Saturday, June 26, 2004

Pelajaran dari Nenek Pikun

Oleh Lesminingtyas

Keluarga kami bergereja di GKI Bogor. Anak pertama kami Sekolah Minggu di kelas besar pada jam 07.00, sedangkan adiknya yang masih batita masuk Sekolah Minggu, pukul 09.00 WIB. Pemisahan kelas anak-anak kami membuat kami tidak bisa ke gereja bersama-sama dan kami bersepakat bahwa sayalah yang kebagian tugas mengantar anak terbesar ke Sekolah Minggu, sekalian mengikuti kebaktian jam 07.00 WIB.
Minggu, 13 Juni 2004, kami bangun agak kesiangan. Saya dan anak saya yang pertama pergi ke gereja begitu terburu-buru. Biasanya kami naik angkot 08 dari arah Cibinong turun di Pasar Anyar, kemudian naik becak ke Jl. Pengadilan. Tetapi karena kami terburu-buru, saya berusaha memprovokasi bang sopir untuk membelokkan angkotnya ke Jl. Pengadilan.
Saya sama sekali tidak memperhatikan seorang nenek tua yang duduk di bangku yang berseberangan dengan kami. Pikir saya, toh nenek itu tidak protes, berarti dia setuju juga, apalagi saya lihat nenek tua itu juga membawa Alkitab sehingga saya berpikir bahwa kami bertiga sedang menuju ke satu tujuan yang sama.
Turun dari angkot, saya buru-buru masuk ke gereja dan karena kebaktian sudah dimulai, saya dan nenek tua itu duduk bersebelahan di bangku paling belakang. Kami duduk demikian mepetnya sehingga aroma minyak angin yang dipakai nenek itu benar-benar menyengat hidung saya.
Nenek itu kebingungan, tapi saya tak menggubrisnya karena saya harus cepat-cepat berdoa pribadi kemudian melirik ke jemaat di sebelah kanan saya untuk mengintip nomor lagu NKB yang sedang dinyanyikan. Nenek yang ada di sebelah kiri saya bergumam, "Kok beda, ya?"
Pikirku,”Nenek ini gimana sih? Kayak nggak tahu saja. Lagu-lagu di NKB memang beda dengan Kidung Jemaat.”
Karena nenek itu masih gusar, saya menyodorkan buku NKB supaya nenek itu bisa ikut menyanyi sambil kujelaskan,"Iya, sekarang nyanyinya pakai NKB, bukan Kidung Jemaat".
Tapi walaupun sudah saya tunjukkan baris per baris lagu yang sedang dinyanyikan, nenek itu mengeluarkan suara yang berbeda. Dalam hati saya tersenyum,"Wah, nenek ini kalau ikut AFI bisa langsung dieliminasi, karena intonasi lagunya nggak jelas, timbrenya ancur-ancuran dan pitch control lemah sekali."
Saat Pendeta mengajak jemaat membuka Alkitab sebagai petunjuk hidup baru, nenek di sebelah kiri saya mengalami kesulitan. Saya berusaha menolong mencari ayat-ayat yang dimaksud. Begitu selesai menolong nenek tua itu, saya membuka sendiri Alkitab saya, tapi begitu ketemu ayatnya, Pendeta telah selesai membacakannya.
Saat Pendeta meminta kami membuka ayat-ayat yang lain, nenek pikun itu kembali mengundang perhatian saya untuk menolongnya. Seperti kejadian pertama, saat saya menemukan ayat-ayat di Alkitab saya sendiri, saya sudah ketinggalan karena Pendeta sudah meminta kami untuk membuka ayat-ayat yang lain lagi. Saya nggak tahu sudah berapa kali Pendeta meminta kami membuka Alkitab, tapi tak ada pembacaan satu
ayat pun yang bisa saya ikuti.
Saat Pendeta mengajak jemaat membaca firman sebelum kotbah, saya berusaha membuka Alkitab saya sendiri dulu dan setelah ketemu saya menyodorkan Alkitab saya kepada nenek itu. Maksud saya, biar saya membuka Alkitab nenek itu pelan-pelan (karena tidak berindeks dan sudah kusut/kumal). Tapi begitu melihat tulisan di Alkitab saya, nenek itu minta tolong dicarikan kaca mata di tasnya.
Setelah kaca mata saya berikan, saya kembali membuka pelan-pelan Alkitab si nenek. Begitu saya menemukan ayat-ayat yang dimaksud dan langsung membaca dari Alkitab si nenek, nenek itupun kembali "berulah". Dia menutup Alkitab di tanganya dan menyerahkan ke saya sambil berkata "Ah, susah.tulisannya kecil-kecil" dan dia pun menarik Alkitabnya sendiri yang masih di tangan saya. Daripada buka-buka lagi, saya mencoba untuk nebeng, ikut membaca Alkitab si nenek. Tapi nenek itu tidak mempedulikan saya dan asyik membaca Alkitab sendiri, tanpa memberi kesempatan kepada saya untuk ikut membacanya.
"Maklum sajalah, namanya juga sudah pikun" kataku dalam hati untuk menghibur diri.
Saat pengumpulan persembahan, nenek itu lagi-lagi mengalami kesulitan. Ia mengaduk-aduk semua isi tasnya, tetapi ia tidak menemukan dompetnya dan ia pun meminta bantuan saya untuk mencarinya.
