Pdt Prof Dr Sularso Sopater: Jangan Menoleh Lagi
JAKARTA – Di berbagai sekolah teologia di Indonesia, sedikit saja orang yang memilih bidang dogmatika sebagai keahliannya karena ini memang ilmu yang kurang menggairahkan. Namun, itulah yang dipilih Prof Dr Sularso Sopater, ketika dia menjadi dosen di Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, di Jalan Pegangsaan, Jakarta Pusat, yang juga almamaternya, dua dekade lalu.
Dia padahal paham bahwa etika lebih menarik dan dinamis karena membahas mengenai penerapan dogma dalam kehidupan nyata, sedangkan dogma hanya mengajarkan hal-hal yang ideal. Namun karena menyadari dogmatika merupakan pusat teologi yang menelaah dan menyiasati dogma gereja sebagai sesuatu yang penting dan sentral dalam pemahaman iman (Kristen), bidang itu pun ditekuni dan digelutinya.
Buah ketekunannya itu yang antara lain dituangkan dalam sebuah buku berjudul Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia yang adalah buku penghormatan memperingati 70 tahun Sularso. Buku itu diluncurkan pada 20 September lalu bersamaan dengan HUT STT Jakarta ke-70.
Sularso sendiri lahir pada 9 Mei 1934. “Merekalah buah karya saya, kalau boleh mengatakan begitu,” kata Sularso, dalam petikan wawancara dalam buku tersebut.
Menjadikan “Know How”
Dalam sebuah percakapan beberapa waktu lalu, Sularso menuturkan ketika baru diangkat sebagai pengasuh mata kuliah dogmatika di STT Jakarta, yang dilakukannya adalah menjadikan mata kuliah dogmatika itu sebagai suatu pengetahuan mengenai know how doktrin kristiani sehingga sifatnya lebih oikoumenis dan tidak diarahkan kepada suatu doktrin gereja tertentu.
Situasi pengajaran mata kuliah dogmatika di STT Jakarta ketika itu cenderung seperti itu, sehingga akhirnya hal itu juga memengaruhi jumlah mahasiswa yang mau belajar teologia. Situasi inilah yang kemudian diubahnya.
Lebih dari itu, dia berusaha agar dogmatika itu dapat dimaknakan ke dalam konteks masa kini dan situasi lokal. Ini karena dogmatika yang diajarkan di berbagai sekolah tinggi teologia di Indonesia, maupun buku-buku yang ada, kerap memakai sistematika yang sama, yakni membahas pertama mengenai Theologi (ajaran mengenai Allah), Kristologi (ajaran tentang Kristus), dan Pneumatologi (ajaran tentang Roh Kudus) dan di bawah Kristologi ada Soteriologi (ajaran tentang keselamatan).
“Persoalannya, dogmatika itu disusun oleh para teolog Barat yang tidak menghadapi persoalan seperti halnya pada pendeta atau rohaniwan yang bertugas di berbagai tempat di Indonesia, dimana setiap daerah memiliki nilai-nilai kepercayaan sendiri-sendiri,” katanya.
Dia mencontohkan orang-orang Jawa yang Kristen pada awalnya oleh zending dilarang nembang, wayang, dll karena mengandung unsur filsafat dan mistis. Situasi inilah yang dalam pandangannya membuat orang Kristen di Indonesia kehilangan akar budayanya, sementara pada sisi lain juga tidak bisa sepenuhnya dapat hidup dengan budaya Barat.
Konteks budaya lokal dalam berteologia inilah yang kemudian dikembangkan dan ikut didorongnya sehingga berangsur gending dan karawitan bisa diterima di kalangan Gereja Kristen Jawa (GKJ), misalnya, pada tahun 1960-an
Teologia Nusantara
Ketertarikannya pada teologia kontekstual bermula ketika di STT ada kurikulum 1970 ditambah program South East Asia Graduate School of Theology yang mendorong kontekstualisasi. Ini karena dirasakannya bahwa ajaran-ajaran yang dibawa para misionaris Barat menghilangkan kontekstualitas itu, sehingga teologia Kristen serasa budaya Barat.
“Bagaimana pun, kita harus mendekati sendiri materi realitas kita, bukan realitas Barat,” katanya.
