Saturday, February 12, 2005

Hadiah Terindah Buat si Miskin

Oleh Lesminingtyas

Ketika saya memutuskan untuk menjadi pendamping dalam Natal Bersama Yayasan KDM (Kampus Diakonia Moderen) untuk ratusan pengemis dan gelandangan di Ibu Kota, saya berharap akan bertemu dengan teman-teman sepelayanan. Walaupun semula komitmen saya untuk melayani sudah bulat, tetapi Tuhan tidak begitu saja memberi saya kemudahan.
Perjalanan dari Bogor ke GKI Wahid Hasyim untuk mengikuti pengarahan seminggu sebelum pelaksanaan, bukanlah perjalanan yang mudah. Setelah berjam-jam tidak menemukan alamat gereja, saya hanya geleng-geleng kepala seraya bertanya, "Tuhan, inikah tanda-tanda dariMu bahwa seharusnya saya tidak kemari?".
Namun sedetik kemudian hati kecil saya justru menantang saya, "Kau sering bilang 'always GKI', sekarang mana buktinya? Baru kesulitan mencari lokasi gereja saja sudah menyerah, bagaimana mau mencari jiwa-jiwa hilang dan sesat?"
Ketika puluhan calon pendamping memasuki aula, saya hanya tersenyum masam"Ala mak, junior sekaleee!" kata saya dalam hati. Saya benar-benar tidak siapuntuk belajar bersama para junior yang mungkin berumur 10-15 tahun lebih muda dari saya.
Saya kembali menerima shock therapy dari seorang pantia yang memberikan pembekalan. Tanpa menanyakan latar belakang atau pengalaman dari masing-masing calon pendamping, panitia itu langsung menghantam dengan "kuliah" bagaimana kami harus berbicara dan mendampingi orang miskin. Pengalaman selama 19 tahun malang melintang bersama kaum marginal membuat saya sangat risih harus dikuliahi dengan anak yang “baru kemarin sore” terlibat dalam pelayanan diakonia.
Ketika hendak pulang, panitia itu bertanya, "Apakah kalian siap menjadi pendamping?"Walaupun dalam hati saya berkata, "Sorry ya! Pelayanan kayak gini nggak leveldeh buat saya!", namun saya masih berusaha untuk bergaya sok rohani danberkata,"Saya akan terus gumulkan!"
Saya pun memohon,"Tuhan, pelayanan ini buat saya tidak ada manfaatnya sama sekali! Izinkan saya undur diri dan jangan panggil saya untuk bersama-sama mereka lagi!"
Satu minggu saya terus bergumul. Saya masih terus menguji, apakah menjadipendamping benar-benar panggilan Tuhan ataukah keinginan iseng saya untukmelayani? Saya mulai bermain-main dengan Tuhan.
"Tuhan, kirimkan orang untuk menginterupsi dan meminta pelayanan saya di hari Minggu, supaya saya yakin bahwa tidak menjadi pendamping bukan karena saya menolak panggilanMu"
Malam sebelum pelaksanaan, saya kembali bergumul. Saya berdoa,"Tuhan, kalau memang Engkau memanggilku untuk menjadi pendamping, bangunkan saya dengan kesegaran pada besok pagi jam 03.30 untuk persiapan".
Tapi dasar manusia, ketika pagi itu Tuhan membangunkan sesuai yang saya minta, saya pun masih menawar. "Tuhan, biarkan saya tiduran 30 menit lagi, sambil mempertimbangkan keputusan untuk pergi atau tidak".
Walaupun saya berusaha memejamkan mata lagi, tapi saya tidak bisa tidur,"Tuhan, saya ingin melayaniMu, tapi jangan sekarang!" kata saya dalam hati.
Suara hati saya bertanya "Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi?" Sayapun masih menawar,"Tahun depan toh masih ada acara Natal juga!"