Karena saya tak menemukan dompetnya, sedangkan petugas kolektannya sudah hampir sampai di barisan belakang, saya memberikan amplop uang yang ada di genggaman saya, kepada nenek itu. Sayapun secepat kilat menarik selembar uang dari dompet saya.
Melihat tingkah nenek yang sedemikian "ngrepotinnya" saya malah tersenyum malu. "Wah, mungkin ini cara Tuhan untuk mengingatkan saya, bahwa persembahan
yang sudah saya siapkan dari rumah itu belum cukup"
Makanya saya hanya tersenyum saat nenek itu mengucapkan terima kasih, saya pikir ucapan itu tidak perlu karena berapapun uang yang saya keluarkan pagi itu, semuanya merupakan persembahan saya untuk Tuhan, bukan untuk nenek itu.
Setelah kami berdiri untuk doa persembahan, kami kembali duduk. Nenek itu tampaknya kaget karena merasa ada benda asing di sekitar perutnya.
"Oh..ternyata di sini," kata nenek itu sambil mencabut dompet dari balik kain stagennya. Nenek itupun membuka dompetnya, mengambil beberapa lembar uang ribuan dan menyodorkannya ke saya. Saya menolaknya karena saya nggak mau menarik kembali uang yang sudah saya persembahkan, terlebih lagi saya harus cepat-cepat berdiri khusuk untuk menerima berkat pengutusan dari Pendeta.
Selesai kebaktian, saya pikir, "Plong" ..selesailah tugas saya sebagai babby sitter.” Tapi ternyata tidak.
Biasanya begitu selesai saat hening, saya langsung kabur.cepat-cepat pulang karena harus menyiapkan anak terkecil saya untuk Sekolah Minggu jam 09.00. Tapi pagi itu, nenek memaksa saya mengikuti prosesi, iring-iringan jemaat keluar dari pintu utama untuk
bersalaman dengan Pendeta.
Anak saya yang sudah keluar dari Sekolah Minggu sudah tidak sabar menunggu di
gerbang gereja. Tapi saya juga tidak bisa buru-buru meninggalkan nenek itu, karena nenek itu tampak kebingungan. Katanya "Kok, gerejanya sekarang beda, gembala sidangnya juga beda, nyanyinya juga beda. Saya jadi bingung"
Mendengar istilah gembala sidang, saya terkejut. Saya baru sadar bahwa nenek itu ternyata bukan jemaat GKI dan sayapun bertanya "Memangnya gereja nenek biasanya di mana?"
"Ya di sini. Dari rumah biasanya saya naik 08 sampai mentok. Keluar dari gereja biasanya saya belanja di Pasar Anyar, tapi sekarang kok pasarnya pindah ya?"
"O...gereja nenek itu Pantekosta yang di Pasar Anyar ya? Ini GKI nek!"
"O…jadi saya ini kesasar, tho?"
"Sekarang nenek pulangnya mau naik apa?" tanya saya.
"Saya mau pulang ke Pomad, naik angkotnya dari depan gereja"
"Kalau begitu bareng dengan saya nek, kita sama-sama naik 08" saya berusaha untuk menolongnya.
"Ah, nggak mau, nanti kesasar lagi! Saya maunya naik angkot 08 yang dari depan gereja saya"
"Nenek bisa jalan kaki dari sini ke gereja nenek?"
"Wah, nggak tahu! Tolong ya, antarkan saya ke sana dulu!"
Karena saya sadar telah membuat nenek itu "tersesat", saya pun bersedia mengantar nenek itu berjalan kira-kira 800 m ke gerejanya.
Anak sayapun bersungut-sungut. Katanya, "Uh..ngapain sih kita harus ngurusin orang lain"
Sayapun berusaha menjelaskan bahwa tidak ada gunanya kita pergi ke gereja, berdoa, dan baca Alkitab kalau kita tidak mau melakukan sesuatu untuk orang yang membutuhkan. "Seharusnya kita bersyukur bisa bertemu dengan nenek ini, karena di rumah kita nggak punya nenek" bisik saya.
"Hi...geuleuh" kata anak saya dalam bahasa Sunda yang berarti “jijik”.
Seketika itu saya merasa gagal mendidik anak dan saya hanya bilang,"Tiga puluh tahun lagi mungkin keadaan ibu lebih pikun dari nenek itu. Mungkin ibu besok lebih keriput, kumal, dan lebih menyebalkan. Apakah kamu tega bilang kalau ibu geuleuh? Apakah kamu rela kalau kelak akan-anak kecil mengatakan ibu geuleuh? Kalau kamu tidak mau ibu dan kamu sendiri dikatakan geuleuh jangan sekali-kali kamu melakukannya pada orang lain." kata saya menasihati.
Ternyata nenek pikun itu telah banyak sekali memberikan pelajaran buat saya, paling tidak pelajaran tentang kesabaran, kepedulian, dan keinginan untuk melayani. Saya juga diingatkan bahwa ternyata masih banyak sekali pelajaran-pelajaran kasih yang belum saya ajarkan kepada anak saya.
Mungkin nilai rapor anak saya untuk mata pelajaran Kasih masih merah, karena saya, ibunya, yang harus berperan sebagai guru kasih bagi anak-anak belum lengkap dan tuntas mengajari dan memberi teladan kepadanya. Maka...Tuhan, ampunilah kami!

