Dia Telah Sabar Menungguku
Oleh Nurma Diani Sekarsih, S.Pd
Aku terlahir di keluarga yang taat beragama. Ayah waktu kecil sekolah di SD dan SMP Katolik, walaupun agama keluarga berbeda. Romo pembimbing sempat meminta ayah untuk dibaptis saja dan disekolahkan di seminari.
Tapi waktu itu, beliau dekat sekali dengan salah satu kakaknya, Pak De-ku. Pak De bilang kalau ayah sampai dibaptis dia tidak akan diakui sebagai adik. Ayah lalu diajak lebih mendalami agama yang sudah dianut oleh keluarga besar kami, akhirnya beliau pun mantap mengikuti ajaran agamanya. Sampai sekarang.
Aku sendiri pertama kali melihat Yesus, maksudku tentu gambarNya, waktu aku umur 8 tahun. Setiap bulan sehabis ayahku gajian, dia selalu membawa anak-anaknya berbelanja buku.
Selagi berjalan-jalan di Malioboro, di Toko Buku Sari Ilmu, aku melihat gambar Yesus itu. Aku pun bertanya pada ayahku. ”Yah, itu siapa,?” Ayahku menjawab,”Itu Yesus”.
Seterusnya aku bertanya-tanya tentang Yesus pada ayahku tapi jawabannya tak pernah detail. Aku jadi penasaran. Pada saat perayaan Natal, Gereja Kristen Jawa di dekat rumah kami mengadakan pemutaran film tentang Yesus, dan penduduk di sekitarnya diundang untuk ikut menonton. Ayahku datang membawa aku.
Di SD Negeri tempatku bersekolah waktu itu, kalau ada pelajaran agama tertentu, teman-teman yang beragama lain keluar ruangan untuk cari tempat lain untuk belajar. Suatu saat karena begitu inginnya aku tahu tentang Yesus, aku memutuskan untuk ikut keluar ruangan untuk ikut pelajaran agama Kristen/Katolik.
Namun sayang, aku tertangkap oleh guru agamaku, dimarahi, dan diantar pulang untuk bertemu dengan orang tuaku. Habislah aku dimarahi.
Ayahku bilang bahwa Isa Al Masih itu memang istimewa karena dia lahir dari Maryam yang masih gadis, bahwa dia adalah Kalimatullah, tapi dia adalah nabi bukan Tuhan. Aku inget betul selanjutnya Ayah bilang aku boleh jadi Kristen, tapi tidak akan diakui sebagai anak dan tak boleh tinggal di rumah lagi. Apa dayaku? Aku masih kecil dan tak bisa berbuat apa-apa.
Waktu berlalu. Ayah kemudian mendapat tugas belajar S3 di luar negeri, jadi hanya ibu di rumah.
Tiba saatnya masuk SMP. Ibu mendaftarkan aku di sebuah SMP Negeri di kota karena transportasinya mudah, tetapi pada saat pengumuman ternyata Nilai Evaluasi Murni-kukurang mencukupi. Jadi, aku tak bisa diterima. Ibu lalu mendaftarkan aku si SMP BOPKRI yang hanya berjarak 150 meter dari sekolah negeri itu karena pertimbangan transportasi yang praktis.
Sejak SMP itulah, aku menerima pengajaran tentang firman Tuhan, dan mulai mengenal puji-pujian. Aku kadang ikut apabila ada persekutuan doa, tetapi aku tak berani melangkah terlalu jauh karena takut reaksi orangtuaku. Aku bagaikan tanah yang bersemak duri, benih ditabur, tapi tak bisa berkembang dengan subur, karena kalah dengan semak duri.
Perjalanan hidupku terus berlanjut. banyak suka duka yang terjadi. Di kala suka aku tak terlalu merasakan hadirat Tuhan, tapi di kala duka, aku selalu menyanyikan puji-pujian. Mazmur 23 adalah pujian yang sering aku lantunkan, namun aku sendiri sebenarnya tidak sadar akan hal ini sampai ibu bilang padaku, ”Kenapa sih kalau lagi sedih kamu selalu nyanyi lagu itu?”
Sekian tahun telah berlalu dan aku telah mengalami banyak hal. masa-masa menyenangkan dan saat-saat yang amat sangat menyakitkan. Sampai suatu ketika pada Natal 2002, aku sedang menonton televisi sendirian, dan ada film tentang Yesus sedang diputar. Di saat filmnya sudah berakhir, ada doa untuk mengundang Yesus masuk ke dalam hati, dan menjadi Tuhan dan juru selamat pribadi. Aku berdoa seiring tuntunan di film itu.
