Saturday, January 29, 2005

Kokok Setia Gereja Ayam

Oleh Martha Ringo

ANGKUTAN kota M-12 jurusan Senen-Kota yang saya tumpangi sedang terjebak macet di Jalan Samanhudi, Jakarta Pusat, saat celoteh-celoteh ini mengganggu lamunan. "Kenapa diberi nama Jalan Gereja Ayam, ya?" "Ooo, di sebelahnya kan, ada gereja yang ada patung ayamnya." "Kenapa ayam?" "Mungkin dulu ada peternakan ayam di sini. Atau karena di sekitar daerah ini banyak ‘ayam’-nya?" ungkap yang lain sambil menunjuk beberapa tempat hiburan yang tak jauh dari bangunan tua peninggalan Belanda itu. "Ah, kamu ada-ada saja," teman lain menimpali.
Penasaran. Saya mendongakkan kepala ke atas bangunan yang dimaksud. Tampak seekor ayam jago bertengger di puncak menara gereja. Sendirian. Dahi saya mengernyit. Ayam? Apa tidak salah?
Bangunan yang terletak di Jalan Samanhudi Nomor 12 ini pertama kali dibangun pada 1850. Saat itu masih berupa kapel atau gereja kecil. Lalu pada 1915, barulah bangunan yang tak jauh dari Pasar Baru ini dipugar menjadi gedung gereja yang cukup besar dengan kapasitas sekitar 1.500 orang. Arsitek Cuypers dan Hulswit merancang bangunan ini dalam perpaduan gaya Italia dan Portugis.
Interior bangunan kuno ini terbilang awet. Kursi, mimbar, dan perabotan lain yang terbuat dari kayu jati masih asli peninggalam zaman Belanda. Gedung gereja ini bahkan menyimpan sebuah Alkitab kuno cetakan 1855. Kitab ini hanya satu-satunya di Indonesia. Ada satu lagi kembarannya, itu pun tersimpan di Negerinya Ratu Julianan sono.
Selain tua, Alkitab ini terbilang unik lantaran ukurannya besar. Relief di Kitab Suci ini juga menawan. Usia yang sepuh membuat lembaran dan jilid Kitab ini sedikit rusak. Karenanya, buku ini sempat diboyong ke Belanda selama setahun untuk diperbaiki. Hingga kini, Alkitab ini tetap lestari.
Menilik sejarahnya, bangunan ini sempat direnovasi beberapa kali. Entah karena kerusakan akibat materialnya yang sudah lapuk atau lantaran tak memadai lagi melayani para jemaat. "Yang pasti perbaikannya hanya tambal sulam saja. Tidak mengubah bentuk asli," kata Gembala Sidang Gereja Ayam James Manahanti.
Pernah pula gereja yang semula dikenal dengan Gereja Baru ini diperbaiki gara-gara diserang massa pada peristiwa kerusuhan 1998. Secuil kisah mukjizat muncul dalam kejadian kelabu ini. Waktu itu, kata James, ratusan orang berusaha menerobos pagar untuk menyerang bangunan. Namun usaha tersebut gagal, padahal, gereja sedang tidak diamankan oleh siapapun. "Kami percaya ini adalah berkat Tuhan," ungkap dia.
Sebenarnya, bangunan ibadah ini mempunyai nama lengkap Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pniel. Namun karena nama “ayam” sudah melekat sejak lama, orang lebih sering menyebutnya Gereja Ayam. Di zaman Batavia dulu, mulai dari ambtner gubernermen sampai kusir sado menyebutnya Haantjes Kerk.
