Pelajaran dari Nenek Pikun
Oleh Lesminingtyas
Keluarga kami bergereja di GKI Bogor. Anak pertama kami Sekolah Minggu di kelas besar pada jam 07.00, sedangkan adiknya yang masih batita masuk Sekolah Minggu, pukul 09.00 WIB. Pemisahan kelas anak-anak kami membuat kami tidak bisa ke gereja bersama-sama dan kami bersepakat bahwa sayalah yang kebagian tugas mengantar anak terbesar ke Sekolah Minggu, sekalian mengikuti kebaktian jam 07.00 WIB.
Minggu, 13 Juni 2004, kami bangun agak kesiangan. Saya dan anak saya yang pertama pergi ke gereja begitu terburu-buru. Biasanya kami naik angkot 08 dari arah Cibinong turun di Pasar Anyar, kemudian naik becak ke Jl. Pengadilan. Tetapi karena kami terburu-buru, saya berusaha memprovokasi bang sopir untuk membelokkan angkotnya ke Jl. Pengadilan.
Saya sama sekali tidak memperhatikan seorang nenek tua yang duduk di bangku yang berseberangan dengan kami. Pikir saya, toh nenek itu tidak protes, berarti dia setuju juga, apalagi saya lihat nenek tua itu juga membawa Alkitab sehingga saya berpikir bahwa kami bertiga sedang menuju ke satu tujuan yang sama.
Turun dari angkot, saya buru-buru masuk ke gereja dan karena kebaktian sudah dimulai, saya dan nenek tua itu duduk bersebelahan di bangku paling belakang. Kami duduk demikian mepetnya sehingga aroma minyak angin yang dipakai nenek itu benar-benar menyengat hidung saya.
Nenek itu kebingungan, tapi saya tak menggubrisnya karena saya harus cepat-cepat berdoa pribadi kemudian melirik ke jemaat di sebelah kanan saya untuk mengintip nomor lagu NKB yang sedang dinyanyikan. Nenek yang ada di sebelah kiri saya bergumam, "Kok beda, ya?"
Pikirku,”Nenek ini gimana sih? Kayak nggak tahu saja. Lagu-lagu di NKB memang beda dengan Kidung Jemaat.”
Karena nenek itu masih gusar, saya menyodorkan buku NKB supaya nenek itu bisa ikut menyanyi sambil kujelaskan,"Iya, sekarang nyanyinya pakai NKB, bukan Kidung Jemaat".
Tapi walaupun sudah saya tunjukkan baris per baris lagu yang sedang dinyanyikan, nenek itu mengeluarkan suara yang berbeda. Dalam hati saya tersenyum,"Wah, nenek ini kalau ikut AFI bisa langsung dieliminasi, karena intonasi lagunya nggak jelas, timbrenya ancur-ancuran dan pitch control lemah sekali."
Saat Pendeta mengajak jemaat membuka Alkitab sebagai petunjuk hidup baru, nenek di sebelah kiri saya mengalami kesulitan. Saya berusaha menolong mencari ayat-ayat yang dimaksud. Begitu selesai menolong nenek tua itu, saya membuka sendiri Alkitab saya, tapi begitu ketemu ayatnya, Pendeta telah selesai membacakannya.
Saat Pendeta meminta kami membuka ayat-ayat yang lain, nenek pikun itu kembali mengundang perhatian saya untuk menolongnya. Seperti kejadian pertama, saat saya menemukan ayat-ayat di Alkitab saya sendiri, saya sudah ketinggalan karena Pendeta sudah meminta kami untuk membuka ayat-ayat yang lain lagi. Saya nggak tahu sudah berapa kali Pendeta meminta kami membuka Alkitab, tapi tak ada pembacaan satu
ayat pun yang bisa saya ikuti.
Saat Pendeta mengajak jemaat membaca firman sebelum kotbah, saya berusaha membuka Alkitab saya sendiri dulu dan setelah ketemu saya menyodorkan Alkitab saya kepada nenek itu. Maksud saya, biar saya membuka Alkitab nenek itu pelan-pelan (karena tidak berindeks dan sudah kusut/kumal). Tapi begitu melihat tulisan di Alkitab saya, nenek itu minta tolong dicarikan kaca mata di tasnya.
