Kokok Setia Gereja Ayam
Oleh Martha Ringo
ANGKUTAN kota M-12 jurusan Senen-Kota yang saya tumpangi sedang terjebak macet di Jalan Samanhudi, Jakarta Pusat, saat celoteh-celoteh ini mengganggu lamunan. "Kenapa diberi nama Jalan Gereja Ayam, ya?" "Ooo, di sebelahnya kan, ada gereja yang ada patung ayamnya." "Kenapa ayam?" "Mungkin dulu ada peternakan ayam di sini. Atau karena di sekitar daerah ini banyak ‘ayam’-nya?" ungkap yang lain sambil menunjuk beberapa tempat hiburan yang tak jauh dari bangunan tua peninggalan Belanda itu. "Ah, kamu ada-ada saja," teman lain menimpali.
Penasaran. Saya mendongakkan kepala ke atas bangunan yang dimaksud. Tampak seekor ayam jago bertengger di puncak menara gereja. Sendirian. Dahi saya mengernyit. Ayam? Apa tidak salah?
Bangunan yang terletak di Jalan Samanhudi Nomor 12 ini pertama kali dibangun pada 1850. Saat itu masih berupa kapel atau gereja kecil. Lalu pada 1915, barulah bangunan yang tak jauh dari Pasar Baru ini dipugar menjadi gedung gereja yang cukup besar dengan kapasitas sekitar 1.500 orang. Arsitek Cuypers dan Hulswit merancang bangunan ini dalam perpaduan gaya Italia dan Portugis.
Interior bangunan kuno ini terbilang awet. Kursi, mimbar, dan perabotan lain yang terbuat dari kayu jati masih asli peninggalam zaman Belanda. Gedung gereja ini bahkan menyimpan sebuah Alkitab kuno cetakan 1855. Kitab ini hanya satu-satunya di Indonesia. Ada satu lagi kembarannya, itu pun tersimpan di Negerinya Ratu Julianan sono.
Selain tua, Alkitab ini terbilang unik lantaran ukurannya besar. Relief di Kitab Suci ini juga menawan. Usia yang sepuh membuat lembaran dan jilid Kitab ini sedikit rusak. Karenanya, buku ini sempat diboyong ke Belanda selama setahun untuk diperbaiki. Hingga kini, Alkitab ini tetap lestari.
Menilik sejarahnya, bangunan ini sempat direnovasi beberapa kali. Entah karena kerusakan akibat materialnya yang sudah lapuk atau lantaran tak memadai lagi melayani para jemaat. "Yang pasti perbaikannya hanya tambal sulam saja. Tidak mengubah bentuk asli," kata Gembala Sidang Gereja Ayam James Manahanti.
Pernah pula gereja yang semula dikenal dengan Gereja Baru ini diperbaiki gara-gara diserang massa pada peristiwa kerusuhan 1998. Secuil kisah mukjizat muncul dalam kejadian kelabu ini. Waktu itu, kata James, ratusan orang berusaha menerobos pagar untuk menyerang bangunan. Namun usaha tersebut gagal, padahal, gereja sedang tidak diamankan oleh siapapun. "Kami percaya ini adalah berkat Tuhan," ungkap dia.
Sebenarnya, bangunan ibadah ini mempunyai nama lengkap Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pniel. Namun karena nama “ayam” sudah melekat sejak lama, orang lebih sering menyebutnya Gereja Ayam. Di zaman Batavia dulu, mulai dari ambtner gubernermen sampai kusir sado menyebutnya Haantjes Kerk.
Nama “ayam”, jelas James, sesuai sejarah, dipilih karena mengingatkan pada peristiwa penyangkalan Petrus terhadap Kristus. Injil mencatat ayam langsung berkokok tiga kali sesaat setelah Petrus membantah identitasnya sebagai murid Yesus.
"Maka diharapkan, setiap melihat lambang ini orang Kristen diingatkan agar setia pada Kristus," tutur James. Pejabat Gereja Ayam yang bergabung sejak dua tahun silam ini menambahkan ayam juga dianggap melambangkan kehidupan. Hewan jenis unggas inilah yang setiap pagi membangunkan segala makhluk dari tidur.
Gereja Ayam tak sekadar aset budaya. Tempat ibadah yang beranggotakan sekitar 2.000-an jiwa ini juga menjadi garam bagi masyarakat sekitar. Para hamba Tuhan di sana tak menutup mata bahwa kehadiran beberapa tempat hiburan di sekitar daerah ini menimbulkan efek tersendiri, seperti prostitusi, perjudian, dan obat-obatan terlarang.
