Mampirlah Tuhan Sebentar Saja
Oleh Whizeh
”Tuhan aku meminta Engkau hadir, mengapa justru malapetaka yang Engkau berikan!” Malam itu, aku terbangun dari tidurku lantaran pintu kamar yang tiba-tiba ditutp dengan keras, karena aku tahu aku tidak pernah terlelap dalam tidur, hatiku risau dan sedih. Selalu terngiang-ngiang papa dan mama yang terus bertengkar, setiap ada suara yang terdengar tiba-tiba, aku selalu berlari, karena aku takut mereka bertengkar.
Beberapa kali aku terjaga di tengah malam lantaran piring, gelas, yang dilempar ”menghiasi” pertengkaran orang tuaku.
Kejadiannya dimulai pada tahun 1995, entah apakah ini sebuah kebetulan ataukah mungkin ini adalah bagian dari rencana Tuhan dalam hidupku, yang pasti aku tahu semenjak aku ”hidup baru” justru terjadi begitu banyak masalah dalam keluargaku. Papa dan mama siang malam bertengkar, ada banyak masalah sepele yang begitu mudah menyulut api kebencian dalam rumah tangga ini.
Setiap kali aku pulang ke rumahku di Pandaan, mereka selalu ”berpura-pura” ramah, namun aku tahu pertengkaran dan permusuhan itu masih ada, aku sedih.
”Mengapa Tuhan justru pada waktu aku merasakan Engkau begitu dekat dan mengasihi aku, tetapi keluargaku menjadi berantakan”. Setiap malam aku berkata, ”Tuhan Engkau baik bagiku” meskipun kenyataan sungguh menyakitkan hatiku, aku mencoba menghibur dan menguatkan imanku sendiri dengan janji-janji Tuhan, ”Aku tahu Tuhan, Engkau tidak pernah ingkar janji”.
Setiap hari minggu aku datang ke Gereja lebih awal, sekadar untuk meluapkan pengharapanku akan janji Tuhan, aku memandang Sakramen Mahakudus, dan aku berkata,”Mampir Tuhan, mampirlah sebentar dalam keluargaku”.
Aku ingat kembali betapa Tuhan menunjukkan perbuatannya yang begitu ajaib dalam pelayananku, aku melihat begitu banyak mukjizat yang Tuhan lakukan untuk orang lain, namun ketika aku melihat keluargaku yang berantakan aku tersadar dari lamunanku, dan tanpa sadar hatiku menangis sedih.
”Aku ingin memeluk-Mu, Tuhan, supaya Engkau tahu isi hatiku, aku ingin Engkau mampir dalam keluargaku”.
Ketika perayaan Ekaristi telah usai, aku tetap termenung di bangku memanjatkan doa, hingga seluruh umat meninggalkan Gereja, aku memberanikan langkahku untuk mendekati orgen gereja. Aku bukanlah seorang pemusik yang hebat, namun ada sesuatu dari dalam hatiku yang meluap-luap dan ingin aku ungkapkan dengan musik, untuk Tuhan. ”Aku ingin Engkau tahu isi hatiku, Tuhan”.
Aku menyanyikan lagu ”Ada Orang Buta” dan aku pikir aku seperti orang buta yang duduk meminta-minta belas kasih Allah.
”Mampirlah sebentar Tuhan”, kalimat ini selalu aku ucapkan setiap kali aku pulang Ekaristi. Sungguh indah di tengah-tengah keheningan dan kedamaian Rumah Tuhan, aku bernyanyi dan menangis mohon belas kasih Allah. ”Tuhan aku mengemis cinta-Mu, aku butuh Engkau, Tuhan”.
Minggu lepas minggu berlalu, yah beberapa bulan telah berlalu, tetapi bukan kebaikan yang aku terima malah sebuah musibah terjadi dalam keluarga kami.
Tiba-tiba pada suatu pagi, tetangga memberitahukan kami bahwa papa jatuh dari Vespa dan,... ya Tuhan,... ia mengalami kelumpuhan. Stroke, separuh tubuhnya tidak dapat digerakkan, bicaranya tidak jelas, papa sempat opname di Rumah Sakit. ”Tuhan aku meminta Engkau hadir, mengapa justru malapetaka yang Engkau berikan!”