Disertasinya untuk mencapai gelar doktor teologi dari STT Jakarta berjudul “Inti Ajaran Valentinian dan Inti Ajaran Pangestus, Suatu Pembandingan” (1983).
Dia baru mulai mengajar di STT Jakarta pada 1978, dan setelah menyelesaikan doktornya, dia menggantikan Prof. Sudarmo sebagai pengajar mata kuliah dogmatika. Dua tahun kemudian dia menjadi Guru Besar Dogmatika di STT Jakarta.
Sularso banyak membimbing para mahasiswanya, khususnya pada jenjang S2 dan S3, mengenai teologia kontekstual. Walau tidak sempat menulis buku dogmatika, tapi Sularso berhak mengklaim para mahasiswa pascasarjana yang pernah dibimbingnya itu sebagai “hasil karyanya”.
Para mahasiswa S2 dan S3 yang dibimbingnya, pada umumnya berasal dari berbagai denominasi gereja, dalam pilihan karya-karya ilmiah terakhir mereka selalu memilih tema pergumulan yang mereka hadapi ketika terjadi perjumpaan teologia antara dogma kristiani yang mereka pahami dan pelajari dengan doktrin berbagai agama dan kepercayaan di Nusantara.
Sejauh ini, hasil bimbingannya telah mencerminkan kontektualitas pemikiran para mahasiswa pasca sarjananya yang beraneka ragam, karena mereka berasal dari Papua, Maluku, Minahasa, Toraja, Jawa, Batak dll. Sebut saja sejumlah nama seperti: Pdt Dr Andreas A. Yewangoe (kini Ketua PGI), Pdt Dr Josef Manuel Saruan (Wakil Ketua Sinode GMIM), Pdt Dr Darwin Lumban Tobing (dosen di STT HKBP) dll.
Sejumlah 19 executive summary dari para mantan mahasiswa bimbingannya yang terangkum dalam Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia itu memang belum lengkap mencerminkan keanekaragaman pemikiran teologia kontekstual yang ada di Indonesia. “Itu belum tersistematisasi secara menyeluruh, ia masih seperti bibit-bibit yang akan tumbuh di kebun dogmatika Indonesia di masa mendatang,” katanya.
Tidak Menoleh Lagi
Sularso, lahir 9 Mei 1934, di Yogyakarta. Meski ayahnya, Pdt Sopater (almarhum pada tahun 1945), seorang pendeta semasa Perang Dunia II, Sularso kecil tidak pernah bercita-cita menjadi pendeta karena melihat beratnya pekerjaan itu.
Dia lebih suka pertanian, karenanya SMA-nya pun jurusan ilmu pasti (eksakta). Namun, pengaruh ibunya yang membuat dia melanjutkan studi ke STT Jakarta tahun 1954. “Walau saya masih suka dunia pertanian, namun saat itu saya tidak menoleh lagi,” katanya, menuturkan awal panggilannya sebagai pendeta.
Lulus dari STT dia melayani tugas kependetaan di GKJ Gondokusuman, Yogyakarta, dan sebagai pendeta “hijau” dia mendapat tugas melayani ke tempat-tempat yang jauh dengan mengayuh sepeda. Namun dia mengalami fase-fase “ledakan” pertumbuhan GKJ di tahun-tahun pasca-1965 ketika jumlah jemaat meningkat lebih 100 persen.
Tentu saja dia tidak pernah bercita-cita untuk suatu ketika menjadi Rektor STT Jakarta (1987-1989).
Sularso kini hidup sendiri setelah ditinggalkan oleh mendiang istri tercinta Claudia Kustinah. Namun dia tidak merasa sepi, antara lain karena dekat dengan tiga cucunya, dari dua anak perempuannya Lala dan Woro, yang tinggal hanya berbatas pagar dengan rumahnya di kawasan Jati Kramat, Pondok Gede, Bekasi. Anak lelakinya, Bambang, tinggal di kawasan Jakarta Barat.
