Saturday, September 25, 2004

Mampirlah Tuhan Sebentar Saja

Oleh Whizeh

”Tuhan aku meminta Engkau hadir, mengapa justru malapetaka yang Engkau berikan!” Malam itu, aku terbangun dari tidurku lantaran pintu kamar yang tiba-tiba ditutp dengan keras, karena aku tahu aku tidak pernah terlelap dalam tidur, hatiku risau dan sedih. Selalu terngiang-ngiang papa dan mama yang terus bertengkar, setiap ada suara yang terdengar tiba-tiba, aku selalu berlari, karena aku takut mereka bertengkar.
Beberapa kali aku terjaga di tengah malam lantaran piring, gelas, yang dilempar ”menghiasi” pertengkaran orang tuaku.
Kejadiannya dimulai pada tahun 1995, entah apakah ini sebuah kebetulan ataukah mungkin ini adalah bagian dari rencana Tuhan dalam hidupku, yang pasti aku tahu semenjak aku ”hidup baru” justru terjadi begitu banyak masalah dalam keluargaku. Papa dan mama siang malam bertengkar, ada banyak masalah sepele yang begitu mudah menyulut api kebencian dalam rumah tangga ini.
Setiap kali aku pulang ke rumahku di Pandaan, mereka selalu ”berpura-pura” ramah, namun aku tahu pertengkaran dan permusuhan itu masih ada, aku sedih.
”Mengapa Tuhan justru pada waktu aku merasakan Engkau begitu dekat dan mengasihi aku, tetapi keluargaku menjadi berantakan”. Setiap malam aku berkata, ”Tuhan Engkau baik bagiku” meskipun kenyataan sungguh menyakitkan hatiku, aku mencoba menghibur dan menguatkan imanku sendiri dengan janji-janji Tuhan, ”Aku tahu Tuhan, Engkau tidak pernah ingkar janji”.
Setiap hari minggu aku datang ke Gereja lebih awal, sekadar untuk meluapkan pengharapanku akan janji Tuhan, aku memandang Sakramen Mahakudus, dan aku berkata,”Mampir Tuhan, mampirlah sebentar dalam keluargaku”.
Aku ingat kembali betapa Tuhan menunjukkan perbuatannya yang begitu ajaib dalam pelayananku, aku melihat begitu banyak mukjizat yang Tuhan lakukan untuk orang lain, namun ketika aku melihat keluargaku yang berantakan aku tersadar dari lamunanku, dan tanpa sadar hatiku menangis sedih.
”Aku ingin memeluk-Mu, Tuhan, supaya Engkau tahu isi hatiku, aku ingin Engkau mampir dalam keluargaku”.
Ketika perayaan Ekaristi telah usai, aku tetap termenung di bangku memanjatkan doa, hingga seluruh umat meninggalkan Gereja, aku memberanikan langkahku untuk mendekati orgen gereja. Aku bukanlah seorang pemusik yang hebat, namun ada sesuatu dari dalam hatiku yang meluap-luap dan ingin aku ungkapkan dengan musik, untuk Tuhan. ”Aku ingin Engkau tahu isi hatiku, Tuhan”.
Aku menyanyikan lagu ”Ada Orang Buta” dan aku pikir aku seperti orang buta yang duduk meminta-minta belas kasih Allah.
”Mampirlah sebentar Tuhan”, kalimat ini selalu aku ucapkan setiap kali aku pulang Ekaristi. Sungguh indah di tengah-tengah keheningan dan kedamaian Rumah Tuhan, aku bernyanyi dan menangis mohon belas kasih Allah. ”Tuhan aku mengemis cinta-Mu, aku butuh Engkau, Tuhan”.
Minggu lepas minggu berlalu, yah beberapa bulan telah berlalu, tetapi bukan kebaikan yang aku terima malah sebuah musibah terjadi dalam keluarga kami.
Tiba-tiba pada suatu pagi, tetangga memberitahukan kami bahwa papa jatuh dari Vespa dan,... ya Tuhan,... ia mengalami kelumpuhan. Stroke, separuh tubuhnya tidak dapat digerakkan, bicaranya tidak jelas, papa sempat opname di Rumah Sakit. ”Tuhan aku meminta Engkau hadir, mengapa justru malapetaka yang Engkau berikan!”
