Mencari Tuhan di Puncak Meteora (2)
Keagungan di Puncak Cadas
Oleh Asbari Nurpatria Krisna
Ketika kita berada di puncak-puncak cadas besar dan hitam yang merupakan teras atau serambi biara Meteora dan memandang ke dataran Thessalia, jantung berdetak dengan detakan yang lain. Seolah-olah bukit-bukit cadas yang runcing ini siap melakukan sesuatu di dataran Thessalia, yang terbentang di bawah dalam kehijauan yang seakan-akan tenang, menggambarkan takkan terjadi apa-apa.
Pemandangan hijau ini menimbulkan perasaan kekaguman bercampur pesona, karena kita merasakan ketidakberdayaan kita di depan Sang Pencipta yang mengagumkan. Pada saat yang sama, perasaan keindahan mengalir. Keindahan ini dapat diukur berupa bentuk dan isi, yaitu harmoni yang lengkap.
Keindahan itu statis, seperti Parthenon dalam seni, demikianlah dataran Thessalia yang terbentang di dalam pagutan Sungai Peneus. Elemen yang luhur datang dari pemandangan cadas yang megah dan di puncaknya kita berada, di antara bumi dan langit.
Ketika melihat kehijauan di bawah kita menyadari keseimbangan yang ideal, sedang ketenangan kawasan mencekam kita ketika memandangi ciptaan yang indah ini. Ketika kita memandang bukit cadas yang sangat besar yang muncul di sekeliling kita, kita mengalami kenaikan spiritual kita yang makin mendalam.
Pada saat yang sama citra rasa keagungan tercipta pada tiap biarawan dan tamu. Muncul pula ketegangan emosi luar biasa yang memerlukan penyaluran. Penyaluran ini datang sesudah perasaan yang kuat yang mempunyai dampak spiritual bagi kehidupan mistik dan damai di Meteora. Seperti dilukiskan oleh Theocharis M. Provatakis, yang menulis khusus mengenai Meteora.
Keindahan itu sendiri merupakan persepsi dan kecerdasan, sedangkan keluhuran berbicara kepada emosi dan jiwa, supaya lebih baik dimengerti, katanya.
Pengaturan Biara di Meteora
Nama Meteora baru digunakan oleh Athanasios yang Terberkati, pendiri Biara Pengejawantahan Kristus, yang pada 1344 menyebutnya Platys Lithos (Cadas Lebar) Meteora. Nama ini muncul kemudian untuk hal-hal yang berkaitan dengan cadas atau cadas itu sendiri yang kini dinamakan Meteora.
Bila Meteora dihuni pertama kali oleh pertapa, tidak diketahui. Pengaturan Retreat dimulai pada abad ke-9. Para pertapa yang telah menyiapkan tempat kecil untuk berdoa yang disebut prosefchadia–tiap Minggu pergi ke Kyriako, yaitu gereja umum untuk merayakan liturgi Suci. Maka hidup membiara mulailah di Meteora.
Nama lain pertapa pertama Varnavos yang pada 950-965 mendirikan Retreat Roh Kudus. Tak lama kemudian pada 1002 sesudah Masehi, tradisi berjalan terus, biarawan Andronikos di Kreta membangun pertapaan pada cadas yang kini merupakan Biara Transfigurasi, sedangkan biarawan lain mendidikan Retreat Stagi yang mereka namakan Doubiani, sekitar 1160. 200 tahun kemudian biarawan Varlaam mendirikan Biara Holy Trinity dan Biara Semua Orang Kudus, sedang biarawan pada masa yang sama mendidikan rumah ibadat dan tinggal di sana.
Dalam perkembangannya biara menjadi 24 dan memperoleh bantuan dari lembaga-lembaga dermawan dan hak-hak istimewa diberikan kepada Retreat dan biara oleh pangeran, penguasa, dan kepala-kepala gereja di berbagai masa.
Abad ke-17 merupakan masa keemasan Meteora. Kini hanya tinggal enam biara saja yang beroperasi dan dihuni serta siap menerima tamu. Para biarawan yang hidup di sana kini harus berjuang untuk memperjuangkan supaya biara mereka tetap terjaga dan berkembang.
Tujuan
Banyak pertapa di Indonesia lebih senang mencari gua di dalam tanah. Tujuan mereka bermacam-macam, tetapi sering kita mendengar mereka mengatakan mencari “sangkan paraning dumadi” alias Tuhan.
