“Love will Keep Us Alive”
Oleh Margareth Sandra
Biarpun warisan dari orangtua, kaset tua yang menyanyikan lagu-lagu grup Band Eagles itu masih suka kuputar. Beberapa lagu yang dilantunkan menyentuh, terutama karena kesederhanaan lirik dan melodinya. Ada satu lagu yang selalu terngiang di telingaku sejak beberapa minggu ini, judulnya Love will Keep Us Alive.
Lagu itu mengatakan bahwa cinta kasih memberi semangat hidup, sekaligus mengingatkan, bahwa hidup adalah berkah, yang mesti disyukuri dan diperjuangkan. Sederhana sekali. Hanya itu yang dikatakan.
Ingat lagu-lagu kanak-kanak gubahan Pak Kasur atau Pak AT. Mahmud? Kadang lagunya hanya terdiri dari empat baris kata, dan dengan melodi sederhana dalam satu tangga nada. Sampai sekarangpun, orang masih ingat lagu-lagu anak-anak yang dipelajarinya di Taman Kanak-Kanak. Tapi justru di sana letak keunikannya.
Orang akan mudah mencernanya dan sekaligus mengingatnya. Yang terutama, orang mudah menirunya, melakukannya. Tidak usah berpikir rumit bagaimana melakukannya, tidak perlu was-was bagaimana mengerjakannya. Dengarkan saja, dan lakukan.
Dan sederhana adalah abadi. Menyanyikan lagu gubahan Pak Kasur atau Pak A.T. Mahmud tak perlu harus dihapalkan berhari-hari sebelumnya, tapi toh kita ingat lagunya luar kepala sampai sekarang.
Aku tertegun waktu mendapat SMS (Short Message Service) dari seorang saudara sepupu, tepat pada malam tahun baru. Ia mengabarkan sedang berada di Aceh, sejak tanggal 27 Desember yang lalu. Dia seorang dokter muda yang sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya, dan tergerak ketika terjadi bencana yang dahsyat itu. Bersama beberapa kawan, ia segera berangkat menuju Aceh, hanya dengan bekal seadanya, terburu-buru.
"Mengapa ke sana?"tanyaku. Adi malah balik bertanya,"Jika di depanmu seseorang terjatuh dan pingsan, apakah yang kamu perbuat pertama kali? Mencari-cari dan berpikir mengapa dia terjatuh? Mungkin mencari-cari kulit pisang yang telah membuatnya terpeleset, jatuh dan pingsan? Lalu kamu juga akan memilih-milih dulu warna angkot yang akan mengangkutnya ke klinik terdekat?"
Rasanya sekarang ini memang banyak orang yang sedang mencari-cari kulit pisang dan lebih banyak lagi yang sedang memilih-milih warna angkot yang akan membawa si sakit ke klinik. Semua berpikir rumit tentang apa, dan mengapa dan bagaimana,dan tak ada yang peduli dengan kesederhanaan cinta kasih, bahwa cinta kasih yang sederhana, yang memberi tanpa pamrih dan tanpa perhitungan untung dan rugi adalah bak sebuah mata air, sumber pengharapan untuk menguatkan kembali tali-tali rapuh kehidupan yang hampir putus.
Ya, cinta kasih adalah sumber pengharapan. Tapi memang, pandangan seorang Adi mungkin terlalu naif untuk ukuran taipan politik, yang penuh dengan gagasan terselubung dan segala intriknya, mulai dari kecurigaan terhadap bantuan asing sampai soal adopsi anak Aceh.
Ironisnya, luka yang sebenarnya belum terobati, dan hanya akan bertambah parah dari waktu ke waktu karena sibuk memikirkan segala yang rumit-rumit. Kalau nanti si sakit sudah sehat, terserah mau dinaikkan angkot warna apa; warna hijau boleh, putih silakan, pun angkot yang bergaris-garis tidak dilarang.
Marilah kita sekarang ikut bernyanyi, lagu yang sederhana saja, dan mudah diikuti dan dilagukan kembali dan bersama-sama membawa si sakit ke klinik terdekat, terserah dengan kendaraan apa saja.
Sehingga lagu sederhana itu, yang bernama Cinta Kasih, menggema dan menggaung di setiap sudut hati kita. Jangan diam saja, dengarkanlah lagunya, dan ikutlah melagukannya, dan semua orang akan mendengarkan suaramu dan ikut bergembira.