Mungkin saat itu aku kecewa, aku mencoba menumpangkan tanganku kepada papaku, diam-diam aku doakan dia, ”aku minta mujizat Tuhan”, namun tidak ada hasil. Aku malu. Ada banyak kesembuhan yang Tuhan lakukan untuk orang lain melalui aku, namun tidak untuk saat itu. dan tidak untuk diriku.
Aku mencoba menguatkan diriku, aku berlari ke Rumah Tuhan kembali dan aku menyanyi ”Ada Orang Buta” lagi untuk Tuhan. Aku bermain orgen gereja dengan hatiku hingga suatu ketika, seorang Ibu yang sedang berdoa di pojok gereja menghampiriku dengan bercucuran airmata, ia menangis karena tersentuh oleh permainan orgenku.
”Aku sedih Tuhan, ibu tadi tersentuh oleh musikku, tetapi Engkau,... kenapa Engkau tidak tersentuh sama sekali Tuhan,” aku mengeluh. ”Entah kepada siapa aku dapat meminta tolong kalau Engkau tidak berkenan menolongku”.
Aku tidak dapat melihat jalan keluar lagi, aku jatuh, seakan semua pintu telah tertutup bagiku, aku mencoba berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk, tetapi TIDAK! Tuhan tetap menopang aku melalui mimpi burukku.
Kini aku sadar Tuhan telah mampir dalam hidupku. Ia menyingkapkan mimpi burukku. Kini, 8 tahun kemudian, ah itu terjadi beberapa tahun yang lalu seperti sebuah mimpi buruk dalam keluargaku. Ketika aku pulang ke Pandaan, ketika aku melihat papa dan mama bersenda gurau dan tampak begitu ”romantis” aku teringat kembali ”saat-saat” susah beberapa tahun yang lalu, itu telah berlalu. aku coba merenungkan; dan aku berkata dalam hatiku.
”Terima kasih Tuhan, untuk ‘Anugerah Stroke’ yang Engkau berikan.” Aku mulai menyadari bahwa penyakit stroke yang diderita papa adalah anugerah dari Tuhan untuk mempersatukan kembali keluarga kami.
Lantaran terkena stroke dan ”takut mati”, papa menjadi penyabar, dan mama jatuh belas kasihan kepada papa karena ia tahu bahwa papa tidak berdaya melawan sakit stroke yang dideritanya. Hari lepas hari berlalu, pelan-pelan benih-benih cinta dan belas kasihan itu tumbuh kembali.
Aku melihat Tuhan merajut perkara-perkara indah. Kalau saat ini ada rekan-rekan bertanya papa-mama siapa yang paling romantis di dunia? Aku akan menjawab itu papa dan mamaku. Aku bangga dengan mereka.
Mimpi buruk itu telah berlalu dan aku sadar bahwa Tuhan mendengar doaku, Ia tidak pernah lalai, aku tahu lagu ”Ada Orang Buta” sudah sampai di telinga Tuhan, karena aku menyanyikannya dengan hatiku di Rumah Tuhan. Delapan tahun sudah berlalu sebuah perjalanan panjang untuk sebuah doa pemersatu keluarga.
Aku belajar satu hal dalam pengalaman keluargaku bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal, bahkan dalam malapetaka yang terjadi dalam hidup kita, untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
Pegang janji Tuhan hari ini, Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Kini papa dan mamaku hidup bahagia. Papa saat ini rajin fitnes, dan mama selalu memasak makanan kesukaanku, ketika aku pulang. Kami berbahagia, meskipun papa belum sembuh total dari penyakit strokenya. Tetapi ada perkara yang indah, lebih dari sekedar sakit stroke yang terjadi dalam keluarga kami. Yah, setiap hari Tuhan menambahkan cinta dan belas kasihan dalam hati papa dan mamaku. Aku bersyukur.
Setiap malam aku menggandeng tangan istriku dan kami berdoa untuk mengucap syukur atas papa dan mama kami yang begitu baik dan yang Tuhan berikan untuk kami. ”Tuhan Yesus, beri kami kesempatan untuk membahagiakan papa dan mama di hari tua mereka, Tuhan”. Inilah doa hati kami setiap malam. ”Aku tahu Tuhan sudah mampir dalam keluargaku.”

