Spiritualitas Tsunami
BANDA ACEH – Gempa dan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Nias menyisakan trauma pada diri setiap korban, tapi sekaligus juga jejak spritualitas. Masjid Raya Baiturrahman dan Gereja Katolik Hati Kudus yang masih berdiri kokoh di tengah bangunan di sekitarnya yang tinggal puing, menjadi pengalaman iman tersendiri pada diri para penganut agama samawi.
Masjid Raya Baiturrahman terletak di tengah-tengah Kota Banda Aceh yang seperti terpanggang dihajar tsunami pada Minggu (26/12) itu. Sementara Gereja Katolik Hati Kudus yang berjarak 100 meter dari Masjid Baiturrahman terletak hanya 10 meter dari Sungai Krueng Aceh, sungai yang membelah Kota Banda Aceh dan membawa air ke darat pada saat gelombang tsunami menerjang.
Satu kilometer dari Gereja Katolik Hati Kudus, sejumlah gereja lainnya juga seperti tak tersentuh tsunami, yakni Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB), Gereja Katolik Methodis dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Sebuah bangunan kelenteng yang berjarak sekitar 500 meter dari Gereja Hati Kudus, juga masih utuh.
Menariknya, keutuhan rumah ibadah ini tak hanya terjadi di tengah kota, tapi juga hingga sepanjang jalan-jalan kecil dan perkampungan di pinggir kota Banda Aceh. Masjid Rahmatillah adalah satu-satunya bangunan yang masih tegak berdiri di tengah reruntuhan bangunan lain di Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga, Aceh Besar.
Masjid tersebut tampak kokoh terlihat dari Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh yang berjarak sekitar 3 km dari lokasi. Salah satu bagian fondasi masjid tersebut memang runtuh dan menyisakan lubang sedalam satu meter. Namun pilar-pilar masjid masih bisa menahan bangunan tersebut tidak ambruk. Plafon dan tiga kubah masjid masih dalam kondisi utuh.
Orang boleh berpendapat bahwa kokohnya rumah ibadah karena kualitas bahan bangunannya yang bagus. Namun, orang juga berhak menerjemahkan kenyataan ini sebagai sebuah penanda, sebagai pengingat-ingat terhadap hidup yang telanjur berjalan arogan. Setiap orang mendadak menjadi kaya secara spiritualitas.
Pertolongan
Bagi warga Lampuuk yang mengungsi di kampung Lamlhom, kekayaan batin ini seolah lengkap saat belasan orang dengan wajah bule mendatangi kampung tersebut, memberikan bantuan logistik dan obat-obatan tanpa imbalan, bahkan memberikan perhatian dengan ketulusan tak tergambarkan.
Daud (73), salah satu pengungsi dari Lampuuk, mencoba menggambarkan ketulusan ini lewat cerita tentang kaki. Beberapa warga Lampuuk yang selamat dari gulungan gelombang tsunami banyak yang mengalami luka parah di sekujur tubuh dan kaki. Empasan gelombang membuat tubuh mereka terbentur berbagai puing dan reruntuhan.
Beberapa orang yang memiliki sedikit pengalaman keperawatan mencoba mengobati luka ini dengan perlengkapan sekadarnya pada hari pertama saat bencana itu melanda. Akibatnya, bukannya sembuh, sejumlah luka yang mayoritas terdapat pada kaki tersebut justru bengkak dan bernanah karena tak dibersihkan sempurna saat dilakukan pengobatan.
Penyelamat dari sejumlah kaki infeksi ini adalah para dokter dan perawat berwajah bule itu. Para lelaki yang tak bisa mengucapkan Assalamualaikum dan para perempuan yang tak mengenakan jilbab.
Kaki-kaki bernanah tersebut dipegang dengan tangan mereka dan diletakkan di atas pangkuan. Mereka melakukan pengobatan dengan hati-hati dan sama sekali tak menunjukkan rasa jijik. Sementara itu, menurut cerita Daud, para dokter berwajah Melayu terkesan jijik dengan luka-luka tersebut dan menyuruh para pasien meletakkan kaki-kaki penuh luka tersebut di atas kursi sebelum memberikan obat kemudian.
