Saturday, May 29, 2004

Leukemia Ini Tak Akan Membuatku Berhenti Bersyukur

Oleh Keyta Sihombing

Duniaku saat ini adalah kotak isolasi berukuran sekitar 2x2 meter persegi di Rumah Sakit PGI Cikini. Sudah lima minggu aku berada di sini. Dokter telah memvonisku terkena leukemia.
Aku mengingat setiap momennya sampai vonis itu turun. Sebelumnya, aku menderita sakit maag yang sangat akut. Sebulan aku diopname karena demam terus-menerus di RS PGI Cikini. Aku harus mengikuti tes USG (Ultra Sonografi) untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi dalam tubuhku, belum cukup juga ternyata untuk mengetahui apa sakitku. Aku harus menjalani endoskopi. Ternyata ada batu kecil di empedu.
Lima minggu aku menghuni rumah sakit, sampai akhirnya aku diizinkan pulang ke rumah.
Tiga hari kemudian, tulang belakangku terasa sangat sakit. Aku menangis. Tulang belakangku seperti dipukul-pukul balok. Aku tak kuat. Aku tak mengerti sakit apa aku ini dan kenapa rasa sakit yang mengerikan ini menyerangku.
Aku ajak kakakku, Mekarti, ke dokter ahli tulang. Tadinya, kami hendak ke dokter di Pasar Minggu, terasa lebih mudah karena rumahku di kawasan Halim Perdanakusuma itu juga. Dokternya tidak bertugas di hari Rabu itu. Dia baru ada di hari Jumat.
Tak mungkin aku menunggu. Aku sudah tak tahan. Akhirnya aku ke RS PGI Cikini ini. Aku dianjurkan ke dokter endoskopi, namun oleh bagian endoskopi aku dirujuk ke bagian rematik.
Serangkaian tes kujalani lagi. Dokter memvonisku anemia karena aku kekurangan darah merah, dan darah putihku banyak. Ternyata sel darah merahku (haemoglobin-Hb) rendah. Aku disuruh opname. Aku menolak. Aku trauma dengan ritual infus-menginfus ini. Sebulan lebih diinfus, tanganku bengkak. Aku memilih pulang saja.
Namun, kondisiku menjadi begitu dilematis. Aku bergumul dengan rasa sakitku yang semakin menjadi. Dua hari kemudian aku mendatangi rumah sakit lagi. Ternyata, Hb dalam tubuhku makin rendah.
Aku kembali menghuni rumah sakit. Hari ketiga aku dites BMP (diambil sampel sumsum tulang belakang). Kemudian, dokter akan memindahkan aku ke ruang isolasi. Aku sangat sedih. “Loh kok aku jadi mengidap penyakit menular, Dok?” asumsiku jika ditempatkan di ruang isolasi berarti aku terkena penyakait menular. Aku bilang, “Dokter tolong jujur, aku sakit apa?”
Profesor Karmel yang juga adalah dokter yang menanganiku (berikutnya aku sapa dengan “Profesor”) berkata,”Kau terkena leukemia.” Hasil periksa darah, terutama sampel yang diambil dari sumsum tulang belakang, memperjelas penyakit apa yang kuderita. Penyakit ganas yang menyerang sumsum tulang belakangku dan akan menyebar ke seluruh tubuh. Penyakit ini juga dikenal dengan kanker darah.
Ketika dibilang leukemia aku tidak kaget. Aku hanya terdiam. Ada rasa tak percaya. “Aku ini pendonor darah, Dok. Terakhir, aku donor daran bulan Desember 2003. Nggak mungkinlah aku sakit itu,” kataku.
Tiba-tiba di dalam hatiku, bahkan sampai detik ini, ada keberanian untuk menghadapi segala sesuatunya. Aku merasa tak gentar, mungkin karena aku sudah tidak merasa sakit lagi.
Tapi, aku masih bingung, kenapa aku harus masuk ke ruang isolasi. “Agar kau tidak terkena kuman-kuman yang di luar ini. Kau harus steril. Semua barang yang ada di sekitar kau harus steril juga, makanya kau masuk ke ruang ini,” demikian penjelasan Profesor. Aku mengerti sekarang.
Setelah masuk ke ruang isolasi, aku diberi tahu akan menjalani kemo (kemoterapi). Komentar awalku,”Apa itu itu kemo?”. Aku pernah denger, tapi kan definisi dan penjabaran kemo itu apa, reaksinya seperti apa, bentuknya kayak, aku nggak mengerti. Saat Profesor menjelaskan bahwa nanti saya akan lemas, panas tinggi, pusing, dan lain-lain. Di situ ada rasa sedikit takut.
Aku langsung nggak mau dikemo. Satu bulan kemudian badanku makin lemah. Tapi aku berdoa, “Ya Tuhan, aku beriman padaMu.”
“Profesor, aku tak perlu kemo, aku mau pulang saja.”
“Kalau Keyta mau pulang, silakan,” kata Profesor.
Namun, apa daya. Aku tak bisa pulang. Tulang-tulangku makin sakit, dan tubuhku melemah. Berdiri saja aku susah. Keluargaku yang membawaku pulang.
Setelah itu, ada seorang teman yangmenganjurkan aku ke dokter di Rumah Sakit Darmais. Namun, apa yang terjadi. Sang dokter malah menegurku,”Kok dibiarkan begini? Kenapa nggak dikonsultasi sama psikolog bahwa kamu tuh nggak mau dikemo? Kamu nih memang harus dikemo.”
Tapi saya tetap bersikukuh. Aku meyakini bahwa Tuhan pasti sembuhkan aku. Terus terang saja, aku jadi keras hati.
Tapi kondisi badanku tak bisa sekeras hatiku. Kondisiku makin drop. Aku malah lemas dan tak bisa bergerak. Bercak-bercak merah di badan mulai muncul. Akhirnya, aku minta pindah ke RS Darmais. Namun, keadaan berbicara lain. Mobil yang membawaku nggak bisa menembus rumah sakit karena banjir yang terjadi di Grogol dan sekitarnya. Akhirnya aku balik lagi pulang ke rumah.
Keesokan harinya aku kembali ke Darmais. Ternyata, aku nggak ditolong lagi, tapi dianjurkan langsung ke RS Cikini karena yang menangani aku tuh seorang profesor. Profesor Karmel. Akhirnya, aku menyerah. Aku balik ke RS Cikini dan bersedia untuk dikemo.
Saat menjalani kemo, aku nggak ada merasa takut. Aku yakin Tuhan besertaku. Aku serahkan diriku padaNya. Aku kuatkan diriku dengan berkata pada diriku sendiri bahwa dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah milik Tuhan Yesus.
Puji Tuhan, selama kemo tujuh hari tujuh malam itu, aku nggak merasa apa pun. Rasa lemas, muntah-muntah, demam, dan lain-lain itu nggak ada. Aku merasa Tuhan menjamahku.
Ketika mau menjalani kemoterapi, aku memuji-muji Tuhan sekencang-kencangnya. Tubuhku dimasuki jarum suntik cukup lama, sekitar setengah jam, dan aku terus bernyanyi.
Mungkin orang lain berpikir aku kesepian di ruang isolasi ini. Tapi tidak, aku tidak kesepian. Dorongan besar dalam diriku untuk sembuh membuat semangatku selalu bernyala-nyala di “dunia kecil”-ku ini.
Pada dasarnya aku kan periang, suka membuat lelucon, suka ngomong. Dan aku seringkali menghabiskan waktuku dengan bernyanyi-nyanyi dan berpoco-poco di kamar ini. Aku bilang pada orang-orang, aku kuat kok.
Memang, saat aku pulang ke rumah sebelum masuk ke sini lagi, aku sempat menonton The Passion of the Christ. Aku mendapat kekuatan.
Saat ini usiaku sudah 39 tahun, November nanti usiaku akan masuk “kepala empat”. Aku tujuh bersaudara, kakak tertuaku, Mekarti, dan adik bungsuku yang sangat rajin mengurusku selama di sini. Tanpa mereka, aku tak tahu bagaimana jadinya.
Teman-teman dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kwitang juga begitu hebat mendukungku melewati masa-masa sulit ini. Aku aktif di gereja dari tahun 1992 sebagai guru sekolah minggu. Aku ikut paduan suara. Aku berlatih musik kolintang padahal aku orang Batak. Lucu dan membangkitkan semangat rasanya, kalau aku mengenang masa-masa itu.
Menurut kawan-kawan dan orang sekitarku, aku bisa menghidupkan suasana jika ada di tengah teman-teman. Dan saat ini, teman-temanlah yang membuat semangatku tetap hidup. Aku sangat bersyukur atas hal ini.
Aku juga memuji syukur padaNya karena aku merasa pribadiku berubah. Aku merasa lebih bertumbuh secara rohani. Aku sekarang tak mudah marah. Ada suster yang kadang ngeselin, namun berbagai hal yang aku telah lalui ini membuatku selalu ingin berdamai. Aku juga sekarang mendoakan orang lain yang sudah menecewakanku, aku mengampuni mereka bahkan meminta mereka diberkati dan diampuni Tuhan.
Dalam doa, aku mengucap syukur karena aku menyadari penderitaan Yesus lebih dahsyat dariku. Aku jelas nggak ada apa-apanya. Dan salah satu doaku yang terpenting adalah aku mengucap syukur karena diberi kekuatan menahan rasa sakit.
Aku juga tidak menyesal atas semua ini. Aku tetap setia padaNya, keluargaku jadi makin dekat denganku, teman-temanku benar-benar membangkitkan gairah hidupku.
Pernah aku dapat telepon dari Australia, dan si penelepon mengajak berdoa bersama. Astaga, pikirku, kok bisa sampai ke sana kabarnya. Ternyata teman-temanku telah menyebarkan berita tentang aku lewat milis-milis Kristen di Internet.
Dana bantuan pun mengalir untuk menebus obat-obatku. Pekerjaan Tuhan sungguh hebat, dan aku betul-betul merasakannya.
Dan jika Tuhan izinkan aku keluar dari sini, aku akan bersaksi tentang apa yang Dia buat untuk aku.