Penulis juga mengirimkan tulisan ini
di mailing list elia stories@yahoogroups.com

Saturday, September 18, 2004

Pertolongan Selalu Datang buat Suster Klara

Oleh Job Palar

”Sudah gila barangkali kau Klara.”
”Yah, inilah gilaku. Tapi karena Tuhan memilih aku dalam tugas ini, yah mau apalagi. Aku jalani.”

JAKARTA - Inilah dialog yang paling sering terjadi jika teman-teman atau orang lain tahu apa yang sehari-hari menjadi kegiatan Suster M Klara Duha OSF atau yang akrab dipanggil Suster Klara. Pelayanan Suster Klara menuntut dia bekerja di tengah-tengah orang yang papa, tak berpunya, orang desa yang tak mengenal pengobatan modern.
Nias, menurut Suster Klara, adalah memang negeri yang indah, namun di sana juga penduduknya masih terbelakang, transportasi masih sulit, akses kesehatan apalagi.
Tujuh tahun yang lalu, Suster Klara tanpa sengaja membantu pengobatan warga desa yang sakit parah. Warga desa itu dibawanya ke ibu kota Nias, Gunung Sitoli, tepatnya ke rumah sakit umum di sana.
Ternyata, satu per satu warga dari berbagai desa berdatangan meminta bantuannya.
Kebanyakan dari desa-desa yang jauh, orang yang sakit diusung di kain sarung sampai ke pinggir jalan besar lalu dijemput dengan mobil. Rata-rata mereka petani, hasil bertani tak akan cukup bisa untuk berobat di rumah sakit.
Lama-lama dia menerima makin banyak orang. ”Saat itulah saya makin yakin bahwa inilah pelayanan saya,” kata Suster Klara dengan yakin.
Suster Klara dibesarkan di Desa Bawedobara, Teluk Dalam, Nias. Sebuah nama telah disiapkan untuknya, Izanulo. Sebagai anak yang lahir dari keluarga kelas bangsawan, ia harus menerima tuntutan adat. Ketika baru terlahir, 25 Mei 1955, ia telah diikat lewat pertunangan. Jodohnya datang dari kelas bangsawan juga.
Umur sebelas tahun, pertunangan itu pun putus. Pihak laki-laki menuntut keluarga Suster Klara untuk mengadakan pesta adat untuk membereskan mas kawin. Begitulah adat yang berlaku di kampungnya.
Bapaknya tidak setuju hal itu. ”Sebetulnya, bapak saya setuju, tapi dia dipengaruhi seorang bruder tempat bapak saya bekerja,” katanya.
Ayahnya memang bekerja sebagai pembantu di sebuah rumah sakit di kabupaten. Rumah sakit itu diurus oleh Bruder Pankransius OFM, sorang Austria, dan Suster Veneranda dari Belanda. Merekalah yang mempengaruhi ayahnya untuk menolak kebiasaan-kebiasaan adat itu.

Sebuah Tekad
Tahun 1977, ia berniat masuk sebagai calon suster. Orang tuanya menentang. ”Tapi aku telah bertekad melayani orang. Aku memang ingin masuk susteran agar tak ada beban nantinya,” katanya.
Akhirnya orang tuanya tak bisa membuat dia mengurungkan niat. Suster Klara pun saat ini tercatat di Susteran OSF (Ordo Susteran Fransiskan) di Sibolga.
Pengalaman menolong warga di desa-desa yang paling berkesan buat Suster Klara terjadi pada Juli lalu. Sekitar sepuluh ibu dari berbagai desa di pelosok Nias menghadapi krisis saat akan melahirkan.
”Bayangkan saja, sepuluh ibu itu semuanya dalam keadaan hamil dan tak beres semua. Ada yang sudah pendarahan, dan HB (haemoglobin)-nya tinggal 4, ada juga yang anaknya sudah keracunan ketuban, ada yang karena perutnya dipijat-pijat sama dukun beranak, anak itu sudah terputar-putar,” kata Suster Klara.
Semua ibu itu dibawa ke rumah sakit di Gunung Sitoli, dan tak punya biaya. Dokter langsung memanggil Suster Klara. ”Saat itu karena jarak tempat saya dari rumah sakit sekitar empat kilo, saya langsung bilang ‘Dokter, segeralah tolong, jangan takut tentang biaya, saya akan tanggung.’ Semua bon atas namaku.”
Semua tertolong, walau ada yang bayinya tak dapat diselamatkan. Utangnya pun menggelembung menjadi sekitar 20 juta rupiah.
Namun, dia meyakini seperti sebelum-sebelumnya, banyak orang yang akan membantunya melunasi utang-utang itu. Walau saat ini rekeningnya di BNI yang bernomor 032.000255320.901 hanya berisi saldo minimal, ia tetap meyakini bahwa Tuhan selalu saja bekerja lewat para dermawan.
Ia mencontohkan bagaimana Tuhan menggerakkan berbagai apotik untuk mendukung pelayanannya. Sebut saja Holy Farmasi, sebuah apotik di Nias, juga ada Apotik Roli dan Apotik Berlian. Ada juga ada toko obat di rumah sakit yang memberi dia bonus kalau uangnya belum cukup.
Bon-bon obat dikumpulkan oleh apotik, lalu pelunasannya dicicil pelan-pelan. ”Hebatnya, mereka mau, dan itu sudah lama terjadi,” kata Suster Klara.
Suster Klara tidak memandang agama apa orang yang dilayaninya. ”Ah, paling saya tahu dia agama apa kalau sedang mengurus administrasi di rumah sakit.”
Saat ini, Suster Klara masih terus berkutat dengan ”kegilaan”-nya itu. ”Ada seorang dokter yang bertanya pada saya, kenapa saya mau menolong orang seperti ini dengan risiko utang yang harus dibayar. Saya menjawabnya, uang bisa dicari, tapi nyawa tak bisa dicari. Kalau nyawa hilang, yah sudah habislah semua.”
Pilihan hidup Suster Klara memang bukan pilihan yang mudah. Ia meyakini bahwa pekerjaan di mana ia berkutat saat ini adalah tempat yang disediakan Tuhan untuk melayani. Terbukti, ia tak pernah berkekurangan. Pertolongan selalu datang. ***