Di telepon sempat kutanya pada Adi,"...Lalu bagaimana dengan bayi yang kau tolong kelahirannya di pengungsian?".
Jawabnya singkat,"Aku hanya menolong persalinannya, dia selamat, mirip ibunya dan telah digendong oleh ibunya kembali.. Dan aku tak perlu tahu siapa nenek dan kakeknya dan kemana kelak ia akan pulang."
Berita dari Adi sempat terhenti, tak ada SMS lagi. Telepon genggamnya tak bisa dihubungi, SMS-ku tidak pernah sampai. Tapi aku masih menunggunya, dengan waswas, sambil terus berusaha.
Pada 7 Januari, Adi memberi kabar sekaligus permintaan,“Mbak, jika sore ini ke Gereja, mohon panjatkanlah doa-doa untuk mereka.”
Dan, sungguh, sore itu aku sempatkan datang untuk misa Jumat sore di Gereja, misa Jumat pertama. Dan seperti permintaan Adi, aku memohonkan doa bagi mereka yang telah menjadi bagian dari hatinya selama tiga belas hari terakhir ini.
Dan aku menyalakan sebatang lilin, berlutut di hadapan patung Bunda Maria bersama seikat bunga liar kering yang aku persembahkan.
Tuhan, terima kasih untuk semua yang terjadi dalam dunia ini, baik dunia di luar diriku; alam semesta, sesama, maupun dunia di dalam diriku; hati, pikiran, dan perasaan.
Terima kasih bahwa aku boleh mengalami semuanya ini, terutama untuk kesadaran bahwa Engkau selalu hadir dalam semua pengalaman itu, sekalipun pada saat-saat tertentu, aku tidak memahami rencanaMu.
Ya, Cinta Kasih sederhana yang menghidupkan! Baiklah, sekarang aku ingin ikut bernyanyi....
I was standing
All alone against the world outside
You were searching
for a place to hide
Lost and lonely
Now you've given me the will to survive
When we're hungry
Love will keep us alive
Don't you worry
Sometimes you"ve just gotta let it ride
The world is changing
Right before your eyes
Now I found you, there's no more emptiness inside.
When we're hungry, Love will keep us alive...!
Biarpun warisan dari orangtua, kaset tua yang menyanyikan lagu-lagu grup Band Eagles itu masih suka kuputar. Beberapa lagu yang dilantunkan menyentuh, terutama karena kesederhanaan lirik dan melodinya. Ada satu lagu yang selalu terngiang di telingaku sejak beberapa minggu ini, judulnya Love will Keep Us Alive.
Lagu itu mengatakan bahwa cinta kasih memberi semangat hidup, sekaligus mengingatkan, bahwa hidup adalah berkah, yang mesti disyukuri dan diperjuangkan. Sederhana sekali. Hanya itu yang dikatakan.
Ingat lagu-lagu kanak-kanak gubahan Pak Kasur atau Pak AT. Mahmud? Kadang lagunya hanya terdiri dari empat baris kata, dan dengan melodi sederhana dalam satu tangga nada. Sampai sekarangpun, orang masih ingat lagu-lagu anak-anak yang dipelajarinya di Taman Kanak-Kanak. Tapi justru di sana letak keunikannya.
Orang akan mudah mencernanya dan sekaligus mengingatnya. Yang terutama, orang mudah menirunya, melakukannya. Tidak usah berpikir rumit bagaimana melakukannya, tidak perlu was-was bagaimana mengerjakannya. Dengarkan saja, dan lakukan.
Dan sederhana adalah abadi. Menyanyikan lagu gubahan Pak Kasur atau Pak A.T. Mahmud tak perlu harus dihapalkan berhari-hari sebelumnya, tapi toh kita ingat lagunya luar kepala sampai sekarang.
Aku tertegun waktu mendapat SMS (Short Message Service) dari seorang saudara sepupu, tepat pada malam tahun baru. Ia mengabarkan sedang berada di Aceh, sejak tanggal 27 Desember yang lalu. Dia seorang dokter muda yang sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya, dan tergerak ketika terjadi bencana yang dahsyat itu. Bersama beberapa kawan, ia segera berangkat menuju Aceh, hanya dengan bekal seadanya, terburu-buru.
