Saturday, November 27, 2004

Pdt Prof Dr Sularso Sopater: Jangan Menoleh Lagi

JAKARTA – Di berbagai sekolah teologia di Indonesia, sedikit saja orang yang memilih bidang dogmatika sebagai keahliannya karena ini memang ilmu yang kurang menggairahkan. Namun, itulah yang dipilih Prof Dr Sularso Sopater, ketika dia menjadi dosen di Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, di Jalan Pegangsaan, Jakarta Pusat, yang juga almamaternya, dua dekade lalu.
Dia padahal paham bahwa etika lebih menarik dan dinamis karena membahas mengenai penerapan dogma dalam kehidupan nyata, sedangkan dogma hanya mengajarkan hal-hal yang ideal. Namun karena menyadari dogmatika merupakan pusat teologi yang menelaah dan menyiasati dogma gereja sebagai sesuatu yang penting dan sentral dalam pemahaman iman (Kristen), bidang itu pun ditekuni dan digelutinya.
Buah ketekunannya itu yang antara lain dituangkan dalam sebuah buku berjudul Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia yang adalah buku penghormatan memperingati 70 tahun Sularso. Buku itu diluncurkan pada 20 September lalu bersamaan dengan HUT STT Jakarta ke-70.
Sularso sendiri lahir pada 9 Mei 1934. “Merekalah buah karya saya, kalau boleh mengatakan begitu,” kata Sularso, dalam petikan wawancara dalam buku tersebut.

Menjadikan “Know How”
Dalam sebuah percakapan beberapa waktu lalu, Sularso menuturkan ketika baru diangkat sebagai pengasuh mata kuliah dogmatika di STT Jakarta, yang dilakukannya adalah menjadikan mata kuliah dogmatika itu sebagai suatu pengetahuan mengenai know how doktrin kristiani sehingga sifatnya lebih oikoumenis dan tidak diarahkan kepada suatu doktrin gereja tertentu.
Situasi pengajaran mata kuliah dogmatika di STT Jakarta ketika itu cenderung seperti itu, sehingga akhirnya hal itu juga memengaruhi jumlah mahasiswa yang mau belajar teologia. Situasi inilah yang kemudian diubahnya.
Lebih dari itu, dia berusaha agar dogmatika itu dapat dimaknakan ke dalam konteks masa kini dan situasi lokal. Ini karena dogmatika yang diajarkan di berbagai sekolah tinggi teologia di Indonesia, maupun buku-buku yang ada, kerap memakai sistematika yang sama, yakni membahas pertama mengenai Theologi (ajaran mengenai Allah), Kristologi (ajaran tentang Kristus), dan Pneumatologi (ajaran tentang Roh Kudus) dan di bawah Kristologi ada Soteriologi (ajaran tentang keselamatan).
“Persoalannya, dogmatika itu disusun oleh para teolog Barat yang tidak menghadapi persoalan seperti halnya pada pendeta atau rohaniwan yang bertugas di berbagai tempat di Indonesia, dimana setiap daerah memiliki nilai-nilai kepercayaan sendiri-sendiri,” katanya.
Dia mencontohkan orang-orang Jawa yang Kristen pada awalnya oleh zending dilarang nembang, wayang, dll karena mengandung unsur filsafat dan mistis. Situasi inilah yang dalam pandangannya membuat orang Kristen di Indonesia kehilangan akar budayanya, sementara pada sisi lain juga tidak bisa sepenuhnya dapat hidup dengan budaya Barat.
Konteks budaya lokal dalam berteologia inilah yang kemudian dikembangkan dan ikut didorongnya sehingga berangsur gending dan karawitan bisa diterima di kalangan Gereja Kristen Jawa (GKJ), misalnya, pada tahun 1960-an

