Saturday, February 05, 2005

Saya Tidak Percaya pada Allah yang Salah

BANDA ACEH-Gelombang pasang tsunami terjadi ketika sukacita Natal sedang pada puncaknya, pada Hari Natal Kedua 26 Desember 2004, 40 hari yang lalu. Sukacita Natal itu adalah kegembiraan umat manusia karena begitu bernilai di mata Allah sehingga "dihargai" senilai Putra Allah sendiri yang diutus-Nya dengan cinta ke dalam dunia. Namun, tsunami datang begitu saja merenggut ratusan ribu nyawa.
Maka timbullah konflik batin kerena tidak bisa mendamaikan suka cita Natal itu (manusia berharga di mata Allah) di satu pihak, dan fakta ratusan ribu orang mati oleh bencana sangat ganas di pihak lain. Dari konflik batin ini timbullah banyak pertanyaan, antara lain: apakah Allah sedang murka?
Bila Dia murka, apakah sebabnya dan mengapa harus orang-orang Aceh, Sumatra Utara, dan Nias, warga Asia dan Afrika timur? Atau kalau Allah tidak sedang murka, di manakah Dia saat bencana terjadi? Spakah Dia diam saja membiarkan ratusan ribu orang itu mati?
Sebagai anggota umat beriman, saya mengalami konflik batin ini, dan saya menduga, konflik batin yang sama juga menimpah sesama umat Allah. Saya mencoba menyimak dan membaca banyak khotbah, renungan, ulasan pada media massa, tetapi konflik batin saya belum juga teratasi. Saya mengalami kesulitan berikut ini: kalau Allah sedang murka (Allah beraksi), maka ini mengganggu iman saya tentang Allah Maha Baik, sedangkan kalau Allah membiarkan saja tsunami itu terjadi (Allah diam) juga mengganggu iman saya akan Allah Maha Baik.
Saya tiba di Kota Banda Aceh, Kamis (2/2) petang, membawa serta konflik batin yang sama. Dan ketika berkeliling di kota itu Jumat siang, menyaksikan langsung sisa bencana—dari wajah kota yang tampak berantakan terbayangkan ganasnya tsunami itu—pertanyaan-pertanyaan di atas timbul lagi dalam hati.
Saya masih terus mencari jawab, hal yang mendorong saya mampir ke Gereja Katolik Hati Kudus, Banda Aceh, yang terletak sekitar 500 meter dari Mesjid Raya Baiturrahman dipisahkan Kali Aceh.
Saya menjumpai Pastor Ferdinando asal Brasil, pastor kepala paroki Hati Kudus itu. Saya mengutarakan kepadanya konflik batin yang terus menghantui saya 40 hari terakhir. Ferdinando sendiri saat tsunami datang berada di Kota Meulabouh, pada jarak 500 meter dari pantai. Ia luput bersama segelintir orang karena berhasil naik ke lantai dua sebuah musalah.
Pastor yang sudah mengabdi 30 tahun di Indonesia ini bercerita, saat gempa, 30 menit sebelum tsunami, ia sedang membeli kue di toko yang sedianya akan diantarkan ke rumah warga yang sedang sakit. Ia langsung tiarap ke tanah dan dengan tangan terentang berteriak: "Kemuliaan kepada Allah di tempat maha tinggi dan damai di bumi di antara orang yang berkenan kepada-Nya."
Dengan rasa heran saya bertanya, mengapa Pastor justru mengucapkan kalimat itu dan bukannya teriak minta tolong kepada Tuhan Yesus. "Saya memuliakan Tuhan karena gempa itu begitu mengguncang, hal yang sangat dahsyat yang pernah saya alami," jawabnya. Dan saya bertanya lagi: Lalu bagaimana peristiwa dahsyat itu, gempa dan tsunami, dipandang dari kaca mata iman Pastor?
Ferdinando berkeberatan untuk menghubungkan begitu saja gempa dan tsunami itu pada Allah. Betapapun dahsyatnya, kata imam dari tarekat Fransiskan Konventual itu, bencana itu adalah tetap peristiwa alam yang biasa yang mungkin memang paling dahsyat dalam 100 tahun terakhir, tetapi bukan bencana satu-satunya yang paling ganas.
"Alam kita ini hidup, ia bergejolak dan bernafsu tak ubahnya manusia. Seperti juga kelakuan manusia dengan nafsu-nafsunya, alam pun demikian, dan itulah antara lain gempa dan tsunami itu," jelas Fernando.
"Allah tidak mau begitu saja menghentikan kebebasan yang telah diberikannya kcpada manusia, demikian juga atas gejolak alam yang diciptakan-Nya dengan begitu baik dari awal mula."
Secara tidak langsung, menurut Pastor yang sudah ubanan itu, tidaklah tepat untuk menghubungkan begitu saja peristiwa alam yang biasa itu pada Allah dan karenanya tidaklah relevan apakah Allah beraksi atau diam atas peristiwa itu.
Ia menekankan, sejak manusia meninggalkan Taman Eden—menurut cerita Alkitab—manusia memilih untuk hidup tanpa Allah dengan melanggar perintah Allah "Jangan makan dari buah pohon terlarang."
Dalam dunia tanpa Allah ini—kendati Yesus pun sudah diutus—manusia harus menanggung risiko dari pilihan awal meninggalkan Taman Eden itu. "Gempa dan tsunami adalah salah satu dari risiko itu," kata Fernando. "Salahlah omong kosong Tuhan sedang murka itu, atau ia sedang mencobai umatnya dengan bencana dahsyat, sebab Dia Allah Maha baik," katanya.
“Tetapi siapa yang tabah, tidak kehilangan iman oleh pengalaman-pengalaman pahit kehidupan dalam dunia pilihanuya sendiri, termasuk pengalaman bencana gempa dan tsunami, akan diimbali Allah dengan keselamatan surgawi," lanjutnya. "Anda tahu, saya selamat dari tsunami, tetapi ini berarti saya masih harus terus berupaya di hadapan Allah agar kelak diselamatkan-Nya dalam surga. Mereka yang sudah duluan, mungkin sudah duluan selamat dari kita," tambahnya.
Begitu Ferdinando menyebut Taman Eden, saya teringat wejangan seorang teman, juga seorang pastor, jauh sebelum peristiwa tsunami. Kata teman pastor itu, godaan terbesar bagi manusia adalah ingin menjadi seperti Allah. Itulah yang dilakukan Adam dan Hawa dengan makan buah dari pohon terlarang di Taman Eden.
Sekiranya saya bertemu lagi dengan teman pastor itu sekarang ini, sangat boleh jadi dia berkata, usai tsunami banyak orang tergoda mau menjadi Allah dengan mengutak-atik isi hati dan pikiran Allah, lalu kemudian dengan mudah Allah itu disalahkan entah Dia beraksi atau diam.
Entah kenapa, setelah bersalaman pamit dari Pastor Ferdinando dan ingatan singkat kata-kata teman pastor yang lain itu, hati saya merasa lega. Beban hati karena konflik berkepanjangan kini terhenti. Hati saya pun berkata: Saya tidak percaya pada Allah yang salah. (SH/john julaman).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home