Saturday, August 28, 2004

Dia Telah Sabar Menungguku

Oleh Nurma Diani Sekarsih, S.Pd

Aku terlahir di keluarga yang taat beragama. Ayah waktu kecil sekolah di SD dan SMP Katolik, walaupun agama keluarga berbeda. Romo pembimbing sempat meminta ayah untuk dibaptis saja dan disekolahkan di seminari.
Tapi waktu itu, beliau dekat sekali dengan salah satu kakaknya, Pak De-ku. Pak De bilang kalau ayah sampai dibaptis dia tidak akan diakui sebagai adik. Ayah lalu diajak lebih mendalami agama yang sudah dianut oleh keluarga besar kami, akhirnya beliau pun mantap mengikuti ajaran agamanya. Sampai sekarang.
Aku sendiri pertama kali melihat Yesus, maksudku tentu gambarNya, waktu aku umur 8 tahun. Setiap bulan sehabis ayahku gajian, dia selalu membawa anak-anaknya berbelanja buku.
Selagi berjalan-jalan di Malioboro, di Toko Buku Sari Ilmu, aku melihat gambar Yesus itu. Aku pun bertanya pada ayahku. ”Yah, itu siapa,?” Ayahku menjawab,”Itu Yesus”.
Seterusnya aku bertanya-tanya tentang Yesus pada ayahku tapi jawabannya tak pernah detail. Aku jadi penasaran. Pada saat perayaan Natal, Gereja Kristen Jawa di dekat rumah kami mengadakan pemutaran film tentang Yesus, dan penduduk di sekitarnya diundang untuk ikut menonton. Ayahku datang membawa aku.
Di SD Negeri tempatku bersekolah waktu itu, kalau ada pelajaran agama tertentu, teman-teman yang beragama lain keluar ruangan untuk cari tempat lain untuk belajar. Suatu saat karena begitu inginnya aku tahu tentang Yesus, aku memutuskan untuk ikut keluar ruangan untuk ikut pelajaran agama Kristen/Katolik.
Namun sayang, aku tertangkap oleh guru agamaku, dimarahi, dan diantar pulang untuk bertemu dengan orang tuaku. Habislah aku dimarahi.
Ayahku bilang bahwa Isa Al Masih itu memang istimewa karena dia lahir dari Maryam yang masih gadis, bahwa dia adalah Kalimatullah, tapi dia adalah nabi bukan Tuhan. Aku inget betul selanjutnya Ayah bilang aku boleh jadi Kristen, tapi tidak akan diakui sebagai anak dan tak boleh tinggal di rumah lagi. Apa dayaku? Aku masih kecil dan tak bisa berbuat apa-apa.
Waktu berlalu. Ayah kemudian mendapat tugas belajar S3 di luar negeri, jadi hanya ibu di rumah.
Tiba saatnya masuk SMP. Ibu mendaftarkan aku di sebuah SMP Negeri di kota karena transportasinya mudah, tetapi pada saat pengumuman ternyata Nilai Evaluasi Murni-kukurang mencukupi. Jadi, aku tak bisa diterima. Ibu lalu mendaftarkan aku si SMP BOPKRI yang hanya berjarak 150 meter dari sekolah negeri itu karena pertimbangan transportasi yang praktis.
Sejak SMP itulah, aku menerima pengajaran tentang firman Tuhan, dan mulai mengenal puji-pujian. Aku kadang ikut apabila ada persekutuan doa, tetapi aku tak berani melangkah terlalu jauh karena takut reaksi orangtuaku. Aku bagaikan tanah yang bersemak duri, benih ditabur, tapi tak bisa berkembang dengan subur, karena kalah dengan semak duri.
