Saturday, July 31, 2004

Mengatur Kehidupan Beragama di Singapura

Oleh Tjandra Mualim

Kalau di gereja Indonesia, jemaat pada akhir kebaktian lazim menyanyikan lagu pujian pengantar pulang, di Singapura sekitar awal tahun 2003 jemaat gereja membacakan bersama kalimat-kalimat yang tercantum dalam kartu itu yang disebut Code of Practice.
Code of Practice adalah ikrar resmi seputar bagaimana seyogianya menerapkan serta menjalani kehidupan beragama yang aneka ragam di dalam masyarakat sekuler. Keharusan membaca ikrar itu saya alami sendiri di gereja katolik dekat rumah ketika masih bermukim di negera tetangga itu.
Menurut rencana, keharusan itu tidak diberlakukan hanya di gereja, tetapi juga di mesjid, kuil, kelenteng, dan tempat ibadah dari kesembilan agama yang diakui di negeri Singa ini; yaitu, sesuai urutan abjad tanpa bermaksud mendahulukan atau menomorduakan, Bahai, Buddha, Hindu, Islam, Kristen, Sikh, Tao, Yahudi, dan Zoroaster.
Teks akhir ikrar resmi itu hasil godokan diskusi panjang lebar pemerintah dengan para pemuka dari sembilan agama tersebut yang tergabung dalam Organisasi Antaragama atau IRO (Inter-Religious Organisation of Singapore). Menurut kabar, diskusi cukup alot karena ada sejumlah keberatan dari beberapa tokoh agama yang merasa ikrar itu membatasi ruang gerak mereka, khususnya yang menyangkut penyebaran agama.
Akan tetapi, seperti yang lazim berlaku di negeri tetangga itu, akhirnya kesepakatan melalui musyawarah pun tercapai, dan terbitlah resmi kartu ikrar yang kemudian seperti di gereja paroki saya, diselipkan dalam buku puji-pujian di gereja; tetapi saya tidak tahu bagaimana penerapannya di tempat ibadah lain.
Prakarsa pembuatan ikrar kehidupan beragama aneka ragam itu berasal dari pemerintah yang bertujuan melakukan langkah antisipasi demi meredam ketegangan antara umat beragama yang dikhawatirkan akan semakin mencuat sesudah peristiwa 11 September dan penangkapan sejumlah anggota Jemaah Islamiah di Singapura.
Oleh karena itu tidak mengherankan kalau ada penggarisbawahan pada istilah-istilah ”masyarakat sekuler”, ”keharmonisan antaragama” dan ”persatuan serta kesatuan hidup bermasyarakat majemuk”. Semua unsur itu dianggap oleh pemerintah dan sebagian masyarakat Singapura sebagai sendi-sendi utama yang harus dijaga serta dikembangkan demi perdamaian, kemajuan, dan kesejahteraan bangsa dan negara.Itu pemikiran dan penjelasan resminya. Bagaimana tanggapan masyarakat itu sendiri?
Saya pribadi memang merasa agak canggung ketika untuk pertama kali harus turut membacakan ikrar tersebut yang terus terang amat mengingatkan saya pada keharusan mengucapkan Pancasila pada setiap upacara tanggal 17-an di Tanah air. Apalagi sekarang ini kehidupan bermasyarakat di Indonesia sudah begitu berubah dan saya justru sudah mulai terbiasa dengan semangat kebebasan.
Bagi penduduk Singapura, yang memang sudah terbiasa untuk mematuhi semua peraturan dan hukum, karena kalau melanggar sanksinya cukup berat dan hampir tidak ada pengecualian, mereka tampaknya tidak berkeberatan terhadap keharusan mengucapkan ikrar resmi itu paling tidak di gereja paroki saya di Queensway.
Apa susahnya mengucapkan beberapa kalimat setiap kali usai kebaktian, dan siapa sih yang bakalan tahu apakah itu benar-benar dihayati atau sekadar diucapkan saja; yang penting derap kehidupan sehari-hari tetap lancar dan mulus.
