidup kembali).
Dengan pencantuman hari “Wafat Yesus Kristus” dalam kalender umum tanpa diikuti pencantuman hari raya Paskah, maka dapat timbul kesan, seolah-olah riwayat Yesus Kristus sudah tamat untuk selama-lamanya setelah Ia dibunuh dan dikuburkan. Sadar atau tak sadar, pemerintah selama lebih 35 tahun telah menganaktirikan hari raya Paskah.
Ini padahal hari raya terbesar di kalangan umat Kristen di manapun di muka bumi ini. Sebagai ilustrasi, selama pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, bila hari raya keagamaan jatuh pada Minggu, itu pasti tercantum dalam kalender umum. Esok harinya (Senin) dinyatakan sebagai hari libur nasional.
Masih sangat segar dalam ingatan kita peringatan hari raya Nyepi pada Minggu, 21 Maret 2004, dan Senin, 22 Maret 2004 libur hari raya Nyepi. Jadi, dua hari berturut-turut merupakan libur nasional.
Mundur sedikit, Minggu, 1 Februari 2004, merupakan hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah 1424 H), dan esok harinya (Senin, 2 Februari 2004) merupakan libur hari raya Idul Adha. Juga masih kita ingat dengan jelas, Minggu, 22 Februari 2004 hari raya Tahun Baru Hijriyah (1 Muharram 1425 H). Besoknya, Senin, 23 Februari 2004 secara resmi dinyatakan sebagai hari libur Tahun Baru Hijriyah.
Ketiga hari raya keagamaan berikut hari-hari liburnya jelas sekali tercantum dalam semua kalender yang terbit dan beredar di negeri ini. Melalui tulisan ini, kita tidak menuntut agar pemerintah mulai tahun depan mencantumkan Senin (hari Paskah II) sebagai libur hari raya Paskah. Yang kita tuntut hanyalah agar pemerintah bersikap adil dalam pencantuman hari-hari raya keagamaan dalam kalender umum.
Pemerintah yang bijak dan adil tentunya tidak menganaktirikan hari raya Paskah. Singkat kata, mulai tahun depan (Minggu, 27 Maret 2005) hari raya Paskah seyogianya tercantum (kembali) pada kalender umum atau semua kalender yang terbit dan beredar di Tanah Air.
Soal esok harinya (Senin, 28 Maret 2005), apakah dinyatakan atau tidak dinyatakan sebagai libur nasional, ini tidak terlalu penting bagi umat Kristen di negeri ini. Yang terpenting, hari raya Paskah tidak dianaktirikan dalam kalender umum.
Sekadar perbandingan, tahun ini pemerintah menetapkan Pemilihan Umum (Senin, 5 April dan Senin, 5 Juli) sebagai hari libur nasional. Pemilu padahal murni urusan duniawi belaka.

Gereja Juga
Sadar atau tak sadar, sebagian (besar?) orang Kristen juga sesungguhnya telah menganaktirikan hari raya Paskah. Mereka merayakan dan memaknai Paskah hampir sama saja dengan kebaktian Minggu.
Tak sedikit orang Kristen yang tidak merasa salah sedikitpun ketika mereka tak menghadiri perayaan (kebaktian) Paskah. Mengucapkan selamat Paskah sambil berjabat tangan saja pun mereka masih tampak enggan atau canggung.
Banyak gereja (jemaat) dari segi tampilan fisik saja tak menunjukkan bahwa hari raya Paskah akan/sudah tiba. Coba lihat, apakah ada gereja-gereja yang dihias, misalnya dengan janur kuning dan lampu-lampu warna-warni, dalam rangka menyambut dan merayakan Paskah.
Apakah ada rumah-rumah orang Kristen yang dihias khusus dalam rangka perayaan Paskah? Pabrik-pabrik kartu ucapan mana yang mau mencetak dan memperdagangkan kartu Paskah?
Lihatlah toko-toko buku Kristen, misalnya, sangat langka yang menjual kartu Paskah, karena memang permintaannya sangat langka. Di sini murni berlaku hukum permintaan dan penawaran.
Bukti lainnya, pada penyusunan program kerja dan anggararan jemaat pada awal tahun, misalnya, sadar atau tak sadar mereka menganaktirikan perayaan Paskah, dan sebaliknya menganakemaskan hari raya Natal (peringatan kelahiran Yesus Kristus). Ini jelas sekali terlihat dari anggaran yang dialokasikan untuk kedua pesta gerejawi tersebut, kadang-kadang perbedaannya seperti langit dengan bumi.
Tak sedikit gereja (jemaat) yang tak menyiapkan anggaran untuk perayaan Paskah, karena memang tidak ada kegiatannya. Paskah dirayakan sama saja dengan kebaktian Minggu biasa.
Akan tetapi tidak demikian halnya dengan pesta Natal. Banyak jemaat atau warga Kristen yang “habis-habisan” dalam perayaan Natal sepanjang Desember.