Para relawan berwajah bule itu pula yang berkunjung rutin ke posko pengungsian Lamlhom yang berjarak 3 km dari Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh. Mereka datang dengan bantuan pangan dan obat-obatan, mengucapkan “Apa kabar” dan “Selamat Pagi” dengan bahasa Indonesia yang patah, menebar senyum ramah dan menyapa para pengungsi dengan nama. Nada saat melontarkan sapaan pun terasa hangat.
“Kami malu, mengapa justru mereka yang beda ras dan agama yang memperhatikan kami,” kata Daud.
Tiga hari setelah bencana terjadi, bantuan pertama yang datang ke desa tersebut berasal dari Yayasan Obor Berkat Indonesia, sebuah yayasan Kristen, padahal akses jalan ke wilayah ini cukup sulit untuk ditempuh.
Raihal (23), salah satu warga di Lamlhom yang turut membantu para pengungsi mengatakan kedatangan yayasan tersebut sangat membantu mengobati para pengungsi yang terluka.
Tak Berbatas
Negeri Serambi Mekkah ini, pascatsunami, mendadak dipenuhi dengan orang yang memiliki ras, suku, dan agama yang berbeda. Bantuan yang datang ke provinsi berbasis syariah Islam ini, tak hanya datang dari wilayah di sekitar Indonesia, tapi dunia.
Amerika Serikat, Australia, Singapura, Malaysia, Korea, Jepang, Prancis, Belanda, Yordania, Portugal, membanjiri provinsi tersebut dengan bantuan logistik, obat-obatan, peralatan transportasi, tenaga ahli, dan sejumlah relawan medis.
Bantuan kemanusiaan pada akhirnya memang tak bisa dibatasi oleh ideologi, negara, suku, maupun ras. Bantuan semacam itu muncul berdasarkan solidaritas antarmanusia. Sebuah perasaan senasib dan sepenanggungan yang dirasakan semua orang sebagai tanggung jawab kemanusiaan mereka, tanpa embel-embel “baju” yang mereka kenakan.
Jika kemudian solidaritas kemanusiaan ini dibumbui dengan pesan-pesan di luar kemanusiaan itu sendiri, politis maupun ideologis, maka yang muncul adalah manipulasi.
Di pekan pertama pascabencana, sempat beredar kabar bahwa terjadi tindak diskriminatif terhadap pengungsi yang berasal dari etnis Tionghoa dan beragama non-Islam. Namun, kabar ini dibantah oleh Ketua Umum Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (Inti) Eddy Lembong.
Menurutnya, suasana Aceh pascatsunami mirip dengan kondisi pascaperang dunia kedua. Semua serba tak teratur dan chaos. Jika ada orang yang meminta uang Rp 600.000 untuk menguburkan seorang warga Tionghoa yang menjadi korban tsunami, itu lebih didasari pada kebutuhannya terhadap uang tersebut, bukan tindak pemerasan terhadap warga Tionghoa.
Pengamatan di lapangan juga menunjukkan bahwa apa yang disebut penjarahan adalah ulah penduduk yang memungut barang-barang yang masih bisa digunakan di antara puing rumah dan bangunan yang runtuh. Sejumlah pertokoan yang mayoritas milik warga Tionghoa juga turut kena jarah.
Menyaksikan Kota Aceh yang hancur lebur dan warga yang mendadak menjadi kaum marginal, tanpa rumah dan tanpa uang satu sen pun, tindak penjarahan ini tak bisa dihakimi lewat ukuran moralitas, apalagi mengaitkannya dengan masalah rasialis dan diskriminasi ideologis.