Tampaknya, pemerintah Singapura berharap agar pada waktnya nanti isi ikrar tersebut akan berkembang menjadi bagian terpadu dari serangkaian etika hidup bermasyarakat yang harmonis dalam kemajemukan. Untuk itu, butir utama ikrar tersebut adalah mempertahankan bahkan menumbuhkembangkan apa yang disebut sebagai ”common space”, yaitu ruang gerak kehidupan bersama milik semua orang dari agama manapun.
Tentang ”common space” ini, saya ada pengalaman pribadi ketika masih tinggal di Singapura. Suatu ketika saya naik bis kota, kebetulan hari Sabtu siang jadi penumpangnya tidak terlalu banyak. Dalam bis, ada seorang perempuan setengah umur yang memberi ”kuliah” kepada entah keponakannya atau anaknya tentang agama Nasrani.
”Kuliah” itu diberikan dengan suara yang begitu keras sehingga semua penumpang bis bisa dan terpaksa mendengar. Walaupun saya sendiri beragama nasrani, saya merasa begitu risih dan gerah sehingga terpaksa pindah bis di tengah perjalanan sebelum sampai tujuan sebenarnya.
Pengalaman lain saya, juga dalam bis kota, tetapi ketika itu sudah agak malam dan bis juga kebetulan tidak terlalu banyak penumpangnya. Ada beberapa ibu berjilbab yang mungkin baru pulang dari pengajian, mereka menyanyikan kalimat-kalimat agama Islam, atau mungkin hanya mengucapkannya, tetapi dengan nada suara bernyanyi, tetapi tidak dengan suara keras.
Namun beberapa penumpang lain, yang tampaknya non-Muslim, menunjukkan muka cemberut, kurang senang, dan bahkan kemudian ada yang bercakap-cakap dengan suara keras, seolah-olah hendak mengimbangi nyanyian itu.Mungkin itulah yang dimaksud pemerintah Singapura dengan menjaga dan memperluas ”common space”, yaitu ruang di mana kita semua harus berperilaku sedemikian rupa sehingga tidak mengusik orang dari agama lain. Jadi perempuan setengah umur tadi yang mau menguliahi anaknya tentang agama Nasrani seyogianya berbuat demikian di rumah saja atau di gereja.
Begitu pula ibu-ibu berjilbab yang menyanyikan lagu-lagu atau kalimat-kalimat Muslim itu hendaknya menyanyi di rumah, jangan di bis umum. Sekarang saya sudah tidak lagi tinggal di Singapura. Menurut teman-teman saya yang masih tinggal di sana, sekarang di gereja sudah tidak lagi diharuskan dan bahkan di sejumlah gereja dan mesjid-mesjid dari dulu memang tidak pernah dilaksanakan.
Sebagian masyarakat Singapura sejak awal memang sudah amat tidak senang dengan keharusan itu dan berdalih bahwa agama manapun selalu sudah secara intrinsik mengajarkan penganutnya untuk menghormati penganut agama lain dan hidup bersama secara harmonis. Ada yang menentang dengan lebih emosional dan mengatakan, hanya pemerintahan yang agnostis yang merasa perlu membuat kebijakan demikian.
Saya mencoba mengonfirmasikan bagaimana kelanjutan keharusan membaca ikrar ini kepada IRO, tetapi sesudah dua kali mengirim email dan bersabar menunggu satu bulan, saya tidak berhasil mendapatkan tanggapan resmi.
Walau bagaimana pun, bagi saya, kabar bahwa ikrar tersebut sekarang ini tidak lagi atau bahkan tidak pernah dibacakan di sejumlah tempat ibadah merupakan bukti bahwa rakyat Singapura juga berani dan mampu menolak usulan pemerintah yang tidak berkenan di hati mereka. Puji Tuhan dan Alhamdulilah!