Perjalanan hidupku terus berlanjut. banyak suka duka yang terjadi. Di kala suka aku tak terlalu merasakan hadirat Tuhan, tapi di kala duka, aku selalu menyanyikan puji-pujian. Mazmur 23 adalah pujian yang sering aku lantunkan, namun aku sendiri sebenarnya tidak sadar akan hal ini sampai ibu bilang padaku, ”Kenapa sih kalau lagi sedih kamu selalu nyanyi lagu itu?”
Sekian tahun telah berlalu dan aku telah mengalami banyak hal. masa-masa menyenangkan dan saat-saat yang amat sangat menyakitkan. Sampai suatu ketika pada Natal 2002, aku sedang menonton televisi sendirian, dan ada film tentang Yesus sedang diputar. Di saat filmnya sudah berakhir, ada doa untuk mengundang Yesus masuk ke dalam hati, dan menjadi Tuhan dan juru selamat pribadi. Aku berdoa seiring tuntunan di film itu.
Sejak saat itu, Tuhan terus nyatakan diri-Nya melalui banyak hal, melalui email seorang teman kantorku dulu, aku diajak bergabung di sebuah milis tempat aku bertemu kembali dengan teman-teman lamaku.
Mereka dulu adalah teman-teman dekatku dan telah banyak menolongku dan menguatkan aku pada saat aku mengalami masalah yang amat sangat berat.
Melalui artikel-artikel rohani yang mereka kirimkan, pergumulan-pergumulan rohani yang sering kami diskusikan, dan mendengarkan siaran sebuah radio rohani secara terus-menerus, pada bulan Juli 2003 aku mulai berjemaat di sebuah gereja di kotaku.
Setelah mulai berjemaat dengan tekun, akhirnya aku mengambil keputusan untuk melayani Tuhan dengan mengikuti sekolah pengerja (School of Workers) di gerejaku. Apakah sesudah aku menerima Kristus dan menjadi murid-Nya hidupku menjadi lebih mudah? Aku bisa menjawabnya dengan satu kata. Tidak.
Justru setelah mengaku percaya, hidupku menjadi lebih sulit. Tentangan keluarga yang besar, pencobaan-pencobaan yang kualami, begitu banyak airmata yang jatuh. Tapi aku tetap mengamini apa yang Tuhan bilang: ”Sangkal dirimu, pikul salibmu dan ikutlah Aku.”
Dalam segala hal yang kualami, Tuhan begitu sabar menemaniku, menghiburku, menghapus airmataku. Sungguh, Kasih SetiaNya begitu nyata di hidupku. Ada hal-hal yang tak kumengerti kenapa Tuhan izinkan semua itu terjadi di hidupku di masa lalu, tapi aku sadar semua itu adalah bagian dari proses-Nya membentukku.
Aku ingin mengakhiri kesaksian ini dengan kalimat ini: Jesus, without You, none of these would be possible. Kau sungguh teramat baik. Kasih SetiaMu untuk selama-lamanya. Sungguh sukacita yang amat besar hanya kurasakan di dalamMu. Terima kasih Tuhan, sudah begitu sabar menungguku. Pakai aku Tuhan, menurut rencanaMu. Terjadilah KehendakMu dalam hidupku. Amin.