Nama “ayam”, jelas James, sesuai sejarah, dipilih karena mengingatkan pada peristiwa penyangkalan Petrus terhadap Kristus. Injil mencatat ayam langsung berkokok tiga kali sesaat setelah Petrus membantah identitasnya sebagai murid Yesus.
"Maka diharapkan, setiap melihat lambang ini orang Kristen diingatkan agar setia pada Kristus," tutur James. Pejabat Gereja Ayam yang bergabung sejak dua tahun silam ini menambahkan ayam juga dianggap melambangkan kehidupan. Hewan jenis unggas inilah yang setiap pagi membangunkan segala makhluk dari tidur.
Gereja Ayam tak sekadar aset budaya. Tempat ibadah yang beranggotakan sekitar 2.000-an jiwa ini juga menjadi garam bagi masyarakat sekitar. Para hamba Tuhan di sana tak menutup mata bahwa kehadiran beberapa tempat hiburan di sekitar daerah ini menimbulkan efek tersendiri, seperti prostitusi, perjudian, dan obat-obatan terlarang.
Untuk itu, para pelayan Gereja Ayam berusaha bergaul dengan penduduk yang terlibat kegiatan-kegiatan itu. Salah satu caranya adalah dengan pendekatan ke rumah-rumah. Pelayan Gereja Ayam mendata umat Nasrani setempat dan melayani mereka dengan siraman rohani.
"Kami di sini merangkul umat. Beberapa orang yang dianggap sampah masyarakat pun, saya ketahui berjemaat di sini. Kami membangkitkan iman dan merangkul dengan kasih. Sesuai falsafah ayam yang membangunkan kehidupan di pagi hari," ucap James.
Melihat segala keunikan tersebut, pantaslah kalau Gereja Ayam dikategorikan aset budaya yang berharga. Ia sejajar dengan bangunan-bangunan tua lain yang beberapa masih bertebaran di kawasan Pasar Baru, seperti Masjid Lautze yang dibangun komunitas muslim Cina dan Vihara Tri Ratna yang dibangun sekitar pertengahan Abad XIX. Sejumlah wisatawan mancanegara, terutama dari Belanda, terhitung kerap bertandang ke sana.
Namun, James menyayangkan ketiadaan perhatian pemerintah pada gereja yang berdiri di lahan seluas 2.500 hektare ini. "Bangunan tua seperti ini kan butuh biaya pemeliharaan yang tidak kecil. Saya harap pemerintah daerah menyadari nilai sejarah yang terkandung di dalamnya," James berharap.
Menurut hamba Tuhan asal Sanger, Sulawesi Utara, itu saat ini pihak gereja tengah mengupayakan hal tersebut, antara lain dengan cara mengumpulkan informasi seputar sejarah dan nilai Gereja Ayam. Pemerintah diharapkan memasukkannya ke dalam ketegori cagar budaya sehingga pemerintah bisa membantu dalam hal biaya.
"Kalau hanya mengandalkan uang gereja dan jemaat, tidak cukup," James menegaskan. Ya, semoga pemerintah peduli, agar kokok Gereja Ayam tetap bergaung.
Kokok Setia Gereja Ayam