Untuk itu, para pelayan Gereja Ayam berusaha bergaul dengan penduduk yang terlibat kegiatan-kegiatan itu. Salah satu caranya adalah dengan pendekatan ke rumah-rumah. Pelayan Gereja Ayam mendata umat Nasrani setempat dan melayani mereka dengan siraman rohani.
"Kami di sini merangkul umat. Beberapa orang yang dianggap sampah masyarakat pun, saya ketahui berjemaat di sini. Kami membangkitkan iman dan merangkul dengan kasih. Sesuai falsafah ayam yang membangunkan kehidupan di pagi hari," ucap James.
Melihat segala keunikan tersebut, pantaslah kalau Gereja Ayam dikategorikan aset budaya yang berharga. Ia sejajar dengan bangunan-bangunan tua lain yang beberapa masih bertebaran di kawasan Pasar Baru, seperti Masjid Lautze yang dibangun komunitas muslim Cina dan Vihara Tri Ratna yang dibangun sekitar pertengahan Abad XIX. Sejumlah wisatawan mancanegara, terutama dari Belanda, terhitung kerap bertandang ke sana.
Namun, James menyayangkan ketiadaan perhatian pemerintah pada gereja yang berdiri di lahan seluas 2.500 hektare ini. "Bangunan tua seperti ini kan butuh biaya pemeliharaan yang tidak kecil. Saya harap pemerintah daerah menyadari nilai sejarah yang terkandung di dalamnya," James berharap.
Menurut hamba Tuhan asal Sanger, Sulawesi Utara, itu saat ini pihak gereja tengah mengupayakan hal tersebut, antara lain dengan cara mengumpulkan informasi seputar sejarah dan nilai Gereja Ayam. Pemerintah diharapkan memasukkannya ke dalam ketegori cagar budaya sehingga pemerintah bisa membantu dalam hal biaya.
"Kalau hanya mengandalkan uang gereja dan jemaat, tidak cukup," James menegaskan. Ya, semoga pemerintah peduli, agar kokok Gereja Ayam tetap bergaung.
Oleh Martha Ringo
ANGKUTAN kota M-12 jurusan Senen-Kota yang saya tumpangi sedang terjebak macet di Jalan Samanhudi, Jakarta Pusat, saat celoteh-celoteh ini mengganggu lamunan. "Kenapa diberi nama Jalan Gereja Ayam, ya?" "Ooo, di sebelahnya kan, ada gereja yang ada patung ayamnya." "Kenapa ayam?" "Mungkin dulu ada peternakan ayam di sini. Atau karena di sekitar daerah ini banyak ‘ayam’-nya?" ungkap yang lain sambil menunjuk beberapa tempat hiburan yang tak jauh dari bangunan tua peninggalan Belanda itu. "Ah, kamu ada-ada saja," teman lain menimpali.
Penasaran. Saya mendongakkan kepala ke atas bangunan yang dimaksud. Tampak seekor ayam jago bertengger di puncak menara gereja. Sendirian. Dahi saya mengernyit. Ayam? Apa tidak salah?
Bangunan yang terletak di Jalan Samanhudi Nomor 12 ini pertama kali dibangun pada 1850. Saat itu masih berupa kapel atau gereja kecil. Lalu pada 1915, barulah bangunan yang tak jauh dari Pasar Baru ini dipugar menjadi gedung gereja yang cukup besar dengan kapasitas sekitar 1.500 orang. Arsitek Cuypers dan Hulswit merancang bangunan ini dalam perpaduan gaya Italia dan Portugis.
Interior bangunan kuno ini terbilang awet. Kursi, mimbar, dan perabotan lain yang terbuat dari kayu jati masih asli peninggalam zaman Belanda. Gedung gereja ini bahkan menyimpan sebuah Alkitab kuno cetakan 1855. Kitab ini hanya satu-satunya di Indonesia. Ada satu lagi kembarannya, itu pun tersimpan di Negerinya Ratu Julianan sono.
Selain tua, Alkitab ini terbilang unik lantaran ukurannya besar. Relief di Kitab Suci ini juga menawan. Usia yang sepuh membuat lembaran dan jilid Kitab ini sedikit rusak. Karenanya, buku ini sempat diboyong ke Belanda selama setahun untuk diperbaiki. Hingga kini, Alkitab ini tetap lestari.