Sejak saat itu, Tuhan terus nyatakan diri-Nya melalui banyak hal, melalui email seorang teman kantorku dulu, aku diajak bergabung di sebuah milis tempat aku bertemu kembali dengan teman-teman lamaku.
Mereka dulu adalah teman-teman dekatku dan telah banyak menolongku dan menguatkan aku pada saat aku mengalami masalah yang amat sangat berat.
Melalui artikel-artikel rohani yang mereka kirimkan, pergumulan-pergumulan rohani yang sering kami diskusikan, dan mendengarkan siaran sebuah radio rohani secara terus-menerus, pada bulan Juli 2003 aku mulai berjemaat di sebuah gereja di kotaku.
Setelah mulai berjemaat dengan tekun, akhirnya aku mengambil keputusan untuk melayani Tuhan dengan mengikuti sekolah pengerja (School of Workers) di gerejaku. Apakah sesudah aku menerima Kristus dan menjadi murid-Nya hidupku menjadi lebih mudah? Aku bisa menjawabnya dengan satu kata. Tidak.
Justru setelah mengaku percaya, hidupku menjadi lebih sulit. Tentangan keluarga yang besar, pencobaan-pencobaan yang kualami, begitu banyak airmata yang jatuh. Tapi aku tetap mengamini apa yang Tuhan bilang: ”Sangkal dirimu, pikul salibmu dan ikutlah Aku.”
Dalam segala hal yang kualami, Tuhan begitu sabar menemaniku, menghiburku, menghapus airmataku. Sungguh, Kasih SetiaNya begitu nyata di hidupku. Ada hal-hal yang tak kumengerti kenapa Tuhan izinkan semua itu terjadi di hidupku di masa lalu, tapi aku sadar semua itu adalah bagian dari proses-Nya membentukku.
Aku ingin mengakhiri kesaksian ini dengan kalimat ini: Jesus, without You, none of these would be possible. Kau sungguh teramat baik. Kasih SetiaMu untuk selama-lamanya. Sungguh sukacita yang amat besar hanya kurasakan di dalamMu. Terima kasih Tuhan, sudah begitu sabar menungguku. Pakai aku Tuhan, menurut rencanaMu. Terjadilah KehendakMu dalam hidupku. Amin.
Penulis adalah murid Sowers (School of Workers) Aletheia Yogyakarta
Aku terlahir di keluarga yang taat beragama. Ayah waktu kecil sekolah di SD dan SMP Katolik, walaupun agama keluarga berbeda. Romo pembimbing sempat meminta ayah untuk dibaptis saja dan disekolahkan di seminari.
Tapi waktu itu, beliau dekat sekali dengan salah satu kakaknya, Pak De-ku. Pak De bilang kalau ayah sampai dibaptis dia tidak akan diakui sebagai adik. Ayah lalu diajak lebih mendalami agama yang sudah dianut oleh keluarga besar kami, akhirnya beliau pun mantap mengikuti ajaran agamanya. Sampai sekarang.
Aku sendiri pertama kali melihat Yesus, maksudku tentu gambarNya, waktu aku umur 8 tahun. Setiap bulan sehabis ayahku gajian, dia selalu membawa anak-anaknya berbelanja buku.
Selagi berjalan-jalan di Malioboro, di Toko Buku Sari Ilmu, aku melihat gambar Yesus itu. Aku pun bertanya pada ayahku. ”Yah, itu siapa,?” Ayahku menjawab,”Itu Yesus”.
Seterusnya aku bertanya-tanya tentang Yesus pada ayahku tapi jawabannya tak pernah detail. Aku jadi penasaran. Pada saat perayaan Natal, Gereja Kristen Jawa di dekat rumah kami mengadakan pemutaran film tentang Yesus, dan penduduk di sekitarnya diundang untuk ikut menonton. Ayahku datang membawa aku.
Di SD Negeri tempatku bersekolah waktu itu, kalau ada pelajaran agama tertentu, teman-teman yang beragama lain keluar ruangan untuk cari tempat lain untuk belajar. Suatu saat karena begitu inginnya aku tahu tentang Yesus, aku memutuskan untuk ikut keluar ruangan untuk ikut pelajaran agama Kristen/Katolik.
Namun sayang, aku tertangkap oleh guru agamaku, dimarahi, dan diantar pulang untuk bertemu dengan orang tuaku. Habislah aku dimarahi.