Teologia Nusantara
Ketertarikannya pada teologia kontekstual bermula ketika di STT ada kurikulum 1970 ditambah program South East Asia Graduate School of Theology yang mendorong kontekstualisasi. Ini karena dirasakannya bahwa ajaran-ajaran yang dibawa para misionaris Barat menghilangkan kontekstualitas itu, sehingga teologia Kristen serasa budaya Barat.
“Bagaimana pun, kita harus mendekati sendiri materi realitas kita, bukan realitas Barat,” katanya.
Disertasinya untuk mencapai gelar doktor teologi dari STT Jakarta berjudul “Inti Ajaran Valentinian dan Inti Ajaran Pangestus, Suatu Pembandingan” (1983).
Dia baru mulai mengajar di STT Jakarta pada 1978, dan setelah menyelesaikan doktornya, dia menggantikan Prof. Sudarmo sebagai pengajar mata kuliah dogmatika. Dua tahun kemudian dia menjadi Guru Besar Dogmatika di STT Jakarta.
Sularso banyak membimbing para mahasiswanya, khususnya pada jenjang S2 dan S3, mengenai teologia kontekstual. Walau tidak sempat menulis buku dogmatika, tapi Sularso berhak mengklaim para mahasiswa pascasarjana yang pernah dibimbingnya itu sebagai “hasil karyanya”.
Para mahasiswa S2 dan S3 yang dibimbingnya, pada umumnya berasal dari berbagai denominasi gereja, dalam pilihan karya-karya ilmiah terakhir mereka selalu memilih tema pergumulan yang mereka hadapi ketika terjadi perjumpaan teologia antara dogma kristiani yang mereka pahami dan pelajari dengan doktrin berbagai agama dan kepercayaan di Nusantara.
Sejauh ini, hasil bimbingannya telah mencerminkan kontektualitas pemikiran para mahasiswa pasca sarjananya yang beraneka ragam, karena mereka berasal dari Papua, Maluku, Minahasa, Toraja, Jawa, Batak dll. Sebut saja sejumlah nama seperti: Pdt Dr Andreas A. Yewangoe (kini Ketua PGI), Pdt Dr Josef Manuel Saruan (Wakil Ketua Sinode GMIM), Pdt Dr Darwin Lumban Tobing (dosen di STT HKBP) dll.
Sejumlah 19 executive summary dari para mantan mahasiswa bimbingannya yang terangkum dalam Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia itu memang belum lengkap mencerminkan keanekaragaman pemikiran teologia kontekstual yang ada di Indonesia. “Itu belum tersistematisasi secara menyeluruh, ia masih seperti bibit-bibit yang akan tumbuh di kebun dogmatika Indonesia di masa mendatang,” katanya.

Tidak Menoleh Lagi
Sularso, lahir 9 Mei 1934, di Yogyakarta. Meski ayahnya, Pdt Sopater (almarhum pada tahun 1945), seorang pendeta semasa Perang Dunia II, Sularso kecil tidak pernah bercita-cita menjadi pendeta karena melihat beratnya pekerjaan itu.
Dia lebih suka pertanian, karenanya SMA-nya pun jurusan ilmu pasti (eksakta). Namun, pengaruh ibunya yang membuat dia melanjutkan studi ke STT Jakarta tahun 1954. “Walau saya masih suka dunia pertanian, namun saat itu saya tidak menoleh lagi,” katanya, menuturkan awal panggilannya sebagai pendeta.
Lulus dari STT dia melayani tugas kependetaan di GKJ Gondokusuman, Yogyakarta, dan sebagai pendeta “hijau” dia mendapat tugas melayani ke tempat-tempat yang jauh dengan mengayuh sepeda. Namun dia mengalami fase-fase “ledakan” pertumbuhan GKJ di tahun-tahun pasca-1965 ketika jumlah jemaat meningkat lebih 100 persen.
Tentu saja dia tidak pernah bercita-cita untuk suatu ketika menjadi Rektor STT Jakarta (1987-1989).
Sularso kini hidup sendiri setelah ditinggalkan oleh mendiang istri tercinta Claudia Kustinah. Namun dia tidak merasa sepi, antara lain karena dekat dengan tiga cucunya, dari dua anak perempuannya Lala dan Woro, yang tinggal hanya berbatas pagar dengan rumahnya di kawasan Jati Kramat, Pondok Gede, Bekasi. Anak lelakinya, Bambang, tinggal di kawasan Jakarta Barat.
Selain itu, pensiun bukan berarti dia berhenti melayani. Mantan Ketua Umum PGI selama dua periode ini (1989-1994, 1994-1999) masih sesekali diminta berkhotbah hari Minggu di sana-sini. Di usianya yang lanjut, mantan anggota DPA ini bahkan kerap bolak-balik Jakarta-Salatiga dengan menumpang mobil atau naik kereta api. Kegiatan ini untuk menyelesaikan revisi Alkitab Bahasa Jawa bersama tim para pendeta dari GKJ. (SH/kristanto hartadi)