Sejenak kemudian hati saya tidak tenang, seraya mempertanyakan,"Dari manakau yakin, kalau tahun depan kau masih ada? Pergilah sekarang juga untukTuhanmu! Hari ini Tuhan ada di antara pengemis, gelandangan dan orang-orangyang menderita. Tuhan Yesus menunggu pelayananmu!"
Saya masih saja ingin mengeraskan hati seraya berkata,"Tuhan, utuslah sayatapi jangan Kau tempatkan saya di bawah supervisi orang-orang yang lebihjunior!""Kalau tidak di sana, kamu mau diutus ke mana?" suara hati saya kembalibertanya."Ke Aceh kan lebih keren, Tuhan! Di sana saya bisa berbuat lebih banyakdari sekadar pesta Natal!" jawab saya dalam hati.
"Semua orang pergi ke Aceh! Semua bantuan difokuskan ke Aceh! Lalu siapayang memperhatikan pengemis dan gelandangan di ibu kota ini?"
"Tapi saya nggak nyaman diperlakukan layaknya junior Tuhan!" keluh saya.Suara hati saya kembali mendorong saya "Soal panitia yang menempatkan kamusejajar dengan para junior, bukan urusanmu. Urusanmu sekarang adalahmenjadikan nama Tuhan dipermuliakan, dan bukan untuk meninggikan namamu!"
Keakuan saya pun masih saja menawar "Tapi bolehkan, saya nebeng sedikit untukmendapatkan nama supaya lebih popular ketika melayaniMu? Apakah salah, kalaupelayanan saya menjadikan nama Tuhan ditinggikan dan nama saya punterangkat?"Suara hati saya kembali berkata,"Terserah kamu! Tapi kalau kamu sudahmendapat imbalan di dunia, kamu jangan berharap lagi mendapatkan tempat yangtinggi di hari kekekalan nanti!"
Sayapun segera membulatkan tekad,"OK, Tuhan! Saya akan datang melayaniMu diantara pengemis dan gelandangan itu! Tapi tolong mampukan saya untukmenghilangkan kesombongan! Bungkuslah diri saya dengan kebersahajaan. Mampukansaya untuk selalu rendah hati. Siapkan telinga saya untuk mendengar.Mampukan saya untuk menerima dan mengasihi mereka dengan hati yang tulus!"
Pagi itu secepat kilat saya mempersiapkan diri. Jam 04.30 saya keluar rumah.Kabut yang masih pekat dan dinginnya udara Bogor hampir saja menggoyahkantekad saya. Terlebih lagi, sepagi itu di kompleks saya belum ada angkotataupun ojek yang beroperasi.
Tidak ada pilihan lain, saya harus berjalan kira-kira 200 meter melewati jembatan dan tanjakan yang kemiringannya lebih dari 35 derajat, yang oleh penduduk dianggap angker. Sejujurnya kaki saya berat sekali untuk melangkah. Tapi untuk mengejar waktu, saya paksa kaki saya untuk agak berlari sambil berdoa,"Tuhan, kalau memang Engkaumemanggilku untuk menjadi pendamping, jangan biarkan saya berjalan sendiridalam kegelapan pagi ini!"
Saya terus berdoa sambil ngos-ngosan. Ketika hampir sampai di jembatan yangterkenal angker itu, tiba-tiba terdengar suara keras seperti seng bergesek denganaspal. Jantung saya hampir copot! Tanpa sadar saya berteriak,"Tuhan Yesus,kenapa Kau biarkan saya sendiri!" Sayapun mendengar jawaban "Aya naon neng?!"
Ya, ampun! Ternyata di belakang saya berjalan seorang pemulung yang menarikgerobaknya. Sayapun hanya tersenyum malu. Kalau saja orang itu pendeta saya,pasti dia akan bilang "Di manakah imanmu, hai orang yang tidak percaya!"