Saturday, September 11, 2004

Pasmina Impian

Oleh Lesminingtyas

Sudah beberapa bulan saya memimpikan untuk bisa memiliki pasmina, selembar kain untuk pemanis tampilan diri. Saya selalu membayangkan betapa menariknya saya kalau mengenakan kain yang memang lagi ngetrend di kalangan perempuan itu.
Setelah sekian lama mengumpulkan sisa-sisa uang belanjaan, saya mempunyai selembar uang yang saya hitung-hitung pas untuk membeli selembar pasmina yang dipajang di toko kain di sebelah gereja. Pasmina yang manis itu memang sudah lama saya incar.
Setiap pulang dari gereja, saya mampir ke toko itu sekadar untuk merasakan lembutnya kain impian saya, sekadar memandangi Pasmina yang begitu ingin saya miliki sambil membayangkan betapa indahnya kelak jika melilit di punggung saya.
Seperti biasa, setiap hari Minggu saya pergi ke gereja untuk mengikuti kebaktian yang pertama. Dari rumah, saya sudah merencanakan untuk membeli pasmina sepulang dari gereja nanti.
Dengan hati yang berbunga-bunga, saya pergi ke gereja mengenakan baju terbagus yang saya punya dengan sepatu terbaru yang sudah saya semir mengkilat sejak semalam. Tak lupa parfum kelas menengah saya semprotan ke tubuh saya untuk menambah kesempurnaan performa.
Selama di angkutan kota, saya duduk sangat berhati-hati supaya baju yang telah saya seterika lengkap dengan cairan pewangi itu tidak kusut. Pokoknya minggu pagi itu, saya ingin tampil habis-habisan, supaya tampak cantik dan memesona. Dalam perjalanan itu saya membayangkan teman-teman di gereja nanti pasti akan terkagum-kagum melihat saya yang tampil beda.
Tetapi tiba-tiba, ”bleg” seseorang telah meletakkan bungkusan besar ke dalam angkot. Sedetik kemudian sepasang kaki beralas sandal jepit usang dan penuh lumpur mendekati kaki saya dan bahkan salah satunya berada tepat di atas sepatu saya. ”Aduh….yach” keluh saya spontan sambil menahan amarah.
Tapi kejengkelan saya segera berakhir setelah saya mendengar suara penyesalan ”Maaf Neng, Umi nggak sengaja. Maaf ya Neng, Umi memang sudah lamur” (Umi adalah panggilan lain untuk ibu/emak yang biasa dipakai di Arab dan juga di daerah Pasundan, Jawa Barat).
Suara parau dan gemetar itu membuat saya merinding dan memaksa saya mengalihkan pandangan kearah suara itu. ”Ya, ampun Tuhan, saya telah menyakitinya” kata saya dalam hati sambil memandang haru perempuan yang sudah mulai rapuh termakan usia, dengan kulit yang berlipat-lipat dan kotor itu.
Nafasnya yang tersengal-sengal membuat dadanya yang dibungkus kain kumal itu bergerak lebih cepat dari pada orang-orang biasanya, seakan lengkap mengisahkan cerita kemiskinan yang dijalaninya. Untuk menebus kesalahan saya, yang telah membuatnya merasa bersalah, sayapun langsung menenangkannya ”Nggak apa-apa kok mi, saya sudah biasa.”
Tapi biarpun saya sudah menunjukkan sikap yang memaafkan, perempuan tua itu belum habis juga rasa bersalahnya. Ia berusaha menarik ujung selendangnya, membungkuk dan meraih ujung sepatu saya. Dengan selendang miliknya, nenek itu berusaha membersihkan lumpur tebal yang menempel di ujung sepatu saya.
Secara reflek sayapun menarik kaki saya, berusaha menjauh. Saya risih dengan perlakuan dan sikap Umi yang merendahkan dirinya. Tangan sayapun menggapai dan menarik tangan Umi ke atas sehingga ujung sepatu saya benar-benar tak tersentuh oleh tangan kurus dan pucat itu lagi.
Untuk menunjukkan ketulusan saya yang telah melupakan dan memaafkan kejadian tadi, saya berusaha mengajaknya bicara. ”Umi mau ke mana?” tanya saya lembut. ”Biasa neng, mau jual opak ke pasar” jawab perempuan tua itu sambil membetulkan bungkusannya yang begitu besar.