Setelah kaca mata saya berikan, saya kembali membuka pelan-pelan Alkitab si nenek. Begitu saya menemukan ayat-ayat yang dimaksud dan langsung membaca dari Alkitab si nenek, nenek itupun kembali "berulah". Dia menutup Alkitab di tanganya dan menyerahkan ke saya sambil berkata "Ah, susah.tulisannya kecil-kecil" dan dia pun menarik Alkitabnya sendiri yang masih di tangan saya. Daripada buka-buka lagi, saya mencoba untuk nebeng, ikut membaca Alkitab si nenek. Tapi nenek itu tidak mempedulikan saya dan asyik membaca Alkitab sendiri, tanpa memberi kesempatan kepada saya untuk ikut membacanya.
"Maklum sajalah, namanya juga sudah pikun" kataku dalam hati untuk menghibur diri.
Saat pengumpulan persembahan, nenek itu lagi-lagi mengalami kesulitan. Ia mengaduk-aduk semua isi tasnya, tetapi ia tidak menemukan dompetnya dan ia pun meminta bantuan saya untuk mencarinya.
Karena saya tak menemukan dompetnya, sedangkan petugas kolektannya sudah hampir sampai di barisan belakang, saya memberikan amplop uang yang ada di genggaman saya, kepada nenek itu. Sayapun secepat kilat menarik selembar uang dari dompet saya.
Melihat tingkah nenek yang sedemikian "ngrepotinnya" saya malah tersenyum malu. "Wah, mungkin ini cara Tuhan untuk mengingatkan saya, bahwa persembahan
yang sudah saya siapkan dari rumah itu belum cukup"
Makanya saya hanya tersenyum saat nenek itu mengucapkan terima kasih, saya pikir ucapan itu tidak perlu karena berapapun uang yang saya keluarkan pagi itu, semuanya merupakan persembahan saya untuk Tuhan, bukan untuk nenek itu.
Setelah kami berdiri untuk doa persembahan, kami kembali duduk. Nenek itu tampaknya kaget karena merasa ada benda asing di sekitar perutnya.
"Oh..ternyata di sini," kata nenek itu sambil mencabut dompet dari balik kain stagennya. Nenek itupun membuka dompetnya, mengambil beberapa lembar uang ribuan dan menyodorkannya ke saya. Saya menolaknya karena saya nggak mau menarik kembali uang yang sudah saya persembahkan, terlebih lagi saya harus cepat-cepat berdiri khusuk untuk menerima berkat pengutusan dari Pendeta.
Selesai kebaktian, saya pikir, "Plong" ..selesailah tugas saya sebagai babby sitter.” Tapi ternyata tidak.
Biasanya begitu selesai saat hening, saya langsung kabur.cepat-cepat pulang karena harus menyiapkan anak terkecil saya untuk Sekolah Minggu jam 09.00. Tapi pagi itu, nenek memaksa saya mengikuti prosesi, iring-iringan jemaat keluar dari pintu utama untuk
bersalaman dengan Pendeta.
Anak saya yang sudah keluar dari Sekolah Minggu sudah tidak sabar menunggu di
gerbang gereja. Tapi saya juga tidak bisa buru-buru meninggalkan nenek itu, karena nenek itu tampak kebingungan. Katanya "Kok, gerejanya sekarang beda, gembala sidangnya juga beda, nyanyinya juga beda. Saya jadi bingung"
Mendengar istilah gembala sidang, saya terkejut. Saya baru sadar bahwa nenek itu ternyata bukan jemaat GKI dan sayapun bertanya "Memangnya gereja nenek biasanya di mana?"
"Ya di sini. Dari rumah biasanya saya naik 08 sampai mentok. Keluar dari gereja biasanya saya belanja di Pasar Anyar, tapi sekarang kok pasarnya pindah ya?"
"O...gereja nenek itu Pantekosta yang di Pasar Anyar ya? Ini GKI nek!"
"O…jadi saya ini kesasar, tho?"
"Sekarang nenek pulangnya mau naik apa?" tanya saya.
"Saya mau pulang ke Pomad, naik angkotnya dari depan gereja"
"Kalau begitu bareng dengan saya nek, kita sama-sama naik 08" saya berusaha untuk menolongnya.
"Ah, nggak mau, nanti kesasar lagi! Saya maunya naik angkot 08 yang dari depan gereja saya"
"Nenek bisa jalan kaki dari sini ke gereja nenek?"