Saya berusaha berjalan cepat mengikuti langkah si pemulung supaya saat ditanjakan yang terkenal angker itu saya tidak sendirian. Walaupun sayabersama pemulung itu, rasa takut saya tetap tidak berkurang, tetapi justrusemakin bertambah.
Jantung saya berdetak sangat cepat, ketika saya menemukan ingatan saya. Seingat saya, selama 4 tahun tinggal di kompleks itu, saya belum pernah bertemu dengan pemulung yang beroperasi di pagi yang buta.
Pagi itu saya sangat buru-buru. Panitia yang menjadwalkan untuk pengarahan pukul05.30 di UGD-RSUKI benar-benar sangat menyulitkan saya. Pagi itu sungguh-sungguhberbeda. Saya yang biasanya naik bis AC yang bersih, dengan tempat duduk yang empuk,pagi itu saya harus berdiri di bis jurusan Bogor-UKI kelas ekonomi yang kotor.
Tugas pertama yang harus kami lakukan sebagai pendamping adalah mengalungkanbunga kepada para pengemis dan gelandangan, serta membagi balon kepadaanak-anak yang masih sangat kecil.
Saya kembali bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, Engkau memberi saya talenta yang luar biasa. Tapi mengapa saya hanya mengerjakan tugas yang sangat sepele seperti ini?"
Suara hati saya pun menjawab,"Kalau bukan kamu, mau siapa lagi?" Sayapun masih berusaha memberontak "Masih banyak anak-anakMu yang bisa Kaupakai untuk mengalungkan bunga dan membagi balon. Biarkan saya mengerjakantugas yang lebih penting dan mulia, Tuhan!"
Kembali suara hati saya berkata,"Kalau semua anak-anakKu bersikap sepertikamu, siapa yang akan menyambut orang-orang miskin itu? Kalau kalian semuatidak mau melayaniKu dalam hal-hal yang sepele, apakah aku harus memanggilorang-orang yang bukan pilihanKu untuk melayaniKu?"
"Tapi, berikan saya tugas yang tidak sesederhana itu Tuhan!" saya masih menawar.
Suara hati saya pun kembali menaklukkan ke-aku-an saya. "Rendahkan dirimudi hadapanKu! Lakukan apa saja dengan penuh kasih, untuk Aku! Janganpikirkan dirimu lagi, tapi sambutlah para pengemis dan gelandangan itusupaya mereka merasakan damai Natal, karena sesungguhnya segala sesuatu yangkamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-KU yang paling hina ini, kamutelah melakukannya untuk AKU." Pagi itu saya diingatkan oleh perkataan TuhanYesus seperti yang tertulis dalam Matius 25:40.
Begitu para pengemis dan gelandangan itu datang, kami harus berbaur denganmereka. Kami berusaha untuk dekat dan menyambut mereka dengan hangat.
Anak-anak balita dalam gendongan ibunya memandang saya seolah ingin disambutjuga. Saya bisa memastikan, saat itu tidak ada tindakan yang lebih tepatselain menggendongnya. Melihat anak orang lain digendong, beberapa pengemismeminta saya untuk menggendong anaknya juga.
Lima menit pertama tidak masalah. Tapi menit-menit berikutnya, perut sayamual sekali. Anak-anak yang tergolong malnourished dan bau tak sedap dariompol yang bercampur dengan keringat dan bau "matahari", sangat jauh berbedadengan anak saya sendiri yang berkulit licin dan wangi.
Tiba-tiba saja produksi air liur saya langsung meningkat. Dan anehnya, dalam situasiseperti itu saya jijik sekali untuk menelan ludah sendiri.
Rasa ingin muntah sudah tidak tertahan lagi. Untung saja seorang pemuda memberi saya permen rasa mint, sehingga saya tak jijik lagi menelan ludah sendiri. Walaupunperut saya masih agak mual, saya tetap berusaha tersenyum dan mengajakmereka terlibat dalam obrolan yang hangat dan penuh kasih.