"Mengapa ke sana?"tanyaku. Adi malah balik bertanya,"Jika di depanmu seseorang terjatuh dan pingsan, apakah yang kamu perbuat pertama kali? Mencari-cari dan berpikir mengapa dia terjatuh? Mungkin mencari-cari kulit pisang yang telah membuatnya terpeleset, jatuh dan pingsan? Lalu kamu juga akan memilih-milih dulu warna angkot yang akan mengangkutnya ke klinik terdekat?"
Rasanya sekarang ini memang banyak orang yang sedang mencari-cari kulit pisang dan lebih banyak lagi yang sedang memilih-milih warna angkot yang akan membawa si sakit ke klinik. Semua berpikir rumit tentang apa, dan mengapa dan bagaimana,dan tak ada yang peduli dengan kesederhanaan cinta kasih, bahwa cinta kasih yang sederhana, yang memberi tanpa pamrih dan tanpa perhitungan untung dan rugi adalah bak sebuah mata air, sumber pengharapan untuk menguatkan kembali tali-tali rapuh kehidupan yang hampir putus.
Ya, cinta kasih adalah sumber pengharapan. Tapi memang, pandangan seorang Adi mungkin terlalu naif untuk ukuran taipan politik, yang penuh dengan gagasan terselubung dan segala intriknya, mulai dari kecurigaan terhadap bantuan asing sampai soal adopsi anak Aceh.
Ironisnya, luka yang sebenarnya belum terobati, dan hanya akan bertambah parah dari waktu ke waktu karena sibuk memikirkan segala yang rumit-rumit. Kalau nanti si sakit sudah sehat, terserah mau dinaikkan angkot warna apa; warna hijau boleh, putih silakan, pun angkot yang bergaris-garis tidak dilarang.
Marilah kita sekarang ikut bernyanyi, lagu yang sederhana saja, dan mudah diikuti dan dilagukan kembali dan bersama-sama membawa si sakit ke klinik terdekat, terserah dengan kendaraan apa saja.
Sehingga lagu sederhana itu, yang bernama Cinta Kasih, menggema dan menggaung di setiap sudut hati kita. Jangan diam saja, dengarkanlah lagunya, dan ikutlah melagukannya, dan semua orang akan mendengarkan suaramu dan ikut bergembira.
Di telepon sempat kutanya pada Adi,"...Lalu bagaimana dengan bayi yang kau tolong kelahirannya di pengungsian?".
Jawabnya singkat,"Aku hanya menolong persalinannya, dia selamat, mirip ibunya dan telah digendong oleh ibunya kembali.. Dan aku tak perlu tahu siapa nenek dan kakeknya dan kemana kelak ia akan pulang."
Berita dari Adi sempat terhenti, tak ada SMS lagi. Telepon genggamnya tak bisa dihubungi, SMS-ku tidak pernah sampai. Tapi aku masih menunggunya, dengan waswas, sambil terus berusaha.
Pada 7 Januari, Adi memberi kabar sekaligus permintaan,“Mbak, jika sore ini ke Gereja, mohon panjatkanlah doa-doa untuk mereka.”
Dan, sungguh, sore itu aku sempatkan datang untuk misa Jumat sore di Gereja, misa Jumat pertama. Dan seperti permintaan Adi, aku memohonkan doa bagi mereka yang telah menjadi bagian dari hatinya selama tiga belas hari terakhir ini.
Dan aku menyalakan sebatang lilin, berlutut di hadapan patung Bunda Maria bersama seikat bunga liar kering yang aku persembahkan.
Tuhan, terima kasih untuk semua yang terjadi dalam dunia ini, baik dunia di luar diriku; alam semesta, sesama, maupun dunia di dalam diriku; hati, pikiran, dan perasaan.
Terima kasih bahwa aku boleh mengalami semuanya ini, terutama untuk kesadaran bahwa Engkau selalu hadir dalam semua pengalaman itu, sekalipun pada saat-saat tertentu, aku tidak memahami rencanaMu.
Ya, Cinta Kasih sederhana yang menghidupkan! Baiklah, sekarang aku ingin ikut bernyanyi....
I was standing
All alone against the world outside
You were searching
for a place to hide
Lost and lonely
Now you've given me the will to survive
When we're hungry
Love will keep us alive
Don't you worry
Sometimes you"ve just gotta let it ride
The world is changing
Right before your eyes
Now I found you, there's no more emptiness inside.
When we're hungry, Love will keep us alive...!

0 Comments:
Post a Comment
<< Home