Mungkin saat itu aku kecewa, aku mencoba menumpangkan tanganku kepada papaku, diam-diam aku doakan dia, ”aku minta mujizat Tuhan”, namun tidak ada hasil. Aku malu. Ada banyak kesembuhan yang Tuhan lakukan untuk orang lain melalui aku, namun tidak untuk saat itu. dan tidak untuk diriku.
Aku mencoba menguatkan diriku, aku berlari ke Rumah Tuhan kembali dan aku menyanyi ”Ada Orang Buta” lagi untuk Tuhan. Aku bermain orgen gereja dengan hatiku hingga suatu ketika, seorang Ibu yang sedang berdoa di pojok gereja menghampiriku dengan bercucuran airmata, ia menangis karena tersentuh oleh permainan orgenku.
”Aku sedih Tuhan, ibu tadi tersentuh oleh musikku, tetapi Engkau,... kenapa Engkau tidak tersentuh sama sekali Tuhan,” aku mengeluh. ”Entah kepada siapa aku dapat meminta tolong kalau Engkau tidak berkenan menolongku”.
Aku tidak dapat melihat jalan keluar lagi, aku jatuh, seakan semua pintu telah tertutup bagiku, aku mencoba berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk, tetapi TIDAK! Tuhan tetap menopang aku melalui mimpi burukku.
Kini aku sadar Tuhan telah mampir dalam hidupku. Ia menyingkapkan mimpi burukku. Kini, 8 tahun kemudian, ah itu terjadi beberapa tahun yang lalu seperti sebuah mimpi buruk dalam keluargaku. Ketika aku pulang ke Pandaan, ketika aku melihat papa dan mama bersenda gurau dan tampak begitu ”romantis” aku teringat kembali ”saat-saat” susah beberapa tahun yang lalu, itu telah berlalu. aku coba merenungkan; dan aku berkata dalam hatiku.
”Terima kasih Tuhan, untuk ‘Anugerah Stroke’ yang Engkau berikan.” Aku mulai menyadari bahwa penyakit stroke yang diderita papa adalah anugerah dari Tuhan untuk mempersatukan kembali keluarga kami.
Lantaran terkena stroke dan ”takut mati”, papa menjadi penyabar, dan mama jatuh belas kasihan kepada papa karena ia tahu bahwa papa tidak berdaya melawan sakit stroke yang dideritanya. Hari lepas hari berlalu, pelan-pelan benih-benih cinta dan belas kasihan itu tumbuh kembali.
Aku melihat Tuhan merajut perkara-perkara indah. Kalau saat ini ada rekan-rekan bertanya papa-mama siapa yang paling romantis di dunia? Aku akan menjawab itu papa dan mamaku. Aku bangga dengan mereka.
Mimpi buruk itu telah berlalu dan aku sadar bahwa Tuhan mendengar doaku, Ia tidak pernah lalai, aku tahu lagu ”Ada Orang Buta” sudah sampai di telinga Tuhan, karena aku menyanyikannya dengan hatiku di Rumah Tuhan. Delapan tahun sudah berlalu sebuah perjalanan panjang untuk sebuah doa pemersatu keluarga.
Aku belajar satu hal dalam pengalaman keluargaku bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal, bahkan dalam malapetaka yang terjadi dalam hidup kita, untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
Pegang janji Tuhan hari ini, Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Kini papa dan mamaku hidup bahagia. Papa saat ini rajin fitnes, dan mama selalu memasak makanan kesukaanku, ketika aku pulang. Kami berbahagia, meskipun papa belum sembuh total dari penyakit strokenya. Tetapi ada perkara yang indah, lebih dari sekedar sakit stroke yang terjadi dalam keluarga kami. Yah, setiap hari Tuhan menambahkan cinta dan belas kasihan dalam hati papa dan mamaku. Aku bersyukur.
Setiap malam aku menggandeng tangan istriku dan kami berdoa untuk mengucap syukur atas papa dan mama kami yang begitu baik dan yang Tuhan berikan untuk kami. ”Tuhan Yesus, beri kami kesempatan untuk membahagiakan papa dan mama di hari tua mereka, Tuhan”. Inilah doa hati kami setiap malam. ”Aku tahu Tuhan sudah mampir dalam keluargaku.”