Saya kembali berbicara kepada Tuhan,"Tuhan inilah hadiah yang terindah dari saya untuk kaum papa! Tidak ada yang lebih indah yang bisa saya berikan kepada mereka,kecuali pengorbanan diri dan kerendahan hati. Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk merendahkan diri, menyambut dan melayaniMu”.

Hadiah Terindah Buat si Miskin

Oleh Lesminingtyas

Ketika saya memutuskan untuk menjadi pendamping dalam Natal Bersama Yayasan KDM (Kampus Diakonia Moderen) untuk ratusan pengemis dan gelandangan di Ibu Kota, saya berharap akan bertemu dengan teman-teman sepelayanan. Walaupun semula komitmen saya untuk melayani sudah bulat, tetapi Tuhan tidak begitu saja memberi saya kemudahan.
Perjalanan dari Bogor ke GKI Wahid Hasyim untuk mengikuti pengarahan seminggu sebelum pelaksanaan, bukanlah perjalanan yang mudah. Setelah berjam-jam tidak menemukan alamat gereja, saya hanya geleng-geleng kepala seraya bertanya, "Tuhan, inikah tanda-tanda dariMu bahwa seharusnya saya tidak kemari?".
Namun sedetik kemudian hati kecil saya justru menantang saya, "Kau sering bilang 'always GKI', sekarang mana buktinya? Baru kesulitan mencari lokasi gereja saja sudah menyerah, bagaimana mau mencari jiwa-jiwa hilang dan sesat?"
Ketika puluhan calon pendamping memasuki aula, saya hanya tersenyum masam"Ala mak, junior sekaleee!" kata saya dalam hati. Saya benar-benar tidak siapuntuk belajar bersama para junior yang mungkin berumur 10-15 tahun lebih muda dari saya.
Saya kembali menerima shock therapy dari seorang pantia yang memberikan pembekalan. Tanpa menanyakan latar belakang atau pengalaman dari masing-masing calon pendamping, panitia itu langsung menghantam dengan "kuliah" bagaimana kami harus berbicara dan mendampingi orang miskin. Pengalaman selama 19 tahun malang melintang bersama kaum marginal membuat saya sangat risih harus dikuliahi dengan anak yang “baru kemarin sore” terlibat dalam pelayanan diakonia.
Ketika hendak pulang, panitia itu bertanya, "Apakah kalian siap menjadi pendamping?"Walaupun dalam hati saya berkata, "Sorry ya! Pelayanan kayak gini nggak leveldeh buat saya!", namun saya masih berusaha untuk bergaya sok rohani danberkata,"Saya akan terus gumulkan!"
Saya pun memohon,"Tuhan, pelayanan ini buat saya tidak ada manfaatnya sama sekali! Izinkan saya undur diri dan jangan panggil saya untuk bersama-sama mereka lagi!"
Satu minggu saya terus bergumul. Saya masih terus menguji, apakah menjadipendamping benar-benar panggilan Tuhan ataukah keinginan iseng saya untukmelayani? Saya mulai bermain-main dengan Tuhan.
"Tuhan, kirimkan orang untuk menginterupsi dan meminta pelayanan saya di hari Minggu, supaya saya yakin bahwa tidak menjadi pendamping bukan karena saya menolak panggilanMu"
Malam sebelum pelaksanaan, saya kembali bergumul. Saya berdoa,"Tuhan, kalau memang Engkau memanggilku untuk menjadi pendamping, bangunkan saya dengan kesegaran pada besok pagi jam 03.30 untuk persiapan".
Tapi dasar manusia, ketika pagi itu Tuhan membangunkan sesuai yang saya minta, saya pun masih menawar. "Tuhan, biarkan saya tiduran 30 menit lagi, sambil mempertimbangkan keputusan untuk pergi atau tidak".
Walaupun saya berusaha memejamkan mata lagi, tapi saya tidak bisa tidur,"Tuhan, saya ingin melayaniMu, tapi jangan sekarang!" kata saya dalam hati.