Berbagai cara dan aktivitas mereka buat untuk merayakan dan memaknai hari lahir Sang Juru Selamat. Kelahiran Yesus Kristus padahal tak berarti apa-apa tanpa kematian dan kebangkitanNya.
Tidak sedikit orang Kristen yang memiliki tradisi mudik Natal dan Tahun Baru, tentu saja menghabiskan banyak sekali biaya. Mereka merasa tidak afdol merayakan Natal dan Tahun Baru bila tidak pulang kampung.
Yang lebih “hebat” lagi, banyak pula orang Kristen yang menyambut dan merayakan Tahun Baru secara istimewa. Mereka merayakannya bersama keluarga besarnya semalam suntuk.
Mereka seperti merasa berdosa bila tak berkumpul dengan keluarga besarnya dalam menyambut dan merayakan Tahun Baru. Malam Tahun Baru benar-benar dianggap peristiwa sangat istimewa. Pada malam itulah mereka saling maaf-memaafkan.
Pada tiap perayaan Natal dan Tahun Baru mereka berusaha keras agar semuanya (yang terlihat mata) serbabaru. Tak sedikit orang Kristen yang merayakan Natal dan Tahun Baru secara hedonistis, berfoya-foya, sangat duniawi. Sang Mesias yang mereka rayakan padahal dahulu kala sesungguhnya lahir dalam kemiskinan yang sangat memilukan. Berbeda dengan Natal, sesungguhnya Tahun Baru bukanlah hari besar gerejawi.
Sebaliknya, pada pesta Paskah keluarga mereka tidak melakukan apa pun di rumah. Komunitas keluarga besar mereka sama sekali tak merayakan pesta Paskah sebagaimana mereka menyambut dan merayakan malam Tahun Baru. Paskah benar-benar mereka anaktirikan sementara Natal dan Tahun Baru mereka anak emaskan.
Sungguh ironis, orang Kristen kok tidak kunjung sadar bahwa Paskah merupakan hari besar atau pesta gerejawi terpenting dan terbesar. Kalau umat Kristen saja sudah menganaktirikan Paskah, lalu bagaimana kita bisa mengharapkan orang lain untuk tidak terus menganatirikannya?
Kita sering bertanya dalam benak sendiri, apakah ini pertanda kekurangyakinan mereka terhadap kebangkitan Yesus Kristus dari liang kubur? Apakah mereka meragukan kemenanganNya atas maut?
Apakah itu juga pertanda kekurangpercayaan mereka bahwa kelak ada kehidupan setelah kematian, ada kehidupan kekal di sorga? Apakah itu juga menunjukkan bahwa mereka takut menghadapi kematian karena tidak/kurang yakin akan bangkit kembali kelak seperti Yesus Kristus yang telah bangkit dari liang kubur? Entahlah.
Kata orang-orang bijak, tinggi-rendahnya kualitas pemaknaan kita terhadap peringatan sesuatu terlihat jelas dari cara-cara kita merayakannya. Kualitas ucapan syukur kita kepada Tuhan juga terlihat sangat jelas dari cara-cara kita menyatakan ucapan syukur.
Dalam suratnya yang pertama ke jemaat Korintus, Rasul Paulus menulis demikian, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih daripada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus, padahal Ia tidak membangkitkanNya, andaikata benar bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.”
Agaknya masih ada sebagian orang Kristen yang tidak tahu bahwa sebelum tahun 313 gereja mengenal hanya satu perayaan Kristen (pesta gerejawi), yakni hari raya Paskah. Perayaan Natal baru dikenal sejak tahun 313.
Beberapa abad kemudian Natal ternyata menjadi “anak emas” sementara Paskah menjadi “anak tiri” dalam pesta-pesta gerejawi. Sesungguhnya kelahiran Yesus Kristus tak berarti apa-apa tanpa kematian dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga.
Yesus Kristus adalah Tuhan yang hidup selama-lamanya, bukan Tuhan yang lahir lalu mati untuk selama-lamanya. Umat Kristen umumnya, dan para pemimpin gereja/jemaat khususnya di Tanah Air, perlu segera mengembalikan Paskah sebagai pusat perayaan-perayaan atau pesta-pesta gerejawi.
Kita tak bermaksud untuk menganakemaskan Paskah, lalu menganaktirikan pesta-pesta gerejawi lainnya, terutama Natal. Yang terpenting, kita harus segera kembali mengagungkan hari raya kemenanganNya, kemenangan kita, kemenangan kehidupan kekal atas kematian fana, seperti umat Kristen dahulu kala.
Kepada segenap pembaca yang merayakannya, penulis mengucapkan, Selamat Paskah 2004! Bersyukurlah senantiasa kepada Allah, yang telah memberikan kemenangan kepada kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Syalom!

Penulis adalah Ketua Majelis Jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Bandung masa bakti 2000-2005.