Menilik sejarahnya, bangunan ini sempat direnovasi beberapa kali. Entah karena kerusakan akibat materialnya yang sudah lapuk atau lantaran tak memadai lagi melayani para jemaat. "Yang pasti perbaikannya hanya tambal sulam saja. Tidak mengubah bentuk asli," kata Gembala Sidang Gereja Ayam James Manahanti.
Pernah pula gereja yang semula dikenal dengan Gereja Baru ini diperbaiki gara-gara diserang massa pada peristiwa kerusuhan 1998. Secuil kisah mukjizat muncul dalam kejadian kelabu ini. Waktu itu, kata James, ratusan orang berusaha menerobos pagar untuk menyerang bangunan. Namun usaha tersebut gagal, padahal, gereja sedang tidak diamankan oleh siapapun. "Kami percaya ini adalah berkat Tuhan," ungkap dia.
Sebenarnya, bangunan ibadah ini mempunyai nama lengkap Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pniel. Namun karena nama “ayam” sudah melekat sejak lama, orang lebih sering menyebutnya Gereja Ayam. Di zaman Batavia dulu, mulai dari ambtner gubernermen sampai kusir sado menyebutnya Haantjes Kerk.
Nama “ayam”, jelas James, sesuai sejarah, dipilih karena mengingatkan pada peristiwa penyangkalan Petrus terhadap Kristus. Injil mencatat ayam langsung berkokok tiga kali sesaat setelah Petrus membantah identitasnya sebagai murid Yesus.
"Maka diharapkan, setiap melihat lambang ini orang Kristen diingatkan agar setia pada Kristus," tutur James. Pejabat Gereja Ayam yang bergabung sejak dua tahun silam ini menambahkan ayam juga dianggap melambangkan kehidupan. Hewan jenis unggas inilah yang setiap pagi membangunkan segala makhluk dari tidur.
Gereja Ayam tak sekadar aset budaya. Tempat ibadah yang beranggotakan sekitar 2.000-an jiwa ini juga menjadi garam bagi masyarakat sekitar. Para hamba Tuhan di sana tak menutup mata bahwa kehadiran beberapa tempat hiburan di sekitar daerah ini menimbulkan efek tersendiri, seperti prostitusi, perjudian, dan obat-obatan terlarang.
Untuk itu, para pelayan Gereja Ayam berusaha bergaul dengan penduduk yang terlibat kegiatan-kegiatan itu. Salah satu caranya adalah dengan pendekatan ke rumah-rumah. Pelayan Gereja Ayam mendata umat Nasrani setempat dan melayani mereka dengan siraman rohani.
"Kami di sini merangkul umat. Beberapa orang yang dianggap sampah masyarakat pun, saya ketahui berjemaat di sini. Kami membangkitkan iman dan merangkul dengan kasih. Sesuai falsafah ayam yang membangunkan kehidupan di pagi hari," ucap James.
Melihat segala keunikan tersebut, pantaslah kalau Gereja Ayam dikategorikan aset budaya yang berharga. Ia sejajar dengan bangunan-bangunan tua lain yang beberapa masih bertebaran di kawasan Pasar Baru, seperti Masjid Lautze yang dibangun komunitas muslim Cina dan Vihara Tri Ratna yang dibangun sekitar pertengahan Abad XIX. Sejumlah wisatawan mancanegara, terutama dari Belanda, terhitung kerap bertandang ke sana.
Namun, James menyayangkan ketiadaan perhatian pemerintah pada gereja yang berdiri di lahan seluas 2.500 hektare ini. "Bangunan tua seperti ini kan butuh biaya pemeliharaan yang tidak kecil. Saya harap pemerintah daerah menyadari nilai sejarah yang terkandung di dalamnya," James berharap.
Menurut hamba Tuhan asal Sanger, Sulawesi Utara, itu saat ini pihak gereja tengah mengupayakan hal tersebut, antara lain dengan cara mengumpulkan informasi seputar sejarah dan nilai Gereja Ayam. Pemerintah diharapkan memasukkannya ke dalam ketegori cagar budaya sehingga pemerintah bisa membantu dalam hal biaya.
"Kalau hanya mengandalkan uang gereja dan jemaat, tidak cukup," James menegaskan. Ya, semoga pemerintah peduli, agar kokok Gereja Ayam tetap bergaung.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home