Berbeda dengan pertapa-pertapa Indonesia, para rahib Yunani dari Kristen Ortodoks lebih memilih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara bertapa di puncak-puncak bukit cadas. Karena Tuhan berada di tempat Maha Tinggi, haruslah dicari tempat yang tinggi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, Sang Pencipta alam semesta ini. Itulah filsafat dasar para rahib Kristen Ortodoks di dalam upaya mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Meteora mulai dikenal orang sejak abad ke-11. Pada mulanya para rahib Kristen Ortodoks hanya ingin bertapa, melakukan meditasi, melatih ketangkasan spiritualnya untuk mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Akhirnya upaya mereka lebih ditujukan untuk mencari Roh Kudus, sehingga mereka hidup lebih bijaksana, damai, tenang, tanpa kekerasan.
Mereka berusaha menemukan Tuhan, menemukan Kristus kembali seperti keyakinan mereka. Mereka ingin lebih bijaksana di dalam kehidupan dan sederhana di dalam keinginan.
Di dalam usaha itu, mereka pergi ke bukit-bukit itu, membangun gua, atau tinggal di gua-gua yang sudah ada. Pada hari Minggu, mereka turun ke kota untuk melakukan ibadat bersama jemaat lainnya. Dengan datangnya biarawan yang adalah perintis pendiri biara, pengorganisasian Retreat dan biara menjadi lebih berkembang dan pesat.
Di tempat-tempat itu, mereka berdoa, berpuasa, tuguran (tidak tidur semalaman), berbuat amal, dan melaksanakan nilai-nilai Kristen. Inilah alat yang mereka gunakan dalam nama Kristus untuk mencapai tujuan mereka.
Tujuan hidup Kristen Ortodoks adalah menguasai Roh Kudus. Para biarawan hanya melakukan ini saja. Mereka hidup dengan kehidupan yang tetap untuk mendekati Tuhan.
Mereka harus dapat mengendalikan diri dan jiwanya mengendalikan hatinya. Hati manusia, sesuai dengan ajaran Kristen Ortodoks, merupakan pusat kehidupan manusia dan sumber kekuatan aktif baik dalam intelek maupun keinginan.
Dari situlah kehidupan spiritual bermula dan berkembang. Hati atau jantung, menurut Uskup Macarius dari Mesir, merupakan “bengkel baik dan buruk,” kendaraan yang bermuatan setiap ketidakbaikan, tetapi pada saat yang sama dapat dikatakan bahwa ada Tuhan, ada malaikat, ada kehidupan dan kekuasaan, ada sinar dan Rasul dan ada kekayaan berkat.
Penyesalan Para Biarawan
Sesudah manusia dibaptis, ia menjalani kehidupan kedua, jalan menuju kepada Bapa. Demikian keyakinan Kristen Ortodoks. Semakin seorang biarawan bersatu dengan Tuhan, semakin waspada pada penyangkalan, semakin sempurna dan tahu ketidaksempurnaannya.
Hasil penyerahan diri adalah rasa berdosa yang dalam dan air mata. Maka mulailah kehidupan baru. Air mata memurnikan sifat manusia. Karena penyesalan bukan hanya usaha kita bersakit-sakit, tetapi berkat yang gemilang dari Roh Kudus yang menyusup dan mengubah hati kita.
Doa para biarawan adalah kekuatan pendorong dalam segala usaha kehidupan spiritual. Menyatunya dengan Tuhan hanya dapat dicapai melalui doa, karena doa merupakan hubungan pribadi manusia dengan Tuhan, dan dengan cara itu manusia bertemu secara pribadi denganNya, menurut Ishak dari Suriah. Di situ manusia kenal Allah dan mencintaiNya. Pengetahuan dan kasih sangat saling berkaitan berdasarkan hidup membiara Kristen Ortodoks.
Doa Biarawan
Biarawan dapat duduk berjam-jam dalam misa yang lama. Misa Kristen Ortodoks memang berlangsung sangat lama. Ia hanya ditemani rosario dan doa yang tak putus-putus. Sekeliling sangat kuat mencekam. Berbagai benda, gerakan dan lain-lain, dan juga membaca Alkitab menolong menguatkan batin.