Penulis adalah mantan wartawan Radio Singapura Internasional

Friday, July 23, 2004

Melayani Sambil Mencatat Sejarah

JAKARTA - Di negeri ini tidak banyak pendeta yang membuat catatan atau memoar mengenai kisah atau pengalaman pelayanannya. Catatan seperti itu sesungguhnya akan sangat bermanfaat, mungkin tidak untuk saat ini, namun di masa depan. Membuat karya tulis seperti itulah yang dilakukan Pendeta Andrew Lake dari All Saints Church Jakarta, yang akhir Juli ini mengakhiri tugasnya di Indonesia, untuk kembali ke Australia. ”Pengalaman melayani di Jakarta sungguh pengalaman yang sangat luar biasa. Ketika saya baru dua tahun bertugas di sini, tahun 1998, istri dan anak harus dievakuasi karena pecah kerusuhan di Jakarta,” katanya, ketika meluncurkan buku itu pekan ini di kediaman Dubes Inggris di Jakarta. Namun, Andrew bisa melalui periode-periode yang mungkin menakutkan itu, bahkan di sela-sela pelayanannya sebagai pendeta, dia berhasil menyusun sebuah tesis berjudul Changes & Chances a Personal History of All Saints Jakarta untuk menyelesaikan studi pascasarjananya. Buku itu bukan saja berisi sejarah gereja itu, tetapi juga tokoh-tokoh dan berbagai peristiwa yang menyertainya.All Saints Church Jakarta tercatat sebagai gereja berbahasa Inggris tertua di Indonesia. Cikal bakal gereja berbahasa Inggris itu dirintis oleh Sir Stamford Raffles yang ikut mendirikan Java Auxiliary of the British and Foreign Bible Society (BFBS) tahun 1814. Gereja itu sendiri didirikan oleh tiga pendeta, yakni Robert Morrison, William Milne, dan Walter Medhurst, anggota Ultra-Ganges Mission of theLondon Missionary Society (LMS-UG). Medhurts adalah orang yang pertama menyusun terjemahan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu pasar.Gereja itu sendiri awalnya hanya bangunan sederhana dari kayu dan bambu, tempat para ekspatriat berbahasa Inggris itu berkumpul setiap hari Minggu. Pendirian bangunan permanen baru dimulai tahun 1930 dari hasil pengumpulan dana yang digalang Medhurst Dalam perjalanannya, perluasan terjadi beberapa kali yakni 1831, 1839 dan 1863. Andrew juga berhasil menyusun daftar orang-orang yang pernah menjadi pendeta di gereja itu. Bangunan gereja itu sendiri tidaklah bergaya Inggris, bahkan bergaya Belanda. Dalam catatan Andrew, keinggrisan gereja itu tampak karena generasi demi generasi orang Inggris selama 170 tahun membuat ornamen-ornamen tambahan bergaya Inggris, tanpa menyentuh bangunan utamanya. Jemaatnya akhirnya lebih bersifat oikumenis terdiri dari warga dari negara-negara persemakmuran, Amerika, Eropa, maupun Indonesia. Jadi kini, anggota Dewan Gereja terdiri dari aliran Presbiterian, Baptis, Katolik, Lutheran, dan Metodis.Nama All Saints Church baru muncul pada tahun 1950, sebelumnya selama satu abad orang-orang Belanda menyebutnya sebagai Engelsche Kerk dan orang-orang Indonesia menyebutnya sebagai Gereja Inggris.Menariknya, buku ini tidak melulu menulis mengenai sejarah gereja itu, tetapi juga kaitan-kaitan situasi sosial dan politik yang menyertai setiap era perkembangannya. Nama All Saints Church, yang pernah dinamakan the Church of British Protestant Community, mulai digunakan sebulan setelah 17 Agustus 1950, ketika masyarakat internasional memberikan pengakuan kedaulatan. Nama itu dipakai untuk menghilangkan kesan Inggris, karena jumlah orang Inggris yang beribadah juga semakin sedikit, sementara orang-orang Amerika semakin banyak. Itu semua terjadi semasa Oswald McCarthy menjadi British Chaplain in Java (Maret 1950-Januari 1951).Misalnya, ada catatan menarik semasa Konfrontasi (1964), ketika rasa permusuhan terhadap Inggris demikian besar, dan pemerintah Soekarno memutuskan hubungan dengan PBB, pengurus gereja ini juga terancam akan disita tanahnya oleh pemerintah sehingga akhirnya menyerahkan hak pakai tanah kepada DGI (kini PGI) untuk mendapat perlindungan dalam sebuah perjanjian. Buah hubungan dengan DGI itu adalah berdirinya Yayasan Sumber Asih yang menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak terbelakang mental. Sebuah MisteriDalam penelusuran yang dilakukan Andrew, ada kasus menggemparkan terkait dengan gereja itu, yakni pembunuhan terhadap Pendeta Eric