Oleh Martha Ringo

ANGKUTAN kota M-12 jurusan Senen-Kota yang saya tumpangi sedang terjebak macet di Jalan Samanhudi, Jakarta Pusat, saat celoteh-celoteh ini mengganggu lamunan. "Kenapa diberi nama Jalan Gereja Ayam, ya?" "Ooo, di sebelahnya kan, ada gereja yang ada patung ayamnya." "Kenapa ayam?" "Mungkin dulu ada peternakan ayam di sini. Atau karena di sekitar daerah ini banyak ‘ayam’-nya?" ungkap yang lain sambil menunjuk beberapa tempat hiburan yang tak jauh dari bangunan tua peninggalan Belanda itu. "Ah, kamu ada-ada saja," teman lain menimpali.
Penasaran. Saya mendongakkan kepala ke atas bangunan yang dimaksud. Tampak seekor ayam jago bertengger di puncak menara gereja. Sendirian. Dahi saya mengernyit. Ayam? Apa tidak salah?
Bangunan yang terletak di Jalan Samanhudi Nomor 12 ini pertama kali dibangun pada 1850. Saat itu masih berupa kapel atau gereja kecil. Lalu pada 1915, barulah bangunan yang tak jauh dari Pasar Baru ini dipugar menjadi gedung gereja yang cukup besar dengan kapasitas sekitar 1.500 orang. Arsitek Cuypers dan Hulswit merancang bangunan ini dalam perpaduan gaya Italia dan Portugis.
Interior bangunan kuno ini terbilang awet. Kursi, mimbar, dan perabotan lain yang terbuat dari kayu jati masih asli peninggalam zaman Belanda. Gedung gereja ini bahkan menyimpan sebuah Alkitab kuno cetakan 1855. Kitab ini hanya satu-satunya di Indonesia. Ada satu lagi kembarannya, itu pun tersimpan di Negerinya Ratu Julianan sono.
Selain tua, Alkitab ini terbilang unik lantaran ukurannya besar. Relief di Kitab Suci ini juga menawan. Usia yang sepuh membuat lembaran dan jilid Kitab ini sedikit rusak. Karenanya, buku ini sempat diboyong ke Belanda selama setahun untuk diperbaiki. Hingga kini, Alkitab ini tetap lestari.
Menilik sejarahnya, bangunan ini sempat direnovasi beberapa kali. Entah karena kerusakan akibat materialnya yang sudah lapuk atau lantaran tak memadai lagi melayani para jemaat. "Yang pasti perbaikannya hanya tambal sulam saja. Tidak mengubah bentuk asli," kata Gembala Sidang Gereja Ayam James Manahanti.
Pernah pula gereja yang semula dikenal dengan Gereja Baru ini diperbaiki gara-gara diserang massa pada peristiwa kerusuhan 1998. Secuil kisah mukjizat muncul dalam kejadian kelabu ini. Waktu itu, kata James, ratusan orang berusaha menerobos pagar untuk menyerang bangunan. Namun usaha tersebut gagal, padahal, gereja sedang tidak diamankan oleh siapapun. "Kami percaya ini adalah berkat Tuhan," ungkap dia.
Sebenarnya, bangunan ibadah ini mempunyai nama lengkap Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pniel. Namun karena nama “ayam” sudah melekat sejak lama, orang lebih sering menyebutnya Gereja Ayam. Di zaman Batavia dulu, mulai dari ambtner gubernermen sampai kusir sado menyebutnya Haantjes Kerk.
Nama “ayam”, jelas James, sesuai sejarah, dipilih karena mengingatkan pada peristiwa penyangkalan Petrus terhadap Kristus. Injil mencatat ayam langsung berkokok tiga kali sesaat setelah Petrus membantah identitasnya sebagai murid Yesus.
"Maka diharapkan, setiap melihat lambang ini orang Kristen diingatkan agar setia pada Kristus," tutur James. Pejabat Gereja Ayam yang bergabung sejak dua tahun silam ini menambahkan ayam juga dianggap melambangkan kehidupan. Hewan jenis unggas inilah yang setiap pagi membangunkan segala makhluk dari tidur.
Gereja Ayam tak sekadar aset budaya. Tempat ibadah yang beranggotakan sekitar 2.000-an jiwa ini juga menjadi garam bagi masyarakat sekitar. Para hamba Tuhan di sana tak menutup mata bahwa kehadiran beberapa tempat hiburan di sekitar daerah ini menimbulkan efek tersendiri, seperti prostitusi, perjudian, dan obat-obatan terlarang.
Untuk itu, para pelayan Gereja Ayam berusaha bergaul dengan penduduk yang terlibat kegiatan-kegiatan itu. Salah satu caranya adalah dengan pendekatan ke rumah-rumah. Pelayan Gereja Ayam mendata umat Nasrani setempat dan melayani mereka dengan siraman rohani.
"Kami di sini merangkul umat. Beberapa orang yang dianggap sampah masyarakat pun, saya ketahui berjemaat di sini. Kami membangkitkan iman dan merangkul dengan kasih. Sesuai falsafah ayam yang membangunkan kehidupan di pagi hari," ucap James.
Melihat segala keunikan tersebut, pantaslah kalau Gereja Ayam dikategorikan aset budaya yang berharga. Ia sejajar dengan bangunan-bangunan tua lain yang beberapa masih bertebaran di kawasan Pasar Baru, seperti Masjid Lautze yang dibangun komunitas muslim Cina dan Vihara Tri Ratna yang dibangun sekitar pertengahan Abad XIX. Sejumlah wisatawan mancanegara, terutama dari Belanda, terhitung kerap bertandang ke sana.
Namun, James menyayangkan ketiadaan perhatian pemerintah pada gereja yang berdiri di lahan seluas 2.500 hektare ini. "Bangunan tua seperti ini kan butuh biaya pemeliharaan yang tidak kecil. Saya harap pemerintah daerah menyadari nilai sejarah yang terkandung di dalamnya," James berharap.
Menurut hamba Tuhan asal Sanger, Sulawesi Utara, itu saat ini pihak gereja tengah mengupayakan hal tersebut, antara lain dengan cara mengumpulkan informasi seputar sejarah dan nilai Gereja Ayam. Pemerintah diharapkan memasukkannya ke dalam ketegori cagar budaya sehingga pemerintah bisa membantu dalam hal biaya.
"Kalau hanya mengandalkan uang gereja dan jemaat, tidak cukup," James menegaskan. Ya, semoga pemerintah peduli, agar kokok Gereja Ayam tetap bergaung.