Suara hati saya bertanya "Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi?" Sayapun masih menawar,"Tahun depan toh masih ada acara Natal juga!"
Sejenak kemudian hati saya tidak tenang, seraya mempertanyakan,"Dari manakau yakin, kalau tahun depan kau masih ada? Pergilah sekarang juga untukTuhanmu! Hari ini Tuhan ada di antara pengemis, gelandangan dan orang-orangyang menderita. Tuhan Yesus menunggu pelayananmu!"
Saya masih saja ingin mengeraskan hati seraya berkata,"Tuhan, utuslah sayatapi jangan Kau tempatkan saya di bawah supervisi orang-orang yang lebihjunior!""Kalau tidak di sana, kamu mau diutus ke mana?" suara hati saya kembalibertanya."Ke Aceh kan lebih keren, Tuhan! Di sana saya bisa berbuat lebih banyakdari sekadar pesta Natal!" jawab saya dalam hati.
"Semua orang pergi ke Aceh! Semua bantuan difokuskan ke Aceh! Lalu siapayang memperhatikan pengemis dan gelandangan di ibu kota ini?"
"Tapi saya nggak nyaman diperlakukan layaknya junior Tuhan!" keluh saya.Suara hati saya kembali mendorong saya "Soal panitia yang menempatkan kamusejajar dengan para junior, bukan urusanmu. Urusanmu sekarang adalahmenjadikan nama Tuhan dipermuliakan, dan bukan untuk meninggikan namamu!"
Keakuan saya pun masih saja menawar "Tapi bolehkan, saya nebeng sedikit untukmendapatkan nama supaya lebih popular ketika melayaniMu? Apakah salah, kalaupelayanan saya menjadikan nama Tuhan ditinggikan dan nama saya punterangkat?"Suara hati saya kembali berkata,"Terserah kamu! Tapi kalau kamu sudahmendapat imbalan di dunia, kamu jangan berharap lagi mendapatkan tempat yangtinggi di hari kekekalan nanti!"
Sayapun segera membulatkan tekad,"OK, Tuhan! Saya akan datang melayaniMu diantara pengemis dan gelandangan itu! Tapi tolong mampukan saya untukmenghilangkan kesombongan! Bungkuslah diri saya dengan kebersahajaan. Mampukansaya untuk selalu rendah hati. Siapkan telinga saya untuk mendengar.Mampukan saya untuk menerima dan mengasihi mereka dengan hati yang tulus!"
Pagi itu secepat kilat saya mempersiapkan diri. Jam 04.30 saya keluar rumah.Kabut yang masih pekat dan dinginnya udara Bogor hampir saja menggoyahkantekad saya. Terlebih lagi, sepagi itu di kompleks saya belum ada angkotataupun ojek yang beroperasi.
Tidak ada pilihan lain, saya harus berjalan kira-kira 200 meter melewati jembatan dan tanjakan yang kemiringannya lebih dari 35 derajat, yang oleh penduduk dianggap angker. Sejujurnya kaki saya berat sekali untuk melangkah. Tapi untuk mengejar waktu, saya paksa kaki saya untuk agak berlari sambil berdoa,"Tuhan, kalau memang Engkaumemanggilku untuk menjadi pendamping, jangan biarkan saya berjalan sendiridalam kegelapan pagi ini!"
Saya terus berdoa sambil ngos-ngosan. Ketika hampir sampai di jembatan yangterkenal angker itu, tiba-tiba terdengar suara keras seperti seng bergesek denganaspal. Jantung saya hampir copot! Tanpa sadar saya berteriak,"Tuhan Yesus,kenapa Kau biarkan saya sendiri!" Sayapun mendengar jawaban "Aya naon neng?!"