Penulis juga mengirimkan tulisan ini
di mailing list elia stories@yahoogroups.com
”Tuhan aku meminta Engkau hadir, mengapa justru malapetaka yang Engkau berikan!” Malam itu, aku terbangun dari tidurku lantaran pintu kamar yang tiba-tiba ditutp dengan keras, karena aku tahu aku tidak pernah terlelap dalam tidur, hatiku risau dan sedih. Selalu terngiang-ngiang papa dan mama yang terus bertengkar, setiap ada suara yang terdengar tiba-tiba, aku selalu berlari, karena aku takut mereka bertengkar.
Beberapa kali aku terjaga di tengah malam lantaran piring, gelas, yang dilempar ”menghiasi” pertengkaran orang tuaku.
Kejadiannya dimulai pada tahun 1995, entah apakah ini sebuah kebetulan ataukah mungkin ini adalah bagian dari rencana Tuhan dalam hidupku, yang pasti aku tahu semenjak aku ”hidup baru” justru terjadi begitu banyak masalah dalam keluargaku. Papa dan mama siang malam bertengkar, ada banyak masalah sepele yang begitu mudah menyulut api kebencian dalam rumah tangga ini.
Setiap kali aku pulang ke rumahku di Pandaan, mereka selalu ”berpura-pura” ramah, namun aku tahu pertengkaran dan permusuhan itu masih ada, aku sedih.
”Mengapa Tuhan justru pada waktu aku merasakan Engkau begitu dekat dan mengasihi aku, tetapi keluargaku menjadi berantakan”. Setiap malam aku berkata, ”Tuhan Engkau baik bagiku” meskipun kenyataan sungguh menyakitkan hatiku, aku mencoba menghibur dan menguatkan imanku sendiri dengan janji-janji Tuhan, ”Aku tahu Tuhan, Engkau tidak pernah ingkar janji”.
Setiap hari minggu aku datang ke Gereja lebih awal, sekadar untuk meluapkan pengharapanku akan janji Tuhan, aku memandang Sakramen Mahakudus, dan aku berkata,”Mampir Tuhan, mampirlah sebentar dalam keluargaku”.
Aku ingat kembali betapa Tuhan menunjukkan perbuatannya yang begitu ajaib dalam pelayananku, aku melihat begitu banyak mukjizat yang Tuhan lakukan untuk orang lain, namun ketika aku melihat keluargaku yang berantakan aku tersadar dari lamunanku, dan tanpa sadar hatiku menangis sedih.
”Aku ingin memeluk-Mu, Tuhan, supaya Engkau tahu isi hatiku, aku ingin Engkau mampir dalam keluargaku”.
Ketika perayaan Ekaristi telah usai, aku tetap termenung di bangku memanjatkan doa, hingga seluruh umat meninggalkan Gereja, aku memberanikan langkahku untuk mendekati orgen gereja. Aku bukanlah seorang pemusik yang hebat, namun ada sesuatu dari dalam hatiku yang meluap-luap dan ingin aku ungkapkan dengan musik, untuk Tuhan. ”Aku ingin Engkau tahu isi hatiku, Tuhan”.
Aku menyanyikan lagu ”Ada Orang Buta” dan aku pikir aku seperti orang buta yang duduk meminta-minta belas kasih Allah.
”Mampirlah sebentar Tuhan”, kalimat ini selalu aku ucapkan setiap kali aku pulang Ekaristi. Sungguh indah di tengah-tengah keheningan dan kedamaian Rumah Tuhan, aku bernyanyi dan menangis mohon belas kasih Allah. ”Tuhan aku mengemis cinta-Mu, aku butuh Engkau, Tuhan”.
Minggu lepas minggu berlalu, yah beberapa bulan telah berlalu, tetapi bukan kebaikan yang aku terima malah sebuah musibah terjadi dalam keluarga kami.
Tiba-tiba pada suatu pagi, tetangga memberitahukan kami bahwa papa jatuh dari Vespa dan,... ya Tuhan,... ia mengalami kelumpuhan. Stroke, separuh tubuhnya tidak dapat digerakkan, bicaranya tidak jelas, papa sempat opname di Rumah Sakit. ”Tuhan aku meminta Engkau hadir, mengapa justru malapetaka yang Engkau berikan!”