penulis adalah pekerja di sebuah NGO internasional

Saturday, June 19, 2004

Nama Saya Bandia Bukan Pandia

Oleh Esther LS

Siang itu udara terasa agak gerah, namun sebagaimana biasa setiap sabtu siang, kami sudah bersiap-siap menyambut tamu-tamu Tuhan di ibadah tunawisma di Yayasan Kasih Bersaudara (YKB) di Jalan Raden Saleh Lantai 2 di pusat Jakarta.
Dulunya, ibadah diadakan di kolong jembatan kereta api di Cikini. Kelompok kami bernama Metamorfosa yang khusus melayani tunawisma. Namun, kondisi di lokasi makin lama makin riskan. Beberapa kali ada orang yang mencoba memancing kerusuhan sewaktu kami beribadah.
Akhirnya, kami beribadah di Lantai 2 Kentucky Fried Chicken, Cikini. Lalu kami mendapat izin sewa tempat di Jl. Raden Saleh itu.
Tiba-tiba seorang ibu—mengenakan daster bermotif bunga yang sudah usang—masuk tergesa seraya membimbing seorang anak lelaki kecil yang juga dekil.
Seketika ingatan terhadap ibu ini mengentak sesaat, lalu keluar seruan: “Apa kabar Ibu Pandia, sudah lama tidak kelihatan, darimana saja selama ini?” Lalu sedikit bingung ia menjawab seadanya, “Yaa…saya baru tahu dari orang-orang kalau tempat ibadah sudah pindah ke sini, kan saya tidak tinggal di kolong lagi,” katanya.
Sesaat kenangan setahun lalu melintas di ingatan. Setahun lalu, usai ibadah anak-anak yang diadakan di kolong jembatan kereta apidi Cikini, ibu ini datang berkeluh kesah sambil tersedu, bercerita tentang kesulitannya membesarkan Ucok yang masih kecil. Saat itu, Ucok juga sedang terserang batuk dan demam.
Ia mengungkapkan kesulitannya bertahan hidup di jalanan dan risau dengan pendidikan Ucok kelak. Ia lalu memohon agar dibantu untuk menitipkan anak tersebut ke panti asuhan supaya pendidikannya dan masa depannya lebih terjamin.
Selama beberapa waktu sejak peristiwa itu, kami ramai memperbincangkan keinginan ibu Pandia di milis. Ada yang mencoba mencarikan kesempatan pekerjaan untuk ibu itu sebagai pramuwisma di rumah temannya, sementara beberapa lagi mencoba mencari informasi tentang alternatif panti asuhan yang mungkin bisa menampung anak lelaki kecil itu.
Sayangnya, solidaritas yang muncul di antara kita sontak menyurut lagi karena tiba-tiba ibu Pandia pun raib entah ke mana. Ada cerita ia tidak lagi tinggal menumpang di bedeng-bedeng di kolong jembatan itu. Ke mana ia pergi, tak ada yang tahu?
Setahun sudah kehilangan jejak beliau, tak heran munculnya ibu Pandia di kebaktian sore itu membuat ingatan setahun lalu meruak kembali. Usai kebaktian, kucoba mengajak ibu Pandia berbincang-bincang lagi tentang keberadaannya selama ini, sembari mengamati Ucok kecil yang sedang mengikuti kelas sekolah Sabtu, kebaktian anak.
“Ibu Pandia…Ucok sudah besar ya sekarang,” celutukku seraya mengamati Ucok yang sedang tertawa riang mewarnai aktifitas sekolah sabtu.
“Ya…betul setahun lalu dia kelihatan kurus dan kecil, banyak orang nggak percaya kalau dia Ucok yang sakit-sakitan dulu”
“Ibu Pandia sejak kapan tinggal di Jakarta, asalnya dari Sumatera ya, dari Karo ya?”
“Ha...bukan, dulu saya memang pernah kerja dan hidup di Jambi. Ada rumah petak cuma nggak kerasan di sana. Lalu, aku ketemu anakku laki-laki, yang sudah besar, sudah 16 tahun tak ketemu. Tapi ya katanya anak, ya, kuterima saja sekalipun lupa-lupa ingat, tapi belakangan nggak tahan soalnya anak itu suka bawa teman anak-anak muda ke rumah jadi saya tinggalkan rumah lalu pergi, dan hidup di jalanan.” Ia berkisah kalau dulu pernah beberapa kali kawin, tapi cerai, anak-anaknya entah di mana ia kurang tahu.
“Lho..kok ibu pakai nama Pandia, itu kan salah satu marga dari Suku Karo di Sumatera Utara, dan mengapa anak itu disebut dengan Ucok?”
“Nama saya BANDIA…..Be…bukan Pandia..wong saya itu orang Jawa, asalnya dari Yogya kok”.
Sembari menutupi rasa malu karena telah salah sangka selama ini, saya menggumam “Ooooh…”
“Nah…Ucok itu memang orang Batak,” imbuhnya lagi.
“Haaa….kok bisssa bu, bukankah Ucok anaknya Ibu?”
“Bukan, dia bukan anak saya sendiri, saya memang merawatnya sejak ia lahir, tapi ibu bapaknya orang Batak, dari Borong-borong (mungkin maksudnya kota Siborong-borong di Tapanuli Utara). Nama ibunya Rosida sejak hamil ia sudah bilang mau memberikan anak itu ke saya jadi waktu ia lahir, suster yang merawatnya membawa orok itu ke saya sembari bilang.’Ini si Ucok sudah lahir’. Jadi ya namanya sampai sekarang dipanggil Ucok saja”
“Ibu bapaknya dimana sekarang?”
“Ngga taulah..”
“Lalu, ibu sekarang tinggal di mana?”
“Di Pedongkelan dekat Kelapa Gading, sewa rumah petak”
“Ibu kerja apa saja sekarang?”
“Ngamen di prapatan jalan dekat situ, mangkal. Kalau capek aku suruh si Ucok menggantikanku nyanyi. Nyanyinya juga cuma bisa dua lagu, Heppi ye ye ye ye dan yang satu lagi Dengar Dia Panggil Nama Saya” (sembari beliau menyanyikan lagu itu dengan suara sumbang dan nada yang sudah berantakan).
“Lalu apa Ibu nggak ingin kerja, msalnya membantu pekerjaan rumah tangga?”
“Wah, si Ucok itu kan suka jajan, suka nggak cukup”
“Jadi kalau mengamen dapat berapa sehari?”
“Empat puluh atau lima puluh ribu”
“Wah lumayan juga ya…”
“Ya, cuma saya itu suka malaslah kalau dapat segitu. Saya bisa dua tiga hari tidak mengamen, di rumah saja”
Perbincangan itu pun usai seiring dengan selesainya ibadah sekolah Sabtu untuk anak. Ia pun bergegas pulang.
Tinggal saya yang tercenung panjang, ingat akan realitas orang-orang terpinggirkan di Jakarta ini. Bagaimana cara kita mengulurkan tangan untuk mengurai persoalan Bandia-Bandia yang terserak di sekitar Jakarta?
Betapa kompleks permasalahannya. Ada soal hilangnya atau hancurnya nilai-nilai “keluarga” yang suka diagung-agungkan dalam standar manusia “beradab”, apalagi “beragama”.
Ada soal pemanfaatan anak bawah umur demi mencari sesuap nasi, sebaliknya di sisi lain ada sentuhan kasih dari seorang Ibu yang rela mengasuh anak terbuang sekalipun ia sendiri terbuang dari masyarakatnya.
Lalu, saat tebersit keinginan untuk mencoba “memanusiakan” dengan merumahkan atau mencarikan pekerjaaan sebagai pembantu rumah tangga (misalnya):
Bukankah terbukti itu hanya akan mengekang ekspresinya sebagai pribadi merdeka? Bukankah sudah jelas upah sebanyak tiga ratus ribuan sebulan itu sudah tidak lagi relevan dibanding dengan penghasilannya di jalanan yang bisa meraup empat-lima puluh ribu sehari ditambah dengan kemerdekaan diri yang tetap menjadi hak mereka seutuhnya?
Lalu bagaimana kita akan mengubah cara pandang mereka agar terbebas dari jalanan dan menjalani hidup yang lebih “layak”, lebih “manusiawi”? Bagaimana?
Apakah kita cukup berdiam diri dengan potret yang terpampang di pelupuk mata? Cukupkah dengan khotbah tentang hidup yang benar seminggu sekali? Adakah bentuk pendampingan lain?
Aku termangu….
Sementara itu, ada sayup-sayup terngiang suara, semakin lama semakin nyata dan semakin jelas terdengar: “………segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.
Aku masih saja termangu panjang…