Constable pada 29 Juli 1974. Penerbitan bukunya ini kebetulan dekat dengan peringatan 30 tahun peristiwa menyedihkan itu, sehingga ia juga ingin mengungkapkan sejumlah fakta seputar peristiwa tersebut.Pendeta Erick dibunuh oleh tiga pria berpakaian rapi dan berjaket yang diantar masuk menemuinya oleh Sukiman, mantan anggota TNI yang menjadi petugas keamanan. Erick yang baru dua minggu berada di Indonesia tidak merasa curiga, namun kemudian kejadian mengerikan itu berlangsung. Ketiga pelaku mengeluarkan pisau dan menikamnya dan juga Sukiman.Versi resmi menyebutkan pembunuhan itu hanyalah kasus perampokan biasa. Namun, juga memunculkan sejumlah pertanyaan: mengapa seorang pengusaha asal Surabaya Hasyim Yahya, yang tidak punya catatan kriminal menjadi perampok? Mengapa tidak ada barang yang dicuri? Mengapa massa yang hadir di persidangan Hasyim Yahya meneriakkan slogan-slogan berbau keagamaan? Mengapa terdakwa kasus pembunuhan itu dibebaskan? Mengapa Sidang Umum Dewan Gereja-Gereja Dunia yang akan dilaksanakan di Indonesia pada 1975 akhirnya harus dipindah ke Nairobi? (hal. 148).Dalam bukunya itu Andrew mengungkapkan kasus ini baru terungkap 26 tahun kemudian, dan itu ada dalam buku Gereja-Gereja Dibakar, terbitan tahun 2000, yang menyebutkan alasan pembakaran banyak gereja di Indonesia, termasuk kampus Doulos di Cilangkap, Jakarta Timur. Dalam buku itu disebutkan Adrian Hussaini, penulis buku, bertemu dengan Hasyim Yahya ketika naik haji tahun 1997, dan Hasyim menuturkan bahwa dia termasuk salah satu orang yang tidak suka dengan perkembangan agama Kristen sejak Soeharto berkuasa termasuk polemik yang berkembang menyangkut Yusuf Roni, kini pendeta. Dan yang paling membuat marah adalah ketika Pemerintah akhirnya menyetujui penyelenggaraan Sidang Dewan Gereja-Gereja Dunia di Jakarta tahun 1975. Dalam Gereja-Gereja Dibakar itu terungkap bahwa pembunuhan terhadap Erick Constable merupakan perintah untuk membunuh lawan yang agresif. Dalam percakapan dengan SH, Andrew menilai kasus pembunuhan 30 tahun lalu itu meski dilakukan dengan motif-motif keagamaan tetap tidak dapat dianggap bahwa tidak ada toleransi beragama di Indonesia. ”Bagaimana pun, selain Pendeta Erick juga ada Sukiman yang dibunuh, dia bukan orang Kristen,” katanya. Melewati KrisisKini, All Saints Church Jakarta membuka cabang di Sekolah Don Bosco, Pondok Indah, di Jakarta Selatan. Cabang ini dibuka sejak pecah berbagai kerusuhan pecah di Indonesia, dan banyak ekspatriat yang pulang sehingga jumlah jemaat di gereja itu menyusut. Ketika situasi mulai membaik, banyak ekspatriat berbahasa Inggris itu beribadah di Don Bosco, jadilah di sana cabang gereja ini. Kini, ketika situasi mulai membaik, dilakukan langkah-langkah untuk mempertahankan keasilian All Saints Church Jakarta, sebagai salah satu tempat bersejarah di Jakarta. Salah satu yang akan dipertahankan adalah kapel Medhurst, yang meski tidak lagi menjadi tempat ibadah utama, namun punya nilai sejarah bagi All Saints maupun Gereja Anglikan Indonesia.Bahkan, dalam kerjasama dengan Persekutuan Alumni Perkantas, dibentuklah skema kredit mikro bernama Christian Micro Enterprise Development, yakni kredit untuk mengembangkan usaha kecil, dengan memanfaatkan potensi para profesional yang menjadi jemaat. Andrew juga mengalami sendiri krisis demi krisis yang melanda Indonesia sejak 1997. Dia menyaksikan rangkaian peristiwa seperti kerusuhan Mei 1998, bentrokan di Jalan Ketapang, Jakarta Barat, November 1998, yang berbuntut pada pembakaran dan perusakan sekitar 31 bangungan gereja, konflik di Ambon dan Poso, pengeboman malam Natal tahun 2000, bom bali 12 Oktober 2002, bom JW Marriot Agustus 2003 dll.Namun, hal itu tidak membuatnya pesimistis mengenai Indonesia. Dalam pandangannya, di negara sebesar Indonesia dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, ia merupakan negara yang dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain di dunia mengenai kehidupan beragama yang bertoleransi. ”Memang ada kasus-kasus, tapi itu tidak dominan. Bahkan kalau ada konflik masyarakat seperti di Ambon atau Poso, hal itu sifatnya lokal, tidak meluas sampai ke daerah-daerah lain di Indonesia,” katanya. (xha)