Penulis adalah murid Sowers (School of Workers) Aletheia Yogyakarta

Saturday, August 21, 2004

Ketika Nenek ”Gila” Itu Meneteskan Air Mata

Oleh Gurgur Manurung

Beberapa bulan yang lalu aku menjaga ibu di salah satu rumah sakit swasta di Balige. Pada pukul 2 pagi, datang pasien baru di kamar tempat ibuku dirawat. Pasien baru itu berumur 50 tahun dan diantar seorang anak kecil berumur 10 tahun dan duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD).
Sebelum pasien baru itu masuk, jumlah pasien di kamar itu 4 orang, dan semuanya perempuan dengan umur rata-rata 50 tahun. Pasien baru itu hanya membawa tas kecil yang isinya sepasang baju tanpa membawa persediaan tempat minum, selimut, sisir, atau perlengkapan lainnya.
Pada pukul 4 pagi, dia menyanyikan lagu-lagu gereja dengan fasih, tetapi fals. Tingkah lakunya itu mengusik pasien yang ada di kamar itu, apalagi pasien yang dekat dengannya. Kami agak jauh darinya. Sambil menyanyi, dia menggigil karena kedinginan dan memanggil-manggil nama Tuhan.
Melihat si pasien baru itu kedinginan, aku seorang yang masih sangat muda memberikan selimut, walaupun ibuku tidak menyetujuinya dengan alasan supaya aku dapat merawat ibu dengan baik. Maklum, udara Balige amat dingin saat itu.
Ketika aku berikan selimutku, dia pun memegang tanganku dan mencubit pipiku dengan gemas.Pada pukul 5 pagi, aku berdoa dan membaca Alkitab. Sampai pukul 5.30 setelah selesai aku berdoa, semua pasien dan penjaga masih tertidur lelap.
Aku melihat anak kecil yang membawa si nenek itu tidur meringkuk di lantai karena kedinginan. Aku sangat kasihan melihatnya dan akupun memberi baju hangatku yang masih kupakai, karena kupikir aku akan lari pagi yang nantinya akan hangat setelah berlari.
Pada saat aku berlari, udara Balige teramat dingin dan akupun sempat menggigil karena dinginnya luar biasa. Di tengah jalan, aku minta dibuatkan air teh hangat di sebuah kantin. Setelah aku pulang ke rumah sakit, para pasien dan penjaga telah terbangun dan para mahasiswa perawat praktik sibuk membersihkan lantai.
Aku duduk santai di pekarangan rumah sakit yang persis di depan kamar ibuku dirawat. Si nenek itu menghampiri dan mengajakku bernyanyi lagu-lagu gereja sambil tepuk tangan. Jujur saja, nenek itu jorok, bau, dan rambutnya urakan, kakinya kotor, dan kukunya panjang.
“Bapa Manurung (panggilan si nenek kepada aku), ayo kita menyanyi,” katanya. Hampir semua orang yang melihat kami merasa jengkel. Anehnya, pasien yang dekat si nenek menuduh aku yang membuat semua itu terjadi. “Manurung, semua itu karena kamu terlalu memanjakan si nenek gila itu,” kata ibu itu.
Ibuku menjadi marah padaku, karena ibuku menganggap aku batu sandungan.Bagiku tidak masalah tudingan orang, pada dasarnya di mataku semua orang sama. Aku tidak lebih hormat kepada pejabat, pendeta, orang kaya, atau siapapun jika dibandingkan rasa hormatku terhadap orang gila.
Semua saudaraku dan ibuku tahu sifatku itu. Aku sering protes kepada Tuhan dan kukatakan, Tuhan, jika Kamu mengasihiku, mengapa Engkau sepertinya tidak mengasihi orang gila itu? Walaupun protes, aku harus hormat kepada keputusan Tuhan atas dunia ini.
Setelah tiga hari, nenek itu diprotes oleh yang satu kamar. Akhirnya, pihak rumah sakit memindahkannya ke ruangan khusus. Pada saat akan pergi ke ruang khusus, si nenek bertanya,”Bapa Manurung, aku bawa selimutmu dan bajumu yang sangat bagus ini ya,” katanya dengan penuh harap.