Akhir Mei 2004


Penulis adalah anggota kelompok Metamorfosa

Saturday, June 12, 2004

Nyanyian Seorang Gorga

Oleh Job Palar
Wartawan Sinar Harapan

Nunga leleng hutadingkon tano hatubuankon,
laho ahu mangaranto tu na dao…

arga do bona ni pinasa

(Sudah lama kutinggalkan tanah kelahiranku,
aku pergi merantau ke tempat yang jauh…

Tanah kelahiranku inilah (ternyata) yang paling berharga)

Selanjutnya dengan bergaya, dia berjalan. Hendak ditunjukkan bahwa dia baru saja melanglang buana dari Eropa sana.
Ada kawan memanggil:

Gorga, Gorga. Ho doi?
(Gorga, Gorga. Kaukah itu?)

Sejak itulah, Bonar Gultom memiliki nama baru, Gorga. Adegan di atas terjadi di sebuah pertunjukan di Kota Medan, pada 1969. Untuk pertama kalinya, Bonar Gultom muda diminta membuat sebuah pertunjukan besar berupa opera rakyat dengan memanfaatkan seni, musik, dan budaya Batak sebagai latar belakang.
Pertunjukan itu berjudul “Arga Do Bona Ni Pinasa”, yang menampilkan sebuah kisah tentang perbenturan budaya yang pada masa itu memang sedang hangat-hangatnya menjadi tema sosial.
Alkisah seorang pemuda yang meningkat dewasa, tapi merasa bosan dengan semua yang ada di sekelilingnya. Dia berusaha untuk meninggalkan semua itu dan berhasil. Dia melanglang buana, merantau mencari pengalaman, dan melihat hal-hal yang baru yang menurut pengertiannya semula pasti lebih bagus dari tanah asalnya.
Pemuda bernama Gorga ini ternyata tak sanggup mengingkari kenyataan, hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Bagaimana pun keadaannya, negeri sendiri tetaplah yang terbaik.
“Pemuda bernama Gorga itu saya yang ciptakan, dan saya yang perankan sendiri. Saya harus mengarang ceritanya sendiri berikut lagu-lagunya. Leila Sitompul memerankan sebagai kekasih Gorga, bernama Marlinang. Keterusanlah sampai sekarang si Marlinang itu menjadi istri saya,” Bonar Gultom berkisah dengan wajah cerah.
“Sampai sekarang istri saya masih disapa ‘Ibu Marlinang’ dan saya ‘Pak Gorga’.”
Bonar “Gorga” Gultom mengisahkan dengan penuh semangat bagaimana dia harus menciptakan gerak dan mempersiapkan panggung dengan dibantu oleh 120 orang anggota gereja. Mulai dari situlah timbul rasa kepercayaan diri. Anugerah yang diberikan Tuhan, menyanyi dan mencipta lagu, makin disadarinya. Bonar mulai berani memimpin paduan suara di gereja.
Pengakuannya, bakat menyanyi turun dari sang ibu. Hasrat menyanyi Bonar kecil yang meluap-luap melahirkan kisah-kisah nan unik.
Suatu hari, saat ia sedang belajar di ruang kelasnya di Kelas 1 HIS (Hollands Inlandsche School), terdengarlah di ruang sebelah murid-murid sedang belajar bernyanyi. “Tanpa sadar, saya ikut nimbrung, nyanyi keras-keras. Guru saya kaget. Dia ingin marah, tapi tak jadi, mungkin karena suara saya yang bagus,” Bonar terbahak.
“Tapi akibat peristiwa itu, saya jadi sering maju ke depan kelas untuk bernyanyi.”
Yang paling berkesan baginya, adalah peristiwa di Siborong-borong saat Jepang berhasil mengusir Belanda dan ganti berkuasa, tahun 1942. Saat itu, Bonar berumur delapan tahun.
Tentara-tentara Jepang datang untuk “menculik” dirinya. Latar belakang “penculikan” tak lain hanya karena tentara-tentara itu senang mendengarkan dia bernyanyi.
Bocah bernama Bonar ini dibawa keliling-keliling kota, ke restoran-restoran. Dia dinaikkan ke atas meja dan disuruh menyanyi lagu apa saja, baik itu lagu-lagu Batak, lagu-lagu gereja, maupun lagu berbahasa Jepang.
“Waktu itu yang ketakutan ibu saya. Saya sendirian kan nggak mengerti rasa takut. Jepang-jepang itu suruh saya menyanyi, karena saya suka, ya, menyanyilah saya,” katanya.