Saturday, July 17, 2004

Mengapa Kita Tidak Kaya?

Oleh Lesminingtyas

SABTU minggu lalu, ribuan siswa di Bogor menerima rapor kenaikan kelas. Sebagian siswa dari keluarga yang cukup berada bersama orang tuanya mengendarai mobil mereka menuju ke sekolah. Sementara saya dan anak saya bersama ratusan atau bahkan ribuan siswa bersama orang tua mereka berebut naik angkot. Di dekat Istana Bogor sangat macet puluhan angkot harus berebut jalan dengan mobil-mobil mewah yang hendak masuk ke halaman sekolah Regina Pacis dan Sekolah Budi Mulia.
Karena SD Budi Mulia, tempat anak saya bersekolah cukup bonafide, banyak teman sekelas anak saya yang diantar dengan mobil bermerek keluaran tahun terakhir. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan anak saya. Walaupun ia naik ke kelas 6 dengan nilai rapor yang meningkat, tapi ia tampak murung.
Kami pulang dengan naik becak menyusuri Taman Topi, ke arah Pasar Anyar, tempat angkot 08 ngetem menunggu penumpang. Anak saya bersungut-sungut, ”Uh..sebel, kenapa sih kita nggak beli mobil saja, biar nggak susah-susah naik becak.”
Saya menjadi sedikit tahu apa yang ada di benak anak saya. ”Supaya kamu dapat bersyukur, kamu jangan membayangkan sedang berada di dalam mobil empuk yang ber AC. Coba bayangkan, seandainya kamu yang ada di bagian belakang becak ini, harus menggenjot becak di tengah terik matahari demi mendapatkan uang 2.000 perak. Kita seharusnya bersyukur, karena bisa naik becak tanpa harus menggenjot, apalagi untuk orang lain, seperti tukang becak itu,” jawab saya.
Ketika angkot 08 jurusan Pasar Anyar-Cibinong yang kami tumpangi menyusuri Jl. Raya Bogor, jalanan menjadi begitu macet. Anak saya semakin kesal. ”Ah, sebel! Nggak enak naik angkot, macet lagi! Enak dong kayak teman-teman, ke sekolah diantar pakai mobil,” kata anak saya ketus.