Saturday, November 20, 2004

Anugerah Tuhan Melepaskan Saya dari Narkoba

Oleh Sola Gratia

Aku seorang mantan pecandu. Puji Tuhan, kalau saat ini aku bisa berkata demikian dan tidak malu bahwa diriku adalah mantan pecandu.
Banyak orang yang bertanya, "Dapatkah seseorang terlepas atau berhenti dari kecanduan terhadap narkoba, tanpa mengalami atau mengikuti proses rehabilitasi?" Menurutku: "MUNGKIN!" Jika yang dimaksud dengan rehabilitasi adalah sebuah lembaga formal.
Tetapi, pada dasarnya setiap pecandu membutuhkan pemulihan. Caranya bisa formal maupun informal.
Aku berharap tulisan singkat ini dapat menghibur dan menguatkan saudara-saudaraku yang lain sesama pecandu, mantan pecandu, maupun keluarga masing-masing.

Awal Kejatuhan
Aku terlahir sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahku adalah seorang dosen dan ibuku adalah penginjil. Orang bilang, sebagai anak bungsu tentulah hidupku bahagia, disayang kakak-kakak, apalagi orangtua.
Memang sebagai anak bungsu aku cukup dimanja walau tidak berlebihan. Tapi entah mengapa, aku merasa hidupku tidaklah sebahagia yang diperkirakan orang/teman-temanku.
Sebagai anak bungsu, aku merasa selalu dianggap sebagai anak bawang yang pendapat dan kehadirannya tidak perlu didengar dan diperhatikan, walaupun kedua orangtua dan saudara-saudaraku selalu mengatakan yang sebaliknya.
Aku tumbuh menjadi anak yang cenderung pemalu dan kurang percaya diri, khususnya jika berhadapan dengan orang banyak (sifat ini terbawa sampai aku beranjak dewasa, bahkan sampai saat ini!).
Sebagai kompensasi dari ini semua, aku berusaha mencari jati diri dan penghargaan melalui pergaulanku di luar rumah, sayangnya dengan cara yang salah.
Jiwa pemberontakku menjadi-jadi setelah aku menjadi pendengar dan penyuka musik rock. Sungguh, jenis musik ini mempengaruhi pola pikirku…ditambah lagi hubunganku dengan Tuhan yang kurang erat, sehingga aku makin tak mampu untuk melepaskan diri dari berbagai kebiasaan burukku.
Masalahku bertambah ketika aku masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku mulai berkenalan dengan rokok akibat pergaulanku dengan teman-teman sekolah.
Dari rokok, aku kemudian berkenalan dengan minuman keras dan ganja sampai kira-kira lepas SMA. Jadi, sejak kuliah S1 sampai setengah jalan kuliah S2 (1990 - 2001), aku tenggelam dalam kehidupan yang tidak karuan, terbelenggu dengan rokok, minuman keras, ganja, pil koplo, dan yang terakhir sabu.