"Wah, nggak tahu! Tolong ya, antarkan saya ke sana dulu!"
Karena saya sadar telah membuat nenek itu "tersesat", saya pun bersedia mengantar nenek itu berjalan kira-kira 800 m ke gerejanya.
Anak sayapun bersungut-sungut. Katanya, "Uh..ngapain sih kita harus ngurusin orang lain"
Sayapun berusaha menjelaskan bahwa tidak ada gunanya kita pergi ke gereja, berdoa, dan baca Alkitab kalau kita tidak mau melakukan sesuatu untuk orang yang membutuhkan. "Seharusnya kita bersyukur bisa bertemu dengan nenek ini, karena di rumah kita nggak punya nenek" bisik saya.
"Hi...geuleuh" kata anak saya dalam bahasa Sunda yang berarti “jijik”.
Seketika itu saya merasa gagal mendidik anak dan saya hanya bilang,"Tiga puluh tahun lagi mungkin keadaan ibu lebih pikun dari nenek itu. Mungkin ibu besok lebih keriput, kumal, dan lebih menyebalkan. Apakah kamu tega bilang kalau ibu geuleuh? Apakah kamu rela kalau kelak akan-anak kecil mengatakan ibu geuleuh? Kalau kamu tidak mau ibu dan kamu sendiri dikatakan geuleuh jangan sekali-kali kamu melakukannya pada orang lain." kata saya menasihati.
Ternyata nenek pikun itu telah banyak sekali memberikan pelajaran buat saya, paling tidak pelajaran tentang kesabaran, kepedulian, dan keinginan untuk melayani. Saya juga diingatkan bahwa ternyata masih banyak sekali pelajaran-pelajaran kasih yang belum saya ajarkan kepada anak saya.
Mungkin nilai rapor anak saya untuk mata pelajaran Kasih masih merah, karena saya, ibunya, yang harus berperan sebagai guru kasih bagi anak-anak belum lengkap dan tuntas mengajari dan memberi teladan kepadanya. Maka...Tuhan, ampunilah kami!
penulis adalah pekerja di sebuah NGO internasional
Keluarga kami bergereja di GKI Bogor. Anak pertama kami Sekolah Minggu di kelas besar pada jam 07.00, sedangkan adiknya yang masih batita masuk Sekolah Minggu, pukul 09.00 WIB. Pemisahan kelas anak-anak kami membuat kami tidak bisa ke gereja bersama-sama dan kami bersepakat bahwa sayalah yang kebagian tugas mengantar anak terbesar ke Sekolah Minggu, sekalian mengikuti kebaktian jam 07.00 WIB.
Minggu, 13 Juni 2004, kami bangun agak kesiangan. Saya dan anak saya yang pertama pergi ke gereja begitu terburu-buru. Biasanya kami naik angkot 08 dari arah Cibinong turun di Pasar Anyar, kemudian naik becak ke Jl. Pengadilan. Tetapi karena kami terburu-buru, saya berusaha memprovokasi bang sopir untuk membelokkan angkotnya ke Jl. Pengadilan.
Saya sama sekali tidak memperhatikan seorang nenek tua yang duduk di bangku yang berseberangan dengan kami. Pikir saya, toh nenek itu tidak protes, berarti dia setuju juga, apalagi saya lihat nenek tua itu juga membawa Alkitab sehingga saya berpikir bahwa kami bertiga sedang menuju ke satu tujuan yang sama.
Turun dari angkot, saya buru-buru masuk ke gereja dan karena kebaktian sudah dimulai, saya dan nenek tua itu duduk bersebelahan di bangku paling belakang. Kami duduk demikian mepetnya sehingga aroma minyak angin yang dipakai nenek itu benar-benar menyengat hidung saya.
Nenek itu kebingungan, tapi saya tak menggubrisnya karena saya harus cepat-cepat berdoa pribadi kemudian melirik ke jemaat di sebelah kanan saya untuk mengintip nomor lagu NKB yang sedang dinyanyikan. Nenek yang ada di sebelah kiri saya bergumam, "Kok beda, ya?"
Pikirku,”Nenek ini gimana sih? Kayak nggak tahu saja. Lagu-lagu di NKB memang beda dengan Kidung Jemaat.”