Rahib Ortodoks selalu memandang Allah sebagai Kasih yang tak berkesudahan dan sebagai korban penyaliban untuk keuntungan manusia. Karena itu, doa seorang rahib selalu dimulai dengan petisi.
Doa petisi ini tidak mudah dan penuh hati-hati serta kekhawatiran. Tetapi ini hanyalah persiapan bagi doa spirtual yang benar. Ini merupakan perkembangan bertingkat menuju Tuhan, usaha untuk mendekatiNya, pencarian spiritual.
Ketika jiwa sudah berkonsentrasi dan mengingat, sedikit demi sedikit petisi itu menghilang; nampaknya tidak bersasaran, karena Tuhan menjawab doa dalam memperlihatkan berkatNnya. Rahib atau biarawan pun berhenti meminta karena ia percaya kemauan Tuhan seluruhnya. Keadaan ini disebut sebagai doa murni.
Kerja sama dua keinginan yang bekerja sama berlanjut melalui semua tingkat kenaikan rahib atau biarawan kepada Tuhan. Pada titik tertentu, seorang rahib atau biarawan meninggalkan lingkungan alamnya dan rohnya mulai aktif, semua gerakan mulai berhenti dan doa pun berhenti.
Inilah damai yang sempurna, ketenangan yang unik. Inilah kegembiraan yang meluap-luap dari roh yang telah menemukan damai yang disebut ekstasi karena biarawan itu “ke luar dari dirinya” dan dia tidak tahu apakah masih di dalam kehidupan ini atau pada apa yang akan datang. Dia bukan lagi miliknya, tetapi milik Tuhan. Dia tidak lagi dikuasai oleh keinginan dirinya, tetapi diarahkan oleh Semua Roh Kudus.
Di dalam praktik, kita menemukan banyak pendoa yang sangat bersungguh-sungguh, seakan-akan waktunya hanya untuk doa yang khusyuk itu saja. Agar mencapai hal ini, biasanya doa haruslah diucapkan atau dibatin secara terus-menerus dan tanpa berhenti seperti kita bernapas atau jantung berdenyut. Untuk seni berdoa macam inilah, seorang biarawan di Meteora mengabdikan diri, sama seperti semua rahib Ortodoks.
Oleh Asbari Nurpatria Krisna
Ketika kita berada di puncak-puncak cadas besar dan hitam yang merupakan teras atau serambi biara Meteora dan memandang ke dataran Thessalia, jantung berdetak dengan detakan yang lain. Seolah-olah bukit-bukit cadas yang runcing ini siap melakukan sesuatu di dataran Thessalia, yang terbentang di bawah dalam kehijauan yang seakan-akan tenang, menggambarkan takkan terjadi apa-apa.
Pemandangan hijau ini menimbulkan perasaan kekaguman bercampur pesona, karena kita merasakan ketidakberdayaan kita di depan Sang Pencipta yang mengagumkan. Pada saat yang sama, perasaan keindahan mengalir. Keindahan ini dapat diukur berupa bentuk dan isi, yaitu harmoni yang lengkap.
Keindahan itu statis, seperti Parthenon dalam seni, demikianlah dataran Thessalia yang terbentang di dalam pagutan Sungai Peneus. Elemen yang luhur datang dari pemandangan cadas yang megah dan di puncaknya kita berada, di antara bumi dan langit.
Ketika melihat kehijauan di bawah kita menyadari keseimbangan yang ideal, sedang ketenangan kawasan mencekam kita ketika memandangi ciptaan yang indah ini. Ketika kita memandang bukit cadas yang sangat besar yang muncul di sekeliling kita, kita mengalami kenaikan spiritual kita yang makin mendalam.
Pada saat yang sama citra rasa keagungan tercipta pada tiap biarawan dan tamu. Muncul pula ketegangan emosi luar biasa yang memerlukan penyaluran. Penyaluran ini datang sesudah perasaan yang kuat yang mempunyai dampak spiritual bagi kehidupan mistik dan damai di Meteora. Seperti dilukiskan oleh Theocharis M. Provatakis, yang menulis khusus mengenai Meteora.
Keindahan itu sendiri merupakan persepsi dan kecerdasan, sedangkan keluhuran berbicara kepada emosi dan jiwa, supaya lebih baik dimengerti, katanya.