Ruang Isolasi IK II Gedung M2
Rumah Sakit PGI Cikini

Saturday, May 22, 2004

Gadis Kecil Itu Bernama Isaya

oleh Peter Purwanegara

Aku teringat waktu itu aku masih bekerja di kedai kopi dengan posisi sebagai pelayan. Karena untuk menyelesaikan kuliah ternyata memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Aku bekerja di kedai tersebut karena ajakan temanku, Benny. Aku pikir aku punya waktu
dan masih perlu uang, maka kuterima ajakan tersebut.
Menjelang akhir tahun, tiba-tiba Benny menyodorkan sebuah brosur dengan ajakan membantu anak-anak kecil di dunia ketiga seperti di Asia, Amerika Latin, atau Afrika, yang dikelola oleh sebuah organisasi Kristen. Anak-anak kecil yang hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Mereka tak cukup makanan, tak cukup air bersih, tak ada obat-obatan dan mungkin mereka tidak akan pernah mendapatkan pendidikan pula.
"Ben, apa kau pikir aku kebanyakan uang ?"
"Ala, apa sih beratnya menyumbang dua puluh dolar sebulan. Kamu menyumbang dua puluh dolar sebulan tidak membuat kamu jatuh miskin. Dan kau harus berpikir bahwa sumbangan ini untuk menyelamatkan hidup seorang anak kecil" kata Benny dengan mencoba mempengaruhiku.
Aku terdiam. Aku tidak mengerti ucapan Benny itu. Aku hanya berpikir, karena uangku pas-pasan. Dan dalam hal sumbang-menyumbang, aku sudah memberi persembahan setiap Minggu di gereja. Masak sekarang mau ditambah lagi?
"Nih kamu tanda tangani di bawah sini. Dan kalau kamu nggak ada uang sekarang pakai uangku dulu," kata Benny. Aku seperti terhipnotis mendengar ajakan Benny tersebut.
Sekitar dua minggu kemudian aku mendapatkan balasan dari organisasi Kristen tersebut, disertai dengan sebuah foto dari seorang gadis kecil berusia lima tahun yang tinggal di sebuah negara di Afrika. Gadis kecil itu bernama Isaya.

***

Waktu terasa berlalu dengan cepat, aku pun telah lulus dari kuliahku. Aku masih berhubungan dengan Benny. Kami tidak hanya bertemu di gereja tetapi juga di tempat bekerja. Kami bersama-sama bekerja di perusahaan kimia tambang emas.
Sebagai sarjana yang baru lulus, tak ayal lagi aku bekerja mulai dari tingkat pemula. Demikian pula dengan Benny, dan kami bersyukur atas berkat Tuhan ini. Gaji tidak begitu besar, tapi uang tersebut dapat kami gunakan sesuai dengan kebutuhan kami.
Benny cukup aktif dalam pelayanan gereja. Dia pula yang sering mendorong aku untuk ikut pelayanan, ikut persekutuan dan mengingatkanku tidak patah semangat untuk membiayai Isaya, gadis kecil yang hanya kukenal lewat foto.
Karena kesibukanku, sehingga aku tak terasa setiap bulan menyisihkan sebagian dari
gajiku untuk gadis kecil itu, yang dulunya aku merasa enggan untuk membantunya.
Bulan demi bulan telah lewat, musim demi musim berlalu. Tiga tahun sudah berlalu. Menjelang hari Natal sebuah kartu dikirim dari Afrika. Ternyata Isaya yang mengirim kartu Natal melalui organisasi Kristen tersebut. Selain selembar kartu Natal yang ditulis
oleh Isaya sendiri, tulisan tangannya agak kurang beraturan, tetapi aku masih dapat membacanya, di dalam amplop tersebut juga terdapat sebuah foto Isaya yang memakai seragam sekolah.
Tuan Christian yang dikasihi oleh Tuhan Yesus. Saya telah menerima surat balasan tuan Christian. Saya tidak lupa berdoa untuk kesehatan tuan Christian. Tuhan memberkati.
Terima kasih pula untuk boneka yang tuan Christian berikan. Saya menyukainya. Saya bermimpi suatu hari saya dapat bertemu dengan tuan Christian.