Karena nenek itu masih gusar, saya menyodorkan buku NKB supaya nenek itu bisa ikut menyanyi sambil kujelaskan,"Iya, sekarang nyanyinya pakai NKB, bukan Kidung Jemaat".
Tapi walaupun sudah saya tunjukkan baris per baris lagu yang sedang dinyanyikan, nenek itu mengeluarkan suara yang berbeda. Dalam hati saya tersenyum,"Wah, nenek ini kalau ikut AFI bisa langsung dieliminasi, karena intonasi lagunya nggak jelas, timbrenya ancur-ancuran dan pitch control lemah sekali."
Saat Pendeta mengajak jemaat membuka Alkitab sebagai petunjuk hidup baru, nenek di sebelah kiri saya mengalami kesulitan. Saya berusaha menolong mencari ayat-ayat yang dimaksud. Begitu selesai menolong nenek tua itu, saya membuka sendiri Alkitab saya, tapi begitu ketemu ayatnya, Pendeta telah selesai membacakannya.
Saat Pendeta meminta kami membuka ayat-ayat yang lain, nenek pikun itu kembali mengundang perhatian saya untuk menolongnya. Seperti kejadian pertama, saat saya menemukan ayat-ayat di Alkitab saya sendiri, saya sudah ketinggalan karena Pendeta sudah meminta kami untuk membuka ayat-ayat yang lain lagi. Saya nggak tahu sudah berapa kali Pendeta meminta kami membuka Alkitab, tapi tak ada pembacaan satu
ayat pun yang bisa saya ikuti.
Saat Pendeta mengajak jemaat membaca firman sebelum kotbah, saya berusaha membuka Alkitab saya sendiri dulu dan setelah ketemu saya menyodorkan Alkitab saya kepada nenek itu. Maksud saya, biar saya membuka Alkitab nenek itu pelan-pelan (karena tidak berindeks dan sudah kusut/kumal). Tapi begitu melihat tulisan di Alkitab saya, nenek itu minta tolong dicarikan kaca mata di tasnya.
Setelah kaca mata saya berikan, saya kembali membuka pelan-pelan Alkitab si nenek. Begitu saya menemukan ayat-ayat yang dimaksud dan langsung membaca dari Alkitab si nenek, nenek itupun kembali "berulah". Dia menutup Alkitab di tanganya dan menyerahkan ke saya sambil berkata "Ah, susah.tulisannya kecil-kecil" dan dia pun menarik Alkitabnya sendiri yang masih di tangan saya. Daripada buka-buka lagi, saya mencoba untuk nebeng, ikut membaca Alkitab si nenek. Tapi nenek itu tidak mempedulikan saya dan asyik membaca Alkitab sendiri, tanpa memberi kesempatan kepada saya untuk ikut membacanya.
"Maklum sajalah, namanya juga sudah pikun" kataku dalam hati untuk menghibur diri.
Saat pengumpulan persembahan, nenek itu lagi-lagi mengalami kesulitan. Ia mengaduk-aduk semua isi tasnya, tetapi ia tidak menemukan dompetnya dan ia pun meminta bantuan saya untuk mencarinya.
Karena saya tak menemukan dompetnya, sedangkan petugas kolektannya sudah hampir sampai di barisan belakang, saya memberikan amplop uang yang ada di genggaman saya, kepada nenek itu. Sayapun secepat kilat menarik selembar uang dari dompet saya.
Melihat tingkah nenek yang sedemikian "ngrepotinnya" saya malah tersenyum malu. "Wah, mungkin ini cara Tuhan untuk mengingatkan saya, bahwa persembahan
yang sudah saya siapkan dari rumah itu belum cukup"
Makanya saya hanya tersenyum saat nenek itu mengucapkan terima kasih, saya pikir ucapan itu tidak perlu karena berapapun uang yang saya keluarkan pagi itu, semuanya merupakan persembahan saya untuk Tuhan, bukan untuk nenek itu.
Setelah kami berdiri untuk doa persembahan, kami kembali duduk. Nenek itu tampaknya kaget karena merasa ada benda asing di sekitar perutnya.