Fase Terparah
Akibat gaya hidupku yang tidak karuan, kuliahku nyaris berantakan bahkan hampir drop out (DO). Salah satu penyesalanku yang tak bisa hilang sampai saat ini adalah Tuhan memanggil mamaku sebelum aku selesai kuliah.
Aku sungguh kehilangan mama. Tanpa aku sadari sebelumnya, beliaulah tempat aku mencurahkan seluruh perasaanku. Nasihat-nasihatnya yang selalu diambil dari Firman Tuhan merupakan benteng pertahananku dalam melawan segala godaan dari Iblis si jahat itu, sehingga walaupun aku jatuh, keinginanku untuk bangkit selalu tumbuh kembali.
Setiap hari mama selalu mendoakan aku, mendoakan pertobatanku. Entah sudah berapa banyak air mata mama yang tertumpah menangisi kelakuanku.
Hilang sudah benteng itu, ketika mama meninggal (kebetulan aku tidak terlalu dekat dengan papa, bahkan aku cenderung takut dan menghindar dari beliau).
Hidupku makin rusak! Pergi pagi pulang pagi sudah menjadi kebiasaan. Mabuk setiap hari sudah menjadi kebutuhan. Untunglah Papa cukup bijaksana. Dia menawarkan kesempatan kepadaku untuk meneruskan kuliahku di S2 (tahun 1998), bahkan aku boleh menikah. Mungkin tujuan beliau adalah supaya hidupku lebih teratur dan memiliki masa depan.
Aku menikah pada tahun 1999. Setahun kemudian Tuhan menganugerahkan kami seorang anak perempuan. Pada saat istriku hamil inilah muncul untuk pertama kalinya keinginanku untuk bertobat secara sungguh-sungguh.
Aku tidak mau anakku lahir cacat akibat perbuatanku selama ini. Puji Tuhan, anakku lahir dengan selamat, lucu dan sehat. Tetapi ternyata aku belum mampu lepas, bahkan semakin dalam terjerumus dalam narkoba, khususnya sabu. Aku berhenti memakai obat-obatan atau pil sekitar tahun 1998.
Saking aku mencintai sabu ini, aku tidak sanggup membaginya dengan teman-temanku alias pelit, sebagaimana lazimnya dilakukan para pecandu: kumpul bareng lalu mabuk bareng.
Titik berikutnya dalam masa-masa kelamku ini yang diubah Tuhan menjadi awal pertobatanku adalah tatkala aku masuk rumah sakit tepat di hari ulang tahun papa (Mei 2000). Hari ulang tahun yang penuh kegembiraan dan rasa syukur berubah menjadi hari yang menyedihkan, khususnya buatku. Ketika aku masuk RS inilah, tekadku untuk berhenti benar-benar bulat.
Beberapa waktu kemudian aku mengaku kepada Bang Julianto, seorang pendeta, kalau aku adalah seorang pecandu dan ingin sembuh. Kami banyak berbincang-bincang tentang masa laluku, perasaan-perasaanku yang selama ini terpendam di alam bawah sadarku.
Saat itu, aku belum memiliki keberanian untuk mengaku kepada keluargaku, khususnya kepada istriku. Aku takut akibatnya.
Akhirnya Bang Jul-lah yang menjembatani pengakuanku. Syukur kepada Tuhan, istriku masih mau mengampuni dan menerima keadaanku, bahkan berjanji akan membantu supaya aku lekas sembuh.
Ternyata untuk berhenti memang sangat tidak mudah. Selama beberapa bulan berikutnya, aku masih jatuh bangun. Perjuanganku masih jauh dari berakhir. Sugesti untuk memakai narkoba masih sangat kuat dan sulit kulawan sendirian.