Isaya

Foto Isaya aku letakkan di atas lemari es bersama foto-foto yang sebelumnya telah dikirim oleh organisasi Kristen tersebut setiap tahunnya.
Lagi-lagi Benny yang membuatku tidak habis pikir. Kebetulan kami berdua akan dikirim ke kantor cabang kami yang berada di Afrika selama tiga minggu. Lalu Benny mengusulkan padaku untuk mengunjungi anak-anak yang kami bantu melalui organisasi Kristen itu.
"Kapan lagi kamu bisa ke Afrika?" tanya Benny. "Ini kesempatan namanya."
"Ben, kita ke Afrika bukan dalam rangka bersosialisasi tetapi masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan." kataku mengingatkan Benny.
"Apa salahnya sih kalau kita menyisihkan waktu kita untuk mengunjungi anak yang kita bantu. Aku yakin mereka akan sangat gembira sekali. Lagipula apa kamu tidak ingin melihat anak yang kamu bantu selama lima tahun ini bagaimana keadaannya?" sahut Benny menyakinkanku. Memang benar, kadang aku ingin tahu bagaimana sih keadaannya sekarang, anak yang kubantu itu.
Tahun ini usia Isaya mencapai sepuluh tahun. Dikatakan dalam surat terakhirnya, dia masuk sekolah kelas empat. Aku pikir ini pekerjaan Tuhan yang sungguh ajaib.
Bagaimana tidak, aku yang tidak mengenal Isaya, kini aku mengarungi lautan yang jaraknya puluhan ribu kilometer dengan salah satu tujuan menemui gadis kecil itu. Aku juga bersyukur pada Tuhan yang telah memakai Benny untuk mengajakku membantu Isaya.
Hatiku merasa berdebar untuk dapat bertemu dengan Isaya di rumahnya. Meski aku berkata dalam hatiku, aku hanya akan menemui seorang gadis kecil yang kubantu selama lima tahun ini. Tetapi entah kenapa, perasaanku tegang.
Benny diajak oleh rombongan lain untuk menemui anak yang dibantunya di kampung lain. Aku sudah menemui ibu Isaya, seorang ibu yang sederhana, yang sedang mengasuh tiga orang adik Isaya. Kami menunggu Isaya pulang dari sekolah.
Jam dua belas lebih sepuluh menit, aku melihat seorang gadis kecil yang berseragam sekolah berjalan menuju arah kami. Isaya persis seperti yang pernah kulihat dari fotonya. Seorang gadis kecil yang berkulit kelam dengan rambut keritingnya yang dikepang dua. Roger Hartman, pengurus dari organisasi Kristen tersebut dan sekaligus yang mengantarku ke rumah Isaya, menghampiri Isaya terlebih dahulu dan bercakap dengan Isaya beberapa saat. Lalu ia menggandeng Isaya ke arahku.
"Halo, Isaya." sapaku.
Dia terdiam sesaat dan memandangku. Aku menghampiri untuk memberi salam. Roger menghampiri Isaya dan berbisik padanya. Isayapun maju menghampiriku dan memberikan tangannya untuk bersalaman.
Aku pun berjongkok membuka kedua tanganku memeluk Isaya. Dia membalasnya. Aku serasa mimpi. Inilah gadis kecil yang selama lima tahun hanya kukenal melalui koresponden surat dan tak pernah kubayangkan akan bertemu dengannya, sekarang aku memeluknya. Isaya memelukku erat.
Kurasakan sesuatu yang hangat di leherku. Isaya terisak menangis, air matanya mengalir
di leherku. Aku tahu itu isak tangis Isaya yang bahagia. Mimpinya menjadi kenyataan. Hatiku tersentuh. Isaya menginginkan pertemuan ini terjadi. Seperti yang diceritakan oleh ibunya padaku.
"Tuan Christian, terima kasih?..terima kasih," ucap Isaya dengan agak kaku.
"Panggil aku Christian." aku tersenyum kepada Isaya.
Memang aku tak menyangka bahwa sumbanganku setiap bulan itu berdampak begitu besar atas diri Isaya dan keluarganya. Sebelumnya mereka tidak mempunyai kamar
mandi dan jamban sendiri, karena mereka tidak mempunyai biaya untuk mendirikannya. Setelah aku menyumbang, organisasi Kristen tersebut mulai membuat saluran air besih dan mendirikan kamar mandi serta jamban.
Kamar mandi keluarga Isaya sekarang telah digunakan bersama dengan tiga keluarga tetangga lainnya. Isaya mempunyai seragam dan peralatan sekolah serta sepatu yang layak dipakai. Keluarga Isaya mampu membeli seekor sapi yang dapat diminum susunya dan sepasang ayam yang dapat dimakan telurnya.
Aku bersyukur pada Tuhan dapat membantu Isaya dan keluarganya. Aku tahu masih banyak Isaya-Isaya lainnya yang masih menunggu uluran tangan orang yang mampu dan
mau membantu mereka.
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku?..Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Matius 25:35, 36, 40.

Vancouver, 18 Maret 2004

Wednesday, May 19, 2004

Haruskah Menikah?

Oleh Netty Sitorus

“Kapan Menikah?” merupakan pertanyaan yang akan terus menerus dilontarkan oleh lingkungan sekitar kepada pria dan wanita yang masih tetap sendiri saat usia mereka telah mendekati atau telah melampaui umur tiga puluh tahun, dimana usia tersebut masih dianggap sebagai batas seseorang untuk mengakhiri kesendiriannya.
Belum menikah pada usia yang sudah dianggap dewasa memang bukanlah hal yang mudah untuk dijalani ditengah-tengah masyarakat yang masih memegang kuat pemahaman bahwa setiap orang harus menikah. Tidak heran topik mengenai pasangan hidup akan selalu menjadi pembahasan yang menarik bagi setiap orang di berbagai kalangan.