Ayahku bilang bahwa Isa Al Masih itu memang istimewa karena dia lahir dari Maryam yang masih gadis, bahwa dia adalah Kalimatullah, tapi dia adalah nabi bukan Tuhan. Aku inget betul selanjutnya Ayah bilang aku boleh jadi Kristen, tapi tidak akan diakui sebagai anak dan tak boleh tinggal di rumah lagi. Apa dayaku? Aku masih kecil dan tak bisa berbuat apa-apa.
Waktu berlalu. Ayah kemudian mendapat tugas belajar S3 di luar negeri, jadi hanya ibu di rumah.
Tiba saatnya masuk SMP. Ibu mendaftarkan aku di sebuah SMP Negeri di kota karena transportasinya mudah, tetapi pada saat pengumuman ternyata Nilai Evaluasi Murni-kukurang mencukupi. Jadi, aku tak bisa diterima. Ibu lalu mendaftarkan aku si SMP BOPKRI yang hanya berjarak 150 meter dari sekolah negeri itu karena pertimbangan transportasi yang praktis.
Sejak SMP itulah, aku menerima pengajaran tentang firman Tuhan, dan mulai mengenal puji-pujian. Aku kadang ikut apabila ada persekutuan doa, tetapi aku tak berani melangkah terlalu jauh karena takut reaksi orangtuaku. Aku bagaikan tanah yang bersemak duri, benih ditabur, tapi tak bisa berkembang dengan subur, karena kalah dengan semak duri.
Perjalanan hidupku terus berlanjut. banyak suka duka yang terjadi. Di kala suka aku tak terlalu merasakan hadirat Tuhan, tapi di kala duka, aku selalu menyanyikan puji-pujian. Mazmur 23 adalah pujian yang sering aku lantunkan, namun aku sendiri sebenarnya tidak sadar akan hal ini sampai ibu bilang padaku, ”Kenapa sih kalau lagi sedih kamu selalu nyanyi lagu itu?”
Sekian tahun telah berlalu dan aku telah mengalami banyak hal. masa-masa menyenangkan dan saat-saat yang amat sangat menyakitkan. Sampai suatu ketika pada Natal 2002, aku sedang menonton televisi sendirian, dan ada film tentang Yesus sedang diputar. Di saat filmnya sudah berakhir, ada doa untuk mengundang Yesus masuk ke dalam hati, dan menjadi Tuhan dan juru selamat pribadi. Aku berdoa seiring tuntunan di film itu.
Sejak saat itu, Tuhan terus nyatakan diri-Nya melalui banyak hal, melalui email seorang teman kantorku dulu, aku diajak bergabung di sebuah milis tempat aku bertemu kembali dengan teman-teman lamaku.
Mereka dulu adalah teman-teman dekatku dan telah banyak menolongku dan menguatkan aku pada saat aku mengalami masalah yang amat sangat berat.
Melalui artikel-artikel rohani yang mereka kirimkan, pergumulan-pergumulan rohani yang sering kami diskusikan, dan mendengarkan siaran sebuah radio rohani secara terus-menerus, pada bulan Juli 2003 aku mulai berjemaat di sebuah gereja di kotaku.
Setelah mulai berjemaat dengan tekun, akhirnya aku mengambil keputusan untuk melayani Tuhan dengan mengikuti sekolah pengerja (School of Workers) di gerejaku. Apakah sesudah aku menerima Kristus dan menjadi murid-Nya hidupku menjadi lebih mudah? Aku bisa menjawabnya dengan satu kata. Tidak.
Justru setelah mengaku percaya, hidupku menjadi lebih sulit. Tentangan keluarga yang besar, pencobaan-pencobaan yang kualami, begitu banyak airmata yang jatuh. Tapi aku tetap mengamini apa yang Tuhan bilang: ”Sangkal dirimu, pikul salibmu dan ikutlah Aku.”
Dalam segala hal yang kualami, Tuhan begitu sabar menemaniku, menghiburku, menghapus airmataku. Sungguh, Kasih SetiaNya begitu nyata di hidupku. Ada hal-hal yang tak kumengerti kenapa Tuhan izinkan semua itu terjadi di hidupku di masa lalu, tapi aku sadar semua itu adalah bagian dari proses-Nya membentukku.
Aku ingin mengakhiri kesaksian ini dengan kalimat ini: Jesus, without You, none of these would be possible. Kau sungguh teramat baik. Kasih SetiaMu untuk selama-lamanya. Sungguh sukacita yang amat besar hanya kurasakan di dalamMu. Terima kasih Tuhan, sudah begitu sabar menungguku. Pakai aku Tuhan, menurut rencanaMu. Terjadilah KehendakMu dalam hidupku. Amin.
Penulis adalah murid Sowers (School of Workers) Aletheia Yogyakarta