Pengaturan Biara di Meteora
Nama Meteora baru digunakan oleh Athanasios yang Terberkati, pendiri Biara Pengejawantahan Kristus, yang pada 1344 menyebutnya Platys Lithos (Cadas Lebar) Meteora. Nama ini muncul kemudian untuk hal-hal yang berkaitan dengan cadas atau cadas itu sendiri yang kini dinamakan Meteora.
Bila Meteora dihuni pertama kali oleh pertapa, tidak diketahui. Pengaturan Retreat dimulai pada abad ke-9. Para pertapa yang telah menyiapkan tempat kecil untuk berdoa yang disebut prosefchadia–tiap Minggu pergi ke Kyriako, yaitu gereja umum untuk merayakan liturgi Suci. Maka hidup membiara mulailah di Meteora.
Nama lain pertapa pertama Varnavos yang pada 950-965 mendirikan Retreat Roh Kudus. Tak lama kemudian pada 1002 sesudah Masehi, tradisi berjalan terus, biarawan Andronikos di Kreta membangun pertapaan pada cadas yang kini merupakan Biara Transfigurasi, sedangkan biarawan lain mendidikan Retreat Stagi yang mereka namakan Doubiani, sekitar 1160. 200 tahun kemudian biarawan Varlaam mendirikan Biara Holy Trinity dan Biara Semua Orang Kudus, sedang biarawan pada masa yang sama mendidikan rumah ibadat dan tinggal di sana.
Dalam perkembangannya biara menjadi 24 dan memperoleh bantuan dari lembaga-lembaga dermawan dan hak-hak istimewa diberikan kepada Retreat dan biara oleh pangeran, penguasa, dan kepala-kepala gereja di berbagai masa.
Abad ke-17 merupakan masa keemasan Meteora. Kini hanya tinggal enam biara saja yang beroperasi dan dihuni serta siap menerima tamu. Para biarawan yang hidup di sana kini harus berjuang untuk memperjuangkan supaya biara mereka tetap terjaga dan berkembang.
Tujuan
Banyak pertapa di Indonesia lebih senang mencari gua di dalam tanah. Tujuan mereka bermacam-macam, tetapi sering kita mendengar mereka mengatakan mencari “sangkan paraning dumadi” alias Tuhan.
Berbeda dengan pertapa-pertapa Indonesia, para rahib Yunani dari Kristen Ortodoks lebih memilih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara bertapa di puncak-puncak bukit cadas. Karena Tuhan berada di tempat Maha Tinggi, haruslah dicari tempat yang tinggi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, Sang Pencipta alam semesta ini. Itulah filsafat dasar para rahib Kristen Ortodoks di dalam upaya mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Meteora mulai dikenal orang sejak abad ke-11. Pada mulanya para rahib Kristen Ortodoks hanya ingin bertapa, melakukan meditasi, melatih ketangkasan spiritualnya untuk mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Akhirnya upaya mereka lebih ditujukan untuk mencari Roh Kudus, sehingga mereka hidup lebih bijaksana, damai, tenang, tanpa kekerasan.
Mereka berusaha menemukan Tuhan, menemukan Kristus kembali seperti keyakinan mereka. Mereka ingin lebih bijaksana di dalam kehidupan dan sederhana di dalam keinginan.
Di dalam usaha itu, mereka pergi ke bukit-bukit itu, membangun gua, atau tinggal di gua-gua yang sudah ada. Pada hari Minggu, mereka turun ke kota untuk melakukan ibadat bersama jemaat lainnya. Dengan datangnya biarawan yang adalah perintis pendiri biara, pengorganisasian Retreat dan biara menjadi lebih berkembang dan pesat.
Di tempat-tempat itu, mereka berdoa, berpuasa, tuguran (tidak tidur semalaman), berbuat amal, dan melaksanakan nilai-nilai Kristen. Inilah alat yang mereka gunakan dalam nama Kristus untuk mencapai tujuan mereka.
Tujuan hidup Kristen Ortodoks adalah menguasai Roh Kudus. Para biarawan hanya melakukan ini saja. Mereka hidup dengan kehidupan yang tetap untuk mendekati Tuhan.
Mereka harus dapat mengendalikan diri dan jiwanya mengendalikan hatinya. Hati manusia, sesuai dengan ajaran Kristen Ortodoks, merupakan pusat kehidupan manusia dan sumber kekuatan aktif baik dalam intelek maupun keinginan.