Pandangan Keliru
Pemahaman masyarakat bahwa setiap orang harus menikah memberikan tekanan yang memberatkan bagi mereka yang belum memiliki pasangan hidup terutama bagi kaum wanita, sebutan yang sangat menakutkan sebagai “Perawan Tua” sudah cukup untuk menjadi pemicu bagi kaum wanita untuk berlomba-lomba menikah tanpa persiapan yang cukup baik. Pandangan masyarakat terhadap pernikahan sering tidak relevan dengan kenyataan yang ada dan hanya merupakan pemikiran turun temurun yang telah diwariskan berpuluh-puluh tahun, contoh pandangan masyarakat yang keliru sebagai berikut:
Menikah adalah tujuan tertinggi setiap orang di masa hidupnya
Siklus kehidupan yang masih dipercayai oleh masyarakat adalah LAHIR – MENIKAH – MATI. Tidak heran para orang tua yang memiliki anak yang telah menyelesaikan studi dan sudah memiliki pekerjaan akan terus mendesak anaknya untuk segera menikah karena orang tua menilai hidup anaknya belum sempurna jika belum menikah. Cepat tidaknya anak mereka menikah juga sering kali dijadikan tolak ukur keberhasilan sebagai orang tua, sebagaimana hal yang ditakutkan oleh mereka yang belum menikah, sebutan memiliki anak yang “perawan tua” juga menakutkan bagi orang tua yang memiliki anak gadis.
Menikah akan menjamin kebahagiaan hidup seseorang
Pemahaman inilah yang sering menjadi pemicu tidak seimbangnya penilaian yang diberikan terhadap mereka yang belum menikah. Masyarakat sangat mempercayai bahwa menikah akan menjamin kebahagiaan hidup seseorang karena seluruh persoalan hidup yang dihadapi pada saat masih sendiri akan terselesaikan pada saat menikah. Benarkah demikian? Tidak juga, malah jika kita mau berbicara jujur berdasarkan fakta, masalah didalam pernikahan justru lebih kompleks dan sering sulit untuk diselesaikan oleh kedua belah pihak. Jika menikah memang menjamin kebahagiaan hidup seseorang, mengapakah begitu banyak pernikahan yang diakhiri dengan perceraian?

Kita sebagai orang Kristen tanpa sadar juga memiliki pandangan-pandangan yang keliru mengenai pernikahan, pandangan-pandangan tersebut sebenarnya sedikit banyak dipengaruhi juga oleh pemahaman masyarakat umum hanya terkesan lebih rohani, itulah sebabnya pemuda-pemudi Kristen juga tidak terlepas dari tekanan-tekanan yang diberikan oleh orang tua dan sesama orang Kristen lainnya mengenai masalah menikah . Pandangan-pandangan yang keliru tersebut adalah sebagai berikut:
Menikah adalah panggilan Tuhan yang tertinggi terhadap manusia
Orang Kristen sering berpikir bahwa menikah adalah panggilan Tuhan yang tertinggi bagi umat ciptaanNya. Dasar dari pemahaman ini biasanya lahir dari konteks alkitab pada saat Tuhan melihat Adam membutuhkan teman hidup. Tuhan memang menyediakan teman hidup bagi Adam agar dia tidak kesepian tapi perintah untuk mengelola seluruh ciptaan Tuhan diberikan kepada Adam sebelum Hawa diciptakan. Jika ingin dikaji lebih jauh, Rasul Paulus justru menganjurkan untuk tidak menikah agar jemaat dapat melayani Tuhan dengan seluruh waktu dan tenaganya. Jadi menikah bukanlah panggilan Tuhan yang tertinggi bagi manusia, tujuan tertinggi Tuhan menciptakan manusia untuk memuliakan Nama Tuhan melalui seluruh hidup mereka terlepas dari mereka telah menikah atau belum.
Menikah membutuhkan pengorbanan diri dan komitmen, sehingga orang yang tidak mau menikah pastilah egois dan tidak memiliki komitmen
Orang Kristen sering menilai mereka yang belum menikah padahal telah cukup umur dan memiliki pekerjaan adalah orang-orang yang egois dan yang tidak memiliki komitmen karena mereka hanya ingin menghabiskan uang dan waktu demi kesenangan pribadi. Padahal banyak dari pemuda-pemudi Kristen yang menunda pernikahan mereka justru didorong oleh karena adanya tanggung jawab yang besar dalam keluarga, kondisi keluarga yang memaksa mereka menjadi tulang punggung membuat mereka rela untuk mengkesampingkan kebutuhan pribadi mereka untuk menikah demi melayani keluarga. Dapatkah pengorbanan yang seperti itu disebut egois demi kepentingan diri sendiri?
Penilaian mereka takut memiliki komitmen juga belum tentu benar, tingginya pendidikan dan luasnya pergaulan sering menambah wawasan para pemuda-pemudi Kristen yang membuat :
Mereka melihat dan mempelajari fakta bahwa cinta tidak cukup untuk membuat suatu pernikahan berjalan dengan baik, perlunya kesiapan mental dan materi mendorong mereka ingin lebih banyak melakukan persiapan dalam kedua hal tersebut sehingga mereka lebih suka menunggu agak lama untuk mencari waktu yang tepat.
Mereka menyadari bahwa pernikahan bukanlah masalah sepele tetapi merupakan masalah yang serius dihadapan Tuhan, karena pernikahan itu suci bagi Tuhan, apalagi Tuhan sangat membenci perceraian. Keinginan untuk berhati-hati dan tidak terburu-buru mencari pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan bukan untuk sekedar “mengikuti arus”, dapatkah disebut takut memiliki komitmen?
Mendapatkan pasangan hidup merupakan berkat dari Tuhan sehingga orang yang belum menikah berarti tidak diberkati Tuhan atau ada dosa tertentu yang membuat Tuhan tidak mau memberikan pasangan hidup
Ini adalah pendapat yang paling menyakitkan bagi mereka yang belum menikah dan pandangan yang keliru mengenai sifat Tuhan. Belum menikah atau memilih untuk tidak menikah bukanlah dosa, jika berkat Tuhan diukur dari seseorang itu memiliki pasangan hidup atau tidak, bagaimana dengan para Rasul dan para pelayan Tuhan yang memilih untuk tidak menikah seumur hidup mereka, apakah Tuhan tidak memberkati mereka? Bukankah bukan hanya berkat yang Tuhan limpahkan, bahkan surga menjadi milik mereka selamanya.
Adanya dosa tertentu yang dilakukan seseorang juga tidak menjadi alasan bagi Tuhan untuk tidak memberikan pasangan hidup, jika memiliki pasangan hidup dilihat dari standard apakah seseorang itu memiliki dosa atau tidak, maka seluruh manusia dimuka bumi akan tidak pernah menikah, karena kita semua telah jatuh ke dalam dosa dan tidak ada satupun diantara kita yang tidak pernah berbuat dosa.
Jadi bagaimana pemahaman yang benar terhadap masalah pernikahan yang harus dipegang teguh oleh mereka yang belum menikah dan yang telah menikah?