”Ini terbuat dari apa, mi” tanya saya berbasa-basi, sambil menunjuk lempengan-lempengan tipis berwarna krem yang ada di bungkusan milik Umi. Dalam logat Sunda yang kental, perempuan itupun menjawab ”Namina oge opak, dijieunna tina sampeu, atuh neng!”. Saya hampir tak mengerti kata-kata Umi, saya hanya menangkap bagian depannya saja yang kira-kira artinya ”namanya opak”, tapi selebihnya saya benar-benar tidak mengerti. Supaya nggak diajak ngomong Sunda yang lebih panjang lagi, saya jawab saja ”O…..” sambil pura-pura tahu. Tapi tampaknya mata hati perempuan itu tidak bisa dibohongi.
Ieu teh opak neng. Dijienna tina sampeu. Sanggeus diparut laju diseupan, terus didedetkeun” Umi berusaha menjelaskan. ”Ieu sarebu tilu, dua rebu genep” tambahnya. Saya makin tidak mengerti, tetapi saya tidak tahan untuk terus berpura-pura, dan sayapun bertanya ”Apa mi ?” Umi tampak kecewa dengan pertanyaan saya, tetapi tetap berusaha berbicara pada saya ”Lamun neng hoyong meser loba, sarebu opat oge dipasihan. Sok diborongkeun, supaya Umi gancang balik. Ieu aya dalapan puluh, lamun borongan, neng ngabayar ka Umi dua puluh rebu wae. Kumaha neng, daek nyak ?”
Merasa didesak dengan pertanyaan, ”kumaha” (bagaimana) yang berarti Umi menunggu jawabannya, sayapun mencari-cari pertolongan Pak Supir untuk menjelaskan apa yang dibicarakan oleh Umi tadi.
”Itu bu, kata Umi itu namanya opak, terbuat dari singkong yang diparut terus dikukus dan ditekan-tekan. Sebenarnya harganya seribu tiga, tapi untuk ibu boleh seribu empat. Katanya opak itu semuanya ada 80, terus ibu disuruh memborongnya seharga dua puluh ribu saja, supaya Umi bisa cepat pulang”
Walaupun sedikit lega dengan terjemahan yang telah dilakukan oleh Pak Supir, timbul kegelisahan yang lain dalam diri saya. Di satu sisi, saya mau menolong perempuan renta itu, tapi di sisi lain uang saya pas-pasan.
Kalau saya menolong Umi dengan memborong dagangannya, berarti saya tidak bisa memiliki pasmina yang sudah lama saya impi-impikan. Tapi kalau saya tetap membelanjakan uang saya untuk selembar pasmina, berarti saya tidak bisa meringankan beban perempuan tua itu. Perang batinpun berkecamuk. Kerongkongan sayapun terasa tercekat, sakit sekali.
Sempat terlintas di pikiran saya tentang bagaimana seseorang harus membuat rencana secara matang untuk melakukan sesuatu. Kalau saya mempertahankan rencana saya untuk membeli pasmina dan tidak menolong perempuan miskin itu, saya pikir itu merupakan tindakan orang yang paling bijaksana karena memang bertemu dan menolong Umi tidak ada dalam rencana hidup saya.
Tetapi perasaan sebagai orang yang paling bijaksana itupun segera terusik dengan kesadaran bahwa rencana manusia tidak selalu sama dengan rencana Allah. Naluri saya telah mendesak supaya saya segera meluluskan permintaan Umi. Tapi sedetik kemudian saya masih berusaha menawar kata hati saya dengan meyakinkan diri bahwa menolong orang bisa dilakukan kapan saja, tidak harus sekarang dan tidak harus mengorbankan rencana yang sudah saya dibuat matang-matang.
Naluri sayapun memberontak dan menakut-nakuti ego saya ”Kapan kamu bisa ketemu dengan perempuan ini lagi? Tahukah kamu, sampai berapa lama lagi Umi ini bisa bertahan hidup? Apakah penampilanmu lebih berharga dari hatimu?Pertanyaan-pertanyaan itu semakin gencar menteror perasaan saya hingga dada saya terasa sesak.
Tanpa menunda-nunda lagi, saya menarik selembar uang kertas yang semula telah saya persiapkan untuk membeli pasmina. ”Aya kembaliannya khan mi ?” saya mencoba ikut-ikutan berbahasa Sunda walau hanya sepotong. ”Wah….entong neng, uang pas wae, atuh !” pinta perempuan itu
”Nggak ada lagi mi. Saya cuma punya uang itu”
Kumaha atuh, neng? Umi mah uang sarebuan oge teu gaduh, apalagi tilu puluh ribu !”
Saya jadi berpikir, kalaupun nenek itu memberikan uang kembalian, sayapun tetap tidak bisa membeli pasmina yang saya impi-impikan.