Dari situlah kehidupan spiritual bermula dan berkembang. Hati atau jantung, menurut Uskup Macarius dari Mesir, merupakan “bengkel baik dan buruk,” kendaraan yang bermuatan setiap ketidakbaikan, tetapi pada saat yang sama dapat dikatakan bahwa ada Tuhan, ada malaikat, ada kehidupan dan kekuasaan, ada sinar dan Rasul dan ada kekayaan berkat.
Penyesalan Para Biarawan
Sesudah manusia dibaptis, ia menjalani kehidupan kedua, jalan menuju kepada Bapa. Demikian keyakinan Kristen Ortodoks. Semakin seorang biarawan bersatu dengan Tuhan, semakin waspada pada penyangkalan, semakin sempurna dan tahu ketidaksempurnaannya.
Hasil penyerahan diri adalah rasa berdosa yang dalam dan air mata. Maka mulailah kehidupan baru. Air mata memurnikan sifat manusia. Karena penyesalan bukan hanya usaha kita bersakit-sakit, tetapi berkat yang gemilang dari Roh Kudus yang menyusup dan mengubah hati kita.
Doa para biarawan adalah kekuatan pendorong dalam segala usaha kehidupan spiritual. Menyatunya dengan Tuhan hanya dapat dicapai melalui doa, karena doa merupakan hubungan pribadi manusia dengan Tuhan, dan dengan cara itu manusia bertemu secara pribadi denganNya, menurut Ishak dari Suriah. Di situ manusia kenal Allah dan mencintaiNya. Pengetahuan dan kasih sangat saling berkaitan berdasarkan hidup membiara Kristen Ortodoks.
Doa Biarawan
Biarawan dapat duduk berjam-jam dalam misa yang lama. Misa Kristen Ortodoks memang berlangsung sangat lama. Ia hanya ditemani rosario dan doa yang tak putus-putus. Sekeliling sangat kuat mencekam. Berbagai benda, gerakan dan lain-lain, dan juga membaca Alkitab menolong menguatkan batin.
Rahib Ortodoks selalu memandang Allah sebagai Kasih yang tak berkesudahan dan sebagai korban penyaliban untuk keuntungan manusia. Karena itu, doa seorang rahib selalu dimulai dengan petisi.
Doa petisi ini tidak mudah dan penuh hati-hati serta kekhawatiran. Tetapi ini hanyalah persiapan bagi doa spirtual yang benar. Ini merupakan perkembangan bertingkat menuju Tuhan, usaha untuk mendekatiNya, pencarian spiritual.
Ketika jiwa sudah berkonsentrasi dan mengingat, sedikit demi sedikit petisi itu menghilang; nampaknya tidak bersasaran, karena Tuhan menjawab doa dalam memperlihatkan berkatNnya. Rahib atau biarawan pun berhenti meminta karena ia percaya kemauan Tuhan seluruhnya. Keadaan ini disebut sebagai doa murni.
Kerja sama dua keinginan yang bekerja sama berlanjut melalui semua tingkat kenaikan rahib atau biarawan kepada Tuhan. Pada titik tertentu, seorang rahib atau biarawan meninggalkan lingkungan alamnya dan rohnya mulai aktif, semua gerakan mulai berhenti dan doa pun berhenti.
Inilah damai yang sempurna, ketenangan yang unik. Inilah kegembiraan yang meluap-luap dari roh yang telah menemukan damai yang disebut ekstasi karena biarawan itu “ke luar dari dirinya” dan dia tidak tahu apakah masih di dalam kehidupan ini atau pada apa yang akan datang. Dia bukan lagi miliknya, tetapi milik Tuhan. Dia tidak lagi dikuasai oleh keinginan dirinya, tetapi diarahkan oleh Semua Roh Kudus.
Di dalam praktik, kita menemukan banyak pendoa yang sangat bersungguh-sungguh, seakan-akan waktunya hanya untuk doa yang khusyuk itu saja. Agar mencapai hal ini, biasanya doa haruslah diucapkan atau dibatin secara terus-menerus dan tanpa berhenti seperti kita bernapas atau jantung berdenyut. Untuk seni berdoa macam inilah, seorang biarawan di Meteora mengabdikan diri, sama seperti semua rahib Ortodoks.