Aku amat bersyukur, Tuhan memang sungguh baik! Aku yakin, kuasa doa dan kasih sayang yang tulus dari istriku, papa, dan saudara-saudaraku sangat nyata mendukung aku.
Tuhan akhirnya menjawab doa kami. Tanpa aku sadari tatkala aku sedang merenungi dan membayangkan wajah anak dan istriku tersayang, memikirkan bahwa aku nyaris membawa keluargaku ke dalam kehancuran, Tuhan membebaskan aku!
Suatu mujizat besar, bahwa dari hari ke hari, bulan ke bulan, bahkan tahun demi tahun (sampai dengan sekarang) aku sanggup tidak menggunakan narkoba lagi! Memang sugesti tetap ada, tetapi Tuhan menguatkan aku, sehingga aku tidak memakai narkoba lagi sampai detik ini.
Aku mendapat kesimpulan mengapa aku bisa berhenti menggunakan narkoba tanpa mengikuti rehabilitasi. Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah dalam hidup kita.
Terkadang Tuhan mengizinkan kita untuk mengalami sebuah peristiwa yang mungkin kita pikir jelek atau menyedihkan, tapi pada saatnya Tuhan akan memberitahu dan menyadarkan kita bahwa ada yang ingin Dia sampaikan melalui pengalaman tersebut.
Tuhan ingin kita sabar. Tidak terhitung rasanya aku menjerit kepada Tuhan, "Kapan Tuhan, kapan aku terbebas? Kapan aku sembuh?" dan pada saatnya Tuhan akan menjawab.
Kesembuhan membutuhkan proses. Tidak ada orang yang dapat sembuh dengan seketika (tanpa proses). Selain itu dibutuhkan kesabaran dan kasih, khususnya dari orang-orang terdekat di sekitar si pecandu. Doa yang sungguh dan terus-menerus.
Aku yakin kesembuhan tidak akan terjadi tanpa adanya doa. Dan Tuhan pasti akan mendengar doa kita.
Pecandu membutuhkan orang-orang yang menyayangi dan mendukung secara tulus. Dalam kasusku ini, aku bersyukur memiliki keluargaku. Ingat, pecandu yang ingin sembuh lebih membutuhkan kasih sayang dan pendengar yang baik dan memiliki empati yang murni daripada seorang pembicara!
Banyak pecandu yang gagal lepas karena mereka tidak mendapatkan kasih yang sesungguhnya dan tidak ada yang mau mendengarkan mereka, padahal seringkali perasaan sakit yang terpendamlah yang memicu dan menguatkan sugesti terhadap narkoba sehingga si pecandu terjerumus kembali.
Pecandu harus malu kepada kehidupannya, tetapi tidak boleh malu untuk mengakuinya. Sebagaimana dalam kasusku, pengakuanku kepada keluargaku adalah salah satu sebab aku dapat sembuh.
Sekarang aku tidak pernah malu lagi untuk mengakui bahwa aku adalah seorang mantan pecandu. Ingat, mantan penjahat adalah selalu lebih baik daripada mantan orang baik!.
Kobarkan terus semangat untuk berjuang menuju kesembuhan. Para pecandu perlu sadar bahwa keinginan untuk berhenti tidaklah mudah dan konstan.
Ada kalanya semangat berkobar, tapi ada waktunya padam. Pada saat semangat meredup inilah dukungan dari orang-orang tercinta sangat dibutuhkan.
Pecandu harus terbuka dan minta tolong jika semangatnya menurun, sesegera mungkin. Tuhan memberkati dan membimbing kita semua.