***
SEJENAK kemudian terdengar bunyi ”ecek-ecek” dari beberapa tutup softdrink yang terpaku di kayu kecil, di tangan seorang pengamen kecil. Pengamen amatiran yang masih mengenakan celana merah; seragam SD dan sepotong kaos kumal dan tanpa alas kaki itu jongkok di angkot yang kami tumpangi.
Tangannya yang kurus berusaha menggerak-gerakkan ”alat musik”nya sekadar mengiringi nyanyian sumbangnya. Suara ”ecek-ecek” yang tidak pas dengan tempo lagu yang dia bawakan, ditambah lagi dengan suara parau dan intonasi yang tidak jelas, serta pitch control yang ancur-ancuran membuat kami berdua terganggu.
Tapi karena pengamen kecil yang hampir buta nada itu berusaha mati-matian membawakan lagu ”Menuju Puncak” yang biasa dinyanyikan oleh Tia, Haikal, dan teman-temannya di acara Akademi Fantasi Indosiar, kami balik tersenyum dan mungkin lebih tepat disebut mentertawakan.
”Itu mah, akademia yang dieliminasi tanpa koper!” jawab anak saya dalam logat Sunda yang kental.
Kepada pengamen cilik itu saya memberikan beberapa keping uang receh sebagai tanda belas kasihan. Saat pengamen kecil itu melompat keluar dari angkot, kami melihat dengan jelas koreng yang menganga di punggungnya yang dibalut dengan kaos usang yang sudah tidak utuh lagi.
”Kamu harusnya bersyukur karena kamu tidak perlu bersusah payah mencari uang jajan sendiri. Kamu juga harus bersyukur karena kamu punya pakaian yang utuh, sepatu yang utuh dan paling penting kamu punya orang tua yang tidak akan membiarkan anaknya terluka,” kata saya, mengingatkan dia.
Turun dari angkot kami masih harus naik ojek menuju rumah kami yang ada di komplek RSSSS (Rumah Sempit Sumpek Sangat Sederhana). ”Sebel, kenapa sih kita beli rumah di kampung yang udik,” lagi-lagi anak saya mengeluh.
”Kita harus bersyukur. Walaupun tinggal di udik, kita bisa hidup tenang. Dari pada kita tinggal di Jakarta tapi kita tergusur atau harus bersusah payah membuat gubuk di kolong jembatan,” saya masih tetap berusaha menasehati anak saya.
***
SAAT ojek yang kami tumpangi melewati jalan yang berair karena ada saluran PAM yang bocor, tiba-tiba tetangga kami yang kebetulan punya jabatan di sebuah bank swasta, dengan mobil barunya berusaha mendahului dan….”crat !” kami bertiga terguyur air bercampur lumpur kecoklatan.
”Hu uh!” anak saya spontan mengeluh. Saya pun hampir saja mengumpat. Tapi saya berusaha menahan diri, karena saya merasa perlu menjaga diri, menjaga emosi dan menjaga mulut karena di depan anak-anak saya berperan sebagai guru Kasih yang harus pandai bersyukur setiap saat dan dalam setiap keadaan, baik yang suka maupun duka.
”Kenapa sih, sudah tahu kalau salah, membuat orang menderita tetapi tetap tidak meminta maaf ?” anak saya mempertanyakan sikap arogan tetangga kami.
”Sudahlah, permintaan maaf tetangga kita tidak akan mengubah keadaan kita. Biarkan saja! Kita harus mengampuni orang tanpa harus menunggu orang itu meminta maaf kepada kita, maka Tuhan akan menggantikan kekesalan kita dengan suka cita.”

***
SESAMPAINYA di rumah, saya tidak memaksakan diri untuk mengajarkan Kasih dan ucapan syukur.
Saya pikir saya akan mengambil waktu sebelum tidur nanti malam. Tapi sungguh tidak disangka, saat kami hendak makan, anak saya kembali membuka pembicaraan.
Kebetulan bibi, pembantu rumah kami hari itu memasak sayur lodeh, sambal terasi dan ikan asin. Walaupun makanan itu merupakan menu favorit keluarga kami, tapi anak saya sering menyebut menu tersebut tidak ”populer”
”Lodeh lagi, lodeh lagi!” keluh anak saya. Belum sempat saya untuk kembali menasehati, anak saya mengajukan pertanyaan yang sulit saya jawab.
”Kenapa sih kita nggak kaya ?”
Sambil kebingungan mencari-cari jawaban yang tepat, saya menjawab sekenanya yang penting menenangkan. ”Kita bisa makan tiga kali sehari saja, sudah bagus. Dan kita harus bersyukur karena tidak semua orang bisa merasakan makanan seperti kita,” kata saya.
”Tapi kenapa kita tidak bisa punya mobil yang bagus, rumah bertingkat dan punya duit yang banyak untuk jalan-jalan ke luar negeri ? Kenapa sih kita nggak kaya seperti Pak Haji yang punya toko itu, biar kita bisa bebas makan jajanan tanpa harus membeli?” tanya anak saya, memprotes keadaan ini. Saya tidak berminat menjawab dan hanya menarik nafas dalam-dalam.
Karena tidak dijawab, anak saya pun mencoba menjawab sendiri dengan berkata ”O..iya-ya…setiap hari kita kan hanya berdoa minta makanan secukupnya, bukan meminta kekayaan yang berlimpah-limpah.”
Rupanya anak saya menggunakan Doa Bapa Kami sebagai referensi. Saya kaget sekali, tidak menyangka doa yang setiap hari diucapkan dan telah menjadi rutinitas sejak ia berusia 3 tahun ternyata bisa menolong kami mendapatkan jawaban mengapa hidup kami hanya berkecukupan, tidak berkelimpahan, apalagi bermewah-mewahan. Saya pun tersenyum lega dan mengiyakan kata-kata anak saya yang sangat bijak dengan berkata,
”Nah, ini baru anak pintar. Coba kamu ingat nggak, ada tulisan apa di hiasan dinding yang tergantung di kamarmu?”
”Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan Tuhan, dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan,” jawab anak saya dengan gaya hafalan anak-anak Sekolah Minggu.
”Terus, yang tergantung di ruang makan?” saya bertanya sambil menutup mata anak saya untuk mencoba mengetesnya.
”Lebih baik sepiring sayur dengan Kasih, dari pada lembu tambun dengan kebencian.”
”Terus, ada tulisan apa lagi di bawahnya?” saya mencoba menguji daya ingat anak saya
”Amsal 15 ayat 17, Bu……..!” teriak anak saya seperti layaknya seorang murid menjawab pertanyaan gurunya.