Saturday, January 22, 2005

“Love will Keep Us Alive”

Oleh Margareth Sandra

Biarpun warisan dari orangtua, kaset tua yang menyanyikan lagu-lagu grup Band Eagles itu masih suka kuputar. Beberapa lagu yang dilantunkan menyentuh, terutama karena kesederhanaan lirik dan melodinya. Ada satu lagu yang selalu terngiang di telingaku sejak beberapa minggu ini, judulnya Love will Keep Us Alive.
Lagu itu mengatakan bahwa cinta kasih memberi semangat hidup, sekaligus mengingatkan, bahwa hidup adalah berkah, yang mesti disyukuri dan diperjuangkan. Sederhana sekali. Hanya itu yang dikatakan.
Ingat lagu-lagu kanak-kanak gubahan Pak Kasur atau Pak AT. Mahmud? Kadang lagunya hanya terdiri dari empat baris kata, dan dengan melodi sederhana dalam satu tangga nada. Sampai sekarangpun, orang masih ingat lagu-lagu anak-anak yang dipelajarinya di Taman Kanak-Kanak. Tapi justru di sana letak keunikannya.
Orang akan mudah mencernanya dan sekaligus mengingatnya. Yang terutama, orang mudah menirunya, melakukannya. Tidak usah berpikir rumit bagaimana melakukannya, tidak perlu was-was bagaimana mengerjakannya. Dengarkan saja, dan lakukan.
Dan sederhana adalah abadi. Menyanyikan lagu gubahan Pak Kasur atau Pak A.T. Mahmud tak perlu harus dihapalkan berhari-hari sebelumnya, tapi toh kita ingat lagunya luar kepala sampai sekarang.
Aku tertegun waktu mendapat SMS (Short Message Service) dari seorang saudara sepupu, tepat pada malam tahun baru. Ia mengabarkan sedang berada di Aceh, sejak tanggal 27 Desember yang lalu. Dia seorang dokter muda yang sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya, dan tergerak ketika terjadi bencana yang dahsyat itu. Bersama beberapa kawan, ia segera berangkat menuju Aceh, hanya dengan bekal seadanya, terburu-buru.
"Mengapa ke sana?"tanyaku. Adi malah balik bertanya,"Jika di depanmu seseorang terjatuh dan pingsan, apakah yang kamu perbuat pertama kali? Mencari-cari dan berpikir mengapa dia terjatuh? Mungkin mencari-cari kulit pisang yang telah membuatnya terpeleset, jatuh dan pingsan? Lalu kamu juga akan memilih-milih dulu warna angkot yang akan mengangkutnya ke klinik terdekat?"
Rasanya sekarang ini memang banyak orang yang sedang mencari-cari kulit pisang dan lebih banyak lagi yang sedang memilih-milih warna angkot yang akan membawa si sakit ke klinik. Semua berpikir rumit tentang apa, dan mengapa dan bagaimana,dan tak ada yang peduli dengan kesederhanaan cinta kasih, bahwa cinta kasih yang sederhana, yang memberi tanpa pamrih dan tanpa perhitungan untung dan rugi adalah bak sebuah mata air, sumber pengharapan untuk menguatkan kembali tali-tali rapuh kehidupan yang hampir putus.
Ya, cinta kasih adalah sumber pengharapan. Tapi memang, pandangan seorang Adi mungkin terlalu naif untuk ukuran taipan politik, yang penuh dengan gagasan terselubung dan segala intriknya, mulai dari kecurigaan terhadap bantuan asing sampai soal adopsi anak Aceh.
Ironisnya, luka yang sebenarnya belum terobati, dan hanya akan bertambah parah dari waktu ke waktu karena sibuk memikirkan segala yang rumit-rumit. Kalau nanti si sakit sudah sehat, terserah mau dinaikkan angkot warna apa; warna hijau boleh, putih silakan, pun angkot yang bergaris-garis tidak dilarang.
Marilah kita sekarang ikut bernyanyi, lagu yang sederhana saja, dan mudah diikuti dan dilagukan kembali dan bersama-sama membawa si sakit ke klinik terdekat, terserah dengan kendaraan apa saja.
Sehingga lagu sederhana itu, yang bernama Cinta Kasih, menggema dan menggaung di setiap sudut hati kita. Jangan diam saja, dengarkanlah lagunya, dan ikutlah melagukannya, dan semua orang akan mendengarkan suaramu dan ikut bergembira.
Di telepon sempat kutanya pada Adi,"...Lalu bagaimana dengan bayi yang kau tolong kelahirannya di pengungsian?".
Jawabnya singkat,"Aku hanya menolong persalinannya, dia selamat, mirip ibunya dan telah digendong oleh ibunya kembali.. Dan aku tak perlu tahu siapa nenek dan kakeknya dan kemana kelak ia akan pulang."
Berita dari Adi sempat terhenti, tak ada SMS lagi. Telepon genggamnya tak bisa dihubungi, SMS-ku tidak pernah sampai. Tapi aku masih menunggunya, dengan waswas, sambil terus berusaha.
Pada 7 Januari, Adi memberi kabar sekaligus permintaan,“Mbak, jika sore ini ke Gereja, mohon panjatkanlah doa-doa untuk mereka.”
Dan, sungguh, sore itu aku sempatkan datang untuk misa Jumat sore di Gereja, misa Jumat pertama. Dan seperti permintaan Adi, aku memohonkan doa bagi mereka yang telah menjadi bagian dari hatinya selama tiga belas hari terakhir ini.
Dan aku menyalakan sebatang lilin, berlutut di hadapan patung Bunda Maria bersama seikat bunga liar kering yang aku persembahkan.
Tuhan, terima kasih untuk semua yang terjadi dalam dunia ini, baik dunia di luar diriku; alam semesta, sesama, maupun dunia di dalam diriku; hati, pikiran, dan perasaan.
Terima kasih bahwa aku boleh mengalami semuanya ini, terutama untuk kesadaran bahwa Engkau selalu hadir dalam semua pengalaman itu, sekalipun pada saat-saat tertentu, aku tidak memahami rencanaMu.
Ya, Cinta Kasih sederhana yang menghidupkan! Baiklah, sekarang aku ingin ikut bernyanyi....