Medio Januari 2004.

Thursday, November 11, 2004

Kristenisasi, Hantu Apa Itu?

Oleh Paulus Mujiran

Suatu kali, penulis berkesempatan hadir dalam sebuah acara sosialisasi bantuan luar negeri melalui sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kawasan yang menjadi sasaran pemberian bantuan kemanusiaan tersebut tergolong termiskin dibandingkan kawasan di sekitarnya sesudah melalui survei intensif.
Kawasan tersebut sebagian besar penduduknya beragama muslim. Mayoritas RT dan RW berdiri mesjid dan mushola sehingga peribadatan muslim amat tercukupi. Bendera LSM yang saya bawa adalah bendera LSM Katolik. Yang menarik dari kejadian tersebut ialah 90% pertanyaan hadirin yang hadir ialah apakah pemberian bantuan dikaitkan dengan penyebaran agama atau dalam bahasa yang akhir-akhir ini kerap kita dengarkan ialah kristenisasi?
Pertanyaan semacam ini amat merepotkan. Gereja sendiri tidak pernah mencanangkan melalui kegiatan sosial atau pendidikan dan kesehatan yang dilakukan berpretensi menambah jemaat. Tidak adil jika gereja dituduh memberi recehan dan beberapa kilo beras dan lauk kemudian diganti dengan membaptis orang dan menambah jemaat. Kehadiran orang Kristen entah sebagai pribadi atau pekerjaan sosial selalu memicu tanda tanya.
Kecemasan tampaknya muncul karena pekerjaan-pekerjaan semacam itu mempunyai dampak yang amat besar. Yang mengherankan saya, semakin hari kehadiran pelayanan Kristen entah dalam bentuk gereja, sekolah, rumah sakit, atau lembaga sosial memancing kecurigaan. Beberapa calon pembangunan gereja yang masih pondasi dan tiang-tiang dirusak massa. Umat tidak bisa melalukan peribadatan dengan aman karena teror.
Belum lagi ancaman bom yang pada waktu silam benar-benar terjadi dan meledak mengganggu umat beribadat dalam gereja. Kini, dengan tuduhan serupa, di berbagai gereja di Indonesia mengalami tuduhan serupa. Sebagai kelompok minoritas tidak hanya izin mendirikan gereja yang dipersulit, malahan peribadatan tidak lagi bisa dengan bebas dilakukan dari rumah ke rumah.
Pertanda apa ini? Lebih sering peribadatan dihadapi oleh massa dalam jumlah amat banyak.Mengapa kejadian ini saya tuliskan untuk dimuat di sini? Saya sudah tidak tahan melihat kepicikan dan intoleransi di belakang kejadian-kejadian seperti itu. Beberapa tuduhan kristenisasi tidak terjadi sekali dua kali saja.
Di Ciledug pelarangan beribadah oleh sekelompok massa telah terjadi sepekan silam. Di Semarang rencana pembangunan gereja/kapel di desa Banjardowo yang didemo massa kini kasusnya tengah diproses pengadilan. Dua bulan lalu Bupati Bandung per surat serentak menutup 12 tempat ibadat serupa di Bandung.
Kekerasan terhadap gereja-gereja berjalan terus, dengan rata-rata satu kejadian per minggu. Sejak 1990 sudah lebih dari 500 gereja diserang. Apakah ini perkara kecil? Gereja masih terus mengalami penganiayaan dan kekerasan dalam beragam bentuknya. Memang tidak bijaksana menggeneralisir masalah adanya satu dua gereja yang melakukan pembagian sembako atau bakti sosial kesehatan kemudian dengan tawaran mau menjadi anggota jemaat.
Alasan kristenisasi bagi saya sangat tidak meyakinkan. Bahwa di sana sini ada orang masuk tidak perlu disangkal. Tetapi kalau melihat statistik Indonesia, maka selama 30 tahun ini, tidak ada pertambahan signifikan umat kristiani di negara ini. Jadi seberapa jauh signifikasi kasus-kasus itu? Jemaat Katolik cenderung stagnan baik dari segi jumlah maupun perkembangan tempat ibadah.
