Saturday, December 18, 2004

Menguak Sinterklas yang Sebenarnya

Oleh Renne Kawilarang

Seperti halnya kota-kota lain di Inggris, para keluarga di Birmingham sejak awal Desember sudah sibuk berbelanja pernak-pernik, lampu, maupun hiasan Natal untuk dipajang di rumah mereka. Banyak kafe, bar, dan toko, walau pemiliknya ada yang beragama Muslim dan Hindu, juga ikut memasang pohon-pohon terang sebagai etalase untuk memikat pengunjung.
Namun pemandangan yang paling sering ditemui adalah orang-orang yang berdandan ala Santa Claus alias Noel Baba alias Sinterklas, tokoh favorit yang selalu muncul menjelang perayaan Hari Natal.
Mulai dari pergi ke bar untuk berpesta, mencari uang, sampai mengikuti turnamen lari maraton, pasti ada yang memakai topi atau kostum merah khas Sinterklas. Berunjuk rasa-pun juga memakai kostum Sinterklas seperti yang dilakukan akhir pekan lalu di London.
Berkat imajinasi para pujangga Amerika dan gencarnya iklan perusahaan minuman ringan Coca-Cola, tokoh suci asal Turki bernama Santo (St) Nicholas berubah menjadi kakek periang nan menggemaskan bernama Sinterklas yang membawa banyak hadiah dengan mengendarai kereta yang ditarik sekelompok rusa terbang dari Kutub Utara.
Seperti yang diberitakan harian “The Sunday Times” akhir pekan lalu, para ilmuwan telah merampungkan rekonstruksi wajah “Sinterklas” yang sebenarnya. Dengan memanfaatkan kecanggihan komputer seorang antropolog dari Universitas Manchester, Caroline Wilkinson, menyajikan wajah St.Nicholas dalam bentuk tiga dimensi.
Perupaan tersebut bersumber dari penelitian tulang tengkorak St. Nicholas yang dilakukan atas seizin Gereja Vatikan di Gereja San Nicola, Bari, Italia, pada dekade 1950-an.
Hasilnya sungguh berbeda dari rupa Sinterklas yang sering kita saksikan melalui berbagai iklan dan kartu ucapan. Seperti yang ditayangkan stasiun televisi BBC pada akhir pekan ini, wajah St. Nicholas yang sebenarnya, menurut versi komputer, merupakan seorang pria berewok berhidung patah berusia 60-an tahun yang sepintas lebih mirip seorang kriminal ketimbang seorang kakek yang lucu.