Aku mengiyakan dengan rasa haru yang mendalam. Aku ikut mengantarnya sambil melipat selimut dan bajunya yang bau. Dalam hatiku, aku protes kepada perawat yang tidak membersihkan si nenek dengan baik. Perawat enggan merawat dengan alasan keluarganya saja tidak peduli dan banyak protes lagi.
Setelah di ruang khusus, si nenek masih tetap berulah dan selalu keluar ruangan dan memanggilku kembali untuk menyanyikan lagu-lagu gereja. Si nenek semakin bertingkah. Si nenek bilang rumah sakit itu akan diajukan ke pengadilan karena tidak serius menanganinya. Makin hari si nenek makin suka berteriak dan membeberkan perilaku perawat terhadapnya selama di ruang khusus.
Anehnya lagi, dia tidak mau diam jika bukan aku yang mendiamkannya dengan lembut dan tulus. Jika mau jujur, aku tulus memberi kasih kepada nenek itu. Sementara itu, perawat dan mahasiswa praktik sudah semakin jengkel melihat tingkah si nenek. Si nenek selalu teriak bahwa dia akan mengajukan perilaku para perawat itu ke direktur rumah sakit.
Aku selalu berusaha menyadarkan para perawat dan mahasiswa praktik tidak perlu menanggapi teriakan si nenek. Kelihatan sekali mahasiswa akademi perawat itu mau menurutiku karena direktur mereka di kampus adalah sahabat karib aku pada waktu mahasiswa dulu.
Aku agak ragu melihat ketulusan di hati mereka untuk merawat si nenek itu, apalagi sudah 5 hari di rumah sakit, tak seorangpun keluarganya menjenguk. Pihak rumah sakit pun mulai curiga, bagaimana dan siapa yang menanggung biaya rumah sakit.Melihat keadaan itu, pada hari keenam aku mulai menanyakan kepada anak kecil yang kelas 4 SD itu tentang perihal tempat tinggal dan latar belakang mereka.
Ternyata mereka berasal dari Desa Muara Kabupaten Tapanuli Utara (TAPUT). Menurut anak kecil itu, si nenek memiliki banyak pohon mangga, anak perempuanya masuk saksi Yehova dan sedang sakit tumor ganas dan tergeletak di rumah, menantunya tiga bulan yang lalu meninggal bunuh diri karena ditinggal suaminya pergi ke Tanjung Pinang, Provinsi Riau. Aku sangat kaget mendengar cerita anak kecil itu. Setelah anak kecil itu bercerita, dia minta aku untuk mengantarnya ke pelabuhan Danau Toba karena masyarakat dari Desa Muara akan datang ke Balige.
Anak kecil itupun permisi kepada si nenek dan si nenek berpesan agar anak kecil itu menitipkan mangga kepada aku.Ketika kami tiba di pelabuhan Danau Toba, masyarakat Muara yang hadir di situ menanyakan dengan siapa anak kecil itu berada di situ dan kaum bapak sangat curiga dengan keberadaan aku.
Anak kecil itu menceritakan semuanya dan seorang perempuan separuh baya menanyakan siapa yang bertanggung jawab tentang hal biaya pengobatan kepada aku. Kebingungan menghantui pikiranku dan semakin tidak mengerti tentang keadaan yang sebenarnya. Anehnya, mereka sangat marah kepadaku dan akupun hanya berserah kepada Tuhan.
Aku menjelaskan keberadaanku dan meminta salah satu dari keluarga terdekat untuk membicarakan semuanya dengan pihak rumah sakit, tetapi di antara mereka tidak ada yang mengaku keluarga dekat. Kapal sudah mulai berbunyi menandakan kapal menuju Muara akan segera berangkat. “Tulang (panggilan anak kecil itu kepadaku) aku mau pulang supaya aku bisa sekolah besok,” katanya.
Aku melihat kesedihan di wajah anak kecil itu, aku pun memeluknya dan mengatakan supaya rajin belajar. Aku melambaikan tanganku ke anak kecil itu sambil berdoa, “Tuhan, pakailah anak itu menjadi berkat”. Aku sangat mengasihi kepda anak kecil itu.