I was standing
All alone against the world outside
You were searching
for a place to hide

Lost and lonely
Now you've given me the will to survive
When we're hungry
Love will keep us alive

Don't you worry
Sometimes you"ve just gotta let it ride
The world is changing
Right before your eyes

Now I found you, there's no more emptiness inside.
When we're hungry, Love will keep us alive...!

Saturday, January 15, 2005

Spiritualitas Tsunami

BANDA ACEH – Gempa dan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Nias menyisakan trauma pada diri setiap korban, tapi sekaligus juga jejak spritualitas. Masjid Raya Baiturrahman dan Gereja Katolik Hati Kudus yang masih berdiri kokoh di tengah bangunan di sekitarnya yang tinggal puing, menjadi pengalaman iman tersendiri pada diri para penganut agama samawi.
Masjid Raya Baiturrahman terletak di tengah-tengah Kota Banda Aceh yang seperti terpanggang dihajar tsunami pada Minggu (26/12) itu. Sementara Gereja Katolik Hati Kudus yang berjarak 100 meter dari Masjid Baiturrahman terletak hanya 10 meter dari Sungai Krueng Aceh, sungai yang membelah Kota Banda Aceh dan membawa air ke darat pada saat gelombang tsunami menerjang.
Satu kilometer dari Gereja Katolik Hati Kudus, sejumlah gereja lainnya juga seperti tak tersentuh tsunami, yakni Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB), Gereja Katolik Methodis dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Sebuah bangunan kelenteng yang berjarak sekitar 500 meter dari Gereja Hati Kudus, juga masih utuh.
Menariknya, keutuhan rumah ibadah ini tak hanya terjadi di tengah kota, tapi juga hingga sepanjang jalan-jalan kecil dan perkampungan di pinggir kota Banda Aceh. Masjid Rahmatillah adalah satu-satunya bangunan yang masih tegak berdiri di tengah reruntuhan bangunan lain di Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga, Aceh Besar.
Masjid tersebut tampak kokoh terlihat dari Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh yang berjarak sekitar 3 km dari lokasi. Salah satu bagian fondasi masjid tersebut memang runtuh dan menyisakan lubang sedalam satu meter. Namun pilar-pilar masjid masih bisa menahan bangunan tersebut tidak ambruk. Plafon dan tiga kubah masjid masih dalam kondisi utuh.
Orang boleh berpendapat bahwa kokohnya rumah ibadah karena kualitas bahan bangunannya yang bagus. Namun, orang juga berhak menerjemahkan kenyataan ini sebagai sebuah penanda, sebagai pengingat-ingat terhadap hidup yang telanjur berjalan arogan. Setiap orang mendadak menjadi kaya secara spiritualitas.