Ya, ampun! Ternyata di belakang saya berjalan seorang pemulung yang menarikgerobaknya. Sayapun hanya tersenyum malu. Kalau saja orang itu pendeta saya,pasti dia akan bilang "Di manakah imanmu, hai orang yang tidak percaya!"
Saya berusaha berjalan cepat mengikuti langkah si pemulung supaya saat ditanjakan yang terkenal angker itu saya tidak sendirian. Walaupun sayabersama pemulung itu, rasa takut saya tetap tidak berkurang, tetapi justrusemakin bertambah.
Jantung saya berdetak sangat cepat, ketika saya menemukan ingatan saya. Seingat saya, selama 4 tahun tinggal di kompleks itu, saya belum pernah bertemu dengan pemulung yang beroperasi di pagi yang buta.
Pagi itu saya sangat buru-buru. Panitia yang menjadwalkan untuk pengarahan pukul05.30 di UGD-RSUKI benar-benar sangat menyulitkan saya. Pagi itu sungguh-sungguhberbeda. Saya yang biasanya naik bis AC yang bersih, dengan tempat duduk yang empuk,pagi itu saya harus berdiri di bis jurusan Bogor-UKI kelas ekonomi yang kotor.
Tugas pertama yang harus kami lakukan sebagai pendamping adalah mengalungkanbunga kepada para pengemis dan gelandangan, serta membagi balon kepadaanak-anak yang masih sangat kecil.
Saya kembali bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, Engkau memberi saya talenta yang luar biasa. Tapi mengapa saya hanya mengerjakan tugas yang sangat sepele seperti ini?"
Suara hati saya pun menjawab,"Kalau bukan kamu, mau siapa lagi?" Sayapun masih berusaha memberontak "Masih banyak anak-anakMu yang bisa Kaupakai untuk mengalungkan bunga dan membagi balon. Biarkan saya mengerjakantugas yang lebih penting dan mulia, Tuhan!"
Kembali suara hati saya berkata,"Kalau semua anak-anakKu bersikap sepertikamu, siapa yang akan menyambut orang-orang miskin itu? Kalau kalian semuatidak mau melayaniKu dalam hal-hal yang sepele, apakah aku harus memanggilorang-orang yang bukan pilihanKu untuk melayaniKu?"
"Tapi, berikan saya tugas yang tidak sesederhana itu Tuhan!" saya masih menawar.
Suara hati saya pun kembali menaklukkan ke-aku-an saya. "Rendahkan dirimudi hadapanKu! Lakukan apa saja dengan penuh kasih, untuk Aku! Janganpikirkan dirimu lagi, tapi sambutlah para pengemis dan gelandangan itusupaya mereka merasakan damai Natal, karena sesungguhnya segala sesuatu yangkamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-KU yang paling hina ini, kamutelah melakukannya untuk AKU." Pagi itu saya diingatkan oleh perkataan TuhanYesus seperti yang tertulis dalam Matius 25:40.
Begitu para pengemis dan gelandangan itu datang, kami harus berbaur denganmereka. Kami berusaha untuk dekat dan menyambut mereka dengan hangat.
Anak-anak balita dalam gendongan ibunya memandang saya seolah ingin disambutjuga. Saya bisa memastikan, saat itu tidak ada tindakan yang lebih tepatselain menggendongnya. Melihat anak orang lain digendong, beberapa pengemismeminta saya untuk menggendong anaknya juga.
Lima menit pertama tidak masalah. Tapi menit-menit berikutnya, perut sayamual sekali. Anak-anak yang tergolong malnourished dan bau tak sedap dariompol yang bercampur dengan keringat dan bau "matahari", sangat jauh berbedadengan anak saya sendiri yang berkulit licin dan wangi.
Tiba-tiba saja produksi air liur saya langsung meningkat. Dan anehnya, dalam situasiseperti itu saya jijik sekali untuk menelan ludah sendiri.