Gempa berkekuatan 8,9 skala richter dan gelombang tsunami berkecepatan 800 km/jam yang menggulung kawasan Aceh tiga pekan lalu, selain meninggalkan duka, juga melahirkan sebuah spiritualitas baru bagi warga Aceh tentang kemanusiaan dalam arti yang sesungguhnya, tentang solidaritas yang tak mengenal batas agama, suku, ras, maupun golongan. (SH/fransisca ria susanti)
Masjid Raya Baiturrahman terletak di tengah-tengah Kota Banda Aceh yang seperti terpanggang dihajar tsunami pada Minggu (26/12) itu. Sementara Gereja Katolik Hati Kudus yang berjarak 100 meter dari Masjid Baiturrahman terletak hanya 10 meter dari Sungai Krueng Aceh, sungai yang membelah Kota Banda Aceh dan membawa air ke darat pada saat gelombang tsunami menerjang.
Satu kilometer dari Gereja Katolik Hati Kudus, sejumlah gereja lainnya juga seperti tak tersentuh tsunami, yakni Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB), Gereja Katolik Methodis dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Sebuah bangunan kelenteng yang berjarak sekitar 500 meter dari Gereja Hati Kudus, juga masih utuh.
Menariknya, keutuhan rumah ibadah ini tak hanya terjadi di tengah kota, tapi juga hingga sepanjang jalan-jalan kecil dan perkampungan di pinggir kota Banda Aceh. Masjid Rahmatillah adalah satu-satunya bangunan yang masih tegak berdiri di tengah reruntuhan bangunan lain di Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga, Aceh Besar.
Masjid tersebut tampak kokoh terlihat dari Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh yang berjarak sekitar 3 km dari lokasi. Salah satu bagian fondasi masjid tersebut memang runtuh dan menyisakan lubang sedalam satu meter. Namun pilar-pilar masjid masih bisa menahan bangunan tersebut tidak ambruk. Plafon dan tiga kubah masjid masih dalam kondisi utuh.
Orang boleh berpendapat bahwa kokohnya rumah ibadah karena kualitas bahan bangunannya yang bagus. Namun, orang juga berhak menerjemahkan kenyataan ini sebagai sebuah penanda, sebagai pengingat-ingat terhadap hidup yang telanjur berjalan arogan. Setiap orang mendadak menjadi kaya secara spiritualitas.
Pertolongan
Bagi warga Lampuuk yang mengungsi di kampung Lamlhom, kekayaan batin ini seolah lengkap saat belasan orang dengan wajah bule mendatangi kampung tersebut, memberikan bantuan logistik dan obat-obatan tanpa imbalan, bahkan memberikan perhatian dengan ketulusan tak tergambarkan.
Daud (73), salah satu pengungsi dari Lampuuk, mencoba menggambarkan ketulusan ini lewat cerita tentang kaki. Beberapa warga Lampuuk yang selamat dari gulungan gelombang tsunami banyak yang mengalami luka parah di sekujur tubuh dan kaki. Empasan gelombang membuat tubuh mereka terbentur berbagai puing dan reruntuhan.
Beberapa orang yang memiliki sedikit pengalaman keperawatan mencoba mengobati luka ini dengan perlengkapan sekadarnya pada hari pertama saat bencana itu melanda. Akibatnya, bukannya sembuh, sejumlah luka yang mayoritas terdapat pada kaki tersebut justru bengkak dan bernanah karena tak dibersihkan sempurna saat dilakukan pengobatan.
Penyelamat dari sejumlah kaki infeksi ini adalah para dokter dan perawat berwajah bule itu. Para lelaki yang tak bisa mengucapkan Assalamualaikum dan para perempuan yang tak mengenakan jilbab.
Kaki-kaki bernanah tersebut dipegang dengan tangan mereka dan diletakkan di atas pangkuan. Mereka melakukan pengobatan dengan hati-hati dan sama sekali tak menunjukkan rasa jijik. Sementara itu, menurut cerita Daud, para dokter berwajah Melayu terkesan jijik dengan luka-luka tersebut dan menyuruh para pasien meletakkan kaki-kaki penuh luka tersebut di atas kursi sebelum memberikan obat kemudian.