Selain itu, pensiun bukan berarti dia berhenti melayani. Mantan Ketua Umum PGI selama dua periode ini (1989-1994, 1994-1999) masih sesekali diminta berkhotbah hari Minggu di sana-sini. Di usianya yang lanjut, mantan anggota DPA ini bahkan kerap bolak-balik Jakarta-Salatiga dengan menumpang mobil atau naik kereta api. Kegiatan ini untuk menyelesaikan revisi Alkitab Bahasa Jawa bersama tim para pendeta dari GKJ. (SH/kristanto hartadi)
Dia padahal paham bahwa etika lebih menarik dan dinamis karena membahas mengenai penerapan dogma dalam kehidupan nyata, sedangkan dogma hanya mengajarkan hal-hal yang ideal. Namun karena menyadari dogmatika merupakan pusat teologi yang menelaah dan menyiasati dogma gereja sebagai sesuatu yang penting dan sentral dalam pemahaman iman (Kristen), bidang itu pun ditekuni dan digelutinya.
Buah ketekunannya itu yang antara lain dituangkan dalam sebuah buku berjudul Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia yang adalah buku penghormatan memperingati 70 tahun Sularso. Buku itu diluncurkan pada 20 September lalu bersamaan dengan HUT STT Jakarta ke-70.
Sularso sendiri lahir pada 9 Mei 1934. “Merekalah buah karya saya, kalau boleh mengatakan begitu,” kata Sularso, dalam petikan wawancara dalam buku tersebut.
Menjadikan “Know How”
Dalam sebuah percakapan beberapa waktu lalu, Sularso menuturkan ketika baru diangkat sebagai pengasuh mata kuliah dogmatika di STT Jakarta, yang dilakukannya adalah menjadikan mata kuliah dogmatika itu sebagai suatu pengetahuan mengenai know how doktrin kristiani sehingga sifatnya lebih oikoumenis dan tidak diarahkan kepada suatu doktrin gereja tertentu.
Situasi pengajaran mata kuliah dogmatika di STT Jakarta ketika itu cenderung seperti itu, sehingga akhirnya hal itu juga memengaruhi jumlah mahasiswa yang mau belajar teologia. Situasi inilah yang kemudian diubahnya.
Lebih dari itu, dia berusaha agar dogmatika itu dapat dimaknakan ke dalam konteks masa kini dan situasi lokal. Ini karena dogmatika yang diajarkan di berbagai sekolah tinggi teologia di Indonesia, maupun buku-buku yang ada, kerap memakai sistematika yang sama, yakni membahas pertama mengenai Theologi (ajaran mengenai Allah), Kristologi (ajaran tentang Kristus), dan Pneumatologi (ajaran tentang Roh Kudus) dan di bawah Kristologi ada Soteriologi (ajaran tentang keselamatan).
“Persoalannya, dogmatika itu disusun oleh para teolog Barat yang tidak menghadapi persoalan seperti halnya pada pendeta atau rohaniwan yang bertugas di berbagai tempat di Indonesia, dimana setiap daerah memiliki nilai-nilai kepercayaan sendiri-sendiri,” katanya.
Dia mencontohkan orang-orang Jawa yang Kristen pada awalnya oleh zending dilarang nembang, wayang, dll karena mengandung unsur filsafat dan mistis. Situasi inilah yang dalam pandangannya membuat orang Kristen di Indonesia kehilangan akar budayanya, sementara pada sisi lain juga tidak bisa sepenuhnya dapat hidup dengan budaya Barat.
Konteks budaya lokal dalam berteologia inilah yang kemudian dikembangkan dan ikut didorongnya sehingga berangsur gending dan karawitan bisa diterima di kalangan Gereja Kristen Jawa (GKJ), misalnya, pada tahun 1960-an
Teologia Nusantara
Ketertarikannya pada teologia kontekstual bermula ketika di STT ada kurikulum 1970 ditambah program South East Asia Graduate School of Theology yang mendorong kontekstualisasi. Ini karena dirasakannya bahwa ajaran-ajaran yang dibawa para misionaris Barat menghilangkan kontekstualitas itu, sehingga teologia Kristen serasa budaya Barat.
“Bagaimana pun, kita harus mendekati sendiri materi realitas kita, bukan realitas Barat,” katanya.
Disertasinya untuk mencapai gelar doktor teologi dari STT Jakarta berjudul “Inti Ajaran Valentinian dan Inti Ajaran Pangestus, Suatu Pembandingan” (1983).