Dengan sedikit menahan senyum, saya berkata dalam hati ”Ampun, Umi Peri nu Geleuis, hamba tak mau pasmina yang panjangnya hanya separo saja !” Tanpa membuang-buang waktu lagi, saya berkata ”Sudahlah Mi, ambil saja kembaliannya” Tapi perempuan tua itu malah bengong tak percaya.
Sayapun, ingin sekali mengatakan, ”Sudahlah, terima saja berkat dari Tuhan saya. Pagi ini Tuhan Yesus sudah meminta saya untuk mengasihi nenek, dsb, dst…” Tapi sayang, saya tidak cukup punya banyak waktu karena saya harus segera turun.
Dengan gugup saya katakan, ”Sudahlah Mi, trima saja. Anggap itu berkat dari Tuhan. Sudah ya Mi, saya harus buru-buru turun, mau ke gereja nih.”
Saya memang sengaja mengucapkan kata ”gereja” dengan volume yang agak keras untuk menggantikan kata ”Yesus” yang mungkin masih asing bagi Umi. Satu hal yang saya inginkan, Umi itu mendengar dan tahu bahwa saya adalah murid Kristus. Saya ingin semua orang tahu bahwa, kalau saya yang muridnya saja bisa berbuat baik, apalagi Yesus yang menjadi Gurunya.
Maksud baik saya menolong Umi dengan memborong opak itu ternyata tidak selalu mendatangkan pujian untuk saya. Justru sebaliknya, saya mendapat kesulitan dengan barang dalam bungkusan plastik hitam besar itu. Saat saya memasuki gerbang gereja, seorang satpam gereja meminta saya untuk masuk ke pos penjagaan untuk diperiksa.
Mungkin petugas keamanan gereja itu khawatir kalau saya adalah anggota jaringan teroris yang membawa bahan peledak ke lingkungan gereja. ”Waduh, masak sudah tampil secantik ini, masih saja disangka teroris?” pikir saya dalam hati.
Sejenak saya lega setelah satpam membuka bungkusan itu, karena saya bisa membuktikan bahwa barang yang saya bawa itu bukanlah barang terlarang. Tapi kelegaan saya justru dibalas dengan sapaan satpam yang bernada mengejek, ”Oalah, Mbak ini mau memuji Tuhan atau mau jualan opak sih?”
Muka saya kontan merah padam. Saya benar-benar tidak siap diejek orang, karena memang dalam kontrak ”perbuatan baik”, Tuhan tidak memberitahukan pasal-pasal yang menyatakan bahwa saya harus siap diejek orang setelah mengasihi sesama saya. ”Tapi, sudahlah ini resiko dari sebuah keputusan” pikir saya.
Dengan muka yang sudah saya buat setebal tembok, sayapun menitipkan bungkusan itu di pos Satpam. ”Untung, tadi satpam memanggil saya ke sini. Kalau tidak dititipkan pada satpam, betapa malunya saya masuk ke gereja sambil menenteng-nenteng bungkusan opak” pikir saya menghibur diri.
Selama kebaktian berlangsung, saya masih gundah memikirkan bagaimana cara membawa pulang bungkusan besar bin aneh itu. Tetapi lamunan saya segera buyar saat Pendeta berteriak nyaring, ”Ukuran penghakiman di akhir zaman, bukan tergantung seberapa sering kita pergi ke gereja, tetapi Allah akan melihat apakah kita mau datang menolong Yesus yang haus, lapar, telanjang, tak punya tumpangan, sakit dan dipenjara…..”
Sesaat kemudian Pendeta meminta jemaat untuk menyanyikan lagu NKB (Nyanyikan Kidung Baru) No.199 yang berjudul Sudahkah Yang Terbaik Kuberikan. Lagu itu betul-betul menyadarkan saya bahwa perjuangan saya pagi itu belum seberapa.
Genap sudah kesadaran saya saat Pendeta hendak memberikan berkat pengutusan, yang sebelumnya didahului dengan nyanyian Kidung Jemaat No. 424 yang juga merupakan lagu favorit saya:
Yesus menginginkan daku bersinar baginya, dimanapun kuberada, ku mengenangkanNya…
Setelah selesai melakukan saat hening, saya melangkahkan kaki keluar dari gereja dan merasa bersinar terang. Tanpa pasmina menghias di bahu, saya merasa tetap bisa tampil menarik dan memesona karena Tuhan telah menolong, menjaga hati saya sehingga bersih dan bersinar. Bersinar, bersinar aku bersinar terus!