St. Nicholas yang Legendaris
Menurut data yang dihimpun situs lembaga sosial asal Amerika, St. Nicholas Center, Nicholas lahir pada abad ke-3, konon pada tahun 270, di Desa Patara, sebelah selatan Turki, yang dulu masih bernama Bynzantium di bawah kekuasan Kekaisaran Romawi.
Dia merupakan anak keluarga berada, namun Nicholas kecil menjadi yatim-piatu saat kedua orang tuanya wafat karena wabah penyakit.
Kepatuhannya atas ajaran cinta kasih kepada sesama yang dilakukan Yesus Kristus seperti yang tertulis di Alkitab membuat Nicholas tidak segan-segan menyisihkan kekayaan yang diwariskan orang tuanya kepada mereka yang berkekurangan, sakit, maupun yang sedang menderita.
Sifat kedermawanannya yang melekat membuat Nicholas muda mengabdikan dirinya untuk melayani sesama dengan menjadi uskup di Kota Myra. Nama Nicholas menjadi terkenal di penjuru Myra karena secara tulus membantu masyarakat yang lemah, para pelaut, dan sangat sayang kepada anak-anak.
Sifat welas asih Nicholas tak pelak menjadi legenda dan salah satunya yang terkenal, yaitu kisah seorang ayah dan tiga anak perempuannya yang hidup dalam kemiskinan. Demi menyambung hidup, tiada jalan keluar bagi ayah tersebut selain melepas ketiga putrinya sebagai pengantin.
Masalahnya, mereka tidak punya harta yang berharga sebagai mas kawin untuk memikat mempelai laki-laki. Menurut tradisi setempat, semakin berharga mas kawin yang disediakan, makin besar peluang untuk dipersunting laki-laki dari kaum berada.
Keajaiban terjadi di tengah kegundahan ayah tersebut, yang berencana melacurkan ketiga putrinya demi mendapatkan mas kawin. Tiga malam berturut-turut sekantung emas dilemparkan ke dalam rumah keluarga tersebut sebagai pengganti mas kawin.
Pada malam ketiga, ayah ketiga putri tersebut mengintip untuk mencari tahu siapa yang melempar kantung-kantung emas itu. Keesokan harinya dia tidak segan-segan untuk mengabarkan ke penjuru Kota Myra bahwa Nicholas-lah yang memberikan kebaikan kepada mereka.
Kisah tersebut akhinya memunculkan tradisi di negara-negara Barat bahwa menjelang hari Natal anak-anak membantu orang tua mereka memasang beberapa kantung atau kaus kaki panjang di dekat Pohon Terang. Siapa tahu Sinterklas akan menaruh hadiah di kantung-kantung tersebut pada suatu malam.
Selain itu ada juga cerita bahwa yang dilempar Nicholas kepada rumah keluarga miskin tersebut bukanlah tiga kantung emas melainkan bola-bola emas. Itulah sebabnya Sinterklas juga disimbolkan dengan tiga bola emas, yang bisa juga diganti dengan jeruk.
Nicholas juga dikabarkan sempat mendekam di penjara dan menjalani masa pengasingan atas perintah Kaisar Diocletian, yang sangat antikristiani. Konon sebagian besar penghuni penjara Romawi merupakan para uskup dan kaum rohaniwan ketimbang bramacorah maupun pembunuh.
Setelah bebas, Nicholas tetap setia menjadi pengikut Kristus dan menerapkan ajaran cinta kasih kepada umat dan masyarakat sekitar hingga akhir hayatnya pada tanggal 6 Desember 343 dan dimakamkan di gereja di Myra. Tidak lama kemudian dia dianugerahi gelar oleh Gereja Vatikan sebagai orang suci (Santo). Tanggal wafatnya diperingati sebagai hari perayaan Santo Nicholas.

Jasadnya Diperebutkan
Sayang, kepicikan kalangan rohaniwan Kristen Eropa di abad pertengahan membuat jasad St.Nicholas tidak dapat beristirahat dengan tenang dan diperlakukan sebagai barang dagangan karena dianggap benda keramat untuk menarik minat banyak peziarah sehingga mendatangkan keuntungan bagi tempat ibadah dan kota setempat.
Menurut data dari The Sunday Times Magazine, konon beberapa gereja memiliki potongan tulang belulang St. Nicholas. Tiga gereja di Prancis mengklaim memiliki beberapa tulang St. Nicholas, seperti di gereja di Toulouse yang menyimpan tulang jari, gereja di Rimini yang mengoleksi tulang lengan, sedangkan di Corbie menyimpan potongan gigi.
Namun yang paling terkenal adalah gereja di Bari yang menyimpan tengkorak St. Nicholas hasil curian dari kuburan di gereja di Turki. Pada awal bulan Mei 1087, sekelompok tentara bayaran dan pelaut Kristen asal kota Bari, Italia, berhasil menyelinap ke kota pelabuhan Myra di sebelah selatan Turki menuju ke suatu biara. Di biara tersebut, konon mereka berhasil mencuri tulang belulang St. Nicholas. Pencurian tersebut sampai kini tetap dikenang melalui prosesi tahunan yang dilakukan setiap tanggal 6 Mei di lepas pantai Bari.
Gereja San Nicola, Bari, yang menyimpan tulang-belulang curian tersebut kini menjadi salah satu tempat ziarah paling favorit di Eropa. Menurut pakar sejarah teologi dari Universitas Oxford, Pendeta Alister McGrath, kepemilikan tulang-belulang St.Nicholas di beberapa gereja terkait dengan pemahaman bahwa kepemilikan benda-benda keramat erat kaitannya dengan doktrin kekuasaan gereja di abad pertengahan.
“Makin banyak benda keramat yang disimpan di suatu gereja, makin besar pula dominasi gereja tersebut di tengah banyaknya tempat ibadah. Ziarah mendatangkan bisnis dan kepemilikan benda-benda keramat dari orang suci menarik banyak turis,” kata McGrath.