Sembunyi-sembunyi
Pada hari ke-10, seorang perempuan separuh baya secara sembunyi-sembunyi mendekati nenek itu. Dia sangat terkejut ketika melihat aku tiba-tiba masuk kekamar si nenek. Mungkin pikirannya aku adalah pihak rumah sakit. Aku menerka bahwa perempuan separuh baya itu keluarganya yang ketakutan jika membicarakan biaya rumah sakit.
Perempuan itu rupanya hendak membawa nenek pulang. Dengan lembut aku meminta supaya perempuan itu mau menemaniku untuk membicarakan hal ini dengan pihak rumah sakit, apalagi rumah sakit itu adalah milik institusi gereja besar di Balige.
Setelah pembicaraan yang amat panjang, perempuan itu bersedia membayar 25% dari keseluruhan biaya dan pihak rumah sakit milik yayasan gereja itupun menyetujuinya. Sebelum mereka pulang, aku meminta supaya kami berdoa dulu.
Setelah berdoa, aku mengantarkan mereka ke pintu rumah sakit dan nenek itu menanyakan,”Bagaimana dengan selimut dan bajumu Bapa Manurung?”Aku mengatakan, dengan ketulusan hatiku, bawalah dan buatlah itu sebagai kenangan yang indah. Nenek itu memelukku dan meneteskan air matanya.
“Selamat jalan, nek.”Aku menghampiri ibuku yang sakitnya 70% sembuh. Dia mengatakan, “Apa kerjamu di Jakarta, pantaslah kamu anak perantau yang paling miskin, padahal sekolahmu jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak di kampung kita.”
Aku menjawab dengan lembut, “Bukankah segala-galanya kutinggalkan demi merawat mama? Bukankah banyak orang lebih mementingkan uang dari merawat ibunya? Bukankah orang membangun kuburan yang mahal, padahal semasa hidupnya diabaikan? Coba, anak mama tidak peduli segalanya demi merawat mama.”
Ibuku pun memelukku dan menagis. Aku berkata dengan penuh kasih sayang, ”Mama, mulai saat ini serahkanlah hidupmu sepenuhnya kepada Tuhan, sebab mama kemarin Haemoglobin (Hb) cuma 2, Sekarang sudah sehat. Terpujilah nama Tuhan.”***