"Oh..ternyata di sini," kata nenek itu sambil mencabut dompet dari balik kain stagennya. Nenek itupun membuka dompetnya, mengambil beberapa lembar uang ribuan dan menyodorkannya ke saya. Saya menolaknya karena saya nggak mau menarik kembali uang yang sudah saya persembahkan, terlebih lagi saya harus cepat-cepat berdiri khusuk untuk menerima berkat pengutusan dari Pendeta.
Selesai kebaktian, saya pikir, "Plong" ..selesailah tugas saya sebagai babby sitter.” Tapi ternyata tidak.
Biasanya begitu selesai saat hening, saya langsung kabur.cepat-cepat pulang karena harus menyiapkan anak terkecil saya untuk Sekolah Minggu jam 09.00. Tapi pagi itu, nenek memaksa saya mengikuti prosesi, iring-iringan jemaat keluar dari pintu utama untuk
bersalaman dengan Pendeta.
Anak saya yang sudah keluar dari Sekolah Minggu sudah tidak sabar menunggu di
gerbang gereja. Tapi saya juga tidak bisa buru-buru meninggalkan nenek itu, karena nenek itu tampak kebingungan. Katanya "Kok, gerejanya sekarang beda, gembala sidangnya juga beda, nyanyinya juga beda. Saya jadi bingung"
Mendengar istilah gembala sidang, saya terkejut. Saya baru sadar bahwa nenek itu ternyata bukan jemaat GKI dan sayapun bertanya "Memangnya gereja nenek biasanya di mana?"
"Ya di sini. Dari rumah biasanya saya naik 08 sampai mentok. Keluar dari gereja biasanya saya belanja di Pasar Anyar, tapi sekarang kok pasarnya pindah ya?"
"O...gereja nenek itu Pantekosta yang di Pasar Anyar ya? Ini GKI nek!"
"O…jadi saya ini kesasar, tho?"
"Sekarang nenek pulangnya mau naik apa?" tanya saya.
"Saya mau pulang ke Pomad, naik angkotnya dari depan gereja"
"Kalau begitu bareng dengan saya nek, kita sama-sama naik 08" saya berusaha untuk menolongnya.
"Ah, nggak mau, nanti kesasar lagi! Saya maunya naik angkot 08 yang dari depan gereja saya"
"Nenek bisa jalan kaki dari sini ke gereja nenek?"
"Wah, nggak tahu! Tolong ya, antarkan saya ke sana dulu!"
Karena saya sadar telah membuat nenek itu "tersesat", saya pun bersedia mengantar nenek itu berjalan kira-kira 800 m ke gerejanya.
Anak sayapun bersungut-sungut. Katanya, "Uh..ngapain sih kita harus ngurusin orang lain"
Sayapun berusaha menjelaskan bahwa tidak ada gunanya kita pergi ke gereja, berdoa, dan baca Alkitab kalau kita tidak mau melakukan sesuatu untuk orang yang membutuhkan. "Seharusnya kita bersyukur bisa bertemu dengan nenek ini, karena di rumah kita nggak punya nenek" bisik saya.
"Hi...geuleuh" kata anak saya dalam bahasa Sunda yang berarti “jijik”.
Seketika itu saya merasa gagal mendidik anak dan saya hanya bilang,"Tiga puluh tahun lagi mungkin keadaan ibu lebih pikun dari nenek itu. Mungkin ibu besok lebih keriput, kumal, dan lebih menyebalkan. Apakah kamu tega bilang kalau ibu geuleuh? Apakah kamu rela kalau kelak akan-anak kecil mengatakan ibu geuleuh? Kalau kamu tidak mau ibu dan kamu sendiri dikatakan geuleuh jangan sekali-kali kamu melakukannya pada orang lain." kata saya menasihati.
Ternyata nenek pikun itu telah banyak sekali memberikan pelajaran buat saya, paling tidak pelajaran tentang kesabaran, kepedulian, dan keinginan untuk melayani. Saya juga diingatkan bahwa ternyata masih banyak sekali pelajaran-pelajaran kasih yang belum saya ajarkan kepada anak saya.
Mungkin nilai rapor anak saya untuk mata pelajaran Kasih masih merah, karena saya, ibunya, yang harus berperan sebagai guru kasih bagi anak-anak belum lengkap dan tuntas mengajari dan memberi teladan kepadanya. Maka...Tuhan, ampunilah kami!
penulis adalah pekerja di sebuah NGO internasional