Evolusi menjadi Sinterklas
Di Eropa hari wafatnya Santo Nicholas, 6 Desember, ditetapkan sebagai hari raya. Tradisi tersebut muncul berkat kebiasaan yang dilakukan para biarawati Prancis pada abad ke-12.
Diilhami dari kisah “tiga kantung emas” tersebut, pada malam hari raya Santo Nicholas para biarawati selalu membagikan hadiah kepada keluarga-keluarga miskin berupa kacang, jeruk, dan manisan yang dibungkus dalam kantung. Kebiasaan tersebut menyebar ke daerah-daerah di sekitar Prancis dan akhirnya menjadi tradisi di penjuru Eropa.
Namun pada abad ke-16, popularitas perayaan St. Nicholas mengundang kegundahan bagi kalangan rohaniwan gereja Protestan di Jerman dan Belanda yang meyakini bahwa tokoh yang sepatutnya disembah hanyalah Yesus Kristus.
Mulanya kalangan gereja sempat melarang masyarakat membawa dan membagikan manisan di hari raya St. Nicholas, seperti yang terjadi di Amsterdam. Namun larangan tersebut hanya mengakibatkan kemarahan dan pembangkangan dari masyarakat dan akhirnya tidak populer.
Tradisi perayaan St. Nicholas kemudian diperkenalkan para imigran Belanda di Amerika Serikat (AS). Namun di negeri Paman Sam itulah citra St. Nicholas secara bertahap “dipercantik” oleh para pujangga setempat dari sekadar orang baik dan suci menjadi seorang kakek sakti yang gemar berkelana.
Mula-mula seorang penulis bernama Washington Irving pada tahun 1809 mencitrakan St. Nicholas sebagai pelindung Kota New York yang berkelana dengan kuda. Pada tahun 1822, pujangga bernama Clement C. Moore melalui sajaknya A Visit from St. Nicholas berkhayal bahwa St. Nicholas mengendarai kereta yang ditarik rusa-rusa terbang untuk membawa hadiah kepada anak-anak baik melalui cerobong asap rumah.
Kemudian seorang kartunis bernama Thomas Nast dalam koran Harper’s Weekly pada tahun 1860 menggambarkan tampilan fisik St. Nicholas sebagai orang tua yang menghisap cerutu, berjanggut putih lebat, dan memakai ikat pinggang besar. Sejak saat itu St.Nicholas dirubah namanya menjadi Santa Claus atau Sinterklas.
Kartu natal yang menggambarkan Sinterklas memakai jubah merah sebenarnya pertama kali muncul pada tahun 1885. Namun pihak yang paling berperan memperkenalkan Sinterklas dengan tampilan seperti di atas adalah perusahaan minuman ringan, Coca- Cola.
Selama lebih dari 30 tahun berturut-turut sejak 1931, setiap kali menayangkan iklan bertema Natal, Coca-Cola sukses mempertahankan wujud Sinterklas sebagai kakek tambun berjanggut putih, periang, berkelana dengan kereta yang ditarik sekelompok rusa terbang sambil membawa hadiah untuk anak-anak. Karakter St. Nicholas yang bersahaja akhirnya tergantikan oleh Sinterklas yang lucu dengan tawanya yang khas ho..ho..ho..ho.
Tampilan Sinterklas yang periang dengan pipi tembam kemerah-merahan versi khayalan para pujangga Amerika dan Coca-Cola lebih menarik ketimbang perkiraan rupa asli St.Nicholas versi komputer yang terlihat menyedihkan dan tidak komersil. Namun yang jelas tampilan Sinterklas tersebut berhasil menggeser karakter asli St. Nicholas, seperti yang diungkapkan seorang pengusaha asal Turki, Sami Dundar, kepada harian The Wall Street Journal.
Bila St.Nicholas menjadi suri teladan bagi umat Kristiani, menurut Dundar, Sinterklas justru bukan mewakili agama manapun. “Dia adalah industri,” kata Dundar suatu ketika.