Saturday, August 14, 2004

75 Tahun GKI Kwitang, Tak Ingin Terjebak sebagai Menara Gading

JAKARTA - Dari sebuah gedung bernomor 106 di Jalan Kramat, letak Gereformeerd Kwitang memang tak terlalu jauh. Ketika pekik Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 berkumandang di bumi pertiwi dan bersumber dari gedung bernomor 106 milik Sio Kong Liong itu, imbasnya begitu terasa juga bagi jemaat gereja Gereformeerd Kwitang yang saat ini dikenal dengan Gereja Kristen Indonesia Kwitang (GKI Kwitang).
Semangat yang menggelora itu membuat jemat gereja yang terdiri dari orang-orang Jawa, Batak, Ambon, dan Tionghoa berani menyatakan diri sebagai gereja mandiri dengan sebutan Gereja Gereformeerd Melayu Kwitang pada 11 Agustus 1929.Sebelum bernama Gereformeerd Kwitang, gereja itu bernama Gereformeerde Kerk van Batavia.
Kebaktian pertama diadakan 7 Agustus 1874 dan kemudian berubah menjadi Gereformeerd Kwitang yang anggotanya terdiri dari orang-orang Eropa, Jawa, Ambon, Batak, dan Tionghoa.Ketika menyatakan diri sebagai gereja mandiri, para jemaat non-Eropa ini benar-benar melepaskan diri dari jemaat Eropa yang melatarbelakangi berdirinya gereja itu.
Pada masa pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan RI, yaitu sekitar tahun 1945, secara organisasi Gereja Gereformeerd Melayu Kwitang bergabung dengan Gereja Tiong Hoa Kie Tok Kou Hwee hingga pada tahun 1956 Gereja Melayu Kwitang berubah menjadi Geredja Kristen Indonesia (GKI).
Aktivitas pun semakin bertambah dengan kawasan pelayanan yang sangat luas.Ini terbukti dari pemandirian jemaat di wilayah Jakarta sebagai bekas daerah pelayanan GKI. Ada GKJ Rawamangun, ada GKI Panglima Polim, GKI Menteng, GKI Rawamangun, GKI Gembrong, GKI Palsigunung, GKI Kebon Bawang, GKI Jatiasih, dan GKI Depok.GKI sendiri sebagai asal-muasal semua bentuk gereja di atas pun berubah nama menjadi GKI Kwitang.
Para pendeta di GKI Kwitang yang hadir dan terlibat dalam pelayanan sejak tahun 1956 hingga kini adalah Pdt EM Isaac Siagian, Pdt Em Sam Gosana (Go Hian Sing), Guru Injil Nunuhitu, Pdt AA Subana (Lie Tjiauw Liep), Pdt IT Salim (Liem Ik Tjiang), Pdt M Simanungkalit, Pdt Binsar Simamora, Pdt Em Daud Palilu, Pdt Sugeng Hardijanto, Pdt Em Michael John Takain, Pdt Arti Sembiring, Pdt Hendra Gosana, Pdt Litos Sitorus-Pane, dan Pdt Agus Mulyono.
Sebagai gereja yang telah berumur cukup tua dan telah megalami berbagai perubahan yang terjadi, wajar Pemda DKI menetapkan Gedung GKI Kwitang sebagai bangunan bersejarah lewat SK Gubernur Nomor 475 tahun 1993.
Pemda DKI pun lewat Wali Kota Jakarta Pusat Petra Lumbun, mewakili Gubernur DKI Sutiyoso, mengukuhkan status cagar budaya itu dengan sebuah prasasti. Ini barangkali menjadi hadiah ulang tahun yang ke-75 yang sangat istimewa bagi GKI Kwitang.Peresmian prasasti dilakukan pada 14 Agustus sekaligus diadakan Ibadah Syukur memperingati awal berdirinya GKI Kwitang 75 tahun lalu.
Namun permasalahan klasik yang biasanya mendera gereja-gereja yang berusia tua dan berdiri di tengah kota adalah berkurangnya jemaat. Mobilisasi penduduk DKI Jakarta saat ini cenderung bergerak ke arah luar atau pinggiran kota.Kecendurungan berkurangnya jemaat GKI Kwitang memang ada, seperti diakui oleh Pdt Hendra Gosana yang saat ini berstatus pelayan di gereja itu dalam wawancara dengan SH.
Akan tetapi, tantangan itu dijawab oleh pengurus gereja dengan melakukan berbagai aktivitas jemaat yang lebih aktif lagi.”Saat ini, pertumbuhan jemaatnya lumayanlah. Kita berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas jemaat lewat berbagai pelayanan dan kegiatan,” kata Hendra.
GKI Kwitang tidak ingin terjebak menjadi menara gading bagi masyarakat. ”Kita saat ini aktif membangun pos-pos pelayanan. Visi gereja saat ini adalah menjadi mitra Allah dalam menyatakan kerajaan-Nya dan tanda-tanda-Nya di tengah masyarakat,” katanya lagi.
Sejurus dengan visi ini, GKI Kwitang pun memiliki berbagai macam pelayanan, seperti pelayanan medis di Kapuk Muara, pelayanan gizi balita, pembentukan Yayasan Karya Kasih, Panti Asuhan Dorkas, SLB di Jatiwaringin, panti werda, bahkan taman kanak-kanak.
”Ini sesuai juga dengan misi GKI Kwitang, memperkenalkan Yesus Kristus dengan pendekatan-pendekatan yang tidak mengganggu tatanan penduduk setempat,” katanya.
Memang sudah saatnya kita melihat visi kekristenan bukan lagi berusaha menjadikan semua orang sekadar ”mengenal Yesus” setelah itu selesai. Yang terpenting adalah bagaimana gereja yang membawa visi keagamaan itu justru mampu berbaur di tengah perbedaan.Inilah yang membuat GKI Kwitang tetap memiliki mobilitas pelayanan yang terjaga baik, dengan tingkat kesetiaan jemaatnya beribadah yang tak pernah surut. (SH/job palar)