“Tapi ibu saya nggak kehilangan akal. Dia suruh anak-anak muda kampung untuk mengikuti Jepang-jepang itu.”
Bonar kecil begitu menikmati semua petualangan yang terjadi hanya karena kegemarannya bernyanyi. Sebaris-dua baris lagu berbahasa Jepang masih diingatnya.
Bonar Gultom tak pernah terpikir sebelumnya mampu mencipta lagu. Ia menganggap kemampuan itu di luar jangkauannya.
“Saya mulai mencipta lagu setelah majelis gereja dan pimpinan GKPI datang meminta saya membuat pertunjukan tentang Gorga itu. Mereka meminta saya membuat suatu pertunjukan yang jangan bersifat gereja agar cakupannya luas, padahal itu acara cari dana untuk gereja,” katanya.
“Anehnya, saya rencanakan itu semua nggak sampai satu bulan. Entah kenapa, saya begitu terinspirasi.”

Prestasi dan Kesetiaan
Prestasi akademik Bonar Gultom sangat baik, terutama untuk bidang penguasaan bahasa. Bonar menguasai bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Sempat pula ia mendapat nilai sepuluh untuk bahasa Jawa Kuna, namun sekarang yang dia ingat hanya satu-dua kata saja.
Setamat SMA di Medan, Bonar Gultom harus menghadapi tantangan yang cukup berat. Belum jelas baginya, hendak ke manakah kaki ini akan melangkah selanjutnya.
“Bapak saya pensiun dari camat, dana terhenti. Tapi terus terang, Tuhan itu sayang sama saya. Saya merasakan betul itu,” kata Bonar.
Prestasi yang sangat bagus di sekolah ditambah kemampuan menyanyi yang makin terasah membuat Bonar mendapat perhatian yang begitu besar dari para guru.
Salah satu gurunya bertanya,”Bonar, kau mau ke mana setelah lulus SMA?”
“Nggak tahu, Pak”
“Bagaimana kalau kau masuk sekolah guru saja.”
“Saya kurang minat jadi guru, Pak.”
“Kalau begitu kamu mau ke mana?”
“Kalau boleh, saya mau kerja saja, Pak.”
Entah apa yang menggerakkan para guru di SMA itu. Mereka kemudian berkumpul untuk membuat surat lamaran dalam bahasa Belanda, lalu dikirimkan ke seluruh perusahaan-perusahaan di Medan.
“Eh, berhasil! Ada maskapai perkebunan, namanya NV Vereenigde Deli Maatschappijen, yang memanggil saya untuk wawancara,” Bonar berkisah masih dengan nada terheran-heran.
Namun, garis hidupnya menyiratkan hal lain. Wawancara itu bukan sekadar wawancara penerimaan pegawai.
“Kau kok masih muda malah mau kerja?” si Belanda yang mewawancarai Bonar bingung. Berceritalah Bonar bahwa orang tuanya sudah tak sanggup membiayainya lagi. Sekonyong-konyong, muncullah pertanyaan yang menjadi tonggak penting kehidupan seorang Bonar Gultom.
“Kau masih mau sekolah?” Belanda itu bertanya.
“Aku mau!” Bonar menjawab mantap.
“Kami rasa kami membutuhkan seorang ekonom, kau mau?”
“Mau sekali!”
Waktu itu, tahun 1956. Bonar masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Salemba. Diakuinya, masuk universitas saat itu memang tidak sesulit sekarang. Dia cukup memperlihatkan ijazah SMA-nya yang dihiasi angka-angka akademik yang bagus itu, langsung diterima
“Pembayaran Rp 24.000 per tahun langsung dibayar si Belanda itu. Saat itulah, saya semacam menjalani ikatan dinas. Si Belanda ini hebat. Dia menghitung semua dengan terperinci apa saja yang saya butuhkan, sampai hal-hal kecil,” kata Bonar.
Bonar menunjukkan kesetiaan yang luar biasa atas segala yang diberikan perusahaan yang membiayainya itu. Riwayat kariernya tercatat dengan jelas. Perusahaan tempat Bonar mengabdi memang diambil alih oleh pemerintah Indonesia, tapi Bonar tetap berkarya di sana, sampai masa kerjanya habis di Bandung.
“Saya menciptakan lagu Sunda waktu saya di sana,” katanya sambil mempraktikkan kefasihannya berbahasa Sunda.