Penulis adalah seorang wartawan, tinggal di Birmingham

Saturday, December 11, 2004

Tasum Sudarohi, Tak Ingin seperti Kaum “Mardjiker”

Oleh Job Palar

JAKARTA-Tasum Sudarohi hanya penjual es dan teh botol di depan Gereja Sion, di Jl. Pangeran Jayakarta. Kala ibadah gereja di hari Minggu selesai dan jemaat keluar dari gedung gereja hendak pulang, itulah momen terbaik bagi Tasum. Dagangannya bakal laris manis. Itu semua dijalaninya pada tahun 1983.
Memang Tasum tak hanya mengandalkan momen selesainya ibadah gereja. Tak akan cukup momen seminggu sekali itu untuk memenuhi kebutuhannya. Ia pun mengambil bagian trotoar jalan, tetap di depan Gereja Sion, untuk mangkal sehari-hari. Saat itu, Jl Pangeran Jayakarta belum dilebarkan seperti sekarang ini.
Sepanjang hari, sepanjang minggu, Tasum dengan setia berdagang di depan Gereja Sion. Mau tak mau, interaksi pun terjadi. Gereja Sion yang dibangun pada tahun 1965 ini sekarang telah menjadi gereja tertua di Jakarta. Gereja Sion memang terkesan gagah dan anggun baik dari luar maupun dari dalam, namun keramahan dan kesahajaan rupanya tetap berpendar.
Melihat kesetiaan Tasum berdagang di depan gereja, akhirnya pengurus gereja pun tergerak untuk membuat nasibnya lebih baik. Pada tahun 1987, Tasum pun ditawari bekerja di gereja.
Tasum tak menunggu lama untuk mempertimbangkan tawaran yang datang itu. Ini pekerjaan yang jauh lebih baik dengan gaji yang lebih pasti, pikirnya.
Tasum pun diangkat menjadi pegawai gereja pada 12 Oktober 1987. Tugasnya bermacam-macam, dari merawat halaman gereja, menjaga kebersihan gereja, sampai mempersiapkan berbagai peralatan yang diperlukan saat gereja akan melaksanakan ibadah. Gaji tetap pun ia terima.
Gereja Sion dulu dikenal dengan nama gereja Portugis. Ada dua gereja yang dikenal dengan sebutan gereja Portugis, pertama Gereja Sion yang dijuluki “Gereja Portugis di luar Kota” dan Gereja Binnenkerk yang disebut “Gereja Portugis di dalam Kota”. Namun, yang terakhir ini telah habis terbakar pada tahun 1808, sementara Gereja Sion tetap berdiri tegak dengan segala kemegahannya sampai hari ini.
Sebutan untuk “Kota” di atas mengacu pada wilayah Batavia sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda.
Orang Portugis sendiri tidak pernah berkuasa di Batavia. Sebutan Gereja Portugis muncul karena banyaknya budak belian dari pesisir India, khususnya Pantai Koromandel dan Malabar, dan dari Bengal dan Arakan, atau Sri Lanka yang diangkut Belanda sebagai tawanan perang ke Batavia. Sebelumnya, para budak belian itu milik Portugis, namun Portugis kalah perang dalam perebutan sumber rempah-rempah di Asia oleh Belanda.
Para budak belian itu masuk ke Batavia sekitar tahun 1628, dan mereka berbahasa Portugis. Mereka adalah penganut Katolik yang taat, tetapi pemerintah Belanda menekan mereka untuk tidak mengamalkan agama mereka. Akhirnya sedikit demi sedikit mereka beralih ke Protestan, dan mereka pun dibebaskan dari status budak. Jadilah istilah “Mardjiker” muncul yang memiliki kesamaan makna dengan “merdeka”.