Pemahaman yang benar bagi mereka yang belum menikah:
Belum menikah atau memilih untuk tidak menikah bukanlah dosa
Alkitab tidak pernah mengajarkan HARUS MENIKAH. Tuhan sangat menghargai keputusan anak-anakNya dan tidak pernah ada paksaan terhadap siapapun, yang ditekankan oleh Alkitab adalah apapun yang kita lakukan dalam hidup kita harus dilakukan untuk Memuliakan Nama Tuhan, termasuk keputusan seseorang untuk menikah atau tidak.
Orang yang memilih untuk belum menikah atau sama sekali tidak menikah akan berdosa kepada Tuhan jika motivasinya karena tidak ingin disusahkan oleh kehadiran orang lain didalam hidup mereka, takut kebebasannya dalam berbagai hal menjadi hilang, takut semua harta milik yang telah dikumpulkan tidak lagi menjadi milik pribadi atau alasan-alasan egois lainnya.
Orang yang memilih untuk menikahpun akan berdosa kepada Tuhan jika motivasinya untuk menikah didasari oleh alasan untuk mencari keamanan finansial, tidak tahan terhadap tekanan keluarga dan masyarakat, takut disebut tidak laku atau perawan tua, melihat penampilan fisik seseorang atau alasan-alasan egois lainnya.
Jadi yang penting dalam hal ini adalah motivasi, keputusan apapun yang diambil seseorang baik menikah ataupun tidak, jika itu digunakan untuk Melayani Tuhan dan sesama maka hal itu benar di hadapan Tuhan.
Tetap miliki standard dalam memilih pasangan hidup
Tidak tahannya orang kristen terhadap tekanan yang ada dan adanya ketakutan-ketakutan terhadap penilaian orang-orang disekitar, sering membuat mereka melakukan kompromi terhadap standar-standar yang telah diatur oleh Alkitab mengenai memilih pasangan hidup.
SATU IMAN tetap merupakan syarat yang utama
Prinsip yang penting “menikah dulu”, membuat orang Kristen jadi melupakan hal utama yang paling penting dalam memilih pasangan hidup yaitu SEIMAN, mereka memberikan argumentasi yang kelihatannya masuk akal dan rohani, seperti akan membawa pasangan hidupnya menjadi Kristen, Alkitab memang menyuruh kita untuk menjadikan segala bangsa menjadi Murid Tuhan tapi bukan melalui pernikahan.
Tuhan tidak pernah membutuhkan jumlah pengikut yang banyak karena yang Tuhan lihat adalah hati seseorang untuk menjadi pengikutNya dan ketaatan kita untuk mengikuti perintahNya, Tuhan lebih senang melihat kita berjuang untuk mentaati perintah Tuhan mencari pasangan hidup yang seiman ketimbang keinginan kita untuk mengkristenkan orang lain.
Mengapa Alkitab sangat menekankah pentingnya memiliki pasangan hidup yang seiman? Karena Tuhan ingin membentuk keturunan Ilahi melalui pernikahan kita, bagaimana hal itu bisa dilakukan jika pasangan hidup kita sendiri tidak mengenal siapa Tuhan kita.
Hormatilah milik orang lain
Sinetron-sinetron Indonesia dan opera-opera sabun yang bertemakan PERNIKAHAN, PERSELINGKUHAN dan PERCERAIAN, sedikit banyak mempengaruhi cara berpikir masyarakat bahwa berselingkuh atau merebut milik orang lain adalah hal yang wajar, namun hal itu tidak berlaku bagi orang Kristen. Hormatilah pernikahan orang lain, hindari memiliki hubungan khusus terhadap mereka yang telah menikah. Tuhan tidak pernah mengijinkan atau memberkati pernikahan yang menyebabkan perceraian bagi orang lain.
Tidak ada patokan umur untuk menikah
Alkitab tidak pernah menentukan umur seseorang untuk menikah. Setiap orang memiliki waktunya sendiri sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing. Hal yang membuat pemuda-pemudi Kristen putus asa adalah ketika mereka melihat doa-doa mereka tentang meminta pasangan hidup seperti tidak pernah terjawab sedangkan orang-orang lain disekitar mereka seperti begitu mudah mendapatkannya. Disinilah pentingnya untuk mengerti bahwa Tuhan memiliki rencana yang berbeda-beda terhadap setiap umatNya dan segala sesuatu berada dalam tangan Tuhan. Tetap tekunlah menunggu waktu Tuhan sambil terus berdoa dan mencari siapa yang disediakan Tuhan menjadi pasangan hidup kita. Tidak usah melihat orang lain apalagi menjadikannya sebagai tolak ukur keadaan kita, anggaplah waktu menunggu ini sebagai kesempatan berlatih agar kita memiliki karakter-karakter dewasa yang nantinya akan sangat dibutuhkan dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Pemahaman yang benar yang harus dipegang orang Kristen yang telah menikah terhadap mereka yang belum menikah:
Menikah bukan segalanya, hargailah Posisi mereka yang belum menikah
Tuhan tidak pernah memandang hina mereka yang belum menikah, oleh sebab itu orang-orang Kristen yang telah menikah tidak memiliki hak untuk memandang rendah atau memiliki penilaian yang negatif terhadap mereka yang belum menikah. Kesadaran bahwa Tuhan memiliki rencana hidup yang berbeda-beda terhadap setiap anakNya harus menjadi pegangan teguh yang harus ditaati oleh kita semua.
Memilih pasangan hidup itu sulit, jangan mendesak melainkan beri dukungan yang positif
Mendapatkan pasangan hidup yang seiman dan takut akan Tuhan bukanlah semudah membalikan telapak tangan, dibutuhkan proses yang panjang dan berliku-liku. Orang Kristen yang telah menikah harus menyadari hal ini sehingga tidak terus menerus memberikan tekanan dan desakan terhadap mereka yang belum menikah. Berikanlah dukungan yang positif sehingga mereka tidak putus asa menantikan “Waktu Tuhan”
Di atas segalanya, baik bagi mereka yang belum menikah maupun yang telah menikah, hal terpenting didalam hidup yang harus dipegang teguh oleh semua orang adalah untuk memakai seluruh hidup baik waktu, talenta dan tenaga untuk memuliakan nama Tuhan dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling kita.