Arbab
Kemampuannya makin terasah saat dia kuliah. Bonar mendapat kesempatan menjadi asisten dari dedengkot paduan suara gereja, E.L. Pohan.
“Kita konser tiap tahun. Pak Pohan mempercayai saya untuk memimpin di setengah konser. Kalau dia menjadi dirigen lagu-lagu gereja, giliran saya lagu-lagu daerah. Jadi saya asisten dirigen dia,” kata Bonar.
Bonar Gultom juga memperlihatkan kehebatan teknik bernyanyi dengan menyabet beberapa gelar dalam festival-festival bergengsi. Sebut saja, Juara I Menyanyi Seriosa Pekan Kesenian Mahasiswa Seluruh Indonesia (1958 dan 1960) dan Juara I Menyanyi Seriosa Bintang RRI baik di Medan maupun di Jakarta (1968).
Bonar Gultom mengaku tidak memiliki bekal formal dalam menciptakan lagu atau mengaransir lagu. “Cuma, saya memiliki kepekaan jika mendengar suatu lagu. Saya langsung bisa dapat nada untuk suara sopran, alto, tenor, atau bas, apalagi kalau lagunya bagus.”
Bonar Gultom telah menciptakan sekitar 120 lagu. Lagu-lagu ciptaannya menjadi langganan lagu wajib dalam berbagai lomba paduan suara.
Lagu Bonar Gultom yang melegenda di kalangan paduan suara adalah Arbab. Lagu itu begitu kental dengan nuansa Batak, dengan nada yang lincah dan melonjak-lonjak.
Harmonisasi pembagian suaranya—sopran, alto, tenor, bas—begitu enak terdengar. Jika paduan suara menyanyikan dengan suara yang tepat mengena pada nada, akan terasa seperti orkestra. Harmonisasi yang indah inilah yang membuat lagu Arbab menjadi semacam “lagu wajib” bagi paduan-paduan suara gereja, bukan saja dari tanah Batak.
“Saya sendiri nggak bisa bilang persis dari mana datangnya ide lagu itu, tapi saya yakin dari Tuhan,” katanya.
“Lagu Arbab saya ciptakan dalam perjalanan menuju TVRI untuk rekaman kaset. Lokasinya waktu itu di Kesawan.”
Seorang saudagar Cina begitu ingin merekam suara Bonar dan kawan-kawan. Baru ada beberapa lagu. Bonar berpikir keras di perjalanan. “Lagu apa yah buat ditambah di rekaman?”
Tiba-tiba, berloncatan nada-nada disertai syair dari mulut Bonar.
Da tama endehononku
pamujionku di Debatangku
Ooooo

Lagu yang kemudian menjadi “lagu kebangsaan” paduan-paduan suara itu pun terlahir ke Bumi. Paduan-paduan suara gereja banyak yang menyanyikan lagu itu namun sudah dalam versi bahasa Indonesia. “Edisi” bahasa Indonesia pun tetap hadir dengan sangat baik dan tak kehilangan “roh”-nya. Tak lain karena Bonar sendirilah yang melakukan penterjemahan.
Tanggal 30 Juni 2004, Bonar Gultom genap berusia 70 tahun. Sebuah perayaan untuk menghormati dedikasinya sedang disiapkan oleh handai taulan.
Bernyanyi menjadi suatu anugerah yang mengiringi dan sering kali mengubah perjalanan hidupnya. Dengan penuh rasa syukur, Bonar Gultom bertutur, “Tuhan telah mengizinkan saya menikmati hidup ini, sehat, masih bisa saya mencipta lagu, mengajarkan, dan menyanyikannya. Saya juga memiliki keluarga yang horas, selamat, sehat, dan cucu yang sehat-sehat untuk saya mengisi hari tua ini.”
Pencapaian Bonar Gultom sampai saat ini sangat tepat tergambar lewat syair lagunya sendiri, Arbab, versi bahasa Indonesia:


Jiwaku ingin bernyanyi,
serta tubuhku menari-nari
Menunjukkan sukacita
Atas kasih Tuhan kepadaku

Dan, Bonar Gultom pun terus bernyanyi….