Penulis adalah pekerja di sebuah NGO internasional

Saturday, September 04, 2004

Mengamati Tuaian dari Negeri Belanda

Oleh Job Palar

Lihatlah
sekelilingmu
dan pandanglah ladang-ladang
yang sudah
menguning
dan matang untuk dituai

JAKARTA – Semua yang hadir di acara itu memang merelakan kepulangannya, namun tak ada satu pun yang menginginkan dia pulang, kembali ke negeri dia dilahirkan. H.A. van Dop adalah suatu nama yang terlalu berharga untuk dilepas begitu saja.
Pengabdiannya selama 37 tahun memajukan musik gereja di negeri ini membuat banyak orang tak percaya dia masih berhasrat untuk pulang ke negeri Belanda.
Namun, apa mau dikata, tekad van Dop sudah bulat. Ia ingin kembali. Alasan kesehatannya yang mulai terganggu membuat sulit bagi rekan-rekan sejawat untuk menahannya lebih lama lagi.
Bagi pemerhati, pencipta, ataupun pengguna musik gereja, nama H.A. van Dop pastilah cukup dikenal. Hampir semua lembaga-lembaga gereja, terutama lembaga gereja yang sudah puluhan tahun hadir di negeri ini, menggunakan Kidung Jemaat sebagai buku nyanyian. Jika kita membuka-buka Kidung Jemaat inilah, nama van Dop akan begitu mudah ditemui. Cukup tepat barangkali jika dikatakan van Dop adalah salah satu tokoh yang membuat Kidung Jemaat jadi tebal.
Yang menarik, van Dop mengubah namanya agar berbau “Indonesia” menjadi H.A. Pandopo. Seringkali memang, orang asing di negeri ini menjadi lebih “cinta tanah air” dari pada anak negeri sendiri.
Ayat Alkitab dari Yohanes 4:35 di awal tulisan buat van Dop adalah ayat yang sangat spesial. “Sudah banyak ladang yang padinya telah menguning dan sudah matang untuk dituai. Namun, siapakah yang harus menuai karena hasil tuaian masih sedikit?” begitulah katanya dalam acara perpisahan.
Senin (30/8) di gedung gereja GPIB Paulus, Jl Sunda Kelapa, Jakarta, semua kerabat dekat, kawan-kawan sekerja, dan anak-anak didiknya berkumpul untuk menghadiri acara perpisahan itu.
Pertanyaan yang sama juga yang telah mendorong seorang van Dop muda untuk menyeberang ke Indonesia.
Hermanus Arie van Dop muda berangkat menuju Indonesia, ladang yang padinya harus dituai, pada 1967. Lahir di Utrecht, Belanda, 28 Mei 1935, van Dop menempuh pendidikan teologi di Fakultas Teologi Universitas Utrecht (1964) dan Sekolah Tinggi Misiologi Oegstgeest (1967).
Selain belajar teologi, untuk memperdalam ilmu musiknya, ia mendapatkan pengetahuan dasar tentang musik dari Klaas Bartlema, guru musiknya sejak sekolah menengah. Sebelum tiba di Indonesia, van Dop lebih dulu pergi ke Pakistan selama satu bulan. Ia berjumpa dengan tokoh-tokoh Kristen dan Islam di sana.
Dari Pakistan, ia berangkat ke Indonesia pada tahun 1967. Selama 4,5 tahun, van Dop melayani di Malino dan Makassar sebagai pendeta di Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS). Pada tahun 1972, barulah van Dop menginjakkan kaki di Jakarta untuk melayani sebagai pendeta di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB).
Atas permintaan Sinode GPIB, van Dop ditempatkan sebagai anggota Dewan Penasihat di Yayasan Musik Gereja (Yamuger) dan ia juga mendapat tugas mengajar di Sekolah Tinggi Teologia di Jakarta (STT Jakarta).
Kemampuan dan pengetahuan bermusiknya yang begitu baik membuat van Dop diminta untuk mengajar di banyak tempat. Ia juga pernah mengajar di Institut Kesenian Jakarta dan Sekolah Tinggi Teologia di Cipanas (STT Cipanas).
Van Dop juga dikenal ahli memainkan organ pipa. Di Jakarta, tak mudah menemukan organ pipa. Organ pipa hanya ada di gereja-gereja tua seperti di GPIB Imanuel di kawasan Gambir, atau di GPIB Paulus di kawasan Menteng.
Tak cuma ahli memainkannya, van Dop juga adalah salah seorang yang mampu memperbaiki organ pipa itu. Hanya segelintir orang di negeri ini yang mampu memperbaiki alat pengiring nyanyian peninggalan zaman penjajahan Belanda itu.
Banyak lagu karya van Dop yang terdokumentasi dengan baik di Kidung Jemaat dan dinyanyikan oleh umat Kristen di seluruh Indonesia saat beribadah di gereja-gereja atau di tempat lain.
Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah “Lihatlah Sekelilingmu” yang terletak di Kidung Jemaat nomor 428. Lagu ini seperti ingin menjawab tantangan besar dalam pelayanannya. “Ladang-ladang yang telah menguning” harus ada yang menuainya. Banyak tuaian namun pekerja masih sedikit, dan van Dop menyadari keadaan ini.
Dia bekerja keras selama 37 tahun untuk menghasilkan “tuaian”. Hasilnya, anak didik telah banyak yang meneruskan dan mengembangkan ilmu yang dia bagikan, mutu bernyanyi dan kesadaran akan pentingnya nyanyian dalam ibadah pun tumbuh dalan lingkungan jemaat di gereja-gereja Protestan.