Dia baru mulai mengajar di STT Jakarta pada 1978, dan setelah menyelesaikan doktornya, dia menggantikan Prof. Sudarmo sebagai pengajar mata kuliah dogmatika. Dua tahun kemudian dia menjadi Guru Besar Dogmatika di STT Jakarta.
Sularso banyak membimbing para mahasiswanya, khususnya pada jenjang S2 dan S3, mengenai teologia kontekstual. Walau tidak sempat menulis buku dogmatika, tapi Sularso berhak mengklaim para mahasiswa pascasarjana yang pernah dibimbingnya itu sebagai “hasil karyanya”.
Para mahasiswa S2 dan S3 yang dibimbingnya, pada umumnya berasal dari berbagai denominasi gereja, dalam pilihan karya-karya ilmiah terakhir mereka selalu memilih tema pergumulan yang mereka hadapi ketika terjadi perjumpaan teologia antara dogma kristiani yang mereka pahami dan pelajari dengan doktrin berbagai agama dan kepercayaan di Nusantara.
Sejauh ini, hasil bimbingannya telah mencerminkan kontektualitas pemikiran para mahasiswa pasca sarjananya yang beraneka ragam, karena mereka berasal dari Papua, Maluku, Minahasa, Toraja, Jawa, Batak dll. Sebut saja sejumlah nama seperti: Pdt Dr Andreas A. Yewangoe (kini Ketua PGI), Pdt Dr Josef Manuel Saruan (Wakil Ketua Sinode GMIM), Pdt Dr Darwin Lumban Tobing (dosen di STT HKBP) dll.
Sejumlah 19 executive summary dari para mantan mahasiswa bimbingannya yang terangkum dalam Kontekstualisasi Pemikiran Dogmatika di Indonesia itu memang belum lengkap mencerminkan keanekaragaman pemikiran teologia kontekstual yang ada di Indonesia. “Itu belum tersistematisasi secara menyeluruh, ia masih seperti bibit-bibit yang akan tumbuh di kebun dogmatika Indonesia di masa mendatang,” katanya.
Tidak Menoleh Lagi
Sularso, lahir 9 Mei 1934, di Yogyakarta. Meski ayahnya, Pdt Sopater (almarhum pada tahun 1945), seorang pendeta semasa Perang Dunia II, Sularso kecil tidak pernah bercita-cita menjadi pendeta karena melihat beratnya pekerjaan itu.
Dia lebih suka pertanian, karenanya SMA-nya pun jurusan ilmu pasti (eksakta). Namun, pengaruh ibunya yang membuat dia melanjutkan studi ke STT Jakarta tahun 1954. “Walau saya masih suka dunia pertanian, namun saat itu saya tidak menoleh lagi,” katanya, menuturkan awal panggilannya sebagai pendeta.
Lulus dari STT dia melayani tugas kependetaan di GKJ Gondokusuman, Yogyakarta, dan sebagai pendeta “hijau” dia mendapat tugas melayani ke tempat-tempat yang jauh dengan mengayuh sepeda. Namun dia mengalami fase-fase “ledakan” pertumbuhan GKJ di tahun-tahun pasca-1965 ketika jumlah jemaat meningkat lebih 100 persen.
Tentu saja dia tidak pernah bercita-cita untuk suatu ketika menjadi Rektor STT Jakarta (1987-1989).
Sularso kini hidup sendiri setelah ditinggalkan oleh mendiang istri tercinta Claudia Kustinah. Namun dia tidak merasa sepi, antara lain karena dekat dengan tiga cucunya, dari dua anak perempuannya Lala dan Woro, yang tinggal hanya berbatas pagar dengan rumahnya di kawasan Jati Kramat, Pondok Gede, Bekasi. Anak lelakinya, Bambang, tinggal di kawasan Jakarta Barat.
Selain itu, pensiun bukan berarti dia berhenti melayani. Mantan Ketua Umum PGI selama dua periode ini (1989-1994, 1994-1999) masih sesekali diminta berkhotbah hari Minggu di sana-sini. Di usianya yang lanjut, mantan anggota DPA ini bahkan kerap bolak-balik Jakarta-Salatiga dengan menumpang mobil atau naik kereta api. Kegiatan ini untuk menyelesaikan revisi Alkitab Bahasa Jawa bersama tim para pendeta dari GKJ. (SH/kristanto hartadi)