Sunday, June 06, 2004

Dari Disensor Jepang, Dibom Sekutu, sampai Kerusuhan Ambon

Oleh Izaac Tulalessy
Wartawan Sinar Harapan



JAKARTA-Tak terasa, 29 Mei 2004 merupakan saat Gedung Gereja Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Bethel Klasis Kota Ambon genap berusia 100 tahun. Hal ini juga menandakan 100 tahun sudah perjalan jemaat GPM Bethel dalan bersaksi dan melayani.
Berdasarkan bukti-bukti sejarah, gedung Gereja yang dibangun sejak tanggal 29 Mei 1904 ini diberi nama Bethel. Selanjutnya, jemaat setempat juga dinamai Jemaat GPM Bethel sampai dengan sekarang.
Nama Bethel dipilih karena makna teologis dan sejarahnya dapat kita temui dalam Alkitab khususnya pada kitab Kejadian 28: 10–22 terungkap bahwa suatu tempat di mana Yakub bertemu dengan Tuhan Allah di dalam mimpinya sewaktu tidur di Kota Lus. Tempat ini lalu ia yakini sebagai “rumah Allah” atau “pintu gerbang surga”.
Yakub kemudian mendirikan sebuah tugu peringatan dari batu pengalasan kepalanya sewaktu tidur dan tempat ini dinamai Bethel yang artinya “rumah Allah” atau “pintu gerbang surga”.
Berdasarkan prasasti yang terpahat pada dinding gereja terungkap, gedung Gereja yang dibangun sejak tanggal 29 Mei 1904 itu peletakan batu pertamanya dilakukan oleh pendeta asal Belanda di Kota Ambon, Pendeta JC Van Hoeven, dan seluruh pekerjaan pembangunan dikoordinir oleh RL Sahupala.
Namun, kapan selesainya pembangunan gedung Gereja Bethel ini maupun diresmikannya belum diketahui secara pasti sebab tidak ada prasastinya.

Jemaat Kota Ambon
Jemaat GPM Bethel diperkirakan bukan saja baru lahir pada tahun 1904, tetapi berdasarkan sejumlah data-data sejarah diperkirakan jemaat ini telah ada sekitar empat abad sebelumnya sejak masa misi Gereja Katholik pada abad ke-16.
Pada tahun 1926, terjadi perkembangan baru, yaitu peningkatan status Kota Ambon menjadi Kota Praja yang dikepalai seorang wali kota. Dengan demikian, jemaat Bethel menjadi Jemaat Kota Ambon.
Pelayanan jemaat saat itu dilakukan dalam berbagai bentuk baik itu dalam bentuk ibadah minggu, katekisasi, dan sekolah minggu dan ditujukan kepada semua anggota jemaat dengan menggunakan bahasa Belanda dan Melayu Ambon.
Penggunaan dua bahasa ini mencerminkan status sosial seseorang. Kelompok berbahasa Belanda pada umumnya adalah orang-orang berpendidikan, pegawai, dan guru sedangkan penduduk biasa pada umumnya mempergunakan bahasa Melayu Ambon.
Pada tahun 1935, lahirlah institusi Gereja Protestan Maluku (GPM) dan pada tahun 1937 resmi ditetapkan dan diberlakukan tata gereja baru yang disebut “Peratoeran Geredja dan Peratoeran Sinode dan Geredja Maloekoe tahoen 1937”.
Menurut tata gereja ini, Badan Majelis Jemaat merupakan instansi tertinggi di tingkat jemaat. Badan inilah yang menggariskan program pelayanan bagi jemaat sesuai dengan hasil keputusan persidangan sinode dan klasis dan sekaligus merupakan pihak pelaksana program tersebut.

Perang Dunia II
Bagi jemaat GPM Bethel, Perang Dunia (PD) II atau yang lebih dikenal dengan masa pendudukan Jepang merupakan saat-saat penuh tantangan dan penderitaan. Pihak Jepang memandang ada hubungan yang erat antara pihak gereja dan umat Kristen dengan pihak Belanda yang berhasil ditaklukan Jepang saat itu.
Pihak Jepang pun melakukan pengawasan ketat terhadap semua kegiatan gereja dan umat Kristen, termasuk di Jemaat GPM Bethel. Pejabat gereja atau anggota jemaat yang dicurigai bekerja sama dengan Belanda langsung ditahan dan banyak di antara mereka yang disiksa oleh tentara Jepang.
Selain itu sebagian gedung gereja ditutup dan sejumlah guru Kristen ditahan. Naskah khotbah disensor untuk mencegah dimasukkannya unsur-unsur politik yang dapat merugikan kepentingan penguasa Jepang.
Gedung Gereja Bethel pada tahun pertama masa pendudukan Jepang masih bertahan, bahkan pada tahun 1942 setelah pendaratan tentara Jepang di Ambon, gedung ini masih dipakai sebagai tempat persidangan GPM yang berlangsung pada tanggal 22–24 Oktober 1942. Namun beberapa waktu kemudian, gedung gereja ini hancur akibat dibom sekutu.
Selama masa pendudukan Jepang, sebagian besar anggota jemaat Bethel mengungsi ke hutan menyelamatkan diri, namun pelayanan tetap dilakukan oleh Pendeta FR Siwabessy dibantu Pendeta Hanafusa dari Jepang.