Dedikasi Tinggi
Van Dop dikenal sebagai seorang yang berdedikasi tinggi, mengabdi pada panggilannya, disiplin, mencintai profesi. Bagi Direktur Yamuger Magara Tua Bakara, van Dop adalah pribadi yang membesarkan Yamuger. Van Dop digambarkan sebagai “ensiklopedia hidup”.
“Namun, saya menganggap van Dop hanya berlibur ke Belanda. Saya yakin kita akan merayakan bersama-sama ulang tahun van Dop yang ke-70 di sini,” kata Mangara.
Kepada Ketua Majelis Sinode GPIB R.A. Waney MTh, van Dop sempat mengatakan bahwa Indonesia memiliki banyak orang berbakat di bidang musik gereja. R.A Waney pun mengakui hal itu, dan pertumbuhan musik gereja di lembaga yang dipimpinnya itu juga tak mungkin lepas dari peran van Dop.
“Saya tahu dia orang yang berkomitmen dan berdisiplin tinggi, namun dia juga orang yang mampu menjangkiti kegembiraan. Van Dop ini memang orang yang luar biasa, sayang kita harus ditinggalkan oleh dia,” demikian pernyataan Waney saat diminta menyampaikan kesannya.
Kemampuan berbahasa Indonesia van Dop pun sangat baik. Hal ini diakui oleh seorang komponis terkemuka Indonesia, Alfred Simanjuntak. Pencipta lagu Bangun Pemudi Pemuda ini begitu terkesan dengan pilihan-pilihan kata dari lagu-lagu karya van Dop.
Alfred bercerita,“Wah, saya kagum sama dia. Kami pernah ada proyek membuat lagu, saya sempat bingung mau pakai kata-kata apa yang cocok. Saya sudah mentok. Eh, van Dop memberi usul kata-kata yang menurut saya bagus sekali. Loh ternyata dia malah lebih bagus dan lebih pintar berbahasa Indonesia dari pada saya.”
Pilihan-pilihan kata van Dop dalam mencipta lagu memang sederhana, namun sangat berisi dan mengena.
Mengenai alasan kepergiannya yang sebenarnya, barangkali khalayak umum tidak akan pernah mengetahuinya. Ia menolak ketika SH meminta waktu untuk mewawancarainya.
“Kesehatan saya sudah mulai terganggu. Tujuan saya pulang karena di Belanda sarana kesehatannya lebih lengkap. Yah, memang di sana pun saya belum ada kepastian tinggal di mana, tapi adik saya sedang mengusahakan dan saya masih memiliki keluarga di sana,” katanya menjelaskan.
Di Indonesia, van Dop memang hidup seorang diri, tanpa istri dan keluarga. Dia tidak menikah.
Obsesi yang belum bisa terwujud sampai saat ini adalah menyusun nyanyian lagu rohani yang berasal dari pelosok-pelosok negeri dengan warna kedaerahan masing-masing. Van Dop menekankan potensi musik negeri ini begitu besar, hampir di setiap pelosok negeri ini yang ia datangi memiliki nyanyian daerah yang indah.
Apa mau dikata, obsesi itu belum kesampaian. Namun, tak ada yang perlu disesali.
Pada pidato perpisahannya, ia berkata,”Belum bisa mengatakan perasaan saya saat ini, minggu depan barangkali saya baru bisa. Saya yakin akan kangen berat pada Indonesia, pada teman-teman, pada anak didik saya.”
Van Dop mengingatkan lagi,” Saya masih akan tetap mengamati ‘hasil tuaian’ saya yang masih sedikit ini dan memberi perhatian penuh walau saya sudah tidak di sini lagi.”
Hermanus Arie van Dop telah menyelesaikan panggilannya di negeri ini. Saat ini yang bisa dia lakukan adalah mengamati hasil tuaiannya dari kejauhan.