Rasa ingin muntah sudah tidak tertahan lagi. Untung saja seorang pemuda memberi saya permen rasa mint, sehingga saya tak jijik lagi menelan ludah sendiri. Walaupunperut saya masih agak mual, saya tetap berusaha tersenyum dan mengajakmereka terlibat dalam obrolan yang hangat dan penuh kasih.
Saya kembali berbicara kepada Tuhan,"Tuhan inilah hadiah yang terindah dari saya untuk kaum papa! Tidak ada yang lebih indah yang bisa saya berikan kepada mereka,kecuali pengorbanan diri dan kerendahan hati. Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk merendahkan diri, menyambut dan melayaniMu”.

Saturday, February 05, 2005

Saya Tidak Percaya pada Allah yang Salah

BANDA ACEH-Gelombang pasang tsunami terjadi ketika sukacita Natal sedang pada puncaknya, pada Hari Natal Kedua 26 Desember 2004, 40 hari yang lalu. Sukacita Natal itu adalah kegembiraan umat manusia karena begitu bernilai di mata Allah sehingga "dihargai" senilai Putra Allah sendiri yang diutus-Nya dengan cinta ke dalam dunia. Namun, tsunami datang begitu saja merenggut ratusan ribu nyawa.
Maka timbullah konflik batin kerena tidak bisa mendamaikan suka cita Natal itu (manusia berharga di mata Allah) di satu pihak, dan fakta ratusan ribu orang mati oleh bencana sangat ganas di pihak lain. Dari konflik batin ini timbullah banyak pertanyaan, antara lain: apakah Allah sedang murka?
Bila Dia murka, apakah sebabnya dan mengapa harus orang-orang Aceh, Sumatra Utara, dan Nias, warga Asia dan Afrika timur? Atau kalau Allah tidak sedang murka, di manakah Dia saat bencana terjadi? Spakah Dia diam saja membiarkan ratusan ribu orang itu mati?
Sebagai anggota umat beriman, saya mengalami konflik batin ini, dan saya menduga, konflik batin yang sama juga menimpah sesama umat Allah. Saya mencoba menyimak dan membaca banyak khotbah, renungan, ulasan pada media massa, tetapi konflik batin saya belum juga teratasi. Saya mengalami kesulitan berikut ini: kalau Allah sedang murka (Allah beraksi), maka ini mengganggu iman saya tentang Allah Maha Baik, sedangkan kalau Allah membiarkan saja tsunami itu terjadi (Allah diam) juga mengganggu iman saya akan Allah Maha Baik.
Saya tiba di Kota Banda Aceh, Kamis (2/2) petang, membawa serta konflik batin yang sama. Dan ketika berkeliling di kota itu Jumat siang, menyaksikan langsung sisa bencana—dari wajah kota yang tampak berantakan terbayangkan ganasnya tsunami itu—pertanyaan-pertanyaan di atas timbul lagi dalam hati.
Saya masih terus mencari jawab, hal yang mendorong saya mampir ke Gereja Katolik Hati Kudus, Banda Aceh, yang terletak sekitar 500 meter dari Mesjid Raya Baiturrahman dipisahkan Kali Aceh.
Saya menjumpai Pastor Ferdinando asal Brasil, pastor kepala paroki Hati Kudus itu. Saya mengutarakan kepadanya konflik batin yang terus menghantui saya 40 hari terakhir. Ferdinando sendiri saat tsunami datang berada di Kota Meulabouh, pada jarak 500 meter dari pantai. Ia luput bersama segelintir orang karena berhasil naik ke lantai dua sebuah musalah.
Pastor yang sudah mengabdi 30 tahun di Indonesia ini bercerita, saat gempa, 30 menit sebelum tsunami, ia sedang membeli kue di toko yang sedianya akan diantarkan ke rumah warga yang sedang sakit. Ia langsung tiarap ke tanah dan dengan tangan terentang berteriak: "Kemuliaan kepada Allah di tempat maha tinggi dan damai di bumi di antara orang yang berkenan kepada-Nya."