Pertolongan
Bagi warga Lampuuk yang mengungsi di kampung Lamlhom, kekayaan batin ini seolah lengkap saat belasan orang dengan wajah bule mendatangi kampung tersebut, memberikan bantuan logistik dan obat-obatan tanpa imbalan, bahkan memberikan perhatian dengan ketulusan tak tergambarkan.
Daud (73), salah satu pengungsi dari Lampuuk, mencoba menggambarkan ketulusan ini lewat cerita tentang kaki. Beberapa warga Lampuuk yang selamat dari gulungan gelombang tsunami banyak yang mengalami luka parah di sekujur tubuh dan kaki. Empasan gelombang membuat tubuh mereka terbentur berbagai puing dan reruntuhan.
Beberapa orang yang memiliki sedikit pengalaman keperawatan mencoba mengobati luka ini dengan perlengkapan sekadarnya pada hari pertama saat bencana itu melanda. Akibatnya, bukannya sembuh, sejumlah luka yang mayoritas terdapat pada kaki tersebut justru bengkak dan bernanah karena tak dibersihkan sempurna saat dilakukan pengobatan.
Penyelamat dari sejumlah kaki infeksi ini adalah para dokter dan perawat berwajah bule itu. Para lelaki yang tak bisa mengucapkan Assalamualaikum dan para perempuan yang tak mengenakan jilbab.
Kaki-kaki bernanah tersebut dipegang dengan tangan mereka dan diletakkan di atas pangkuan. Mereka melakukan pengobatan dengan hati-hati dan sama sekali tak menunjukkan rasa jijik. Sementara itu, menurut cerita Daud, para dokter berwajah Melayu terkesan jijik dengan luka-luka tersebut dan menyuruh para pasien meletakkan kaki-kaki penuh luka tersebut di atas kursi sebelum memberikan obat kemudian.
Para relawan berwajah bule itu pula yang berkunjung rutin ke posko pengungsian Lamlhom yang berjarak 3 km dari Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh. Mereka datang dengan bantuan pangan dan obat-obatan, mengucapkan “Apa kabar” dan “Selamat Pagi” dengan bahasa Indonesia yang patah, menebar senyum ramah dan menyapa para pengungsi dengan nama. Nada saat melontarkan sapaan pun terasa hangat.
“Kami malu, mengapa justru mereka yang beda ras dan agama yang memperhatikan kami,” kata Daud.
Tiga hari setelah bencana terjadi, bantuan pertama yang datang ke desa tersebut berasal dari Yayasan Obor Berkat Indonesia, sebuah yayasan Kristen, padahal akses jalan ke wilayah ini cukup sulit untuk ditempuh.
Raihal (23), salah satu warga di Lamlhom yang turut membantu para pengungsi mengatakan kedatangan yayasan tersebut sangat membantu mengobati para pengungsi yang terluka.

Tak Berbatas
Negeri Serambi Mekkah ini, pascatsunami, mendadak dipenuhi dengan orang yang memiliki ras, suku, dan agama yang berbeda. Bantuan yang datang ke provinsi berbasis syariah Islam ini, tak hanya datang dari wilayah di sekitar Indonesia, tapi dunia.
Amerika Serikat, Australia, Singapura, Malaysia, Korea, Jepang, Prancis, Belanda, Yordania, Portugal, membanjiri provinsi tersebut dengan bantuan logistik, obat-obatan, peralatan transportasi, tenaga ahli, dan sejumlah relawan medis.
Bantuan kemanusiaan pada akhirnya memang tak bisa dibatasi oleh ideologi, negara, suku, maupun ras. Bantuan semacam itu muncul berdasarkan solidaritas antarmanusia. Sebuah perasaan senasib dan sepenanggungan yang dirasakan semua orang sebagai tanggung jawab kemanusiaan mereka, tanpa embel-embel “baju” yang mereka kenakan.
Jika kemudian solidaritas kemanusiaan ini dibumbui dengan pesan-pesan di luar kemanusiaan itu sendiri, politis maupun ideologis, maka yang muncul adalah manipulasi.
Di pekan pertama pascabencana, sempat beredar kabar bahwa terjadi tindak diskriminatif terhadap pengungsi yang berasal dari etnis Tionghoa dan beragama non-Islam. Namun, kabar ini dibantah oleh Ketua Umum Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (Inti) Eddy Lembong.
Menurutnya, suasana Aceh pascatsunami mirip dengan kondisi pascaperang dunia kedua. Semua serba tak teratur dan chaos. Jika ada orang yang meminta uang Rp 600.000 untuk menguburkan seorang warga Tionghoa yang menjadi korban tsunami, itu lebih didasari pada kebutuhannya terhadap uang tersebut, bukan tindak pemerasan terhadap warga Tionghoa.
Pengamatan di lapangan juga menunjukkan bahwa apa yang disebut penjarahan adalah ulah penduduk yang memungut barang-barang yang masih bisa digunakan di antara puing rumah dan bangunan yang runtuh. Sejumlah pertokoan yang mayoritas milik warga Tionghoa juga turut kena jarah.
Menyaksikan Kota Aceh yang hancur lebur dan warga yang mendadak menjadi kaum marginal, tanpa rumah dan tanpa uang satu sen pun, tindak penjarahan ini tak bisa dihakimi lewat ukuran moralitas, apalagi mengaitkannya dengan masalah rasialis dan diskriminasi ideologis.
Gempa berkekuatan 8,9 skala richter dan gelombang tsunami berkecepatan 800 km/jam yang menggulung kawasan Aceh tiga pekan lalu, selain meninggalkan duka, juga melahirkan sebuah spiritualitas baru bagi warga Aceh tentang kemanusiaan dalam arti yang sesungguhnya, tentang solidaritas yang tak mengenal batas agama, suku, ras, maupun golongan. (SH/fransisca ria susanti)