Saturday, August 07, 2004

Mutiara yang Terhilang

Oleh Joshua MS
Puput Wulandari, begitulah orang tuanya memberi nama. Sudah beberapa hari ini saya mendengarkan sangat banyak cerita tentang perempuan itu. Mungkin karena dorongan hati nurani sebagai Konselor Kristen dan keingintahuan, saya berusaha mengatur waktu di sela-sela jadwal pelayanan gereja yang padat untuk dapat mengunjungi perempuan itu.
Sore itu, didampingi dua rekan pelayan, kami beringsut di bawah terik matahari menyusur gang-gang sempit dan sumpek. Seorang pemandu jalan berkali-kali memberi aba-aba kapan kami harus berbelok dan kemudian hilang di balik gang yang sangat sempit.
Permukiman kumuh Tanah Merah adalah bekas lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak. Hampir semua orang juga tahu bahwa permukiman kumuh itu ilegal sehingga tidak memiliki pengurus RT/RW. Hampir tidak percaya, saya terpaku, bergeming, ketika melihat rumah yang mereka sebut itu tak lebih dari gubuk reyot.
Dengan sedikit senyum di pipi cekungnya, Puput, begitu orang menyapanya, menyambut kehadiran kami di depan pintu. Seorang perempuan sangat kurus, hampir terlihat seperti manusia tinggal tulang, mempersilakan kami masuk.
Ruangan sempit dan gerah membuat saya berkali-kali mengelap keringat yang mengalir tak henti-hentinya, namun dorongan untuk memulai perbincangan dengan Puput membuat saya berupaya mengabaikan segala ketidaknyamanan. Dari atas kasurnya yang sudah lapuk, Puput bertutur patah-patah kisah hidupnya.Lembah Kekelaman”12 Januari 1981, aku lahir.” Puput memulai kisahnya.
Wajahnya yang pucat tiba-tiba berubah murung. Dengan sedikit usaha, Puput meneruskan kesaksiannya.Puput harus menerima kenyataaan perceraian kedua orang tuanya. Dalam usia yang sangat muda, Puput akhirnya diboyong sang ayah untuk tinggal dengan istri barunya.
Rumah tangga yang hancur akibat perceraian memang selalu menyisakan kisah sedih. Hidup dengan ibu tiri dan seorang ayah yang sangat kasar menjadi bagian keseharian yang penuh air mata bagi Puput yang sedang beranjak remaja.
Dalam keadaan mabuk pulang ke rumah, sang ayah saring kali berlaku kasar dan bahkan memukul. Belum lagi tekanan ekonomi, semua itu menambah beban berat. Tidak tahan terhadap semua itu, darah remaja Puput memberontak. Ia minggat dari rumah.
Saat itu, Puput baru genap 12 tahun. Usia remaja yang sangat rentan dan berisiko tinggi untuk hidup di jalanan. Dalam keadaan bingung karena membutuhkan tempat tinggal, seorang teman mengajaknya untuk bekerja. Dalam kepolosannya, Puput tanpa sadar telah terseret dalam kehidupan ”lembah kekelaman” Kramat Tunggak.
Lokalisasi prostitusi itu menjadi saksi bisu awal masa paling gelap dalam hidupnya.Dunia prostitusi yang gelap membentuk karakter keras pada diri Puput. Tak lama berselang, Puput yang remaja ”bau kencur” sudah terbiasa melayani laki-laki hidung belang, menenggak minuman keras, mengebul asap rokok, dan bahkan mengonsumsi obat-obatan terlarang.
Berkali-kali dia diciduk oleh aparat kamtip dan dijebloskan ke panti rehabilitasi, tetapi hanya berselang beberapa hari dilepas, Puput sudah berkeliaran lagi di lokasi yang sama. Berdandan menor sebagaimana layaknya seorang wanita dewasa, Puput bahkan sudah sangat terlatih untuk memperdaya laki-laki hidung belang di tiap tikungan remang-remang Kramat Tunggak.
Suatu hari, tanpa diduga sebelumnya, Puput bertemu dengan ibu kandungnya. Sebuah peristiwa yang sangat memilukan karena ternyata sang ibu juga mengalami prahara keluarga dengan suami barunya. Puput dan sang ibu tanpa terelakkan lagi menjalani hidup bersama sebagai penggoda laki-laki hidung belang.
Sebuah tragedi hidup yang sebenarnya sangat tidak patut untuk dipercakapkan. Sebuah drama kehidupan yang dengan terpaksa harus dijalani tanpa berdaya untuk ditolak.Entah karena lelah bekerja pada mucikari, Puput akhirnya keluar dari lokalisasi dan mulai berusaha sendiri dengan memanfaatkan fasilitas sebuah warung remang-remang milik seorang ibu pedagang minuman.
Sementara itu, kebiasaan buruk mengonsumsi obat telah memperbudaknya sedemikian jauh. Berkali-kali ia terpaksa harus menyayat-nyayat tangannya hanya sekadar mengurangi rasa sakit di sekujur tubuh. Narkoba ibarat setan yang semakin hari semakin memperbudak hingga ia tidak bisa berkata tidak.
Jika rupiah hasil pemburuan malamnya telah habis, berkali-kali dalam keadaan sakit obat, tangan dan bagian tubuh yang lain menjadi sasaran sayatan silet tajam. Hanya dalam kurun waktu tak lebih dari 2 tahun, remaja Puput nan polos itu berubah hampir tak dikenali lagi. Kondisi fisik turun drastis.