Para relawan berwajah bule itu pula yang berkunjung rutin ke posko pengungsian Lamlhom yang berjarak 3 km dari Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh. Mereka datang dengan bantuan pangan dan obat-obatan, mengucapkan “Apa kabar” dan “Selamat Pagi” dengan bahasa Indonesia yang patah, menebar senyum ramah dan menyapa para pengungsi dengan nama. Nada saat melontarkan sapaan pun terasa hangat.
“Kami malu, mengapa justru mereka yang beda ras dan agama yang memperhatikan kami,” kata Daud.
Tiga hari setelah bencana terjadi, bantuan pertama yang datang ke desa tersebut berasal dari Yayasan Obor Berkat Indonesia, sebuah yayasan Kristen, padahal akses jalan ke wilayah ini cukup sulit untuk ditempuh.
Raihal (23), salah satu warga di Lamlhom yang turut membantu para pengungsi mengatakan kedatangan yayasan tersebut sangat membantu mengobati para pengungsi yang terluka.
Tak Berbatas
Negeri Serambi Mekkah ini, pascatsunami, mendadak dipenuhi dengan orang yang memiliki ras, suku, dan agama yang berbeda. Bantuan yang datang ke provinsi berbasis syariah Islam ini, tak hanya datang dari wilayah di sekitar Indonesia, tapi dunia.
Amerika Serikat, Australia, Singapura, Malaysia, Korea, Jepang, Prancis, Belanda, Yordania, Portugal, membanjiri provinsi tersebut dengan bantuan logistik, obat-obatan, peralatan transportasi, tenaga ahli, dan sejumlah relawan medis.
Bantuan kemanusiaan pada akhirnya memang tak bisa dibatasi oleh ideologi, negara, suku, maupun ras. Bantuan semacam itu muncul berdasarkan solidaritas antarmanusia. Sebuah perasaan senasib dan sepenanggungan yang dirasakan semua orang sebagai tanggung jawab kemanusiaan mereka, tanpa embel-embel “baju” yang mereka kenakan.
Jika kemudian solidaritas kemanusiaan ini dibumbui dengan pesan-pesan di luar kemanusiaan itu sendiri, politis maupun ideologis, maka yang muncul adalah manipulasi.
Di pekan pertama pascabencana, sempat beredar kabar bahwa terjadi tindak diskriminatif terhadap pengungsi yang berasal dari etnis Tionghoa dan beragama non-Islam. Namun, kabar ini dibantah oleh Ketua Umum Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (Inti) Eddy Lembong.
Menurutnya, suasana Aceh pascatsunami mirip dengan kondisi pascaperang dunia kedua. Semua serba tak teratur dan chaos. Jika ada orang yang meminta uang Rp 600.000 untuk menguburkan seorang warga Tionghoa yang menjadi korban tsunami, itu lebih didasari pada kebutuhannya terhadap uang tersebut, bukan tindak pemerasan terhadap warga Tionghoa.
Pengamatan di lapangan juga menunjukkan bahwa apa yang disebut penjarahan adalah ulah penduduk yang memungut barang-barang yang masih bisa digunakan di antara puing rumah dan bangunan yang runtuh. Sejumlah pertokoan yang mayoritas milik warga Tionghoa juga turut kena jarah.
Menyaksikan Kota Aceh yang hancur lebur dan warga yang mendadak menjadi kaum marginal, tanpa rumah dan tanpa uang satu sen pun, tindak penjarahan ini tak bisa dihakimi lewat ukuran moralitas, apalagi mengaitkannya dengan masalah rasialis dan diskriminasi ideologis.
Gempa berkekuatan 8,9 skala richter dan gelombang tsunami berkecepatan 800 km/jam yang menggulung kawasan Aceh tiga pekan lalu, selain meninggalkan duka, juga melahirkan sebuah spiritualitas baru bagi warga Aceh tentang kemanusiaan dalam arti yang sesungguhnya, tentang solidaritas yang tak mengenal batas agama, suku, ras, maupun golongan. (SH/fransisca ria susanti)

0 Comments:
Post a Comment
<< Home