Saturday, January 08, 2005

Gereja Katolik Hati Kudus di Banda Aceh Tak Tersapu Tsunami

BANDA ACEH--Saya tercengang ketika menyaksikan sebuah bangunan tua masih berdiri kokoh, padahal rumah-rumah warga di sekitarnya sudah hancur tersapu oleh gelombang tsunami yang maha dahsyat pada Minggu, 26 Desember 2004. Bangunan kuno itu tak lain adalah Gereja Hati Kudus, satu-satunya gereja Katolik yang ada di Banda Aceh.
Gereja itu terletak hanya 10 meter dari Sungai Krueng Aceh, sungai yang membelah Kota Banda Aceh dan membawa air ke darat pada saat gelombang tsunami menerjang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Saya lebih terkesiap lagi saat mengetahui bahwa Pastor Ferdinando Severi, pastor di Gereja Hati Kudus yang berasal dari Italia dan berwarga negara Indonesia, ternyata juga selamat. Pada hari “Minggu hitam” ketika bencana terjadi, ia sedang berada di Meulaboh, Aceh Barat, untuk melayani umat. Ia berangkat ke Meulaboh hari Sabtu (25/12).
Menurut sumber SH, banyak orang Nasrani yang membuka posko di lapangan Neusu dan di kawasan Matai. Namun, SH belum menemukan data berapa jumlah korban dari kaum Nasrani.
Lantas saya pun teringat oleh kidung damai yang dilantunkan di gereja tersebut setahun lalu. Petang itu, pada Misa Natal 24 Desember 2003, lantunan Adzan Magrib bergema dari Tugu Daerah Modal yang menjadi Menara Utama Masjid Raya Baiturrahman, sekitar seratus meter dari gereja.
Di gereja yang dibangun oleh kolonial Belanda itu, ratusan umat Katolik, beberapa di antaranya berseragam biru tua (anggota Brigade Mobil), memasuki gerbang gereja dengan nyanyian puji-pujian sambil memegang lilin. Prosesi Misa pun berlangsung khidmat.
”Perayaan Natal malam ini kita persembahkan untuk perdamaian di Aceh,” ungkap Ferdinando Severi dari altar Gereja Hati Kudus. Dalam pesan Natal itu, Ferdinando menyatakan sudah sepatutnya umat Kristiani bersyukur dan bergembira karena diberi kesempatan untuk bernatal.
Pastor paroki yang membawahi zona Meulaboh Aceh Barat, Takengon Aceh Tengah dan Lhokseumawe Aceh Utara itu, mengingatkan dalam kondisi Aceh yang masih labil, umat Kristiani masih diberi kesehatan untuk berkumpul di gereja yang didirikan oleh kolonial Belanda pada tahun 1926 ini.
Gereja Hati Kudus dibangun sekitar tahun 1926 (diresmikan pemakaiannya 26 September 1926). Gereja kecil dengan dinding berwarna krem itu, memakai ornamen kaca warna-warni dan keramik empat warna. Letaknya berada tepat di depan Markas Komando Daerah Militer Iskandar Muda. "Gedung Kodam itu dulunya bagian dari gereja," ujar Pastor Ferdinando.
Keberadaan gereja dan umat Kristen di Serambi Mekkah ini tidak terlepas dari pendudukan Belanda. Diawali pembangunan Kapel Hati Kudus sekitar tahun 1885 dengan pastor pertamanya, Pastor Henricus Verbraak, SJ, yang tentara Belanda.
Seiring berjalannya waktu, jumlah jemaat gereja ini bertambah dan berubah; bukan lagi tentara, melainkan masyarakat sipil pribumi dan pegawai pemerintah serta pedagang warga Tionghoa. Pada tahun 1970-an, jumlah jemaat gereja ini mencapai 800 orang, melampaui kapasitas gereja yang hanya mampu menampung 400 orang.
Dalam setiap misanya, Pastor Ferdinando mengaku selalu meminta jemaatnya memohonkan perdamaian di Aceh dan mendoakan perdamaian bagi korban yang jatuh akibat konflik ini. Kecintaan Pastor Ferdinando terhadap Aceh dibawanya ke mana pun ia melangkah, bahkan saat ia menjalani operasi bypass jantung di Italia bulan November lalu.
“Saya operasi bypass sampai tiga kali. Saat masuk kamar operasi, saya berdoa, ’Tuhan, kupersembahkan hidupku untuk orang-orang Aceh dan selamatkanlah mereka’. Selesai operasi, saya langsung pulang ke Aceh. Saya tidak tahan (cuaca) dingin di Italia,” ujarnya.
Namun dalam kotbah Misa Natal 24 Desember 2003 lalu ia mengatakan, di Aceh setiap hari ada tujuh atau delapan orang meninggal akibat konflik. “Ini sangat menyedihkan. Mari kita berdoa bagi keselamatan korban-korban konflik di Aceh. Sebab Yesus datang untuk kedamaian dan keselamatan manusia,” kata pastor kelahiran Italia, 19 Desember 1934 itu.