Penulis adalah pekerja di sebuah NGO internasional

Saturday, July 10, 2004

Aku Tak Rela Dipimpin Toke Togel

Oleh Gurgur Manurung

Beberapa bulan yang lalu, saya pulang ke Porsea Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Sebagai seorang yang sangat mencintai kampung halaman tentunya saya selalu memikirkan bagaiamana mengembangkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).
Puluhan tahun saya meninggalkan kampung halaman dan selalu pulang kampung minimal 2 kali dalam setahun. Sulitnya perkembangan pembangunan di Toba Samosir, khususnya Porsea, adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Kurangnya partisipasi itu disebabkan kemampuan pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunan sangat rendah. Disusul kurangnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah karena isu korupsi. Apalagi kasus dibukanya kembali PT. Toba Pulp Lestari (PT. TPL), sangat jelas pemerintah memihak ke PT. TPL tanpa mempersiapkan sumberdaya manusia dari pihak pemerintah untuk mengotrol kehadiran PT. TPL itu sendiri. Akhirnya, pemerintah Tobasa kebingungan bagaimana cara mengontrol kehadiran PT.TPL.
Di tengah-tengah banyaknya persoalan di kampung halamanku, kehadiran togel (sejenis judi) juga menjadi penghalang masyarakat untuk bekerja keras. Maklum, masyarakat kelihatanya terbuai dengan mimpi-mimpi mereka yang dijanjikan toke togel.
Kehadiran togel inilah yang membuat masyarakat menjadi malas bekerja ke ladang dan banyak menghabiskan waktu dan uang di kedai, khususnya kaum bapak dan pemuda. Saya ingat, sepuluh tahun yang lalu masyarakat Porsea adalah komunitas yang terkenal pekerja keras untuk menyekolahkan anakanya setinggi-tingginya.
Sekarang semangat itu kelihatan sekali mulai pudar dan bagi generasi muda kelihatan mulai timbul generasi pemalas. Oleh sebab itulah, beberapa tahun terakhir selalu saya suarakan di tengah-tengah masyarakat untuk berhenti dari pembelian togel itu.
Saya menyadari togel tidak akan hilang kalau hanya disuarakan, karena menurut informasi dari beberapa orang yang tahu persis liku-liku togel diduga aparat kepolisian mendapat setoran secara kontinu.
Saya semakin terfokus untuk gerakan ini karena beberapa toke togel menjadi calon legislatif (caleg) di kampung kami pada pemilihan legislatif April lalu. Saya tidak bisa bayangkan mau ke mana kami akan dibawa toke togel itu kelak, jika terpilih menjadi anggota legislatif.
Saya memberanikan diri mengadakan suatu gerakan. Saya hanya berharap Tuhan ikut campur tangan dalam gerakan ini.
Saya memanggil beberapa anak muda, bahkan ada yang sudah berumah tangga, dan tentunya memiliki kredibilitas baik untuk menyusun strategi jitu supaya masyarakat memboikot caleg berlatar belakang toke togel.
Kami pun membuat dua strategi antara lain: Pertama, kelompok satu menginvestigasi seluruh ijazah seluruh caleg toke togel di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Kedua, kelompok dua bergerilya kemasyarakat menjelaskan betapa hancurnya masyarakat jika dipimpin toke togel (saya yang memimpin).
Kelompok yang saya pimpin amatlah semangat. Bayangkan jika kami harus menjalani ratusan kilometer setiap hari melewati gunung-gunung, sungai-sungai, jalan yang amat terjal tanpa perbekalan apapun, kami hanya mengharapkan makan dengan asumsi ada kantin di pinggir jalan. Saya sendiri benar-benar merasa tangan Tuhan membimbing saya untuk melakukan dobrakan ini.
Kami pernah kampanye mulai dari pagi hari hingga pagi besoknya. Kenangan yang amat menyenangkan adalah ketika kami akan mengetuk rumah penduduk di pedesaan sampai jam 4 pagi di pinggiran danau Toba yang teramat dingin.
Kadang-kadang kami ragu untuk mengetuknya, karena kehadiran kami telah mengganggu mereka. Tetapi dugaan kami salah, walaupun kami ketuk pintu pukul 4 pagi, si bapak masih semangat dan si ibu langsung membuatkan kopi ditambah kambang layang (kue favorit di daerah itu) kepada kami.
Kami pun menjelaskan maksud kedatangan kami untuk tidak memilih caleg yang berlatar belakang toke togel. Keluarga ini menjelaskan bahwa desa mereka telah disumbang oleh toke togel bahan-bahan bangunan untuk membangun jalan mereka.
Kami pun menjelaskan bahwa cara-cara toke togel itu pun sudah melanggar peraturan pemilu itu sendiri. Jadi, kita jangan mau dipimpin orang yang suka melanggar peraturan, saranku. Akhirnya, keluarga itu mengatakan kekagumannya kepada kepedulian kami sebagai anak-anak muda.
Paling mengejutkan, pernah kami masuk ke rumah penduduk jam 12 malam, ternyata yang punya rumah adalah agen togel di desa itu. Akhirnya, saya pun menyatakan dengan penuh canda ”supaya bus kota dilarang saling mendahului”, candaku mereka sambut dengan tertawa.
Kesulitan kami pada saat itu adalah kami telah diberi minum kopi dan kami akhirnya hanya menjelaskan visi kami dan mengajak yang punya rumah untuk tidak lagi menjual togel. Lebih baiklah kita mengembangkan pertanian yang tepat guna daripada hanyut dengan togel.
Walaupun demikian, saya mengatakan bahwa kita sama-sama punya hak untuk melakukan apa saja, yang penting tidak melanggar peraturan yang ada. Pertanyaanya adalah apakah togel melanggar peraturan?
Di mata masyarakat tidak, karena aparatur pemarintah juga ikut terlibat. Akhirnya, kami pulang tanpa ada rasa tersinggung dan yang punya rumah mengajak kami sering datang untuk berdiskusi lagi.
Sekarang saya bersyukur toke togel di kampung kami tidak ada yang menjadi anggota DPRD Kabupaten, karena tidak dipilih rakyat. Masyarakat yang kami ajak juga semakin menyadari bahwa bekerja keras pada bidang yang benar adalah jawaban untuk membuat suatu komunitas masyarakat yang sehat dan bermartabat.
Kelompok kami semakin rindu mengembalikan semangat semula bahwa masyarakat Porsea adalah masyarakat pekerja keras yang identik dengan komunitas masyarakat yang selalu memajukan pendidikan anak-anaknya setinggi-tingginya.
Di akhir tulisan ini, saya mau menyampaikan bahwa rakyatlah yang menentukan masa depan bangsa ini. Walupun saya sangat membenci togel, saya tidak pernah berselisih dengan toke togel dan toke togel pun memaklumi kegiatan kami.
Biarlah masyarakat menjadi penentu, siapa yang mau mereka ikuti. Itulah sebabnya, kami selalu secara kreatif mengajak masyarakat supaya mereka menjadi masyarakat yang cerdas, yaitu masyarakat yang mampu menentukan pilihannya pada kebenaran.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor

Monday, July 05, 2004

Tuhan Mempunyai 1001 Jalan Menjawab Doa Kita

Oleh Sammy Wiriadinata

Seringkali kita menghadapi situasi di mana kita meminta sesuatu dari Tuhan, tapi kelihatannya seolah-olah doa kita tidak sampai ke atas, boro-boro menerima jawabannya. Jangan mempersalahkan Tuhan, karena Dia berkata “kalau bapak kita di dunia yang jahat pun pasti tidak akan memberikan batu apabila anaknya meminta roti, masakan Bapa yang di sorga lebih keras hati-Nya dan lebih kejam dari bapak duniawi!”
Pada tahun 1975, saya tiba di Sydney untuk melanjutkan studi di perguruan Avondale College dalam jurusan Teologi. Karena saya tidak mendapat beasiswa dari mana pun, saya terpaksa harus mencari pekerjaan untuk menutupi uang kuliah dan ongkos hidup yang cukup mahal di Australia. Di kampus Avondale College, ada sebuah pabrik makanan sehat Sanitarium yang produknya dijual di banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.
Alangkah kecewanya saya ketika melamar untuk bekerja di situ, tapi ternyata ada peraturan bahwa mahasiswa dari Avondale College hanya boleh salah satunya yang bekerja di pabrik itu, kalau bukan istri, maka suaminya saja.
Ini tentu saja berat bagi kami karena kami membawa dua orang anak yang masih di bangku SD, dan kami ingin sekolahkan di sekolah swasta Kristen, berhubung di sekolah pemerintah di sini tidak diajarkan agama.
Sebab itu, kami terpaksa mengubah rencana untuk berkuliah di sekolah itu dan berusaha masuk di salah satu universitas yang ada di Kota Sydney. Kami rkecewa untuk kedua kalinya ketika supervisor saya, seorang wanita asal Inggris di Departement Pendidikan Australia, mengatakan dengan ketus bahwa saya harus kembali ke Indonesia kalau tidak jadi kuliah di perguruan yang saya pilih sebelum tiba di sini.
Tapi heran bercampur suka cita, saya mendapat seorang pembela yang tak disangka-sangka. Seorang supervisor lain di kantor itu langsung mendekati saya ketika menunggu lift untuk membawa turun ke bawah.
Beliau membisikkan kepada saya untuk kembali ke kantornya minggu berikutnya karena rupanya dia akan menggantikan supervisor yang ketus tadi, dan berjanji akan berusaha menolong saya sedapatnya.
Minggu berikutnya, saya bertemu dengan Dr. Kevin Smith, seorang keturunan Yahudi-Inggris dan beragama Katolik yang menggantikan supervisor saya yang terdahulu itu. Ketika mengetahui bahwa saya eks siswa Sekolah Katolik sejak SD hingga di bangku SMA I, dengan ramah dan bersungguh-sungguh ia menolong saya untuk mendaftar di Macquarie University pada jurusan Bahasa Inggris dan Linguistik.
Jadi saya kuliah sambil bekerja di sebuah rumah sakit di utara Sydney, sementara istri saya juga mendapat pekerjaan full time di situ.
Sebenarnya daerah utara kota Sydney itu termasuk daerah yang mewah dan mahal, tapi sekali lagi kemurahan Tuhan ditunjukkan karena dengan tidak disangka-sangka kami mendapat sebuah flat yang letaknya hanya sepelempar batu dari tempat kami bekerja dan anak-anak kami bersekolah, yaitu Wahroonga Adventist Primary School.
Dua tahun kemudian setelah saya menyelesaikan kuliah, istri saya mengambil cuti sebulan ke Jakarta menengok keluarga. Ketika itu ada sebuah kongres evangelisasi anggota awam yang diadakan di salah satu gereja di Wahroonga.
Dalam kongres itu, ada seorang anggota dari Murwillumbah yang bersaksi bahwa dia mempunyai warung kecil di kota itu dan menaruh traktat dan buku-buku yang berisi kabar selamat yang ditawarkan secara gratis bagi langganannya.
Satu hari seorang hippy mengambil sebuah buku yang berjudul "The Desire of Ages". Setelah membaca buku itu, dia memberikan kepada kawannya, dan begitu seterusnya, sehingga dua tahun kemudian, di antara para hippy itu ada 25 orang yang bertobat dan menerima Tuhan.
Saya sangat terharu mendengar cerita itu dan berpikir alangkah bahagianya kalau seandainya kami bisa membuka warung makan yang kecil di Sydney dan berbuat seperti itu sebagai usaha penginjilan.
Waktu itu, iseri saya tinggal di rumah seorang pamannya yang cukup berada. Saya berdoa supaya Tuhan menggerakkan hatinya untuk memberikan pinjaman kepada kami sebagai modal membuka usaha rumah makan itu. Heran dan ajaib sungguh cinta Tuhan.
Tanpa sepengetahuan istri saya apa yang saya doakan itu, telah dijawab Tuhan, tapi dalam cara yang tak terpikirkan kami. Seorang teman sebangku sekolah di Surabaya dulu telah menyerahkan kepadanya lima batang emas yang kami jadikan modal membuka usaha kami.
Sebenarnya, saya hanya berdoa untuk mendapat sebuah rumah saja agar di usia senja nanti kami boleh mempunyai tempat berteduh dari hujan dan teriknya matahari yang dapat kami sebut milik sendiri. Dia malah mengaruniakan kami lebih dari itu.
Kami berhasil menyekolahkan anak kami. Yang pria sekarang menjadi pendeta di salah satu gereja yang ada di Sydney.
Karena mengambil jurusan Inggris dan Linguistik, saya kemudian dapat menggunakannya dalam mengajar bahasa Inggris di samping menjadi pendeta di Indonesia, Malaysia, dan Makao, bahkan juga di Australia ini.
Ketika di Makao, di sampingnya mengajar bahasa Inggris, saya juga menjadi chaplain dari Sekolah SMP/SMA Escola Segundaria Sam Yuk de Macau selama 7 tahun.
Di sana, saya juga berkesempatan belajar bahasa Mandarin. Saya hanya ingin menambahkan bahwa nama "Yesus" dalam bahasa Mandarin adalah "Yesu", dituliskan dengan dua kata: "Ye" adalah terdiri dari "dua telinga" yang berdampingan, dan "Su" terdiri dari gambar "ikan dan batang padi atau gandum".
Dengan kata lain, Dia selalu terbuka telingaNya mendengar doa kita, dan menyediakan kebutuhan kita sehari-hari berupa makanan, yaitu nasi atau roti (gandum) dengan "lauk pauknya"(ikan). Tapi janganlah paksakan Dia untuk menjawab sesuai dengan pikiran kita, tetapi serahkan
Dia melakukan kehendakNya bagi kita, karena Dia tidak pernah meleset dalam memberikan yang terbaik. Kiranya kasih karuniaNya selalu menjadi bagian Anda sekalian!

Penulis adalah mantan wartawan, menjelang pensiun di Sydney, Australia