Kebenaran adalah kebalikan. Di gereja Ciledug, Bandung, Semarang dan di kebanyakan gereja di seantero Indonesia, sama sekali tidak dilakukan kristenisasi apa pun. Sama sekali tidak terjadi umat beragama lain di sekeliling gereja, atau sekolah, diajak jadi kristiani.
Saya curiga bahwa isu kristenisasi dipakai secara sengaja untuk membangun emosi. Sudah banyak terbukti, emosi yang digerakkan atas nama sentimen agama berdampak buruk dibandingkan dalam keadaan biasa. Juga di sekolah Kristen/Katolik kecil sekali dari peserta didik beragama muslim masuk ke Kristen atau Katolik.
Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kini malahan anak didik baik agama Islam maupun Kristen/Katolik di sekolah-sekolah itu tidak diberi pelajaran agama sesuai dengan agama sekolah melainkan pendidikan religiositas yang berlaku umum. Kalangan pendidikan di kawasan ini memang sudah mencemaskan bahwa pengetahuan agama anak didik Kristen dan Katolik akan sangat dangkal dan perlu diberi pelajaran tambahan.
Namun beberapa sekolah susteran mencoba melakukan itu tetapi ternyata kurang berhasil. Lantas sebenarnya apa motif tuduhan kristenisasi itu? Lalu terjadi kekerasan, pemaksaan, perusakan, kadang-kadang (ratusan kali) penghancuran. Orang bisa melakukannya dengan impunity (tidak terjerat hukum), karena serangan terhadap gereja di Jawa dan di beberapa pulau lain di Indonesia, dibiarkan saja.
Saya bertanya, kita hidup di negara apa? Omongan tentang toleransi, tentang persatuan (ingat iklan bagus-bagus di TVRI), tentang Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi lelucon cemooh. Dan para pemimpin, kaum intelektual, para suara hati bangsa, di mana suara mereka? Tutup telinga, tutup mata, tutup mulut.
Undang-undang dasar kita dengan tegas menyatakan bahwa ”orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya” (Pasal 28E, dan lihat Pasal 29, 2.). Tetapi sejak puluhan tahun, umat minoritas dihalang-halangi terus kalau minta izin mendirikan rumah ibadat, juga apabila jelas-jelas ada umat. Surat Keputusan Bersama 35 tahun lalu sudah menjadi sarana untuk mensabotase kebebasan beribadat.
Katanya, jangan membangun rumah ibadat di tengah-tengah umat beragama lain. Tetapi minoritas mau membangun rumah sudah pasti di tengah-tengah mayoritas. Tidak mungkin di tengah hutan. Izin membangun gereja tidak diberikan, atau perlu waktu 20 tahun. Tetapi kalau sementara ini umat beribadat di tempat seadanya, ia diancam dan dilarang. Saya juga meragukan bahwa itu semua sekadar masalah masyarakat lokal. Saya khawatir bahwa kasus-kasus semacam ini akan terus terjadi.
Ibarat hantu, tuduhan kristenisasi bisa benar-benar mencemaskan dan merepotkan. Benarkah desas-desus bahwa ada jaringan orang-orang ekstrem yang sampai meresap ke administrasi lokal, yang sudah memutuskan untuk secara dingin mencekik kehidupan beragama minoritas di negara Pancasila? Kezaliman terhadap peribadatan minoritas sudah melampaui batas dan mengancam membuat percuma usaha tulus banyak pihak di agama mayoritas maupun agama-agama minoritas untuk membangun hubungan yang toleran, berdasarkan percaya.
Pertanyaan saya: Apakah pelecehan kebutuhan religius minoritas yang paling sederhana akan terus berlangsung dengan impunity?

Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik, Direktur Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata, tinggal di Semarang.

Saturday, November 06, 2004

Dia Memang Suami Saya

Oleh Roswitha Ndraha
Saya belakangan ini menerima keluhan para ibu tentang suami mereka. Di lain pihak, Julianto (suami saya) juga menjadi tempat ”curhat” para suami yang sering tidak bisa memahami istri mereka. Kami sudah pernah mengalami hal-hal ini. Kami ingin membagikannya kepada semua. Kami rindu, kita menikmati hidup pernikahan kita.Sebagai anak pertama dalam keluarga, saya seringkali diberi tanggung jawab memimpin adik-adik saya yang berjumlah enam orang.
Karena otoritas datang dari orang tua, adik-adik saya melakukan apa pun yang saya katakan. Mereka jarang membantah saya.
Saya menikmati ”kekuasaan” kecil itu; tapi tidak menyadari kalau ini akan menjadi masalah nantinya dalam keluarga saya sendiri.Suami saya anak keenam dari tujuh bersaudara. Waktu kami menikah, saya bekerja sebagai Kepala Biro Informasi di PGI.
Suami saya baru lulus sarjana teologia (sebelumnya pernah bekerja sebagai staf mahasiswa selama 2 tahun) dan sedang dalam proses orientasi dengan gereja yang menerima kami melayani. Dia melayani di Komisi Pemuda. Dari segi penghasilan, gaji saya hampir tiga kali gaji suami. Mula-mula, ketimpangan ini tidak terlalu terasa.
Kami menikmati pernikahan kami (sebelumnya kami pacaran jarak jauh), dan di tahun pertama saya belum hamil. Tapi seiring berjalannya waktu, sifat dominan saya muncul. Ironisnya, seringkali saya tidak sadar. Tiba-tiba suami saya mendiamkan saya. Saya bingung menghadapi perubahan ini.
Kebekuan di rumah bisa berlangsung dua-tiga hari. Terus terang, saya tidak biasa dengan cara pertengkaran seperti ini. Saya tidak tahu, apa salah saya. Saya bertanya, tapi tiada jawab.Banyak hal yang membuat konflik kami meruncing. Di antaranya karena saya memang sulit bergaul. Itu berasal dari latar belakang saya.
Saya punya banyak adik dan tidak ada yang membantu, orangtua saya tidak melatih kami berteman. Pergaulan kami berjalan untung-untungan. Tidak direncanakan, tidak dilatih.Akibatnya saya lebih senang di rumah dan enggan bertemu orang. Berbeda dengan suami saya yang ”anak kolong” (mertua saya polisi).
Dia mudah sekali gaul dan gampang dapat teman. Dia bisa mengobrol apa saja dengan siapa saja, dari ”bayi” sampai opa-oma; dari orang sakit, orang ”sakit”, sampai orang sehat dan orang pandai; dari konglomerat sampai tukang sapu jalan. Buat saya, dia suami yang sempurna dalam hal bergaul.Konflik lain adalah karena saya pendiam.
Saya segan mengungkapkan isi hati saya. Banyak hal saya simpan dalam hati. Saya harap suami saya tahu sendiri apa mau saya.Kalau dia sayang saya, dia tahu dong, apa yang saya mau! Seringkali saya hanya ”menebak-nebak” isi hati suami saya. Mengapa dia begini? O, mungkin karena begitu!Kalau dia diam, saya lebih suka diam juga, tetapi asyik berdiskusi dengan diri saya mengenai alasan kediaman suami saya.
Itu membuat komunikasi kami tidak berjalan baik.Setelah beberapa bulan, suami saya mulai terbuka, mengatakan mengapa dia diam.
Salah satu adalah dia merasa saya terlalu mengatur, mau menang sendiri, dan seterusnya; tapi dia enggan menyampaikan itu pada saya, karena saya cenderung ”melawan” dan tidak terima. Dia melihat bagaimana ayahnya seringkali memukuli ibunya, dan dia tidak mau itu terjadi dalam keluarga kami.
Karena itu, dia memilih diam. Tetapi konflik itu berlangsung terus dan kami tidak tahu cara menyelesaikannya.TundukSuatu kali, pendeta kami memimpin acara sharing di Komisi Pemuda. Pendeta membahas arti tunduk-kepada-suami.
”Kalau ternyata keputusan suami bertentangan dengan keinginan istri atau jika istri melihat bahwa keputusan suami tidak benar, apa yang harus dilakukan oleh istri,” tanya Pendeta, ”tunduk dan ikut saja?”
Selama acara saya terus-menerus memikirkan arti tunduk ini. Saya menyadari latar belakang saya sebagai anak tertua dalam keluarga. Setelah kami saling lebih terbuka, perasaan ingin mengatur atau ”aku yang benar” sering juga muncul, tapi masih bisa saya redam, sehingga tidak sering keluar. Tapi saya rasa, saya harus membuat komitmen baru soal ini.Entah bagaimana caranya (mungkin karena terus dipikirkan), saya mendapat pemikiran baru.
Pertama, Julianto adalah pemimpin dalam keluarga kami. Itu Tuhan sendiri yang menentukan. Jadi, saya wajib menaati dia, apa pun risikonya. Dengan demikian saya belajar mengandalkan Tuhan.
Kedua, kalau sekali waktu Julianto melakukan kesalahan, saya yakin dia akan belajar dari kesalahan itu. Suami saya bukan orang bebal (yang tidak belajar dari pengalaman). Dia adalah suami yang setia dalam hubungannya dengan Allah.Aneh sekali, sejak saya membuat keputusan itu, ada yang berubah dalam keluarga kami.
Saya merasa pelan-pelan mulai bisa menempatkan diri dalam posisi istri secara sesungguhnya. Pertengkaran dan kebisuan makin jarang. Saya lihat Julianto juga berusaha mengatakan perasaannya secara jujur. Saya melihat setelah kami berusaha menempatkan diri pada posisi masing-masing secara benar, komunikasi kami terbangun.
Kami jarang konflik (jujur, kami sangat jarang bertengkar). Ini mengakibatkan kami masing-masing tambah maju dalam segala aspek. Sejak kami mendirikan Layanan Konseling Keluarga dan Karier (LK3) Mei 2002, kami menyadari bahwa keluarga kamilah yang harus lebih dulu diubah dan dibangun oleh Tuhan. Pembentukan itu saya rasakan. Seiring perjalanan waktu, kekaguman saya pada suami saya makin dalam. Dia juga makin peka terhadap kebutuhan saya.
Seringkali saya utarakan isi hati saya, ”Aku merasa bersyukur kamu jadi suamiku.” Pernah saya mendengar orang berkata, melihat Pak Julianto saja, setengah masalah saya teratasi! Saya bangga pada suami saya. Kalau itu saya sampaikan padanya, dia akan menjawab, ”Itu karena kamulah istri saya. Kamu yang membuat saya jadi begini.” Kami mengerti, itu pekerjaan Tuhan dalam diri kami masing-masing. Tetapi dari kami juga dituntut kesediaan merendahkan diri untuk dibentuk oleh Dia.

Penulis adalah pendiri Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3)