Mungkin saat itu aku kecewa, aku mencoba menumpangkan tanganku kepada papaku, diam-diam aku doakan dia, ”aku minta mujizat Tuhan”, namun tidak ada hasil. Aku malu. Ada banyak kesembuhan yang Tuhan lakukan untuk orang lain melalui aku, namun tidak untuk saat itu. dan tidak untuk diriku.
Aku mencoba menguatkan diriku, aku berlari ke Rumah Tuhan kembali dan aku menyanyi ”Ada Orang Buta” lagi untuk Tuhan. Aku bermain orgen gereja dengan hatiku hingga suatu ketika, seorang Ibu yang sedang berdoa di pojok gereja menghampiriku dengan bercucuran airmata, ia menangis karena tersentuh oleh permainan orgenku.
”Aku sedih Tuhan, ibu tadi tersentuh oleh musikku, tetapi Engkau,... kenapa Engkau tidak tersentuh sama sekali Tuhan,” aku mengeluh. ”Entah kepada siapa aku dapat meminta tolong kalau Engkau tidak berkenan menolongku”.
Aku tidak dapat melihat jalan keluar lagi, aku jatuh, seakan semua pintu telah tertutup bagiku, aku mencoba berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk, tetapi TIDAK! Tuhan tetap menopang aku melalui mimpi burukku.
Kini aku sadar Tuhan telah mampir dalam hidupku. Ia menyingkapkan mimpi burukku. Kini, 8 tahun kemudian, ah itu terjadi beberapa tahun yang lalu seperti sebuah mimpi buruk dalam keluargaku. Ketika aku pulang ke Pandaan, ketika aku melihat papa dan mama bersenda gurau dan tampak begitu ”romantis” aku teringat kembali ”saat-saat” susah beberapa tahun yang lalu, itu telah berlalu. aku coba merenungkan; dan aku berkata dalam hatiku.
”Terima kasih Tuhan, untuk ‘Anugerah Stroke’ yang Engkau berikan.” Aku mulai menyadari bahwa penyakit stroke yang diderita papa adalah anugerah dari Tuhan untuk mempersatukan kembali keluarga kami.
Lantaran terkena stroke dan ”takut mati”, papa menjadi penyabar, dan mama jatuh belas kasihan kepada papa karena ia tahu bahwa papa tidak berdaya melawan sakit stroke yang dideritanya. Hari lepas hari berlalu, pelan-pelan benih-benih cinta dan belas kasihan itu tumbuh kembali.
Aku melihat Tuhan merajut perkara-perkara indah. Kalau saat ini ada rekan-rekan bertanya papa-mama siapa yang paling romantis di dunia? Aku akan menjawab itu papa dan mamaku. Aku bangga dengan mereka.
Mimpi buruk itu telah berlalu dan aku sadar bahwa Tuhan mendengar doaku, Ia tidak pernah lalai, aku tahu lagu ”Ada Orang Buta” sudah sampai di telinga Tuhan, karena aku menyanyikannya dengan hatiku di Rumah Tuhan. Delapan tahun sudah berlalu sebuah perjalanan panjang untuk sebuah doa pemersatu keluarga.
Aku belajar satu hal dalam pengalaman keluargaku bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal, bahkan dalam malapetaka yang terjadi dalam hidup kita, untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
Pegang janji Tuhan hari ini, Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Kini papa dan mamaku hidup bahagia. Papa saat ini rajin fitnes, dan mama selalu memasak makanan kesukaanku, ketika aku pulang. Kami berbahagia, meskipun papa belum sembuh total dari penyakit strokenya. Tetapi ada perkara yang indah, lebih dari sekedar sakit stroke yang terjadi dalam keluarga kami. Yah, setiap hari Tuhan menambahkan cinta dan belas kasihan dalam hati papa dan mamaku. Aku bersyukur.
Setiap malam aku menggandeng tangan istriku dan kami berdoa untuk mengucap syukur atas papa dan mama kami yang begitu baik dan yang Tuhan berikan untuk kami. ”Tuhan Yesus, beri kami kesempatan untuk membahagiakan papa dan mama di hari tua mereka, Tuhan”. Inilah doa hati kami setiap malam. ”Aku tahu Tuhan sudah mampir dalam keluargaku.”
Penulis juga mengirimkan tulisan ini
di mailing list elia stories@yahoogroups.com