Saturday, May 15, 2004

Perempuan Itu Aku Panggil Ibu

Perempuan Itu Aku Panggil Ibu

Oleh Joshua MS

Entah sudah berapa kali aku berkunjung ke kampung sunyi ini, tetapi jumlah kunjungan ternyata tidak mampu mengikis rindu dan gundah yang meronta-ronta. Setiap kali aku menginjakkan kaki di teras rumah tua itu, berbagai gejolak berkecamuk silih berganti.
Lembar-lembar memori masa kecilku seperti potongan-potongan adegan yang silih berganti bermunculan. Seperti sebuah adegan drama kehidupan, kenanganku di rumah tua ini seolah tak pernah pudar di lindas waktu.
Dua puluh delapan tahun silam, kisah itu dimulai. Hari Selasa, tepat jam 10 pagi, seorang perempuan muda tak berpengalaman mengempas-empaskan tubuhnya di atas dipan. Tak lama berselang, perempuan itu tergeletak tak berdaya setelah berjuang melawan kontraksi otot rahim.
Perempuan itu telah hampir semalaman berjuang menahan rasa sakit untuk persalinan anak pertamanya. Entah berapa kali dia menjerit dan berteriak sangat keras. Tembok putih ruangan praktik bidan desa itu bergema memantulkan gaung jeritnya.
Hingga, ketika matahari pagi mulai meninggi, suara tangisan mungil seorang bayi memecah sunyi. Seorang bayi laki-laki mungil untuk pertama kalinya menyapa dunia dengan tangisan melengking. Perempuan itu beberapa saat tertegun.
Seolah tidak merasakan lagi penderitaannya semalam, perempuan itu menantikan anaknya dimandikan. Tidak sabar ia ingin segera memeluk eret-erat bayi itu. Ia tidak peduli keringat yang mengalir deras dari pori-pori dahinya. Kebahagiaan memancar dari raut wajahnya yang kelelahan.
Seperti sebuah badai bersama sambaran petir, menit-menit penuh sukacita itu seketika hilang. Untuk pertama kalinya, perempuan itu terpaku dalam ketidakpercayaan. Hatinya meronta dan menangis. Sedu sedan mengganti wajah riang beberapa menit yang lalu. Setelah sekian lama bergelut dengan sapaan penderitaan, sekarang dia harus merawat seorang bayi prematur.
Penderitaan itu sesunguhnya mulai menyapanya sejak pertama kali menginjak rumah sang mertua. Seorang pemuda yang dia anggap sebelumnya berhati pangeran berbudi luhur, ternyata hanya pada saat mengucapkan janji nikah di altar gereja saja terlihat memesona. Selebihnya, pemuda yang resmi menjadi suaminya itu tidak lebih dari pemuda berandal yang tidak bertanggung jawab.
Tidak tanggung-tanggung, pemuda itu seolah tidak merasa bersalah melemparkan apa saja yang dapat dijangkau tangannya. Piring-piring beterbangkan hingga pintu dibanting. Rumah itu menjadi saksi bisu kekerasan seorang suami.
Tidak hanya sampai di situ, berkali-kali tamparan keras menimbulkan sembab di kedua belah pipi perempuan itu. Sekali waktu, tamparan keras membuat tidak hanya sekadar sembab, darah segar mengalir dari sela-sela bibirnya. Kekejaman suaminya itu semakin menjadi-jadi setelah mertuanya meninggal dunia. Seolah lepas kendali dan kerasukan, suaminya semakin tidak manusiawi.
Mulai dari hidup tidak karuan, judi, mabuk-mabukan, sampai main perempuan, pemuda itu seolah-olah lupa bahwa dia telah punya seorang istri. Pulang ke rumah hanya untuk melampiaskan emosi yang tidak tersalurkan di luar sana.
Itulah suasana rumah tangga yang ada. Hingga suatu hari, karena usia kandungan, dengan berat hati perempuan itu meninggalkan rumah. Dengan air mata, perempuan itu kembali
ke rumah orang tuanya.

Dapat Bertahan
Hari ketika aku, bayi prematur itu lahir, pemuda yang tak lain adalah ayahku itu entah berada di mana. Seharusnya dia menemani istrinya berjuang menentang maut. Setelah beberapa hari, laki-laki itu baru hadir dengan tidak bersimpati sedikitpun.
Hingga bertumbuh jadi seorang anak normal setelah melewati masa kritis bagi setiap bayi
prematur, aku tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang sebagai seorang ayah darinya.
Setelah melalui masa kritis, aku bertumbuh menjadi seorang yang sangat tergantung, baik kepada pertolongan dan bantuan medis, hingga ketergantungan kepada orang lain. Aku bertumbuh menjadi seorang remaja yang sangat rentan terhadap serangan penyakit.
Hampir sepanjang tahun aku lalui dengan berbagai-bagai penyakit. Oleh kehadiran seorang perempuan yang dengan setia selalu mendampingi masa-masa sukar, aku dapat bertahan.
Entah akan apa jadinya, jikalau ketika suhu tubuhku di atas normal, perempuan itu tidak ada. Ketika paru-paru menyempit sehingga aku harus tidur dalam satu posisi dan megap-megap mencari oksigen, akan seperti apa aku tanpa kehadiran perempuan itu.
Hampir setiap rasa sakit yang mendera semua sistem organ tubuhku, perempuan itu selalu ada si sebelah tempat tidur. Dengan beban yang sangat berat, perempuan itu merawat dan menjaga aku tanpa kontribusi seorang laki-laki yang disebut ayah.
Dengan segala keterbatasannya, dengan setia dia bekerja dan berdoa. Yang pertama untuk pertobatan laki-laki tanbatan hatinya, ayahku, dan yang kedua untuk kesembuhanku. Dari keterbatasan perempuan yang hanya sempat mengenyam pendidikan SMP itu, ia bekerja dan berdoa tanpa putus asa.