Dengan rasa heran saya bertanya, mengapa Pastor justru mengucapkan kalimat itu dan bukannya teriak minta tolong kepada Tuhan Yesus. "Saya memuliakan Tuhan karena gempa itu begitu mengguncang, hal yang sangat dahsyat yang pernah saya alami," jawabnya. Dan saya bertanya lagi: Lalu bagaimana peristiwa dahsyat itu, gempa dan tsunami, dipandang dari kaca mata iman Pastor?
Ferdinando berkeberatan untuk menghubungkan begitu saja gempa dan tsunami itu pada Allah. Betapapun dahsyatnya, kata imam dari tarekat Fransiskan Konventual itu, bencana itu adalah tetap peristiwa alam yang biasa yang mungkin memang paling dahsyat dalam 100 tahun terakhir, tetapi bukan bencana satu-satunya yang paling ganas.
"Alam kita ini hidup, ia bergejolak dan bernafsu tak ubahnya manusia. Seperti juga kelakuan manusia dengan nafsu-nafsunya, alam pun demikian, dan itulah antara lain gempa dan tsunami itu," jelas Fernando.
"Allah tidak mau begitu saja menghentikan kebebasan yang telah diberikannya kcpada manusia, demikian juga atas gejolak alam yang diciptakan-Nya dengan begitu baik dari awal mula."
Secara tidak langsung, menurut Pastor yang sudah ubanan itu, tidaklah tepat untuk menghubungkan begitu saja peristiwa alam yang biasa itu pada Allah dan karenanya tidaklah relevan apakah Allah beraksi atau diam atas peristiwa itu.
Ia menekankan, sejak manusia meninggalkan Taman Eden—menurut cerita Alkitab—manusia memilih untuk hidup tanpa Allah dengan melanggar perintah Allah "Jangan makan dari buah pohon terlarang."
Dalam dunia tanpa Allah ini—kendati Yesus pun sudah diutus—manusia harus menanggung risiko dari pilihan awal meninggalkan Taman Eden itu. "Gempa dan tsunami adalah salah satu dari risiko itu," kata Fernando. "Salahlah omong kosong Tuhan sedang murka itu, atau ia sedang mencobai umatnya dengan bencana dahsyat, sebab Dia Allah Maha baik," katanya.
“Tetapi siapa yang tabah, tidak kehilangan iman oleh pengalaman-pengalaman pahit kehidupan dalam dunia pilihanuya sendiri, termasuk pengalaman bencana gempa dan tsunami, akan diimbali Allah dengan keselamatan surgawi," lanjutnya. "Anda tahu, saya selamat dari tsunami, tetapi ini berarti saya masih harus terus berupaya di hadapan Allah agar kelak diselamatkan-Nya dalam surga. Mereka yang sudah duluan, mungkin sudah duluan selamat dari kita," tambahnya.
Begitu Ferdinando menyebut Taman Eden, saya teringat wejangan seorang teman, juga seorang pastor, jauh sebelum peristiwa tsunami. Kata teman pastor itu, godaan terbesar bagi manusia adalah ingin menjadi seperti Allah. Itulah yang dilakukan Adam dan Hawa dengan makan buah dari pohon terlarang di Taman Eden.
Sekiranya saya bertemu lagi dengan teman pastor itu sekarang ini, sangat boleh jadi dia berkata, usai tsunami banyak orang tergoda mau menjadi Allah dengan mengutak-atik isi hati dan pikiran Allah, lalu kemudian dengan mudah Allah itu disalahkan entah Dia beraksi atau diam.
Entah kenapa, setelah bersalaman pamit dari Pastor Ferdinando dan ingatan singkat kata-kata teman pastor yang lain itu, hati saya merasa lega. Beban hati karena konflik berkepanjangan kini terhenti. Hati saya pun berkata: Saya tidak percaya pada Allah yang salah. (SH/john julaman).