Orang Kampung
Apa kata orang kampungnya di Cirebon yang tahu Tasum kerja di gereja? Tasum notabene beragama Islam, dan sampai saat ini pun dia tetap seorang muslim. “Ah, biarin aja. Kan saya kerja halal. Lagian, orang gereja juga baik-baik sama saya. Saya nggak pernah diajak ikut kebaktian. Jadi, saya nggak khawatir sama anggapan orang kampung saya,” katanya.
Walau begitu, Tasum mengakui ada suara-suara miring tentang keberadaan Tasum di Gereja Sion, namun dia tak ambil pusing. “Emangnya orang-orang itu yang mau kasih makan anak-istri saya di kampung?” katanya.
Memang sejatinya, ia ingin sekali mengajak anak dan istri tinggal bersamanya di Jakarta, daripada seperti saat ini di mana dia cuma bisa mengunjugi keluarga di Cirebon beberapa kali saja dalam setahun. Namun, apa daya. Walaupun penghasilannya saat ini lebih baik daripada berdagang minuman, ia tetap tak bisa membiayai tempat tinggal keluarganya jika harus mengontrak di Jakarta.
“Uangnya nggak cukup. Saya saja sekarang tinggalnya pindah-pindah, kadang di rumah teman saya, kadang di mana saja di gereja ini yang bisa saya pakai untuk rebahan,” katanya.
Sebelumnya, Tasum memiliki sedikit ruang di belakang gereja, di sebuah sudut. Ia dan istri sempat pula tinggal di sudut itu. Namun, saat mertuanya meninggal di kampung, istrinya “ditarik” pulang untuk mengurusi harta benda yang tersisa di kampung. Saat itu, dia belum mempunyai anak.
Setelah gereja dibenahi, Tasum tak diizinkan lagi memakai ruang itu. Jadilah saat ini Tasum tidur di tempat yang tak tentu. Untunglah sang istri sudah berada di kampung halaman. Di sana juga anak-anak Tasum lahir.
Memang ada ketentuan bahwa gereja tak bisa dijadikan tempat untuk tinggal. Pendeta yang bertugas di gereja itu pun tidak tinggal di gedung gereja, tetapi di sebuah rumah khusus yang biasanya dibangun di belakang gereja. Rumah itu biasa dikenal dengan pastori.
Wajar saja jika Tasum diperlakukan sama dengan pegawai atau pengurus gereja lainnya yang memang tidak boleh tinggal di gedung gereja atau di pastori. Sayangnya, gereja tak menggaji Tasum dengan cukup besar untuk membuat dia mampu bertahan bersama keluarga di sebuah kota metropolitan semacam Jakarta.
“Mending duitnya saya kirim buat keluarga di kampung. Di sini mah saya bisa urus diri saya sendiri. Saya cukup-cukupkan saja kebutuhan hidup di sini. Yang jelas, saya nggak mau dagang lagi. Saya sudah dikasih yang jauh lebih baik oleh gereja, saya juga tidak akan nuntut macam-macamlah,” katanya.
Yang membuat dia betah tetap kerja di gereja dan rajin mempersiapkan segala kebutuhan gereja untuk ibadah adalah interaksi yang bersahabat antara dia dan para jemaat. “Jemaatnya baik-baik, saya punya banyak kenalan di sini.”
Perayaan Natal menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu juga oleh Tasum. Pengelola gereja memberi tunjangan hari raya dan bingkisan-bingkisan. “Pas Lebaran, saya malah nggak dapat apa-apa,” katanya.
Tapi itu tak masalah bagi Tasum. Kepedulian pengurus gereja dan jemaat menjadi bagian terpenting bagi Tasum sehingga dia betah bekerja di sana.

Harapan
Harapan Tasum ke depan tak banyak. Dia hanya ingin gereja ini terpelihara dengan baik dan pemda peduli pada gedung gereja ini. Gereja Sion memang telah ditetapkan menjadi jagar budaya oleh Pemda DKI Jakarta, namun wilayahnya telah terkikis sedikit demi sedikit atas nama pembangunan.
Tasum tak ingin seperti Kaum Mardjiker yang saat ini telah menghilang dari lingkungan Gereja Sion. Tak ada lagi “jemaat asli” di Gereja Sion. Keturunan Kaum Mardjiker telah menyingkir dari sana dan kebanyakan dari mereka menetap di Gereja Tugu.
Tasum sebagai pendatang yang mengadu nasib di Ibu Kota akhirnya mampu bertahan dan hidup berkat gereja yang mempekerjakannya. Dia tak bisa membayangkan jika tiba-tiba gereja memberhentikannya sehingga dia harus menyingkir. “Saya akan di sini sampai gereja sudah tak membutuhkan saya lagi,” katanya mantap.
Di sisi lain, tak ada niat sedikit pun bagi pengurus gereja untuk mempengaruhi keimanan Tasum, dan Tasum pun tak terusik dengan kegiatan kerohanian yang setiap kali diadakan di gereja. Dia malah membantu mempersiapkan segala yang diperlukan untuk kebutuhan ibadah.