ToleransiMengenai keberadaan gereja itu, Yosef Selevinman, Koordinator muda-mudi Katolik Gereja Hati Kudus, mengatakan,”Sebelum konflik dan hingga sekarang, misa dan perayaan Natal tetap dilakukan”.
Pemuda kelahiran Flores Nusa Tenggara Timur ini mengakui tujuh tahun lebih tinggal di Banda Aceh, pada awalnya agak waswas. Pasalnya dia berdiam di wilayah yang dikenal fanatik Islam.
Malahan sebelumnya, Yosef yang ahli mereparasi sepeda motor itu menduga tidak ada gereja di daerah paling ujung barat dari Pulau Sumatera ini. Namun, Yosef menemukan fakta yang jauh berbeda dengan didengar atau dibaca. ”Masyarakat di sini sangat toleran walaupun Aceh dinyatakan berlaku Syariat Islam,” ungkap pria berpostur sedang ini.
Keyakinan Yosef tidak berlebihan. Blak-blakan dia mengakui, selama perayaan Natal, pihaknya tidak pernah meminta pengawalan ketat dari pihak polisi untuk mengamankan misa atau perayaan Natal. Memang di depan gereja terlihat beberapa truk reo TNI atau polisi yang di badan truk bertuliskan “Allahu Akbar” dalam aksara Arab. Tapi itu adalah aparat yang mengikuti kegiatan rohani.
Sekitar satu kilometer dari Gereja Katolik Hati Kudus, terdapat Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB). Di sisi kiri GPIB, terdapat Gereja Katolik Methodis. Sekitar satu kilometer dari gereja ini, ada gereja HKBP.
Kantor Departemen Agama NAD mencatat, di seluruh Aceh terdapat 154 gereja dengan rincian di Aceh Barat (2), Aceh Utara (2), Aceh Jeumpa (2), Sabang (2), Aceh Singkil (22), Aceh Tenggara (120), Kota Banda Aceh (4). Naasnya, di Aceh Singkil, 17 gereja ditutup (13 Gereja Protestan dan 4 Gereja Katolik) sehingga tersisa 5 gereja untuk melayani sekitar 5.000 jamaah.
Penutupan gereja yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat atas desakan warga sekitar. Alasannya, gereja tersebut didirikan di permukiman warga yang mayoritas muslim.
Namun dalam bencana gempa bumi dan gelombang tsunami lalu, tidak hanya Gereja Hati Kudus yang utuh. Dari beberapa tinjauan SH di lapangan, di pantai Ulele, Lamjaneun serta Lampeuk, bangunan mesjid juga masih berdiri kokoh, padahal rumah-rumah warga di sekitarnya hancur. Entah ini semua pertanda apa. Yang pasti, bencana mengingatkan kita agar kembali kepada Sang Pencipta. (SH/murizal hamzah)