Suatu Sore
Hingga akhirnya, pada satu hari menjelang petang, seperti biasanya, aku tiba di rumah setelah seharian menghabiskan waktu di sebuah Sekolah Menengah Atas milik pemerintah.
Aku telah diterima di sebuah sekolah negeri. Aku sangat bersyukur, walaupun aku bertumbuh sebagai remaja yang kurang sehat, aku dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata.
Hampir setiap kelas yang aku ikuti dari Sekolah Dasar hingga sekarang SMA selalu mencatatkan aku sebagai murid yang berprestasi. Aku tidak habis mengerti mengapa itu bisa terjadi, karena menurut catatan medis, seharusnya aku menjadi murid yang biasa-biasa saja di sekolah. Mungkin ini salah satu bentuk kemahaadilan Tuhan. Barangkali.
Suasana rumah sore itu seperti biasanya sepi. Aku segera bergegas ke dapur. Setelah beberapa jam dalam perjalanan di bawah terik matahari, aku sangat kehausan. Ketika
kakiku bergegas ke dapur, tanpa sengaja ekor mataku melirik ke arah sebuah kamar. Kamar yang hanya di tempati ayahku untuk tertidur pulas. Sayup-sayup aku mendengar suara tangisan tertahan.
Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk mengintip dari celah-celah pintu. Sebuah pemandangan yang sangat tidak lazim.
Ayahku sedang sujud berdoa dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Untuk pertama kalinya aku melihat laki-laki itu menangis.
Belakangan aku mengerti bahwa ayahku telah mengalami sebuah perjumpaan supranatural dengan Tuhan. Ia adalah seorang yang selama ini hanya secara simbolik menjalankan agama yang dipercayainya.
Lewat sebuah kebaktian malam menjelang hari pentakosta, ia telah mengalami perjumpaan supranatural dengan Tuhan Yesus. Tanpa berdaya untuk membantah, ayah seolah didorong dan di-“paksa” untuk bertobat dari jalan-jalannya yang sesat.
Setelah 16 tahun berdoa dan mencucurkan air mata, perempuan yang aku panggil ibu itu akhirnya menerima jawaban. Laki-laki tidak bertanggung jawab yang adalah ayahku itu, akhirnya mengenal siapa dirinya dan siapa Allah yang menciptakannya.
Pengenalan itulah yang akhirnya menuntun laki-laki itu menjadi seorang suami yang baik. Lewat proses yang panjang, ia telah menjadi kepala rumah tangga yang sungguh sangat bijaksana.
Jawaban doa yang paling membuat dia berbahagia adalah ketika oleh sebuah mujizat, Tuhan menyembuhkan aku dari semua sakit bawaan lahir. Peristiwa itu terjadi pada satu malam menjelang tidur.
Malam itu, seperti biasanya setelah selesai belajar, aku hendak beranjak tidur. Tiba-tiba sebuah cahaya sangat terang memancar dari sudut langit-langit kamar tidur tepat mengenai tubuhku yang terlentang di atas dipan.
Sejujurnya, kami sekeluarga bukanlah keluarga Kristen yang religius. Pengalaman-pengalaman berbau religius bukanlah hal yang lazim dalam keluarga kami. Dari semua anggota keluarga, hanya ibu yang tekun dalam doa dan ibadah.
Tetapi sungguh ajaib, sejak peristiwa malam itu, aku merasa tubuhku sangat sehat. Sejak peristiwa aneh dan ajaib malam itu, semua terapi medis secara total berhenti. Aku benar-benar dinyatakan sembuh.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Sebelum aku mengetuk kembali pintu rumah tua ini, ada sebuah kekuatan yang sangat kuat mendorongku untuk segera berlari ke dalam. Setelah melalui penerbangan yang melelahkan, dan perjalanan darat hampir setengah hari, akhirnya aku kembali ada di sini.
Di teras rumah tua yang penuh kenangan. Bukan lagi sebagai bayi prematur berkulit
keriput, bukan juga remaja pemalu yang sakit-sakitan, sekarang aku berdiri di teras rumah ini sebagai seorang pemuda gagah. Seorang pemuda bergelar sarjana. Seperti
cita-cita dan doa perempuan berhati mulia itu, aku telah menyelesaikan 5 tahun masa belajar di sebuah sekolah teologi.
Sayup-sayup langkah perempuan itu mendekat pintu. Tidak sanggup untuk lebih lama menunggu aku berlari menubruk tubuh ringkuhnya. Wajahnya yang semakin menua, tetap bersinar di sela-sela senyumnya yang tidak pernah berubah.
Air mata hangat dari matanya menetes ketika memeluk keras-kera leherku. Ah,…Ibu! Betapa aku tidak lagi hanya sekadar berbahagia, tetapi rasanya aku adalah anak paling berbahagia saat ini. Ketika seorang laki-laki yang sedari tadi memandangiku dari jauh. Dari pintu kamarnya dia menatapiku dengan mata berkaca-kaca. Ah,… Ayah!
Setengah menjerit aku memanggil namanya dan berlari menjangkau tubuhnya yang mulaimenua. Dalam tangis bahagia, aku memeluk erat-erat lehernya. Betapa aku adalah orang yang sangat berbahagia dan bersuka cita hari ini.

Dari Seorang Anak


Saturday, May 01, 2004

Mencari Tuhan di Puncak Meteora (3-Habis)

Saat Bumi dan Langit Menyatu

Oleh Asbari Nurpatria Krisna

Memasuki Gereja Kristen Ortodok, kita merasakan sesuatu yang lain, budaya yang lain dari kehidupan beragama. Gereja di Meteora mengesankan sesuatu yang misterius, karena cahaya yang ada tidak terlalu banyak, bahkan cenderung gelap.
Hanya sinar dari atas, dari kubah dan jendela-jendela saja yang masuk ke ruangan. Banyak hiasan dan lukisan yang memperlihatkan kehidupan Kristus. Lilin yang menyala, menambah misteri itu.
Ikon yang tergantung di dinding atau di tiang, memberikan inspirasi yang lain. Pada lukisan itu terpampang dogma Kristen dan kehidupan Kristus. Sekeliling terasa bahwa sang Pencipta menyelinap di dalam diri kita, bahkan merasuk ke dalam jiwa kita.
Kita merasakan bahwa antara bumi dan langit menyatu, antara kehidupan nyata dan kelak kemudian hari membentang di dalam cahaya yang menyebabkan kita seperti tak terdekati. Allah benar-benar kita rasakan kehadirannya, karena berada di dalam kita sendiri.

Barang Kesenian
Di Meteora terdapat banyak karya sendiri, dari lukisan dinding (mural), ikon, sampai lukisan dan logam-logam, karya seni, pakaian liturgi penuh bordiran emas, cawan perak dan peti-peti, pedupaan dengan ukiran indah, salib-salib dengan hiasan dan pernik-pernik dan bebatuan mulia yang mahal. Banyak benda dan barang yang digunakan di dalam liturgi dapat kita saksikan, dan semuanya dijelaskan oleh para biarawan
Perpustakaan di tiap biara merupakan tempat penyimpanan manuskrip yang sangat berharga dan ratusan dokumen penting. Kebanyakan tulisan tangan yang tersimpan rapi, perkamen yang terawat dengan baik dan berkaitan dengan semua hal di dalam agama Kristen, sejarah, pengobatan, filsafat dan matematik.
Ada pula tulisan-tulisan di atas kertas yang dimulai sejak abad ke-14. Banyak dokumen yang disimpan di dalam miniatur yang tetap dipelihara dengan baik. Ada dekrit Patriarkh dari Konstantinopel, sapi emas, dekrit-dekrit keuskupan yang memberikan kesaksian kebajikan para kaisar dan Kepala gereja Ortodoks sepanjang abad.
Pengorbanan dan pengabdian para biarawan untuk merawat semua ini dalam suka dan duka, telah menyelamatkan relikwi, dan barang-barang peninggalan yang merupakan khasanah warisan nasional para nenek moyang Yunani.
Berdasarkan kajian terakhir di biara Meteora terdapat 1,124 naskah kuno yang dipilah-pilah oleh N. Veis, yang terdapat di seluruh biara Meteora. Berdasarkan pemilahan tersebut, di Biara Meteora Besar terdapat 610 naskah kuno, Biara Varlaam 269 naskah kuno, Biara Santo Stephen 103 naskah kuno, Biara Holy Trinity 47naskah kuno, Biara Rousanou 52 naskah kuno dan Biara Santo Nicholas Anapafsas 43 naskah kuno.