Menuju Kemandirian
Dalam perkembangan, ternyata penderitaan yang jemaat GPM Bethel tidak kunjung berakhir. Baru lima tahun sesudah PD II, ketika pembenahan sementara dilakukan di berbagai bidang, telah timbul pula pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada tahun 1950.
Peristiwa ini telah melahirkan kesulitan baru di bidang materi dan mental umat sebagai akibat serangan TNI dan blokade laut yang dilakukan terhadap Pulau Ambon dalam rangka menumpas gerakan tersebut.
Suatu realitas yang menarik adalah di tengah-tengah situasi GPM yang memprihatinkan itu, Jemaat GPM Bethel terus berusaha membenahi diri termasuk mencari bentuk pelayanan baru.
Khusus untuk menciptakan ibadah yang lebih khusyuk sekaligus sebagai pengganti gedung lama yang hancur dibom sekutu maka dibangun sebuah gedung gereja permanen yang dimulai pada tanggal 11 Agustus 1953 dan diresmikan penggunaanya pada tanggal 31 Oktober 1955.
Kegiatan penting lainnya yang perlu dicatat karena merupakan sumbangan jemaat ini kepada GPM ialah pembentukan sebuah perkumpulan yang anggota-anggotanya terdiri dari anak-anak dengan maksud dibina menjadi pencinta-pencinta pekabaran injil. Pelopor kegiatan ialah ibu-ibu yang tergabung dalam Kaum Ibu Kristen Bethel. Perkumpulan ini kemudian diresmikan oleh Ketua Bagian Pekabaran Injil GPM, Pendeta Th P Pattiasina, denga nama Tunas Pekabaran Injil Gereja Protestan Maluku pada tanggal 31 Desember 1956.
Jemaat Khusus Kota Ambon pun dimekarkan menjadi Klasis GPM Kota Ambon pada tanggal 20 Mei 1973 sehingga satus Jemaat Wijk Bethel ditingkatkan menjadi Jemaat GPM Bethel.

Bersaksi dan Melayani
Perkembangan Jemaat GPM Bethel yang cukup pesat pada dekade 1960-an membuat daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung dan daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru.
Demi efisiensi pelayanan, oleh Badan Majelis Jemaat dirasa perlu untuk diadakan pemekaran. Rencana ini kemudian direalisasikan pada tanggal 6 September 1963 sehingga kemudian jemaat ini dimekarkan menjadi Jemaat GPM Bethabara yang daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung, serta sebagian daerah Karang Panjang dan juga Jemaat GPM Imanuel yang daerah pelayanannya mencakup sebagian besar daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru.
Di bidang organisasi gereja, sesuai Keputusan Sinode GPM, demi terciptanya efektivitas pelayanan bagi seluruh anggota jemaat diterapkan sistem sektor dan unit. Setiap sektor terdiri dari tiga sampai empat unit dan setiap unit terdiri dari 30–40 keluarga.
“Sampai tahun 2004 ini, wilayah pelayanan jemaat ini mencakup 20 sektor pelayanan yang melayani 1.634 keluarga dengan jumlah keselurahan anggota jemaat sebanyak 6.925 jiwa. Sehubungan dengan kerusuhan yang terjadi sejak Januari 1999 maka jemaat ini telah kehilangan tiga sektor pelayanan di Mardika dan Batu Merah, yaitu Sektor 16, 17, dan 18 karena anggota-anggotanya mengungsi ke tempat lain,” ungkap Ketua Majelis Jemaat GPM Bethel Pendeta M Peilouw STh kepada SH di Ambon.
Pembaruan lainnya yang dilakukan di bidang organisasi ialah penerapan pembidangan pada departemen di tingkat sinode diterapkan pula ditingkat jemaat dengan nama bidang-bidang pelayanan. Bidang yang dimaksud adalah Keesaaan dan Kesaksian (KEKES), Pelayanan, Pendidikan, dan Pembangunan (PELPEM), Finansial dan Ekonomi (FINEK) dan Kerumahtanggaan, Pekabaran Injil dan Komunikasi (PIKOM).
“Di bidang liturgi ibadah pembaruan pertama yang dirasakan ialah menyangkut isi yang lebih kontekstual dan keterlibatan anggota jemaat didalamnya yang lebih menonjol,” jelasnya.
Pembaruan lainnya yang tampak dalam bidang ini, menurut Pendeta Peilouw adalah pemakaian buku nyanyian. Secara resmi buku yang dipakai adalah Kidung Jemaat sedangkan buku-buku nyanyian seperti Mazmur dan Nyanyian Rohani, Mazmur dan Tahlil, dan Dua Sahabat Lama, penggunaannya lebih bersifat insidentil.
Di bidang pembinaan umat, perhatian terhadap semua golongan di dalam jemaat terus ditingkatkan. Selain pelaksanaan program yang diturunkan Departemen KEKES melalui wadah-wadah pelayanan khusus yang ditetapkan sinode Pelayanan Perempuan, Pelayanan Laki-laki, Pelayanan Pemuda, serta Pelayanan Anak dan Remaja.
Di bidang pekabaran injil, di samping pelaksanaan program yang diturunkan oleh Sinode lewat Departemen PIKOM juga diadakan kegiatan internal jemaat dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut.
Di bidang sosial, kegiatan-kegiatan yang digariskan terutama melalui persidangan jemaat, pada umumnya ditujukan kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap membutuhkan baik perorangan maupun lembaga/kelompok baik di dalam maupun di luar jemaat.
Sejak timbulnya kerusuhan di awal tahun 1999 lalu, kegiatan-kegiatan ibadah lebih ditingkatkan. Sejak Januari 1999 diadakan doa pergumulan tiap hari oleh Badah Majelis Jemaat. Juga di sejumlah sektor dibuka posko-posko doa sekaligus posko-posko bantuan logistik bagi jemaat-jemaat yang membutuhkan bantuan darurat karena ditimpa kerusuhan.
Selama 100 tahun perjalanan sejarah Jemaat GPM Bethel terlihat jemaat ini semakin sadar akan keterpanggilannya sebagai gereja yang berperan bersaksi dan melayani baik secara internal di lingkungan jemaatnya maupun eksternal terhadap masyarakat di masa kini dan dalam menapaki masa depan.