Tubuhnya kurus kering hampir tinggal tulang dibungkus kulit. Racun narkoba telah mempengaruhi seluruh sistem syaraf dalam tubuhnya. Dalam kondisi sakit dan kurus kering, tentu saja tidak ada lagi laki-laki hidung belang yang meliriknya. Dalam keadaan sakit dan miskin, Puput akhirnya terpaksa mengembara di jalanan.
Puput hanya memiliki seonggok tubuh kurus kering tak berdaya dengan sistem syaraf dalam tubuhnya tergantung pada cairan dan serbuk obat-obat terlarang. Dari kaki lima ke kaki lima yang lain, Puput mengembara. Hingga satu hari, dalam keadaan lapar dan sakit, Puput telantar di kawasan Cilincing Raya Tanjung Priok.
Kawasan jalan raya yang ramai dengan truk-truk trailer sebagai ciri khas kota pelabuhan. Puput yang sakit dan lapar telentang tak berdaya walaupun hanya untuk sekadar berdiri dan melanjutkan langkah kaki. Dunia terasa gelap dan sepertinya kiamat sudah tiba.
Bertemu Tuhan
Sore hari itu, truk-truk trailer dan kendaraan lainnya ramai melintas di jalanan. Sebuah sedan mulus tiba-tiba menepi. Seorang pria paruh baya terlihat tenang keluar dari badan mobil. Dengan tergesa-gesa dia membawa langkahnya menuju kaki lima sebuah bangunan tua.
Seonggok tubuh kurus kering dan berbau yang sedang tergeletak di sana sangat menyentuh hatinya. Kalau saja tidak bernafas, seonggok tubuh itu lebih mirip mayat tak bernyawa yang tidak di urus orang. Pria paruh baya itu adalah seorang pelayan Tuhan di sebuah gereja lokal yang ada di bilangan Cilincing Raya.
Dia seorang gembala Family Altar dan seorang kepala rumah tangga yang baik dari empat orang anak. Pria paruh baya itu juga bekerja di pelabuhan sebagai seorang staf dan memiliki karier yang diberkati Tuhan. Tanpa ragu-ragu, pria itu memapah tubuh ringkuh tanpa daya yang tergeletak.
Bersama dengan anggota jemaat Family Altar, akhirnya pria paruh baya yang tidak suka mempublikasikan jasa-jasanya itu mengurus pengobatan Puput. Tidak lama berselang, bersama jemaat Family Altar, Puput boleh bernafas lega karena telah tinggal di sebuah kamar bedeng kecil 3 X 3 meter.
”Saya sangat bersyukur untuk semua ini!” demikian Puput bertutur patah-patah. Sebuah kata yang selama ini bahkan tidak pernah keluar dari mulutnya. Sebuah kata yang hanya akan bisa mengalir dari mulutnya setelah melihat kasih Kristus lewat jemaat Family Altar yang digembalakan seorang pria berhati Kristus.
”Memang aku belum sehat total, lihat saja tubuhku masih kurus kering. Aku juga tidak dapat berdiri tegak karena tulang punggung yang sakit. Satu yang aku syukuri adalah aku berhasil melawan dorongan untuk memakai kembali narkoba.” Katanya sambil tersenyum.
Puput menggeser posisi duduknya dan berusaha untuk terlihat nyaman.Puput mengisahkan panjang lebar bahwa panti rehabilitasi tidak dapat menghentikan dia mengonsumsi obat, berhenti melacur, dan menghentikan segala kegiatan yang diharamkan masyarakat. Itu semua dapat dihentikannya bermula ketika Puput bertemu Kristus secara pribadi di tengah-tengah jemaat Family Altar.
Pertemuan dengan Kristus yang tidak berlangsung secara spektakuler seperti kebanyakan kesaksian orang. Sebuah pertemuan yang sangat sederhana. Suatu perasaan diterima dan diperlakukan sebagai manusia perlahan-lahan memulihkan hatinya yang terluka dan mengeras.
Sesederhana itu Puput dapat melihat pribadi Kristus di antara jemaatNya. Sesederhana itu juga ia datang tanpa terpaksa dengan berlinang air mata kepada Kristus. Mengaku segala dosanya dan menerima Kristus sebagai Juruselamat. Sesederhana itu juga ia belajar memikul salib dan mengikut Kristus.
Segalanya semakin terlihat baik ketika dengan sangat hati-hati Puput dituntun menuruni tangga-tangga kolam baptisan di sebuah gereja di bilangan Kelapa Gading. ”Sekarang aku adalah anak Tuhan!” Ekspresi wajah Puput berbinar-binar saat mengeja kata-kata yang sangat baru itu. Puput bahkan mencoba untuk menerangkan sebuah perikop Alkitab yang mengisahkan seorang pelacur yang dibawa menghadap Tuhan Yesus oleh orang-orang Farisi.
”Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual semua miliknya lalu membeli mutiara itu” (Matius 13:45-46). Sekarang Puput telah menemukan mutiara yang indah ketika Kristus mengubah hidupnya.
Tanpa malu-malu dia mengatakan ”sekarang saya adalah seorang Kristen”. Seorang yang mencari dan telah menemukan mutiara yang selama ini terhilang dan telah ditemukannya. Ketika akhirnya ia mengerti bahwa sekalipun tubuhnya tetap saja masih ringkuh dan membungkuk di usia 23 tahun, tetapi jiwanya kini terlepas dan bebas merdeka.
Sebagaimana dituturkan Puput Wulandari kepada Ev. Joshua M.Sinaga, STh