Pengunjung dan Biarawan
Banyak pengunjung yang datang ke biara-biara ini karena memang ada waktu-waktunya biara itu terbuka untuk umum, tanpa mengganggu kehidupan para biarawan. Kehidupan sederhana, penuh doa, puasa, keuletan, dan pengorbanan tidak terjangkau oleh para peziarah ini.
Mereka datang menyaksikan keindahan alam, keagungan Tuhan baik yang diperlihatkan oleh alam maupun oleh karya manusia. Tetapi semua itu hanyalah lahiriah saja.
Betapa untuk pertama kalinya para biarawan ini mengangkut bebatuan, semen, kayu, genteng dan keperluan bangunan lainnya. Pada awalnya untuk keperluan ini dibuat derek dengan tali panjang ke bawah, dengan pengungkit yang dapat diputar. Tidak selamanya cara ini mudah dilakukan.
Oleh karena itu dibuatlah tangga batu, tangga kayu, tangga besi, sesuai perkembangan zaman. Di masa seperti sekarang ini, ketika helikopter dapat disewa, tentu saja untuk membangun biara akan lebih mudah kalau menggunakan helikopter. Tetapi dengan keterbatasan dana dan hanya dipenuhi roh yang menyala-nyala untuk mengabdikan diri kepada Kristus dan agar para biarawan tetap dekat dengan Tuhan, mereka melakukan semua itu bagaikan menyakiti diri.
Bekerja dengan makan yang seperluanya, bahkan berpuasa, merupakan cara bekerja para biarawan di Biara-biara di Meteora ini. Mereka juga berusaha menanam apa saja yang dapat mereka gunakan untuk hidup sehari-hari. Bila tidak, maka mereka mendatangkan bahan-bahan makanan dari luar dan menaikkannya dengan jala-jala yang diikatkan pada tali panjang yang dihubungkan ke derek.
Sampai dengan 1923, jala-jala masih digunakan di Biara Pengejawantahan Kristus. Sejak itu dibuatlah ceruk-ceruk yang dijadikan anak tangga. Melalui jalan yang agak gelap, 115 anak tangga dibuat menuju ke atas. Maka sejak itu jala-jala dengan derek itu hanya digunakan untuk mengangkut barang, atau secara khusus bila ada biarawan tamu yang ingin menikmati masa lalu, maka jala-jala itu digunakan kembali, sampai ke atas.

Biara Transfigurasi Kristus
Biara ini menguasai puncak dengan luas 50.000 meter persegi. Bukit cadas ini terletak 613 meter dari permukaan laut dan 415 meter dari dasar Sungai Peneus. Dari dasar tempat kita naik sampai ke puncak 250 meter dengan 115 anak tangga menuju ke gerbang masuk Biara.
Di tengah-tengah terdapat gereja besar yang disebut Catholikon, yang dipersembahkan kepada Pengejawantahan Kristus. Gedung besar yang sangat impresif ini dengan panjang 42 meter dan lebar 24 meter Dilihat dari arsitektur, bentuk bangunan merupakan salib dengan kubah bersisi duabelas seperti drum. Gedung terbagi dalam beberapa bagian belakang, tubuh, samping dan tempat mempersembahkan misa. Gedung ini merupakan sisa masa pertama dan kedua arsitektur Byzantium.
Bangunan ini, sejak dirintis oleh pendirinya, Santo Anasthanios (1382) dan diteruskan oleh sahabatnya Ioasaph (1388) mempunyai dekorasi lukisan dinding (1484). Terdapat inskripsi yang menerangkan siapa pendirinya dan kapan. Terdapat beberapa inskripsi lain yang memperlihatkan kapan dekorasi dibuat dan lain-lainnya dikembangkan.
Selain gereja besar ini, terdapat tiga gereja kecil yang dibangun pada masa yang berlainan. Yang pertama adalah Gereja Santo Yohanes Pembaptis. Mempunyai tabir kayu berukir abad ke-16. Berikutnya Gereja Santo Konstantion dan Helena yang juga mempunyai tabir kayu berukir dan dibuat pada 1789. Gereja ini tidak mempunyai mural. Pada pintu masuk terdapat inskripsi yang menjelaskan kapan gereja ini dibangun.

Ruang Makan Dijadikan Museum
Di masa biara mempunyai banyak biarawan, dibuatlah ruang makan yang besar. Ruangan itu kini dijadikan museum, yang lebih berarti, karena berisi berbagai macam peninggalan, sehingga para pengunjung dapat menelusuri sejarah biara dan juga agama Kristen di Meteora. Ruangan ini mempunyai panjang 35 meter dengan lebar 12 meter.
Lima tiang utama menopang atap yang dibentuk dalam empat kubah tunggal dan dua kubah ganda dengan hiasan zigzag dan desain geometris. Ada lukisan ikon yang menggambarkan Sang Perawan di antara Malaikat Gabriel dan Mikhail. Di pintu masuk terdapat inskripsi yang menjelaskan siapa yang membuat dan kapan.
Di dalam museum ini kini terdapat banyak benda peninggalan, seperti salib yang indah penuh hiasan lengkap dengan pegangannya, makam suci dan ikonnya; cawan, Injil, alat-alat pastoral dan jubah, karya ikon dan miniatur, banteng emas, banteng perak, stempel dan dokumen-dokumen lain yang mempunyai nilai sejarah dan seni.
Ada salib berukir yang dibuat oleh biarawan Daniel, yang untuk menyelesaikannya ia memerlukan waktu 10 tahun. Di satu sisi mempunyai sepuluh adegan dengan beberapa tokoh dan 24 tokoh yang mewakili tokoh tunggal.
Dari beberapa ikon yang ada yang penting adalah Penghinaan pada Yesus, Dukacita sang Perawan, Keraguan Thomas dan Evangelist dan lain-lainnya. Di belakang ruang makan ini terdapat ruang pengobatan biara.
Itulah biara terbesar di antara 24 biara yang ada di Meteora. Bila Anda berminat untuk menyaksikan Meteora dengan lebih seksama, jalanterbaik adalah menginap barang dua tiga malam, karena di dekat Meteora juga ada hotel dan juga ada camping.
Bila para peserta Olimpiade Indonesia mempunyai waktu, mereka bukan hanya dapat berwisata di kawasan kuno Athena, tetapi juga dapat pergi ke Meteora. Bagi yang beragama Kristen, banyak tempat ziarah yang perlu dikunjungi, seperti di Athena sendiri, ketika Rasul Paulus berkhotbah. Ke Barat dapat kita temukan Korintus, yang puing-puing kota lamanya masih tersisa dan juga tempat Rasul Paulus menyampaikan khotbahnya.
Di Thessaloniki, agak jauh ke Utara, lebih dari 500 km dari Athena, juga merupakan tempat ziarah yang baik dan masih banyak lagi.
Jika memang ada banyak uang dan waktu, tempat-tempat ini perlu dikunjungi, untuk menguatkan iman, betapa di masa dulu Rasul Paulus dan Rasul lain melakukan penyebaran Injil dengan naik perahu, naik keledai, jalan kaki di bawah terik matahari dan juga di musim dingin yang menggigilkan tubuh.
Tentunya, tidak semua tempat itu dapat dijangkau karena jaraknya yang jauh. Bila ada niat, mulailah dari sekarang membaca literatur tempat yang akan Anda kunjungi. Paling tidak satu tempat mungkin untuk sementara cukup bagi Anda. Dua lebih baik. Tiga makin baik.

Penulis adalah wartawan senior, menetap di Belanda